Selasa, 22 September 2015

Jika suamimu seorang Polisi

Jika Suamimu Seorang Polisi

Ketika seseorang memilih untuk menginjakkan kaki di dunia Kepolisian, maka dia telah menyerahkan sebagian besar hidupnya kepada masyarakat. Hanya sebagian kecil darinya yang dia ditinggalkan untuk keluarga, bahkan untuk dirinya sendiri.

Waktunya akan lebih banyak dihabiskan untuk orang lain daripada untukmu sebagai istri atau anak-anak. Pikiran dan tenaganya akan tercurah kepada orang-orang asing yang mungkin tidak akan mengingatnya dalam setiap doa, tidak sepertimu atau orang tuanya.

Kamu tahu? Dia akan lebih sering di rumah kantor daripada di rumahmu sendiri. Itu bukan karena dia menyukai Kantornya. Rumahmu tetaplah tempat yang membayang di pelupuk matanya setiap detik dia di Kantor ataupun Di Jalan. Karena KerjaanNya adalah tempat yang penuh tekanan.

Jika kamu bukan tenaga Keamanan, maka tidak akan terbayangkan seperti apa rasanya hidup di sana. Jangan heran jika seringkali mereka menyebutnya “Pasukan Bumi”.
Maka ketika dia terlihat dingin dan lelah, peluklah. Peluk sampai ke dalam lubuk hatinya.

Karena kamu mungkin tidak tahu bahwa Rekan Kerjanya baru saja meninggal dunia, atau KomandanNya baru saja memarahi dan menghukumnya, atau ada Masyarakat yang menyalahkan atas Tugasnya, atau rekan kerjanya yang tidak bisa diajak bekerja sama. Dengarkan ceritanya dengan sabar.

Jangan lupa ceritakan juga harimu padanya. Tawarkanlah untuk berdiskusi, karena kamu lebih dia percaya daripada siapapun di dunia.
Jika kamu menikahi seorang Polisi, jangan memiliki persepsi yang sama seperti kebanyakan orang, bahwa Polisi pasti kaya secara materi.

Sama seperti yang lain, dia akan mendaki dari bawah. Bahkan jam kerjanya di awal pendakian itu lebih banyak daripada profesi lain dengan imbalan yang pas-pasan. Tetaplah di sisinya, sama seperti dia yang selalu berusaha ada di sisimu.

Tetapi, sebanyak apapun Tugasnya, kamu dan kaluarga tetap menjadi prioritasnya. Dia akan menganggap dirinya sendiri sebagai Aparat Keamanan pribadimu.

Dia akan sangat kritis terhadap apapun mengenai dirimu yang terkait dengan Keamananmu, baik jasmani maupun rohani. Mungkin akan terdengar bawel, tapi itu adalah bentuk perhatiannya.

Seorang Polisi akan sangat perhatian kepada orang lain, tetapi tidak kepada dirinya sendiri. Maka tidak jarang kamu mendengar ironi tentang seorang Polisi meninggal dunia karena Tugas yang dilaksanakannya

Dia akan mendengarkan keluhan orang lain tapi mengabaikan keluhannya sendiri. Siklus makannya akan berantakan, begitu juga dengan waktu tidur yang jumlahnya dalam jam bisa dihitung dengan satu tangan saja.

Maka jadilah satu-satunya yang memperhatikan dia. Ingatkan untuk makan dan shalat, atau jika tidak sama sibuknya, bawakan makanan saat dia jaga malam. Kehadiranmu akan lebih menyenangkannya daripada makanan itu sendiri.

Jika Suamimu seorang Polisi, siapkah kau membagi perannya dengan orang lain?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar