Minggu, 27 Desember 2015

Menjaga Keikhlasan

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh dan hanya kembali kepada-Nya. Tak ada yang luput sedikitpun dari pengetahuan-Nya, meski sehelai daun kering yang jatuh dari pohonnya di dalam hutan belantara yang belum pernah terjamah manusia. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada sang kekasih Alloh, nabi Muhammad Saw.

Rosululloh Saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik, dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Sungguh berbahagialah orang-orang yang diberi kenikmatan tidak ingin dipuji dan tidak mencari penghormatan dari orang lain.  Salah satu ciri seseorang yang ikhlas adalah jarang kecewa terhadap makhluk, karena yang diharapkannya hanyalah penilaian dan keridhoan Alloh Swt. Lalu apa ciri seseorang yang banyak kecewa terhadap makhluk? Yaitu ia banyak berharap dan bergantung kepada makhluk.

Orang yang ikhlas adalah orang yang senantiasa hanya menjadikan Alloh Swt. sebagai tujuan dari setiap amal perbuatannya. Ia tidak berharap amalnya dilihat, diketahui atau didengar oleh makhluk. Jikapun terlihat, terdengar dan diketahui oleh makhluk, maka itu tak menggoyahkan hatinya untuk tetap terpaut kepada Alloh semata. Orang yang ikhlas akan tetap bersungguh-sungguh dalam beramal, tidak terpengaruh apakah ia sedang sendirian ataukah sedang berada di keramaian.

Ikhlas itu adalah pekerjaan hati. Kalau ada pertanyaan, bolehkah amal kita diperlihatkan kepada orang lain? Jawabannya ialah tergantung niat, kalau niatnya ingin dipuji tentu itu menjadi riya, dan riya adalah salah satu tanda kemunafikan. Alloh Swt. berfirman,“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Alloh, dan Alloh akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Alloh kecuali sedikit sekali.”(QS. An Nisaa [4] : 142)

Tetapi jikalau amal yang dilakukan secara terang-terangan itu dilandasi niat supaya orang lain mendapatkan hikmah, maka in syaa Allohakan bernilai ibadah di hadapan Alloh Swt.

Seorang sahabat berkata kepada Rosulluloh Saw., “Ya Rasulluloh seorang melakukan amal kebaikan dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya atau merasa senang.  Rasulluloh SAW bersabda,“Baginya dua pahala yaitu pahala dirahasiakannya, dan pahala terang-terangan.”(HR. Tirmidzi)

Jadi, beramal dengan terang-terangan itu tidak identik dengan riya. Tidak boleh kita berburuk sangka kepada orang yang menyampaikan ilmu , pengalaman dan amalnya. Tidak perlu kita menilai apa yang ada di dalam hati orang lain. Memperlihatkan amal diperlukan untuk keperluan syiar dan dakwah. Bukankah Rosululloh Saw. pun memperlihatkan banyak amal ibadah supaya menjadi contoh bagi para sahabat dan umatnya hingga akhir zaman.

Namun, jikalau episode kita adalah beramal secara terang-terangan, maka wajib bagi kita untuk terus memeriksa niat. Karena sungguh, beramal secara terang-terangan amatlah berat cobaannya. Selalu saja syaitan mengambil kesempatan untuk menggelincirkan hati kita sehingga niat kita berbelok.

Saudaraku, marilah kita terus melatih diri kita untuk peka membaca perubahan isi hati ketika beramal. Sehingga kita semakin terlatih untuk menjaga keikhlasan kita, dan terlatih untuk segera mengembalikan hati kepada Alloh manakala hati kita melenceng dari jalur keikhlasan. Setiap amal bergantung kepada niatnya. Semoga kita tergolong hamba-hamba Alloh Swt. yang senantiasa ikhlas. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.[]


Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar