Senin, 16 Februari 2015

Tak Perlu Khawatir dengan Rezeki

Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Dalam hadits lainnya disebutkan,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ

“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnul Qayyim berkata,

“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.

Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.

Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.

Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.

Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali)

Masihkah kita khawatir dengan rezeki?

Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Sabtu, 14 Februari 2015

Dialog dengan Atheis

Oleh: Dedih Mulyadi

KETIKA di Mesir, Ustadz Sa’ad Abdul Ghani bercerita kepada saya, tentang seorang atheis yang meyakini teori Darwin. Orang atheis ini mengajak debat beliau.

“Seluruh manusia itu asalnya dari monyet,” kata sang atheis.

Sambil tersenyum Ust Sa’ad menjawab, “Iya,,, saya setuju! Tapi itu buat kamu saja. Kalau saya sih keturunan manusia, yaitu Nabi Adam.”

Seketika itu juga atheis tersebut pergi dan marah-marah, karena tidak bisa menjawab lagi.

Lain halnya dengan ulama besar Bagdad, Imam Hasan al-Bashri yang juga ditantang oleh seorang atheis untuk berdebat tentang keberadaan Tuhan. Karena kepercayaan diri yang besar, laki-laki tak percaya Tuhan itu mengajukan syarat bahwa yang kalah harus dipancung. Al-Bashri pun sepakat.

Waktu yang disepakati pun tiba. Di suatu tempat, masyarakat Bagdad berjubel untuk menyaksikan perdebatan teologis yang monumental itu.

Mereka ingin tahu bagaimana ”nasib” Tuhan ditentukan. Ketika Al-Bashri belum tiba, si atheis telah berada di atas mimbar dan langsung berkoar-koar bahwa Tuhan hanya rekayasa manusia. Ia menunjukkan argumentasi bahwa Tuhan tidak ada, dan mereka yang percaya akan keberadaan Tuhan hanyalah orang-orang terbelakang yang gampang dibodohi halusinasi.

Menjelang Zuhur, Al-Bashri belum juga tiba. Hadirin mulai cemas.

Sementara itu, si atheis tampak gembira, seolah-olah kemenangan sudah digapainya. ”Lihatlah, imam kalian tidak datang. Ia tahu akan kalah, maka dia memilih tidak hadir untuk menghindari kematian. Akulah yang menang. Tuhan tidak ada. Ikutilah aku,” teriaknya.

Tiba-tiba Al-Bashri datang tergopoh-gopoh saat forum itu hendak disudahi dan kemenangan bagi si atheis sudah di pelupuk mata.

Dengan nada menyentak si atheis bertanya, ”Kenapa engkau datang terlambat? Engkau takut kalah dan takut dipenggal, bukan?”

”Maaf,” jawab Al-Bashri serius. ”Sebenarnya sejak pagi aku telah berusaha menuju tempat ini. Seperti engkau ketahui, untuk menuju ke sini, aku harus melintasi sungai Tigris. Namun tidak biasanya, di sungai itu tidak ada satu pun perahu melintas. Akhirnya aku shalat dan berdoa kepada Allah.

“Cukup lama aku berdoa, lalu aku melihat papan-papan bertebaran di sungai itu. Kemudian papan-papan itu menyusun satu sama lainnya menjadi sebuah perahu. Dengan perahu itulah aku melintasi sungai dan sampai di sini.”

Si atheis menyela, ”Ah, mustahil. Engkau dusta, engkau mengada-ada. Mana mungkin papan-papan itu tersusun menjadi perahu tanpa ada yang membuatnya?”

Hasan Al-Bashri menjawab, ”Ya, engkau benar. Itu mustahil. Mana mungkin papan-papan itu terbentuk perahu tanpa ada yang menyusunnya. Kalau begitu, mana mungkin jagat raya, alam semesta yang mahaluas ini berwujud, berjalan teratur dengan sendirinya, tanpa ada yang mencipta dan yang mengaturnya. Bagaimana mungkin darah, tulang, daging, kulit bisa terbentuk sendiri menjadi seperti dirimu?”

Si atheis terdiam, tidak berkutik. Argumentasinya kalah oleh ucapannya sendiri. Hadirin tertegun dan memuji kebesaran Allah, Subhanallah.
Tafakkaruu fil kholqi, walaa tafakkaru fil khooliq. 

BACA DOA INI EMPAT KALI AGAR TERLEPAS DARI NERAKA



Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat yang Maha Pemurah. Dia mengabulkan doa siapa yang meminta pada-Nya tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun. Dia mengampuni dosa siapa yang memohon pengampunan hanya kepada-Nya yang Maha Penerima tobat.

“Berdoalah kepada-Ku,” demikian perintah-Nya dalam al-Qur’an yang disucikan, “Niscaya Aku akan mengabulkannya,” tutup ayat yang mulia itu sebagai sebuah kepastian pengabulan dari Allah Ta’ala yang memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa hanya kepada-Nya.

Karenanya, doa adalah wujud ketergantungan seorang hamba kepada Allah Ta’ala yang telah menciptakan dan memenuhi semua kebutuhannya. Sedangkan Dia amat menyukai hamba-hamba yang bergantung hanya pada-Nya semata.

Doa adalah jaminan keterkabulan jika dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Rabbnya. Ialah sebuah jaminan nan amat pasti sebab Dia tidak mungkin mengingkari janji-Nya. Amat mudah bagi Allah Ta’ala untuk berikan semua yang dipinta oleh hamba-hamba-Nya, sebab tak ada satu pun orang yang mampu menandingi Kuasa-Nya.

Ada begitu banyak doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an maupun riwayat shahih dari hadits yang mulia melalui banyak jalur periwayatan.

Di antara banyak hadits itu, ada yang secara jelas menyebutkan ganjaran-ganjaran yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala bagi siapa yang membacanya. Bahkan ada di antara banyak riwayat itu yang menyebutkan berapa kali doa itu harus dibaca dan kapan membacanya.

“Barang siapa yang membaca (doa) di pagi atau sore hari, ‘Allahumma inni ashbahtu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika wa malaaikataka wa jami’a khalqika annaka antallahu laa ilaha illa anta wahdaka laa syarikalaka. Wa anna Muhammadan ‘abduka wa rasuluka.'”

(Ya Allah, sesungguhnya saya bersaksi kepada-Mu dan bersaksi pada pemilik ‘Arsy-Mu, dan para malaikat-Mu dan seluruh makhluk ciptaan-Mu. Sesungguhnya Engkau Allah, tiada Tuhan selain Engkau Yang Esa, tiada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu).

Jika dibaca sekali, sebagaimana kelanjutan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud ini, “Niscaya Allah Ta’ala akan membebaskan dirinya dari seperempat neraka.”

“Kemudian jika dibaca dua kali, niscaya dia dibebaskan dari neraka separuhnya. Barang siapa yang mengucapkannya tiga kali, maka dia terlepas dari neraka tiga perempatnya. Dan barang siapa yang mengucapkannya empat kali,” pungkas Nabi dalam hadits yang dikutip oleh Syaikh Musthafa Dib al-Bugha dalam “al-Wafi”, “maka Allah Ta’ala akan melepaskan dirinya dari neraka.”

Tentunya doa tersebut harus dibaca dengan sungguh-sungguh sehingga spiritnya terinstal sempurna ke dalam jiwa seseorang, kemudian terejawantah dalam amal sehari-hari; bukan sekadar ucapan kosong sebab pengucap tak ketahui makna yang terkandung di dalamnya dan malas mencari ilmu tentangnya.

Jumat, 13 Februari 2015

DZIKIR YANG PAHALANYA MEMENUHI LANGIT DAN BUMI



Allah Ta’ala melalui sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam banyak memberitahukan kalimat-kalimat dzikir, lengkap dengan pahala bagi yang mendawamkannya. Kalimat-kalimat dzikir yang termaktub dalam hadits shahih itulah yang lebih utama untuk dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dzikir adalah pujian kepada Allah Ta’ala Yang Mahasuci. Dialah Rabb yang bergantung pada-Nya semua urusan. Dzikir pujian ini harus diperbanyak; baik di pagi, siang, sore maupun malam hari. Ia juga harus senantiasa dilafalkan dalam setiap kondisi; berbaring, duduk, berdiri, dalam keadaan suka maupun duka.

Dzikir adalah bukti syukur. Sebuah ungkapan terima kasih atas karunia Allah Ta’ala yang tiada batas. Karenanya, siapa yang hiasi diri dan harinya dalam dzikir, maka Allah Ta’ala akan tambahkan nikmat padanya.

Sebaliknya, siapa yang sedikit ataupun jarang lantunkan dzikir, maka itulah cermin jiwanya yang kering kerontang. Sehingga, Allah Ta’ala gelapkan kehidupannya, susahkan hidupnya, dan kelak mendapatkan siksa sebab lupa pada-Nya adalah sebentuk kesombongan.

Teramat banyak riwayat yang menyebutkan fadhilah dzikir. Masing-masing kalimat memiliki keutamaan sesuai dengan yang Allah Ta’ala tentukan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

“Alhamdulillah,” sabda Nabi suatu ketika, “memenuhi timbangan.” Sedangkan kalimat Subhanallah walhamdulillah, dalam lanjutan riwayat oleh Imam Muslim itu, “Memenuhi ruang antara langit dan bumi.”

Itulah dua kalimat yang ringan diucapkan lisan orang yang beriman, namun memiliki keutamaan yang amat besar. Dua kalimat itu, jika sungguh-sungguh didawamkan, maka dalam sehari bisa diulang ribuan kali. Kalimat dzikir ini pula yang kelak menolong seorang hamba dalam pengadilan di Hari Kiamat.

Saudaraku, mari memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menolong kita dalam mengingat-Nya, dalam mensyukuri nikmat-Nya, dan dalam membaguskan ibadah kita. Sebab tak ada ketaatan kecuali atas Kehendak dan Pertolongan Allah Ta’ala.

Dengan Pertolongan-Nya itu, semoga sepanjang hari yang dilalui, dalam setiap detik nafas yang Allah Ta’ala berikan ini, semoga bisa dijalani dalam taat dan taqwa kepada Allah Ta’ala.

Di akhir tulisan, mari baca bersama kalimat dzikir nan mulia ini berulang kali: Subhanallahi walhamdulillah, subhanallahi walhamdulillah, subhanallahi walhamdulillah.

LAKUKAN AMALAN INI UNTUK MENGELUARKAN DOSA DARI JASAD



Inilah amalan yang menjadi salah satu penentu sah atau tidaknya shalat seorang muslim. Inilah amalan yang wajib dilakukan jika seseorang hendak melakukan shalat. Jika amalan ini batal, batal pula shalat seseorang dan wajib baginya untuk mengulang amalan ini.

Inilah amalan yang disunnahkan oleh Nabi untuk menjaganya. Bukan hanya ketika hendak mendirikan shalat, melainkan sepanjang hari dalam kehidupan seorang hamba. Bahkan saat hendak tidur, Rasulullah amat menganjurkan umatnya senantiasa dalam keadaan suci lantaran menjalankan amalan ini.

Sebab senantiasa memperbarui amalan ini saat batal dan mendirikan dua rakaat sunnah setelahnya, sahabat Bilal bin Rabah dikabarkan oleh Rasulullah telah terdengar langkahnya di surga. Padahal saat itu muadzin Rasulullah tersebut masih hidup di dunia.

Kelak di hari Kiamat, kaum muslimin bisa dikenali dengan amalan ini. Karena anggota tubuh yang digunakan dalam amalan ini akan mengeluarkan cahaya putih.

“Sesungguhnya umatku diseru pada hari Kiamat dalam keadaan putih berseri”, sebabnya adalah, “lantaran bekas wudhu.” Hadits nan mulia ini diriwayatkan oleh Muttafaq ‘Alaih.

Dalam banyak riwayat tentang anjuran mendatangi shalat berjamaah awal waktu di masjid pun, Nabi memulainya dengan wasiat, “Barang siapa berwudhu dengan sempurna…” Kemudian melangkah ke masjid tuk hadiri shalat berjamaah, maka Allah Ta’ala akan ampuni dosa orang tersebut dan mengangkat derajatnya.

Amalan ini pula yang dijanjikan oleh Nabi akan beroleh pahala nan melimpah saat disempurnakan pelaksanaannya ketika kondisi dingin nan menggigit tulang.

Amalan ini juga disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai salah satu amalan yang pahalanya dihapuskan dosa bagi pelakunya.

“Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya,” sabda Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim, “niscaya keluarlah kesalahan-kesalahan dari jasadnya.” Pungkas Rasulullah dalam hadits dari Utsman bin Affan ini, “Sampai keluar dari bawah kuku-kukunya.”

Subhanallah wal hamdulillah. Bahkan untuk amalan yang amat bermanfaat secara medis bagi pelakunya ini, Allah Ta’ala menyediakan pahala yang amat kelak di akhirat.

Menafsirkan banyak hadits keutamaan wudhu ini, Imam al-Ghazali menekankan pada aspek ruhani. Bahwa orang beriman yang rajin menjaga wudhu, mereka juga berkewajiban menjaga kesucian hati dari aneka jenis penyakitnya. Baik itu dengki, iri, nifaq, riya’, dan sebagainya.

Kamis, 12 Februari 2015

Usus Kotor Sumber Segala Penyakit

Usus Kotor Sumber Segala Penyakit, Begini Cara Membersihkannya!

Sumber dari segala penyakit adalah perut, perut adalah gudang penyakit dan berpuasa itu obat” (H.R. Muslim)

Berabad silam, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalaam telah mengindikasikan bahwa sebagian besar penyakit bersumber dari perut, yakni dari usus yang kotor.

Tahukah Sahabat Ummi bahwa panjang saluran pencernaan manusia 6 kali tinggi badan (± 10 meter) dalam jangka waktu panjang akan dikotori sisa makanan yang tidak terbuang yang rata–rata beratnya 3 – 11 kg, yang membusuk dan mengeluarkan zat–zat beracun di dalam usus kita. Zat racun /toxin ini terserap oleh usus dan menjadi sumber segala penyakit yang berbahaya.

Ibarat selang air yang dipenuhi dengan lumut hijau, bagian dalam usus kita juga akan penuh dengan tumpukan kotoran yang membuat saluran pencernaan tidak lancar jika tidak pernah dibersihkan.

Lalu bagaimana kah cara membersihkan usus yang kotor?

Cara terbaik untuk membersihkan usus besar secara alami adalah melalui makanan. Dengan pilihan makanan yang tepat, usus besar dapat dihapus dari racun dan limbah yang berpotensi merusak

Berikut ini beberapa makanan yang dapat membersihkan usus yang kotor:

1. Bawang putih
Bawang putih diketahui mematikan parasit dari usus. Ia memiliki kandungan antibakteri, yang menghambat pertumbuhan jamur dan virus. Bawang putih juga memiliki manfaat tambahan yang membantu meningkatkan perkembangan bakteri baik di dalam usus. 

2. Kelapa
Buah ini juga diketahui dapat membantu membunuh parasit dari saluran pencernaan. Minyak kelapa mengandung asam lemak rantai menengah (kaprilat, kaprat, dan asam laurat) yang merupakan kandungan antijamur, bermanfaat untuk mengobati infeksi jamur di organ sistem pencernaan. 

3. Lidah buaya
Lidah buaya memiliki racun dan pembersih alami yang membantu usus mempertahankan fungsi pencernaan sehat. Lidah buaya juga memiliki pencahar alami, membuatnya bermanfaat bagi orang yang rentan terhadap sembelit karena mampu menghilangkan racun dan parasit dari usus secara efektif. 

4 Serat dan probiotik
Untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi serat seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Sementara probiotik penting dikonsumsi untuk mengembalikan keseimbangan bakteri baik dalam usus. Probiotik bisa didapat dari yoghurt dan miso.

5. Banyak minum air putih
Salah satu cara untuk membuang racun dalam tubuh adalah dengan minum banyak air putih. Dengan minum banyak air putih, minimal 8-10 gelas setiap hari akan menghindarkan tubuh dari dehidrasi selama proses pembersihan usus.

Selamat mencoba, miliki usus yang sehat!

LAKUKAN INI, ALLAH AKAN BERIKAN APA YANG ANDA MINTA


Bangunlah di pagi hari dengan memuji nama Allah Ta’ala yang telah menghidupkan kembali setelah kematian dalam tidur yang sementara. Lalu, bergegaslah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu; yang di dalamnya ada aktivitas menghirup air ke dalam hidung, kemudian mengeluarkannya kembali. Di dalam hidung itulah, biasanya setan bersembunyi.

Rapikan badan, hiasi dengan pakaian terbaik dan wewangian yang dimiliki. Setelahnya, menghadaplah kepada Allah Ta’ala dalam dua rokaat pembuka yang pendek sebagaimana disunnahkan oleh Rasulullah.

Tambahlah dengan dua, empat atau enam rokaat lagi, sesuai kemampuan terbaik yang kamu miliki. Rukuklah, sujudlah, berdoalah; dengan takut jika tak dikabulkan dan khawatir jika pinta itu ditolak.

Akhiri tahajjud itu dengan satu, tiga, atau lima rokaat sebagai penutup malam. Itulah sunnah witir yang Nabi pun tak pernah luput dari mendirikannya. Setelah itu, tunggulah Subuh dengan perbanyak memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Itulah istighfar di waktu sahur yang pelaksanaannya dianjurkan langsung oleh Allah Ta’ala di dalam al-Qur’an.

Sahabtku, saat adzan Subuh mengalun syahdu mendayu, bergegaslah mendatanginya dengan semangat membaja. Iringi langkahmu dengan doa-doa yang disunnahkan. Kemudian, sampaikan pinta agar diri senantiasa dikuat dan istiqamahkan dalam taat kepada Allah Ta’ala.

Subuh, adalah pembeda. Hanya orang terpilih yang kuat mendawamkanya di awal waktu, berjamaah di masjid. Apalagi jika terazamkan agar tidak tertinggal takbir pertama imam. Allahu Akbar walilahil hamd.

Maka setelah subuh, bisa dioptimalkan untuk dzikir pagi, membaca, menghafal, atau menadabburi kalam-kalam Allah Ta’ala. Amat diutamakan jika bisa menjalanlannya hingga terbit kemudian melakukan shalat sunnah Syuruq.

Kemudian tatkala matahari mulai meninggi, saat hangatnya mulai terasa, jika pun di tengah-tengah kerja, sempatkanlah beberapa rakaat Dhuha sebagai salah satu bentuk syukur atas banyak nikmat yang telah Dia berikan.

Lantas dalam sehari itu, azzamkan untuk melakukan sunnah-sunnah nan mulia guna mengiringi dan menyempurnakan ibadah wajib yang seringkali dikerjakan apa adanya.

“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan ibadah sunnah sampai Aku mencintainya,” demikian Firman Allah dalam hadits qudsi.

Jika Allah telah mencintai seorang hamba, “Maka Aku yang menjadi pendengarannya saat dia mendengar, Akulah yang melihat saat dia melihat, menjadi tangannya saat dia memukul, dan menjadi kakinya saat dia berjalan.”

Jika sudah mencapai taraf ini, lanjut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ini, “Apabila dia meminta kepadaKu, pasti Kuberi; jika dia meminta perlindungan kepadaKu, pasti Aku lindungi; dan jika dia berdoa kepadaKu, pasti Aku kabulkan.”

Demikianlah, semoga Allah Ta’ala memberikan kekuatan agar kita istiqamah dalam taat. Aamiin