Rabu, 23 Desember 2015

Mengapa Allah menggunakan kata KAMI dalam Firman-Nya di Al Qur'an

Dalam Alquran terjemahan kerap kali ditemukan kata "kami" untuk merepresentasikan firman Allah. Contohnya, "Kami Maha Berkehendak".

Sementara itu, seperti diketahui bahwa kata "kami" merujuk pada makna jamak. Apakah ini berarti kami (Allah) itu jamak?

"Katakanlah, Dia (Allah) itu Satu." Ya, Allah SWT itu satu, tidak jamak.

Allah SWT tentu saja bukanlah manusia, bukan juga makhluk hidup dengan seperangkat kelamin. Bukan laki-laki, bukan pula perempuan.

Dalam gramatikal bahasa Arab, memang ada 14 dhamir (kata ganti orang). Dari huwa (kata ganti orang ketiga, tunggal dan laki-laki) hingga nahnu.

Sementara dalam Alquran, pemakaian kata ganti orang ini kerap kali digunakan untuk lafaz Allah SWT. Kitab suci umat Islam ini membahasakan "Allah" dengan kata ganti "huwa (Dia)". Yang mana, seperti dijelaskan sebelumnya, makna aslinya adalah dia laki-laki (1 orang). Namun semua tahu bahwa Allah SWT bukan laki-laki atau perempuan.

Jika Alquran memakai kata ganti Allah dengan lafaz “huwa”, bukan “hiya” (untuk perempuan), lantas bukan berarti Allah itu laki-laki.

Pemakaian “huwa” adalah corak keistimewaan bahasa Arab yang tak ada seorang pun meragukannya.

Hal ini sama pula dengan penggunaan "nahnu(kami)". Jika dilihat dari penggunaan asal katanya, nahnu merupakan kata ganti orang pertama jamak, baik laki-laki atau perempuan. Namun ini bukan berarti Allah itu berjumlah banyak (jamak).

Tak semua “nahnu” selalu berarti pelakunya banyak. Secara umum, “nahnu” memang menunjukkan jumlah jamak, namun orang yang belum paham bahasa arab akan kecele dengan ungkapan ini. Kata “kami” tak selalu menunjukkan kuantiti banyak, namun menunjukkan pula kebesaran sosok yang menggunakannya.

Untuk contoh, presiden dari tanah arab mengatakan, “Kami sampaikan salam..”, apa ini bermakna jumlah presiden negara itu ada dua atau tiga orang? Jawabnya tentu tidak. Kenapa? Lema “kami” yang dipakainya menunjukkan kebesaran negaranya, bukan menampilkan jumlah presiden.

Dengan demikian, yang menyebut Allah itu ada banyak (jamak) hanya gara-gara ada kata “kami” di Al-Qur’an, bisa diukur kemampuan otaknya. Wallahua’lam. (Sumber:BersamaDakwah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar