Sabtu, 13 Mei 2017

Makna KAFIR

Makna kata Kafir (Kutipan)



            Kāfir (bahasa Arab: كافر kāfir; plural كفّار kuffār) secara harfiah berarti orang yang menutupi,  menyembunyikan sesuatu, atau menyembunyikan kebaikan yang telah diterima atau tidak berterima kasih atau mengingkari kebenaran.

            Dalam al-Quran, kata kafir dengan berbagai bentuk kata jadinya disebut sebanyak 525 kali. Kata kafir digunakan dalam al-quran berkaitan dengan perbuatan yang berhubungan dengan Tuhan,  seperti :
1)      Mengingkari nikmat Tuhan dan tidak berterima kasih kepada-Nya (QS.16:55, QS. 30:34)
2)      Lari dari tanggung jawab (QS.14:22)
3)      Menolak hukum Allah (QS. 5;44)
4)      Meninggalkan amal soleh yang diperintahkan Allah (QS. 30:44)

            Dalam terminologi kultural kata ini digunakan dalam agama Islam untuk merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur). Namun yang paling dominan, kata kafir digunakan dalam al-Quran adalah kata kafir yang mempunyai arti pendustaan atau pengingkaran terhadap Allah Swt dan Rasul-RasulNya, khususnya nabi Muhammad dan ajaran-ajaran yang dibawanya.

            Secara istilah, kafir adalah orang yang menentang, menolak, kebenaran dari Allah Swt yang di sampaikan oleh RasulNya. atau secara singkat kafir adalah kebalikan dari iman. Dilihat dari istilah, bisa dikatakan bahwa kafir sama dengan non muslim. Yaitu orang yang tidak mengimani Allah dan rasul-rasul-Nya serta ajarannya.

Ditinjau dari segi bahasa, kata kafir tidak selamanya berarti non muslim, karena ada penggunaan kata kafir atau pecahan dari kata kafir seperti kufur, yang bermakna inkar saja, tidak sampai mengeluarkan seseorang dari keislaman. Contohnya kufur nikmat, yaitu orang yang tidak pandai/mensyukuri nikmat Tuhan, atau dalam istilah lain disebut sebagai kufrun duna kufrin (kekufuran yang tidak sampai membawa pelakunya kafir/keluar dari islam).

Etimologi

Kāfir berasal dari kata kufur yang berarti ingkar, menolak atau menutup. Pada zaman sebelum Islam, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, menutup/mengubur dengan tanah. Sehingga kalimat kāfir bisa dimplikasikan menjadi "seseorang yang bersembunyi atau menutup diri". Dalam bahasa Islam, kāfir sebuah kata yang digunakan untuk seseorang yang menolak atau tidak memeluk agama Islam. Jadi menurut syariat Islam, manusia kāfir terdiri dari beberapa makna, yaitu :
·         Orang yang tidak beragama Islam atau orang yang tidak mau membaca syahadat.
·         Orang Islam yang tidak mau shalat.
·         Orang Islam yang tidak mau puasa.
·         Orang Islam yang tidak mau berzakat.

Kata kāfir dalam Al-Qur'an


Di dalam Al-Qur'an, kitab suci agama Islam, kata kafir dan variasinya digunakan dalam beberapa penggunaan yang berbeda, diantaranya  :

·         Kufur at-tauhid (Menolak tauhid) :
Dialamatkan kepada mereka yang menolak bahwa Tuhan itu satu. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (Al-Baqarah ayat 6)

·         Kufur al-ni`mah (mengingkari nikmat) :
Dialamatkan kepada mereka yang tidak mau bersyukur kepada Tuhan. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (la takfurun). (Al-Baqarah : 152)

·         Kufur at-tabarri (melepaskan diri)  :
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu (kafarna bikum)..." (Al-Mumtahanahayat 4)

·         Kufur al-juhud  :
Mengingkari sesuatu maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar (kafaru) kepadanya. (Al-Baqarah ayat 89)

·         Kufur at-taghtiyah: (menanam/mengubur sesuatu)  :
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (kuffar). (Al-Hadid 20)

Jenis-jenis kafir 

            Merujuk kepada makna bahasa dan beragam makna kafir dalam ayat al-Quran, Kafir terbagi menjadi beberapa golongan, diantaranya adalah  :

1)      Kafir harbi, yaitu kafir yang memerangi dan diperangi, yang memusuhi Islam. Mereka senantiasa ingin memecah belah orang-orang mukmin dan bekerja sama dengan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu (QS. 9:107)

2)      Kafir ’Inad, yaitu kafir yang mengenal Tuhan dengan hati dan mengakui-Nya dengan lidah, tetapi tidak mau menjadikannya sebagai suatu keyakinan karena ada rasa permusuhan, dengki dan semacamnya. Dalam al-Quran mereka digambarkan seperti orang-orang yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah, mendurhakai rasul-rasul Allah Swt, dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang menentang kebenaran (QS.11:59).

3)      Kafir inkar, yaitu yang mengingkari Tuhan secar lahir dan batin, Rasul-rasulNya serta ajarannya yang dibawanya, dan hari kemudian. Mereka menolak hal-hal yang bersifat ghaib dan mengingkari eksistensi Tuhan sebagi pencipta, pemelihara dan pengatur alam ini. Mereka seperti penganut ateisme. (QS. 2:212) (QS. 16:107).

4)      Kafir kitabi. Kafir kitabi ini mempunyai ciri khas tersendiri di banding dengan kafir-kafir yang lain, karena kafir kitabi ini meyakini beberapa kepercayaan pokok yang dianut Islam. Akan tetapi kepercayaan mereka tidak utuh, cacat dan parsial. Mereka membuat diskriminasi terhadap rasul-rasul Allah dan kitab-kitab suciNya, terutama terhadap Nabi Muhammad dan Al-Quran. Dalam al-Quran mereka disebut sebagai ahlul kitab, Mereka adalah orang yahudi dan nasrani.

5)      Kafir Dzimi, yaitu orang kafir yang tunduk pada penguasa islam dan membayar jizyah/upeti

6)      Kafir Muahad, yaitu orang kafir yang tinggal di Negara kafir, yang ada perjanjian damai dengan Negara islam.

7)      Kafir Musta’man, yaitu orang kafir yang masuk ke Negara islam,dan mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah.

            Dilihat dari macam-macam kafir di atas dan masih ada lagi beberapa istilah kafir, maka kata kafir adalah istilah yang sangat umum, istilah bagi orang yang mengingkari Allah dan RasulNya serta ajaran yang dibawanya, mereka bisa dari kalangan yahudi, nasrani, ateis, majusi, hindu, budha, konghuju dan yang lainya, yang tidak mengimani Allah dan Rasul-rasulnya serta ajarannya. Mereka semua adalah non muslim.

            Sebenarnya jika mereka memahami arti dan konsekuensi dari kata non muslim, sama saja mereka mendengar kata kafir secara istilah. Hanya mungkin kedengarannya lebih halus, ketimbang disebut sebagai kafir.

Orang-orang kafir berakhlak mulia ?

            Bisa saja orang-orang kafir berakhlak baik, seperti jujur, tidak korupsi, tidak berzina, berbuat baik dengan tetangga, menyantuni orang miskin, dll. Namun akhlak baik itu tidak cukup untuk menghapuskan status dia dari katagori orang kafir, manakala mereka tetap ingkar kepada Allah, atau ingkar kepada rasul-rasulnya termasuk Nabi Muhammad dan ajarannya.

            Dalam al-Quran surat almaidah ayat 5: dihalalkan bagi kalian.....perempuan-perempuan yang terjaga kehormatannya dari ahli kitab (yahudi / nasrani). Artinya ada dari kalangan mereka yang secara manusiawi melakukan akhlak atau perilaku yang baik.

            Dalam kehidupan sehari-hari, tidak seharusnya seorang muslim memanggil orang kafir dengan sebutan kafir (wahai orang kafir), meskipun seorang muslim wajib yakin bahwa orang selain islam adalah kafir karena al-Quran telah jelas menyatakan hal itu.

            Rasulullah Saw dalam berinteraksi dengan orang-orang yahudi, atau orang musyrik, kafir quraisy, yang mana mereka adalah golongan orang-orang kafir, Rasulullah tidak memanggil dengan sebutan ”ya kafir”. Tapi beliau menyebut misalnya orang yahudi, nasrani, qurays, bahkan ketika mengirim surat ke raja romawi menggunakan kata-kata ”ya adhimu rum”.

            Jadi yang perlu di fahamkan adalah definisi kafir, katagori kafir dalam Islam, dan ketika penyebutan kata-kata kafir, tidak selamanya mempunyai konotasi beraklak buruk, jahat, dan sifat-sifat kotor lainnya. dan tidak juga pelecehan nilai-nilai kemanusiaan, karena semua manusia adalah ciptaan Allah. dan dari segi humanity semua manusia adalah saudara.  Akan tetapi penyebutan kata kafir lebih kepada masalah keimanan, dimana mereka tidak mau mengimani Allah Swt sebagai Tuhan, dan Muhammad Saw sebagai RasulNya serta mengingkari ajaran-ajarannya. Dan kafir secara istilah sama saja dengan makna non muslim, artinya jika mereka rela dipanggil non muslim, sebenarnya tanpa disadari mereka rela dipanggil kafir dari perspektif islam.

Macam-Macam Kekafiran

               Hadis Jibril yang populer menyebutkan, agama terdiri dari tiga tingkatan,  yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Ihsan mencakup Islam dan Iman. Sedang Iman  mencakup Islam, dan Islam sendiri menuntut dasar keimanan.

               Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa dasar agama adalah pelaksanaan Islam  secara global dan menyatakan kepercayaan terhadap semua berita yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw berdasarkan keyakinan. Orang yang melaksanakan dasar ini, sebagai langkah awal, ia telah dinyatakan Islam. Jika kemudian diikuti  dengan melaksanakan perintah-perintah agama dan meninggalkan  larangan-larangannya, serta tidak melakukan pelanggaran yang berarti, maka  keislamannya meningkat dan dapat berlanjut pada kesempurnaannya dengan  merealisasikan iman dan ihsannya.

               Pengakuan ini adalah dasar agama. Ketika iman terdiri dari pokok-pokok (ushul) dan cabang-cabang (furu'), yaitu melakukan kewajiban-kewajiban dan kebaikan-kebaikan serta meninggalkan larangan-larangan, maka cabang-cabang  ini tidak berarti apa-apa kecuali jika dasarnya telah terlaksana. Maka orang  yang berpaling dari dasar ini, pada kenyataannya ia adalah kafir, meskipun ia  melaksanakan cabang-cabang iman.

               Demikian juga kekafiran, ia terdiri dari pokok-pokoknya dan bagian-bagiannya.  Maka orang yang terjerumus ke dalam pokok kekafiran, yaitu yang bertentangan  dengan pokok iman dan hakikatnya, maka tidak diragukan lagi bahwa ia adalah  kafir. Adapun orang yang terjerumus ke dalam bagian-bagian tertentu dari kekafiran yang tidak bertentangan dengan pokok-pokok keimanan dan hakikatnya, sedangkan ia memiliki pokok keimanan yang menetapkan keislamannya, maka ia  tidak dapat diklaim sebagai kafir.

               Akan tetapi, tindakannya yang melakukan bagian-bagian dari kekafiran memberikan pengaruh pada cabang-cabang keimanan, dari segi derajat  keimanannya, sebagaimana dikemukakan oleh sebagian ulama salaf ketika mereka  ditanya mengenai sabda Rasul saw, "Tidak ada seseorang yang berzina ketika  dia dalam keadaan mukmin" mereka mengatakan bahwa inilah Islam yang meliputi  cakupan yang luas, sedangkan iman meliputi cakupan kecil dalam lingkup yang  besar. Maka, ketika seseorang berzina atau mencuri, ia keluar dari lingkaran  iman masuk ke lingkaran Islam, tetapi tidak mengeluarkannya dari Islam  kecuali jika ia mengingkari Allah SWT.

               Oleh karena itu, hilangnya keislaman seseorang mengharuskan hilangnya keimanan darinya, berbeda dengan hilangnya keimanan seseorang tidak  mengharuskan hilangnya keislaman darinya.

               Jadi, pokok iman berhadapan dengan pokok kufur. Tingkatan keimanan dan cabang-cabangnya berhadapan dengan tingkatan kekafiran dan bagian-bagiannya. Masing-masing dari keduanya saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya, ada  dan tidak adanya.

               Dari keterkaitan yang terdapat pada nama-nama dan hukum-hukum ini, jelaslah bagi Anda maksud para ulama mengenai pembagian kafir menjadi bermacam-macam, dan ketahuilah bahwa hal ini merupakan penjelasan yang menyatakan bahwa tidak selayaknya seseorang menuduh orang atau perbuatan tertentu sebagai kekafiran. Maksudnya adalah kekafiran yang bertentangan dengan pokok iman yang mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi kadang-kadang juga dimaksudkan  selain itu, yaitu apa yang sering disebut dengan kufur kecil yang menurunkan  iman seseorang tetapi tidak menghilangkan keislamannya, sedangkan  keislamannya tersebut hanya akan hilang apabila ia mengingkari atau kafir  kepada Allah SWT.

Pangkal Macam-Macam Kekafiran

               Sebagaimana disebutkan bahwa dilihat dari segi berlawanannya dengan pokok keimanan, kekafiran terdiri dari beberapa macam. Berdasarkan hal ini  kekafiran dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

Pertama
Sesuatu yang bertentangan dengan agama, yaitu mengeluarkan seseorang  dari Islam dan menjadi kafir dan diakhirat ia kekal di dalam neraka.

               Para ulama menyebutkan kekafiran ini dengan kufur besar (al-kufru al-akbar), yaitu kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari Islam dan menggugurkan keimanannya. Kekafiran ini adalah kufur yang tidak memberikan kesempatan menyandang iman bagi orang yang masuk ke dalamnya, dan itu terjadi dengan perkataan atau perbuatan yang menunjukkan kekafiran tersebut dengan  dilakukannya unsur-unsur kekafiran tersebut.

               Oleh karena itu, ungkapan bahwa kekafiran yang berdasarkan keyakinan adalah  kekafiran yang besar (al-kufru al-akbar) dan ia berhadapan dengan kafir perbuatan yang merupakan kufur kecil adalah ungkapan yang salah. Akan tetapi,  kufur perbuatan kadang-kadang merupakan kufur akbar (kufur besar).

               Ibnu Qayyim ra berkata, "Sebagaimana kekafiran terjadi dengan perkataan, dan  itu merupakan bagian dari kekafiran, demikian pula kekufuran terjadi sebab melakukan sebagian perbuatan kafir seperti menyembah patung dan menghina  mushhaf."

Kedua
Tindakan yang tidak bertentangan dengan pokok keimanan, tetapi  perbuatan tersebut berkaiatan dengan cabang-cabang iman, tingkatannya, dan  hal-hal yang dapat menyempurnakannya, sehingga tidak mengeluarkan seseorang  dari lingkaran agama Islam. Sebab, pokok iman masih melekat pada dirinya,  selama tidak ada penentangnya, baik dari perkataan maupun perbuatan.

               Pada  kekafiran semacam ini, yang hilang adalah kesempurnaan iman dan derajat yang
dapat meningkatkan pokok iman dan tingkatan keislamannya, bukan semata-mata  iman.

               Kekafiran ini yang disebut dengan 'al-kufru al-ashghar' (kufur kecil) adalah selain dari kufur besar. Untuk menyebut hal ini, para ulama mempunyai istilah  khusus seperti sebutan 'kufrun duuna kufrin' (kekafiran di bawah kekafiran),  kezaliman di bawah kezaliman dan kefasikan di bawah kefasikan.

Al-Kufru al-Akbar (Kafir Besar)
Al-Kufru al-akbar (kafir besar) adalah sesuatu yang bertentangan dengan pokok  iman dan hakikatnya, yang menjadikan seseorang kekal di dalam neraka dan  mengeluarkan seseorang dari Islam.

               Al-Kufru al-akbar terbagi menjadi beberapa macam. Para ulama menyebutkan beberapa hal, di antaranya Ibnu Qayyim, dia berkata: "Kufur akbar terdiri  dari lima macam, yaitu :
1.      Kafir karena dusta
2.      Kufur karena takabbur dan enggan  percaya
3.      Kufur karena berpaling
4.      Kufur karena ragu
5.      Kufur karena nifaq  (munafiq)."

Dalil-dalil kekafiran tersebut :

Pertama
Kufur karena dusta, Allah berfirman yang artinya, "Maka siapakah yang  lebih dzalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan  mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya. Bukankah di neraka Jahannam  tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?" (Az-Zumar: 32)

Kedua
Kufur karena takabbur dan enggan percaya, Allah berfirman, "Dan  (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'sujudlah kamu kepada  Adam', maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabbur dan adalah  dia termasuk golongan orang-orang yang kafir?" (Al-Baqarah: 34)

Ketiga
Kufur karena berpaling, Allah berfirman, "Kami tiada menciptakan  langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan  (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang  kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka." (Al-Ahqaaf: 3)

Keempat
Kufur karena ragu, Allah berfirman, "Dan dia mempunyai kekayaan  besar, maka ia berkata dengan kawannya (yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap  dengan dia, 'Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku  lebih kuat', Dan ia memasuki kebunnya sedang ia zalim terhadap dirinya  sendirinya, ia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,  dan aku tidak mengira bahwa hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya  aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang  lebih baik  kepadanya, sedang ia bercakap-cakap dengannya, 'Apakah kamu kufur kepada  (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu  Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna'." (Al-Kahfi: 34-37)

Kelima
Kufur karena nifaq, Allah berfirman, "Yang demikian itu adalah karena  bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu  hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti." (Al-Munafiquun: 3)

               Syekh Ibnu Taimiyah membagi kufur menjadi dua macam, yaitu kafir zahir dan kafir nifaq (kafir yang terang-terangan dan kafir yang disembunyikan). Syekh Muhammad Shiddiq Khan juga membagi kafir menjadi dua macam, yaitu kafir
sharih (jelas) dan kafir ta'wil.

               Namun demikian, pendapat Muhammad Hasan khan memerlukan penjelasan lebih  lanjut, yaitu tentang bentuk kafir yang kedua, yaitu kafir ta'wil. Jika yang  ia maksudkan adalah kafir kecil (ashghar), maka ia tidak termasuk ke dalam  macam-macam kekafiran dalam pembahasan ini (kafir besar). Hal ini, karena  seseorang yang melakukan kafir yang besar kadang-kadang berdasarkan  penafsiran (ta'wil) yang ia lakukan, dan ia dapat diampuni karena beberapa  alasan seperti penafsiran itu sendiri.

               Pembagian kafir besar (akbar) yang dilakukan para ulama tidak terlepas dari pembagian istilah yang memerlukan banyak pertimbangan, yang terpenting adalah pertimbangan ilmiyah dengan meneliti nash-nash dan ijtihad berdasarkan  nash-nash tersebut.

               Hal itu dilakukan untuk memberikan penjelasan kepada manusia supaya mereka  mempelajarinya dan tidak terjerumus ke dalam kekafiran itu, sebagai upaya menghalau keragu raguan atau kesamaran-kesamaran yang timbul dalam benak manusia, seperti mereka yang berkeyakinan bahwa kafir hanya ada satu macam  yaitu ingkar kepada Allah Sang Pencipta atau keyakinan adanya sekutu bagi  Allah, dan selain itu tidak berpengaruh kepada keimanan selama pernyataan  tauhid (dua syahadat) telah diucapkan dengan jelas.

               Jika kita mau melihat hakikat kafir yang merupakan lawan dari iman dari setiap aspeknya, di mana orang yang melakukannya berdasarkan pengetahuan dan  dengan sengaja menjadi kafir dan keluar dari agama Islam di dunia, sedang di  akhirat ia kekal di dalam neraka, maka jika kita ingin mengetahui hakikat  kekafiran dari aspek ini, kita dapat mengembalikan semua pembagian kekafiran  pada tiga pokok yang menghimpun macam-macam kekafiran besar tersebut.

               Dapat dilihat dari segi kekafiran yang menghilangkan pokok keimanan,  yaitu penyimpangan dengan perkataan hati yang merupakan perwujudan ilmu dan kepercayaan, dan perbuatan hati yang merupakan ketaatan atas keislamannya.  Hal itu dikarenakan iman adalah perkataan dan perbuatan, dan keduanya adalah  fondasi yang asasi. Jika salah satunya menyimpang, yang lainnya tidak  diperhitungkan. Hal yang dapat menghilangkan pokok iman ini adalah jika  berpaling dari pelaksanaan secara terperinci dalam melakukan perintah atau  meninggalkan larangan, dan kekafiran itu terjadi dengan menolak perintah dan  mengingkarinya.

               Pokok iman kadang-kadang ditetapkan jika terdapat pernyataan dan pelaksanaan  secara global, bahkan kadang-kadang ditetapkan pula dengan cara yang lebih  tinggi derajatnya, yaitu dengan pelaksanaan secara terperinci. Akan tetapi, kadang-kadang terjadi kekurangan yang juga dapat mengurangi keimanan.

Sumber: Al-Jahlu bi Masaailil I'tiqaad wa Hukmuhu, Abdur Razzaq bin Thahir  bin Ahmad Ma'as

Kamis, 27 April 2017

Meng-Islam-kan orang Islam

Kembali Merefleksikan keislaman dan keimanan kita sebagai upaya memperbaharui diri

Pernah mendengar umat islam yang perilakunya tidak islam? Atau melihat suatu tindakan yang bukan islam tetapi mengatas nama-kan islam. Atau joke tentang orang islam di Indonesia, “yang ditangkep (maling) orang islam, yang nangkep (polisi) orang islam, yang memenjarain orang islam.., koruptor orang islam, KPK-nya orang islam, jaksanya orang islam, hakimnya orang islam, pengacaranya orang islam.., kalo jum’atan yang hilang sendalnya orang islam, yang minta-minta (pengemis) orang islam, yang ngasih (orang kaya) orang islam..,” Komplit dech pokoknya macem-macemnya orang islam.

Tulisan ini terinspirasi dari suatu kejadian interaksi saya dengan seorang kawan yang berasal dari daerah (Sumatera). Dia itu kalo bercanda (menurut saya) sama istrinya kelewatan, ya salah satunya adalah mengungkapkan kata “kalau begini terus, ku cerai-kan kau” ungkapnya dengan nada bercanda, karena mengomentari sikap istrinya yang mungkin kurang menyenangkan. Dalam sudut pandang islam, kata-kata tersebut sudah dapat masuk talak I. Saya juga sudah lupa, berapa kali dia sering mengatakan kata-kata itu kepada istrinya.

Oke dech fokus ke pembahasan tentang meng-islamkan orang islam dan mengimankan orang beriman.

Memang sejarah islam memang tidak lepas dari dakwah islam tempo dulu yang melakukan pendekatan budaya yang sudah ada. Terjadi akulturasi budaya yang masif antar ajaran islam dan ajaran sebelumnya. Maka jangan aneh ya, kalo ada pagelaran budaya do’a-do’anya dengan bahasa arab tetapi sesajen-nya juga ada. Dan jangan heran pula, ada dzikir akbar dan dzikir bersama yang memang dalam tradisi islam jaman Rasulullah tidak ada., itu adalah serapan dari berbagai macam budaya. Termasuk sisa-sisanya adalah tujuh-bulanan, seratus hari., 1000 hari dan lainnya.

Kita tidak bisa menafikan itu memang lahir dari sebuah budaya asli Indonesia. Ulama zaman dahulu memahami keunggulan substansi budaya itu, yang pada hakikatnya mengesakan Allah, penghormatan dan bentuk suatu adab hamba terhadap tuhannya. Dakwah ulama-pun belum tuntas, ada yang perlu diluruskan dengan tradisi-tradisi tersebut. Perjuangan ulama zaman dahulu perlu diteruskan. Memang tujuan utama ulama zaman dahulu dakwah di Indonesia adalah tauhid (dahulu), sisanya menyusul.

Adanya sejarah tersebut, menyisakan umat islam (di Indonesia) yang lahir dengan campuran budaya. Tauhidnya tauhid, Islamnya ngakunya islam, tapi perilaku dan syariat terkadang ada penyimpangan. Namun itu proses, masyarakat harus terus dibimbing.

Contohnya, banyak masyarakat yang tidak mengetahui bercandaan tentang “cerai” yang saya kasih pada awal artikel ini merupakan kejadian yang banyak terjadi di masyarakat kita. Banyak yang tidak mengetahui, bahwa kata-kata tersebut sudah masuk talak. Dengan banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui itu, maka banyak pernikahan masyarakat kita yang tidak sah secara syari’i tetapi mereka tidak mengetahuinya (ya karena sudah menalak istrinya berkali-kali ^_^).
Banyak contoh lainya (anda bisa kasih contoh lainya di komentar) yang terjadi di masyarakat kita tentang syariat islam. Hal kecil lain adalah masalah kesucian pakaian yang terjadi di lingkungan masyarakat kumuh dan nyuci di kali (sungai) yang kotor. Tentang cara berpakaian (kerudung) bagi perempuan, berwudhu, shalat, jual-beli dll. Kembali lagi ini bicara tentang islam antara ajaran dan budaya.

Memang itu realitas yang ada dalam masyarakat islam.Kita tidak bisa menyalahkan mereka sebagai pemeluk islam, yang sesungguhnya memang sudah sesuai fitrahnya ingin baik. Namun perlu bimbingan. Apalagi saat sekarang, sudah mata pelajaran agama hanya dua jam di sekolah (atau di kampus 2 SKS), untung kalo ikut madrasah, ajaran di TV (sinetron islam) cuma kulit-kulitnya saja, apalagi propaganda media lebih banyak jeleknya tentang islam. Lengkap sudah umat islam Indonesia dalam kebimbangan bimbingan agama.
Itu baru berbicara tentang penerapan syariat dalam hidup kita., ada lagi yang lebih mendalam yaitu tentang keimanan. Sejauh apa keimanan diri kita kepada Allah. Terkadang kita masih khawatir dengan rezeki dan masa depan kita. Terkadang kita lebih takut dengan atasan daripada takut dengan Allah dan terkadang kita lebih mengutamakan klien daripada Allah. Untuk mengetahui tingkatan iman kita, lihat yuk tingkatan iman.

Tingkat keimanan kita merupakan kualitas keislaman kita. Tingkatan yang mana kualitas keimanan anda?

1.  Imanun taklid, kita beriman kepada Allah tetapi hanya ikut-ikutan (yang banyak dilakukan oleh orang Indonesia). Iman karena memang orang tuanya beriman, iman katanya. Udah gitu, orang beriman ini tidak mencari bukti-buktibaik secara akal maupun empiris tentang keimanan itu. Iman ini sah, tetapi biasanya dilakukan dibarengi dengan perbuatan dosa. Istilah kerenya, STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan). Makanya jangan heran ada orang islam yang korupsi.

2.Imanun Ilmi’, kita berimana dan percaya kepada Allah sekaligus mencar-cari bukti tentang Allah itu. Inilah imannya para intelektual dan akademisi (biasanya). Makanya, Albert Einsten sangat mempercayai keberadaan tuhan/Allah karena merasa takjub dengan pengetahuan yang diciptakan oleh Allah. Begitu juga dengan ilmuan lainya.

3.Imanun ‘Iyanun, Kita menyakini Allah dan kita merasa diawasi oleh Allah. Maka orang yang sudah dalam taraf keimanan ini dia selalu menjaga sikap dan perbuatanya. Karena merasa Allah selalu mengawasi dirinya.

4.Imanun Haq, wah ini tingkat keimanan seseorang yang luar biasa yaitu keimanan yang sudah “apa yang dilihat dan dirasa adalah Allah”. Ketika melihat sesuatu, yang tersirat dan yang terbayang adalah Allah. Dia melihat Allah dengan hatinya. Bahkan melihat keburukan-pun, ia melihat bahawa Allah ingin menimpakan kabaikan. Subhanallah.

5.Iamnun Kaqiqotun, Ini level tertinggi keimanan seseorang. Ini sulit didefinisikan dan bentuk perilakuknya seperti apa. Yang jelas, ketika sudah dalam tahap iniseseorang sudah melebur dan mabuk saking cinta-Nya kepada Allah. Bahkan yang ekstrim, merasa dirinya tidak ada yang ada hanya Allah. No comment dech!

So apa yang bisa kita lakukan. Ya lakukanlah yang bisa dilakukan. Minimal belajar meng-islam kan diri kita secara kaffah setahap demi setahap. Ya refleksilah diri kita, sejauh mana pemahaman kita tentang agama yang kita anut ini, sekaligus memahami agama bukan hanya sebagai kumpulan dogma-dogma dan doktrin-doktrin yang mengikat. Tetapi juga sebagai agama yang mententramkan dan membahagiakan. Ya refleksilah, tingkatan mana keimanan kita ?!
Kita terkadang ribut mempertanyakan ke-islaman orang lain bahkan men-justice kafir, bid’ah dan tidak sesuai islam. Lihatlah bagaimana Rasulullah membimbing umat islam dalam memahami islam secara menyeluruh, rahmatan lil ‘alamin.

Ups, sedikit melenceng. Kembali ke pembahasan.
Mendekati bulan ramadhan, tentunya bisa menjadi refleksi diri kita bagaimana selama ini kita menjalankan islam. Bukan hanya sebagai dogma tetapi penghayatan. Sejauh mana kita memahami agama kita ini dan bagaimana kita menerapkan ajaran-ajaran islam dalam diri kita, Apalgi di moment Ramadhan, banyak kajian-kajian tentang agama islam, dan awas!!! Jangan terjebak dalam “ajaran konyol pelawak ramadhan” yang bakal ramai di Ramadhan nanti. Selamat menunaikan ibadah puasa ya, semoga kita mendapatkan kekuatan optimal dalam menghadapi Ramadhan.

Jumat, 21 April 2017

Penggunaan Kekuatan dan Senjata Api oleh Polisi

Begini, penggunaan senjata api diatur dalam Peraturan Kapolri No 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian (Perkap No 1/2009).
Pasal 5 ayat (1) Perkap No 1/2009 ini menyebutkan enam tahapan penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian, yang terdiri dari :

TAHAP 1 : kekuatan yang memiliki dampak pencegahan

Mudahnya begini. Saat polisi berdiri menggunakan seragam, dia sudah menggunakan kekuatan tahap 1. Percaya tidak? Bayangkan misalnya ada polisi di perempatan jalan, pasti mencegah niat orang untuk melanggar/menjabret, bukan?

TAHAP 2 : perintah lisan

Oke. Lanjut. Kalau misalnya keberadaan polisi saja tidak membuat pelaku takut, maka polisi akan berteriak, “BERHENTI!!!” Saat polisi mengeluarkan suara, maka itulah kekuatan Polri tahap ke-2.

TAHAP 3 : kendali tangan kosong lunak

Misalnya orang tersebut tidak mau berhenti, dan terus mendekati petugas, petugas akan mencoba menahan dengan tangan. Saat tangan petugas bersentuhan dengan tubuh tersangka, itu adalah tahap ke-3.

TAHAP 4 : kendali tangan kosong keras

Tersangka ini tetap melawan, membuat petugas menggunakan gerakan bela diri untuk menghentikan tersangka. Ini adalah tahap ke-4.

TAHAP 5 : kendali senjata tumpul, senjata kimia antara lain gas air mata, semprotan cabe atau alat lain sesuai standar Polri

Jika sudah dibanting, ongos atau diapakan sj dgn tangan kosong keras, dan sebagainya tetap saja melawan, maka petugas dapat menggunakan senjata tumpul atau senjata kimia. Misalnya tongkat T, double stick, tongkat rotan, tameng dalmas, atau gas air mata. Ini adalah tahap ke-5.

TAHAP 6 : kendali dengan menggunakan senjata api atau alat lain yang menghentikan tindakan atau pelaku kejahatan atau tersangka yang dapat menyebabkan luka parah atau kematian anggota Polri atau anggota masyarakat

Nah, tahap terakhir barulah  seorang petugas menggunakan senjata api.

Pengertian “TAHAP” di sini bukan berarti sesuatu yang harus berurutan. Sebab Pasal 5 ayat (2) Perkap No 1/2009 berbunyi:

“Anggota Polri harus memilih tahapan penggunaan kekuatan sebagaimana dimaksud ayat (1), sesuai tingkatan bahaya ancaman dari pelaku kejahatan atau tersangka...”

Kata kuncinya adalah MEMILIH.  Jadi misalnya seperti  saat saya turun bersama pasukan mendatangi TKP perang antar kampung, dimana masyarakat lengkap membawa parang, panah, busur, meriam tradisional, (senjata api tradisional dengan menggunakan prinsip meriam, diawali dengan bubuk mesiu, dan diisi dengan pecahan beling, sekrup, dsb. Korban meriam dumdum ini sering mengenai petugas dan masyarakat yang menyebabkan luka, kebutaan, hingga kematian), maka perintah pimpinan harus jelas kepada anggota, “Bidik dan langsung tembak TSK yang membawa peralatan yang membahayakan petugas maupun masyarakat sekitar!!!”

jadi langsung MEMILIH tahap 6, sebab jika kita gunakan tahap yang lain, anggota polri dan masyarakat sekitar akan terancam nyawanya dengan senjata-senjata warga dari desa seberang.

Jadi kira2 bgt rekan2... Misalnya ada geng motor yang membawa parang atau senjata api, maka polisi melogikakan, parang ditambah kecepatan motor dapat membunuh warga/petugas, maka penggunaan senjata api/tahap 6 bisa langsung digunakan

Namun, sejak berkembangnya isu tentang HAM di Indonesia, hingga orang yang tidak mengerti pun latah serta gagal paham bicara tentang HAM, maka tindakan-tindakan kepolisian ini sangat empuk untuk dijadikan sasaran para politisi.

Polisi sudah bertindak benar, disalahkan secara politis untuk menarik hati massa,bahkan Kapolri disuruh minta maaf dengan alasan melanggar HAM.
Masyarakat yang tidak tahu menahu juga ikut-ikutan menyalahkan polisi. Hal ini yang membuat tidak sedikit petugas ragu-ragu dalam menggunakan tahap-tahap kekuatan yang dimilikinya saat berada di lapangan.

Dan tidak jarang di media, adakah pihak yang pernah membela Polri? Bahkan saat Densus 88 berhasil menembak teroris, dipuji oleh dunia, tetap saja ada pihak baik politisi maupun LSM yang menyalahkan dan ingin menjatuhkan

Minggu, 19 Maret 2017

Mengapa Imam Mazhab tidak menggunakan Hadist Bukhori dan Muslim


Kenapa 4 Imam Mazhab Tidak Pakai Hadits Bukhari dan Muslim? Ini Penjelasannya

Kenapa para Imam Mazhab seperti Imam Malik tidak memakai hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang katanya merupakan 2 kitab hadits tersahih? Untuk tahu jawabannya, kita harus paham sejarah. Paham biografi tokoh2 tsb.

Imam Malik lahir tahun 93 Hijriyah. Sementara Imam Bukhari lahir tahun 196 H dan Imam Muslim lahir tahun 204 H. Artinya Imam Malik sudah ada 103 tahun sebelum Imam Bukhari lahir. Paham?

Apakah hadits para Imam Mazhab lebih lemah dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim?

Justru sebaliknya. Lebih kuat karena mereka lebih awal lahir daripada Imam Hadits tsb. Rasulullah SAW bersabda,



خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).” [HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 ]

Siapakah pengikut ulama SALAF sebenarnya?

Imam Hanafi lahir: 80 hijrah
Imam Maliki lahir: 93 hijrah
Imam Syafie lahir:150 hijrah
Imam Hanbali lahir:164 hijrah
Jadi kalau ada manusia akhir zaman yang berlagak jadi ahli hadits dgn menghakimi pendapat Imam Mazhab dgn Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, ya keblinger. Hasil “ijtihad” mereka pun berbeda-beda satu sama lain…

Biar kata misalnya menurut Sahih Bukhari misalnya sholat Nabi begini2 dan beda dgn sholat Imam Mazhab, namun para Imam Mazhab seperti Imam Malik melihat langsung cara sholat puluhan ribu anak2 sahabat Nabi di Madinah. Anak2 sahabat ini belajar langsung ke Sahabat Nabi yang jadi bapak mereka. Jadi lebih kuat ketimbang 2-3 hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari 100 tahun kemudian.

Imam Bukhari dan Imam Muslim pun meski termasuk pakar hadits paling top, tetap bermazhab. Mereka mengikuti mazhab Imam Syafi’ie. Ini adalah Imam Hadits yang mengikuti Mazhab Syafi’ie: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa’i, Imam Baihaqi, Imam Turmudzi, Imam Ibnu Majah, Imam Tabari, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Abu Daud, Imam Nawawi, Imam as-Suyuti, Imam Ibnu Katsir, Imam adz-Dzahabi, Imam al-Hakim.

Lho apa kita tidak boleh mengikuti hadits Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dsb? Ya boleh sebagai pelengkap. Tapi jika ada hadits yang bertentangan dengan ajaran Imam Mazhab, yang kita pakai adalah ajaran Imam Mazhab. Bukan hadits tsb. Wong para Imam Hadits saja kan mengikuti Mazhab Syafi’ie? Tidak pakai hadits mereka sendiri?

Menurut Ustad Ahmad Sarwat, Lc., MA, banyak orang awam yang tersesat karena mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang penuh dengan rasa dengki dan benci. Menurut kelompok ini Imam Mazhab yang 4 itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahi seenaknya. Itulah fitnah kaum akhir zaman terhadap ulama salaf asli.

Padahal Imam Mazhab tsb menguasai banyak hadits. Imam Malik merupakan penyusun Kitab Hadits Al Muwaththo. Dengan jarak hanya 3 level perawi hadits ke Nabi, jelas jauh lebih murni ketimbang Sahih Bukhari yang jaraknya ke Nabi bisa 6-7 level. Begitu pula Imam Ahmad yang menguasai 750.000 hadits lebih dikenal sebagai Ahli Hadits ketimbang Imam Mazhab.

Penelitian Hadits Dilakukan Oleh Empat Imam Mazhab
Di antaranya Ustad Ahmad menulis bahwa para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Kenapa?

Pertama, karena mereka lahir jauh sebelum Bukhari (194-265 H) dan Muslim (204-261 H) dilahirkan. Sementara Imam Malik wafat sebelum Imam Bukhari lahir. Begitu pula saat Imam Syafi’ie wafat, Imam Bukhari baru berumur 8 tahun sementara Imam Muslim baru lahir. Tidak mungkin kan para Imam Mazhab tsb berpegang pada Kitab Hadits yang belum ada pada zamannya?



Kedua, menurut Ustad Ahmad, karena keempat imam mazhab itu merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka.

Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang lebih dekat ke Rasulullah SAW dibanding Imam Bukhari dan Imam Muslim, maka hadits mereka lebih kuat dan lebih terjamin keasliannya ketimbang di masa-masa berikutnya.

Dalam teknologi, makin ke depan makin maju. Komputer, laptop, HP, dsb makin lama makin canggih. Tapi kalau hadits Nabi, justru makin dekat ke Nabi makin murni. Jika menjauh dari zamannya, justru makin tidak murni, begitu tulis Ustad Ahmad Sarwat.

Keempat, justru Imam Bukhari dan Muslim malah bermazhab Syafi’ie. Karena hadits yang mereka kuasai jumlahnya tidak memadai untuk menjadi Imam Mazhab. Imam Ahmad berkata untuk jadi mujtahid, selain hafal Al Qur’an juga harus menguasai minimal 500.000 hadits. Nah hadits Sahih yang dibukukan Imam Bukhari cuma 7000-an. Sementara Imam Muslim cuma 9000-an. Tidak cukup.

Ada beberapa tokoh yang anti terhadap Mazhab Fiqih yang 4 itu kemudian mengarang-ngarang sebuah nama mazhab khayalan yang tidak pernah ada dalam sejarah, yaitu mazhab “Ahli Hadits”. Seolah2 jika tidak bermazhab Ahli Hadits berarti tidak pakai hadits. Meninggalkan hadits. Seolah2 para Imam Mazhab tidak menggunakan hadits dalam mazhabnya. Padahal mazhab ahli hadits itu adalah mazhab para ulama peneliti hadits untuk mengetahui keshahihan hadits dan bukan dalam menarik kesimpulan hukum (istimbath).

Kalaulah benar pernah ada mazhab ahli hadits yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya? Mana kaidah-kaidah yang digunakan dalam mengistimbath hukum? Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang?

Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?

Imam Syafi’ie membahas masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan? Beliau menulis kaidah itu dalam kitabnya : Ikhtilaful Hadits yang fenomenal.

Cuma baru tahu suatu hadits itu shahih, pekerjaan melakukan istimbath hukum belum selesai. Meneliti keshahihan hadits baru langkah pertama dari 23 langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.

Entah orientalis mana yang datang menyesatkan, tiba-tiba muncul generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai bodoh dalam ilmu hadits. Hadits shahih versi Bukhari dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shahih versi Bukhari itu datang dari Allah yang sudah pasti benar. Padahal cuma Al Qur’an yang dijamin kebenarannya. Hadits sahih secara sanad, belum tentu sahih secara matan. Meski banyak hadits yang mutawattir secara sanad, sedikit sekali hadits yang mutawattir secara matan. Artinya susunan kalimat atau katanya sama persis.

Orang-orang awam dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya : “Bila suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku”. Kesannya, para imam mazhab itu tidak paham dengan hadits shahih, lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang-orang yang hidup dua tiga abad sesudahnya.

Padahal para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shahih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata,”Kalau hadits itu shahih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shahih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu”. Yang bicara bahwa hadits itu tidak shahih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya.

Tetapi lihat pengelabuhan dan penyesatan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Digambarkan seolah-olah seorang Imam Asy-Syafi’i itu tokoh idiot yang tidak mampu melakukan penelitian hadits sendiri, lalu kebingungan dan menyerah menutup mukanya sambil bilang,”Saya punya mazhab tapi saya tidak tahu haditsnya shahih apa tidak, jadi kita tunggu saja nanti kalau-kalau ada orang yang ahli dalam bidang hadits. Nah, mazhab saya terserah kepada ahli hadits itu nanti ya”.

Dalam hayalan mereka, para imam mazhab berubah jadi badut pandir yang tolol dan bloon. Bisanya bikin mazhab tapi tidak tahu hadits shahih. Sekedar meneliti hadits apakah shahih atau tidak, mereka tidak tahu. Dan lebih pintar orang di zaman kita sekarang, cukup masuk perpustakaan dan tiba-tiba bisa mengalahkan imam mazhab.

Cara penyesatan dan merusak Islam dari dalam degan modus seperti ini ternyata nyaris berhasil. Coba perhatikan persepsi orang-orang awam di tengah kita. Rata-rata mereka benci dengan keempat imam mazhab, karena dikesankan sebagai orang bodoh dalam hadits dan kerjaanya cuma menambah-nambahi agama.

Parahnya, setiap ada tradisi dan budaya yang sesat masuk ke dalam tubuh umat Islam, seperti percaya dukun, tahayyul, khurafat, jimat, dan berbagai aqidah sesat, sering diidentikkan dengan ajaran mazhab. Seolah mazhab fiqih itu gudangnya kesesatan dan haram kita bertaqlid kepada ulama mazhab.

Sebaliknya, orang yang harus diikuti adalah para ahli hadits, karena mereka itulah yang menjamin keshahihan hadits.

Menurut Ustad Ahmad Sarwat Lc, MA, Hadits di zaman Imam Bukhari yang hidup di abad 3 Hijriyah saja sudah cukup panjang jalurnya. Bisa 6-7 level perawi hingga ke Nabi. Sementara jalur hadits Imam Malik cuma 3 level perawi. Secara logika sederhana, yang 3 level itu jelas lebih murni ketimbang yang 6 level.

Jika Imam Bukhari hidup zaman sekarang di abad 15 Hijriyah, haditsnya bisa melewati 40-50 level perawi. Sudah tidak murni lagi. Beda 3 level saja bisa kurang murni. Apalagi yang beda 50 level.

Jadi Imam Bukhari dan Imam Muslim bukan satu2nya penentu hadits Sahih. Sebelum mereka pun ada jutaan ahli hadits yang bisa jadi lebih baik seperti Imam Malik dan Imam Ahmad karena jarak mereka ke Nabi lebih dekat.

Sumber: kabarislamia.com


Rabu, 08 Maret 2017

Awas, Orang Munafik Lebih Berbahaya dari Orang Kafir.

Awas, Orang Munafik Lebih Berbahaya dari Orang Kafir.

“Yang menghancurkan Islam adalah orang alim yang menyimpang, orang munafik yang pandai mendebat A-Qur’an dan menggunakan Al-Qur’an untuk kepentingan pribadi, serta para pemimpin sesat.” (Umar bin Khattab Radiyallaahu 'anhu)

Jangan remehkan orang munafik, sungguh kekacauan dalam umat Islam banyak disebabkan oleh orang-orang yang munafik, yakni musuh di dalam selimut, mengaku Islam... mengaku beriman, padahal tidak. Kata-kata mereka terdengar hebat, terdengar logis, hingga semua orang mendengarkan pernyataannya, akan tetapi ketahuilah bahwa Allah telah menyatakan mereka inilah (orang-orang munafik) musuh yang sebenarnya:

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditunjukkan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan dari kebenaran?” (QS. Al-Munafiqun : 4)

Bagaimana ciri-ciri orang munafik? Tentunya kita tahu bahwa ciri kemunafikan ada 3,"Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati.” (HR Al-Bukhari)

Tetapi bukan hanya itu, orang munafik juga biasanya memiliki dua muka, mereka tidak segan melakukan sesuatu untuk mengolok-olok kaum mukmin dan mendukung orang-orang kafir.

“Apabila mereka menjumpai orang-orang mukmin, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Namun jika mereka menyendiri beserta dedengkot-dedengkotnya, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami di pihak kalian. Hanya saja kami hendak mengolok-olok kaum mukmin.’ Allah akan mengolok-olok mereka dan menelantarkan mereka dalam kedurhakaan, sedangkan mereka dalam keadaan bimbang” (QS: 2: 14-15).

Itu sebabnya orang munafik cukup sulit dideteksi di kalangan orang beriman, karena mereka 'menyamar' sebagai orang beriman, bahkan mereka pun mengerjakan shalat dan merasa diri mereka seorang muslim. Padahal mereka banyak berbuat kerusakan di muka bumi dan membuat perpecahan di kalangan umat muslim itu sendiri. 

“Dan apabila ia mengerjakan puasa dan shalat, ia menyangka bahwa dirinya seorang muslim” (HR Muslim, Kitab Iman, Bab Penjelasan Sifat-Sifat Orang Munafik, no. 59).

Maka, bagian kerak neraka, bagian neraka yang paling dasar, akan menjadi tempat tinggal oleh orang-orang munafik, bukan orang kafir. Sesungguhnya orang-orang munafik itu akan dicampakkan ke dalam kerak neraka dan kamu tidak akan melihat mereka memperoleh penolong” (QS. AnNisaa : 145)

Takutlah akan sifat munafik, karena bisa jadi hati kita disusupi karakter munafik ini. Ibnu Abi Malikah pernah mengatakan, “Aku telah menjumpai tiga puluh sahabat Nabi, seluruhnya takut akan nifak. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan, bahwa dirinya memiliki iman seperti imannya Jibril dan Mikail.

Setiap orang beriman akan khawatir pada sifat munafik, kecuali orang munafik itu sendiri. Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada orang yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.” 
Wallaahualam.

Kamis, 23 Februari 2017

Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan

Saat sekarang, uang menjadi sumber motivasi seseorang melakukan apa pun. Bekerja untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar, menggunakan cara-cara takhayul, sampai menikah dengan anak atau orang kaya meskipun memiliki perbedaan umur yang jauh adalah cara-cara yang masih banyak digunakan oleh masyarakat kita saat ini.

Dengan harapan, uang yang dihasilkan bisa mendatangkan kebahagiaan. Dengan mengikuti tren dan gaya hidup yang terus berubah saat ini. Uang menjadi sumber utama mendapatkan semua hal yang diinginkan.

Benarkah dengan memiliki uang dalam jumlah besar, seseorang bisa merasa lebih bahagia?

Jawabannya tergantung. Ya dan tidak. Jika kita mengacu pada teori kebutuhan Abraham Maslow akan sangat mudah untuk menjawabnya.

Menurut Maslow manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan ini memiliki tingkat dan hierarki. Berikut hirarki kebutuhan yang diungkapkan oleh Maslow.

1. Kebutuhan fisiologis
2. Kebutuhan akan rasa aman
3. Kebutuhan akan sosial
4. Kebutuhan akan penghargaan
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri

Ada 2 hal besar yang paling mencolok dari teori di atas. Pertama, saat satu kebutuhan berhasil dipuaskan, seseorang akan berhenti memenuhi kebutuhan tersebut. Ini adalah kebutuhan dasar yang pertama kali harus dipenuhi. Yaitu kebutuhan fisiologis. Anda akan berhenti makan dan minum ketika Anda telah kenyang dan terpuaskan.

Tapi, ada kebutuhan lain yang harus di penuhi secara terus menerus. Kebutuhan ini memiliki peran dan pengaruh besar terhadap seorang individu. Mulai dari kecepatan belajar, penyesuaian diri, produktivitas kerja, kesehatan secara fisik dan mental dan masih banyak manfaat lain.

Menjawab pertanyaan di atas, apakah dengan memiliki uang dalam jumlah besar bisa membuat seseorang bahagia?

Ya, jika orang tersebut masih fokus memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Seperti makan, minum dan tempat tinggal. Jelas sekali kalau uang bisa membuat mereka bahagia.

Tapi berbeda dengan orang yang telah bisa memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Uang bukan menjadi hal utama untuk merasa bahagia. Ada hal lain selain uang yang bisa membuat mereka bahagia seperti hubungan sosial dan penghargaan.

Kembali ke topik, berbicara tentang kebahagiaan dan uang, berikut beberapa alasan mengapa uang tidak bisa membuat Anda bahagia:

1. Kesenangan Yang Bersifat Sementara

Memang saat membeli barang baru seseorang pasti akan merasa senang dan bahagia. Apalagi jika diimbangi dengan brand yang sudah terkenal. Pasti akan menambah rasa percaya diri mereka saat berhubungan dengan orang lain.

Kebahagiaan itu akan semakin bertambah saat seseorang memberikan pujian “wah handphone kamu keluaran baru ya, berapa harganya? Bagaimana rasanya dibandingkan dengan mereka X? Apa saja kelebihannya?” dan pertanyaan lain seputar handphone misalnya. Pujian ini akan menambah kebahagiaan dan percaya dirinya.

Kebahagiaan di atas tidak ubahnya dengan kesenangan sesaat. Ia sulit dipertahankan dan memudar seiring waktu berjalan. Dibutuhkan pemahaman yang tepat bahwa kebahagiaan tidak bersumber dari barang-barang baru yang dimiliki.

Ada cara dan teknis khusus membuat seseorang bahagia dalam waktu lama. Semua itu bukan tentang uang. Kecuali saat ini Anda masih fokus memenuhi kebutuhan fisiologis Anda.

2. Syarat Untuk Bahagia Yang Salah

Apakah syarat untuk Anda bahagia adalah uang dengan memiliki materi Anda suka? Jika uang menjadi syarat kebahagian Anda, maka semakin sulit untuk Anda merasa bahagia. Anda akan bahagia jika Anda bisa membeli barang tersebut. Jika Anda tidak bisa memilikinya, Anda tidak akan merasa bahagia.

Banyak orang menetapkan syarat yang salah untuk bahagia. Mereka menganggap bahwa uang bisa membuat mereka bahagia. Mereka menetapkan syarat yang sulit untuk mereka bisa bahagia.

Mengapa tidak membuat syarat yang lebih mudah untuk merasa bahagia. Misalnya melewati waktu bersama pasangan Anda. Carilah syarat yang mudah Anda capai. Agar Anda mudah untuk bahagia.

3. Tidak Bijak Jika Uang Menjadi Tujuan Utama Atas Semua Tindakan Yang Dilakukan

Ini yang kurang tepat jika uang menjadi tujuan tertinggi seseorang. Ia bisa melakukan cara apa saja untuk bisa mendapatkan kertas persegi empat tersebut. Menghalalkan segala cara agar kertas bergambarkan orang yang dihormati ini bisa masuk ke kantong mereka. Semua ini semata-mata untuk mereka bisa bahagia.

Jika uang menjadi tujuan seseorang untuk bahagia, ia akan kehilangan nilai penting dalam melakukan pekerjaannya. Ia bisa menggadaikan hal penting yang ia jaga selama ini. Dan yang lebih parah keyakinannya pun dipertaruhkan agar bisa mengumpulkan kertas mahal tersebut.

Apakah ia akan bahagia saat mendapatkan tujuannya?

Tentu ia akan bahagia. Tapi berapa lama kira-kira kebahagiaan itu bisa bertahan?

Tujuan bukanlah tentang uang semata. Anda harus memiliki tujuan selain uang. Tujuan dengan muatan energi yang lebih besar. Dan tentunya ini bisa bertahan dalam waktu lama dan terus bertumbuh seiring waktu berjalan. Tujuan yang memfokuskan kepada kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Seperti keluarga, orangtua, bahkan orang lain di luar sana.

Inilah yang menjelaskan mengapa seseorang tidak termotivasi melakukan pekerjaannya setelah mereka mencapai tujuannya. Pikiran bawah sadarnya berkata “Tujuan sudah tercapai ni, waktunya istirahat. Kan tidak ada tujuan lain yang perlu dicapai”. Semua ini karena tujuan yang tidak ditumbuhkan dan terus di up to date.

4. Semakin Banyak Memiliki, Semakin Banyak Keinginan

Semakin baik kehidupan ekonomi seseorang, tentunya kebutuhan mereka pun semakin meningkat. Mereka dihadapkan dengan kebebasan untuk memilih barang-barang yang memiliki nilai beli yang lebih tinggi. Saat ia tidak bisa mengontrol arus keinginan yang begitu derasnya. Ia akan menjadi manusia yang lebih serakah.

Mereka tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Yang pada akhirnya membuat mereka sulit untuk merasa bahagia.

5. Digunakankah Semua Barang Yang Dibeli?

Dengan barang-barang yang Anda miliki, apakah Anda bisa menggunakan semuanya secara maksimal? Dengan semua tumpukan baju, celana, tas, sepatu, dan barang-barang lain yang tersusun rapi ditempatnya. Jika tidak bisa menggunakan semua barang tersebut, akan lebih bermanfaat jika dibagikan atau disumbangkan kepada orang lain lain yang lebih membutuhkannya.

Ini tentu akan membuat Anda menjadi lebih bahagia. Menjadikannya satu pengalaman berharga dalam hidup karena melihat orang yang dibantu bahagia. Anda juga bisa menjadikan semua barang yang tidak bermanfaat menjadi uang dengan menjualnya ke tempat penjual barang bekas. Kemudian menyumbang ke panti asuhan misalnya.

6. Memiliki Banyak Belum Tentu Baik

Perlu di perhatikan bahwa memiliki banyak belum tentu baik untuk diri Anda sendiri. Justru akan membuat Anda lebih sulit menikmati hal-hal kecil di luar sana. Menikmati terbenamnya matahari diikuti angin sepoi-sepoi, kupu-kupu yang terbang mengelilingi bunga yang sedang mekar dan hal-hal kecil lainnya.

Terkadang kebahagiaan datang dari hal-hal kecil di sekitar kita. Seperti menikmati hangatnya matahari terbit, berjalan di rumput hijau dengan kaki telanjang, menikmati embun pagi yang masih terlihat di taman.

7. Kebahagiaan Tidak Bisa Dibeli Di Toko

Kebahagiaan bukanlah barang yang berwujud. Bisa dilihat, dipegang atau disentuh. Ia hanya bisa dirasakan. Itulah sebabnya tidak ada satupun toko yang menjual kebahagiaan.

Seberapa banyak pun uang Anda, Anda tidak bisa menukar uang dengan kebahagiaan. Anda bisa mendapatkannya dengan cara-cara yang benar. Kabar baiknya, bukan tentang uang dan materi lain. Tapi melalui diri sendiri.

Diri sendirilah yang membuat kita bahagia. Ketenangan pikiran, menyatunya hati dan pikiranlah yang membuat kebagaiaan menjadi lebih bermakna. Pastinya, Anda bisa menikmatinya tanpa memiliki banyak uang. Uang bisa menjamin Anda untuk bertahan hidup tapi tidak untuk bahagia.

Sabtu, 11 Februari 2017

ORANG BAIK BANYAK TEMANNYA, PENYERU KEBAIKAN BANYAK MUSUH

ORANG BAIK BANYAK TEMAN & PENYERU KEBAIKAN BANYAK MUSUH

Untaian Hikmah nan Indah

 ما الفرق بين الصالح والمصلح ؟

Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)..?

 الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره.

Orang Baik, melakukan kebaikan untuk dirinya.
Sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan utk dirinya dan orang lain..

الصالح  تحبُه الناس. والمصلح تعاديه الناس .

Orang Baik, dicintai manusia..
Penyeru Kebaikan dimusuhi manusia..

🗯 لماذا !!!؟؟؟؟
Kok gitu...?!?!

الحبيب المصطفى(صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه  لأنه صالح .

Rosululloh SAW sebelum diutus, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik..

ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون.

Namun ketika Alloh ta'ala mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya; Tukang sihir, Pendusta, Gila..

🗯 ما السبب ؟
 لأن المصلح يصطدم بصخرة 
أهواء من يريد أن يصلح من فسادهم .

Apa sebabnya..?
Karena Penyeru Kebaikan 'menyikat' batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan..

ولذا أوصى لقمان ابنه بالصبر حين حثه على الإصلاح لأنه سيقابل بالعداوة.

Itulah sebabnya kenapa Luqman menasihati anaknya agar BERSABAR ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan..

( يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك ) 

Hai anakku tegakkan sholat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu..

قال أهل الفضل والعلم : مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين ، 

Berkata ahli ilmu:
Satu penyeru kebaikan lebih dicintai Alloh daripada ribuan orang baik...

لأن المصلح يحمي الله به أمة، والصالح يكتفي بحماية نفسه .

Karena melalui penyeru Kebaikan itulah Alloh jaga umat ini..
Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri...

فقد قال الله عزَّ و جلَّ في محكم التنزيل :

Alloh SWT berfirman :

( وَمَا كَانَ رَبُّكَ  لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُون َ).

"Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan satu negeri dengan zalim padahal penduduknya adalah penyeru kebaikan.."

ولم يقل صالحون ...

Alloh tidak berfirman;
"...Orang Baik (Sholih)"

كونوا مصلحين ولا تكتفوا بأن تكونوا صالحين.

Maka jadilah PENYERU KEBAIKAN, jangan merasa puas hanya sebagai ORANG BAIK saja...

بارك الله لنا ولكم جميعا