Minggu, 19 Maret 2017

Mengapa Imam Mazhab tidak menggunakan Hadist Bukhori dan Muslim


Kenapa 4 Imam Mazhab Tidak Pakai Hadits Bukhari dan Muslim? Ini Penjelasannya

Kenapa para Imam Mazhab seperti Imam Malik tidak memakai hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang katanya merupakan 2 kitab hadits tersahih? Untuk tahu jawabannya, kita harus paham sejarah. Paham biografi tokoh2 tsb.

Imam Malik lahir tahun 93 Hijriyah. Sementara Imam Bukhari lahir tahun 196 H dan Imam Muslim lahir tahun 204 H. Artinya Imam Malik sudah ada 103 tahun sebelum Imam Bukhari lahir. Paham?

Apakah hadits para Imam Mazhab lebih lemah dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim?

Justru sebaliknya. Lebih kuat karena mereka lebih awal lahir daripada Imam Hadits tsb. Rasulullah SAW bersabda,



خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).” [HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 ]

Siapakah pengikut ulama SALAF sebenarnya?

Imam Hanafi lahir: 80 hijrah
Imam Maliki lahir: 93 hijrah
Imam Syafie lahir:150 hijrah
Imam Hanbali lahir:164 hijrah
Jadi kalau ada manusia akhir zaman yang berlagak jadi ahli hadits dgn menghakimi pendapat Imam Mazhab dgn Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, ya keblinger. Hasil “ijtihad” mereka pun berbeda-beda satu sama lain…

Biar kata misalnya menurut Sahih Bukhari misalnya sholat Nabi begini2 dan beda dgn sholat Imam Mazhab, namun para Imam Mazhab seperti Imam Malik melihat langsung cara sholat puluhan ribu anak2 sahabat Nabi di Madinah. Anak2 sahabat ini belajar langsung ke Sahabat Nabi yang jadi bapak mereka. Jadi lebih kuat ketimbang 2-3 hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari 100 tahun kemudian.

Imam Bukhari dan Imam Muslim pun meski termasuk pakar hadits paling top, tetap bermazhab. Mereka mengikuti mazhab Imam Syafi’ie. Ini adalah Imam Hadits yang mengikuti Mazhab Syafi’ie: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa’i, Imam Baihaqi, Imam Turmudzi, Imam Ibnu Majah, Imam Tabari, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Abu Daud, Imam Nawawi, Imam as-Suyuti, Imam Ibnu Katsir, Imam adz-Dzahabi, Imam al-Hakim.

Lho apa kita tidak boleh mengikuti hadits Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dsb? Ya boleh sebagai pelengkap. Tapi jika ada hadits yang bertentangan dengan ajaran Imam Mazhab, yang kita pakai adalah ajaran Imam Mazhab. Bukan hadits tsb. Wong para Imam Hadits saja kan mengikuti Mazhab Syafi’ie? Tidak pakai hadits mereka sendiri?

Menurut Ustad Ahmad Sarwat, Lc., MA, banyak orang awam yang tersesat karena mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang penuh dengan rasa dengki dan benci. Menurut kelompok ini Imam Mazhab yang 4 itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahi seenaknya. Itulah fitnah kaum akhir zaman terhadap ulama salaf asli.

Padahal Imam Mazhab tsb menguasai banyak hadits. Imam Malik merupakan penyusun Kitab Hadits Al Muwaththo. Dengan jarak hanya 3 level perawi hadits ke Nabi, jelas jauh lebih murni ketimbang Sahih Bukhari yang jaraknya ke Nabi bisa 6-7 level. Begitu pula Imam Ahmad yang menguasai 750.000 hadits lebih dikenal sebagai Ahli Hadits ketimbang Imam Mazhab.

Penelitian Hadits Dilakukan Oleh Empat Imam Mazhab
Di antaranya Ustad Ahmad menulis bahwa para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Kenapa?

Pertama, karena mereka lahir jauh sebelum Bukhari (194-265 H) dan Muslim (204-261 H) dilahirkan. Sementara Imam Malik wafat sebelum Imam Bukhari lahir. Begitu pula saat Imam Syafi’ie wafat, Imam Bukhari baru berumur 8 tahun sementara Imam Muslim baru lahir. Tidak mungkin kan para Imam Mazhab tsb berpegang pada Kitab Hadits yang belum ada pada zamannya?



Kedua, menurut Ustad Ahmad, karena keempat imam mazhab itu merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka.

Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang lebih dekat ke Rasulullah SAW dibanding Imam Bukhari dan Imam Muslim, maka hadits mereka lebih kuat dan lebih terjamin keasliannya ketimbang di masa-masa berikutnya.

Dalam teknologi, makin ke depan makin maju. Komputer, laptop, HP, dsb makin lama makin canggih. Tapi kalau hadits Nabi, justru makin dekat ke Nabi makin murni. Jika menjauh dari zamannya, justru makin tidak murni, begitu tulis Ustad Ahmad Sarwat.

Keempat, justru Imam Bukhari dan Muslim malah bermazhab Syafi’ie. Karena hadits yang mereka kuasai jumlahnya tidak memadai untuk menjadi Imam Mazhab. Imam Ahmad berkata untuk jadi mujtahid, selain hafal Al Qur’an juga harus menguasai minimal 500.000 hadits. Nah hadits Sahih yang dibukukan Imam Bukhari cuma 7000-an. Sementara Imam Muslim cuma 9000-an. Tidak cukup.

Ada beberapa tokoh yang anti terhadap Mazhab Fiqih yang 4 itu kemudian mengarang-ngarang sebuah nama mazhab khayalan yang tidak pernah ada dalam sejarah, yaitu mazhab “Ahli Hadits”. Seolah2 jika tidak bermazhab Ahli Hadits berarti tidak pakai hadits. Meninggalkan hadits. Seolah2 para Imam Mazhab tidak menggunakan hadits dalam mazhabnya. Padahal mazhab ahli hadits itu adalah mazhab para ulama peneliti hadits untuk mengetahui keshahihan hadits dan bukan dalam menarik kesimpulan hukum (istimbath).

Kalaulah benar pernah ada mazhab ahli hadits yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya? Mana kaidah-kaidah yang digunakan dalam mengistimbath hukum? Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang?

Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?

Imam Syafi’ie membahas masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan? Beliau menulis kaidah itu dalam kitabnya : Ikhtilaful Hadits yang fenomenal.

Cuma baru tahu suatu hadits itu shahih, pekerjaan melakukan istimbath hukum belum selesai. Meneliti keshahihan hadits baru langkah pertama dari 23 langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.

Entah orientalis mana yang datang menyesatkan, tiba-tiba muncul generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai bodoh dalam ilmu hadits. Hadits shahih versi Bukhari dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shahih versi Bukhari itu datang dari Allah yang sudah pasti benar. Padahal cuma Al Qur’an yang dijamin kebenarannya. Hadits sahih secara sanad, belum tentu sahih secara matan. Meski banyak hadits yang mutawattir secara sanad, sedikit sekali hadits yang mutawattir secara matan. Artinya susunan kalimat atau katanya sama persis.

Orang-orang awam dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya : “Bila suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku”. Kesannya, para imam mazhab itu tidak paham dengan hadits shahih, lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang-orang yang hidup dua tiga abad sesudahnya.

Padahal para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shahih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata,”Kalau hadits itu shahih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shahih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu”. Yang bicara bahwa hadits itu tidak shahih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya.

Tetapi lihat pengelabuhan dan penyesatan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Digambarkan seolah-olah seorang Imam Asy-Syafi’i itu tokoh idiot yang tidak mampu melakukan penelitian hadits sendiri, lalu kebingungan dan menyerah menutup mukanya sambil bilang,”Saya punya mazhab tapi saya tidak tahu haditsnya shahih apa tidak, jadi kita tunggu saja nanti kalau-kalau ada orang yang ahli dalam bidang hadits. Nah, mazhab saya terserah kepada ahli hadits itu nanti ya”.

Dalam hayalan mereka, para imam mazhab berubah jadi badut pandir yang tolol dan bloon. Bisanya bikin mazhab tapi tidak tahu hadits shahih. Sekedar meneliti hadits apakah shahih atau tidak, mereka tidak tahu. Dan lebih pintar orang di zaman kita sekarang, cukup masuk perpustakaan dan tiba-tiba bisa mengalahkan imam mazhab.

Cara penyesatan dan merusak Islam dari dalam degan modus seperti ini ternyata nyaris berhasil. Coba perhatikan persepsi orang-orang awam di tengah kita. Rata-rata mereka benci dengan keempat imam mazhab, karena dikesankan sebagai orang bodoh dalam hadits dan kerjaanya cuma menambah-nambahi agama.

Parahnya, setiap ada tradisi dan budaya yang sesat masuk ke dalam tubuh umat Islam, seperti percaya dukun, tahayyul, khurafat, jimat, dan berbagai aqidah sesat, sering diidentikkan dengan ajaran mazhab. Seolah mazhab fiqih itu gudangnya kesesatan dan haram kita bertaqlid kepada ulama mazhab.

Sebaliknya, orang yang harus diikuti adalah para ahli hadits, karena mereka itulah yang menjamin keshahihan hadits.

Menurut Ustad Ahmad Sarwat Lc, MA, Hadits di zaman Imam Bukhari yang hidup di abad 3 Hijriyah saja sudah cukup panjang jalurnya. Bisa 6-7 level perawi hingga ke Nabi. Sementara jalur hadits Imam Malik cuma 3 level perawi. Secara logika sederhana, yang 3 level itu jelas lebih murni ketimbang yang 6 level.

Jika Imam Bukhari hidup zaman sekarang di abad 15 Hijriyah, haditsnya bisa melewati 40-50 level perawi. Sudah tidak murni lagi. Beda 3 level saja bisa kurang murni. Apalagi yang beda 50 level.

Jadi Imam Bukhari dan Imam Muslim bukan satu2nya penentu hadits Sahih. Sebelum mereka pun ada jutaan ahli hadits yang bisa jadi lebih baik seperti Imam Malik dan Imam Ahmad karena jarak mereka ke Nabi lebih dekat.

Sumber: kabarislamia.com


Rabu, 08 Maret 2017

Awas, Orang Munafik Lebih Berbahaya dari Orang Kafir.

Awas, Orang Munafik Lebih Berbahaya dari Orang Kafir.

“Yang menghancurkan Islam adalah orang alim yang menyimpang, orang munafik yang pandai mendebat A-Qur’an dan menggunakan Al-Qur’an untuk kepentingan pribadi, serta para pemimpin sesat.” (Umar bin Khattab Radiyallaahu 'anhu)

Jangan remehkan orang munafik, sungguh kekacauan dalam umat Islam banyak disebabkan oleh orang-orang yang munafik, yakni musuh di dalam selimut, mengaku Islam... mengaku beriman, padahal tidak. Kata-kata mereka terdengar hebat, terdengar logis, hingga semua orang mendengarkan pernyataannya, akan tetapi ketahuilah bahwa Allah telah menyatakan mereka inilah (orang-orang munafik) musuh yang sebenarnya:

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditunjukkan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan dari kebenaran?” (QS. Al-Munafiqun : 4)

Bagaimana ciri-ciri orang munafik? Tentunya kita tahu bahwa ciri kemunafikan ada 3,"Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati.” (HR Al-Bukhari)

Tetapi bukan hanya itu, orang munafik juga biasanya memiliki dua muka, mereka tidak segan melakukan sesuatu untuk mengolok-olok kaum mukmin dan mendukung orang-orang kafir.

“Apabila mereka menjumpai orang-orang mukmin, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Namun jika mereka menyendiri beserta dedengkot-dedengkotnya, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami di pihak kalian. Hanya saja kami hendak mengolok-olok kaum mukmin.’ Allah akan mengolok-olok mereka dan menelantarkan mereka dalam kedurhakaan, sedangkan mereka dalam keadaan bimbang” (QS: 2: 14-15).

Itu sebabnya orang munafik cukup sulit dideteksi di kalangan orang beriman, karena mereka 'menyamar' sebagai orang beriman, bahkan mereka pun mengerjakan shalat dan merasa diri mereka seorang muslim. Padahal mereka banyak berbuat kerusakan di muka bumi dan membuat perpecahan di kalangan umat muslim itu sendiri. 

“Dan apabila ia mengerjakan puasa dan shalat, ia menyangka bahwa dirinya seorang muslim” (HR Muslim, Kitab Iman, Bab Penjelasan Sifat-Sifat Orang Munafik, no. 59).

Maka, bagian kerak neraka, bagian neraka yang paling dasar, akan menjadi tempat tinggal oleh orang-orang munafik, bukan orang kafir. Sesungguhnya orang-orang munafik itu akan dicampakkan ke dalam kerak neraka dan kamu tidak akan melihat mereka memperoleh penolong” (QS. AnNisaa : 145)

Takutlah akan sifat munafik, karena bisa jadi hati kita disusupi karakter munafik ini. Ibnu Abi Malikah pernah mengatakan, “Aku telah menjumpai tiga puluh sahabat Nabi, seluruhnya takut akan nifak. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan, bahwa dirinya memiliki iman seperti imannya Jibril dan Mikail.

Setiap orang beriman akan khawatir pada sifat munafik, kecuali orang munafik itu sendiri. Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada orang yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.” 
Wallaahualam.

Kamis, 23 Februari 2017

Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan

Saat sekarang, uang menjadi sumber motivasi seseorang melakukan apa pun. Bekerja untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar, menggunakan cara-cara takhayul, sampai menikah dengan anak atau orang kaya meskipun memiliki perbedaan umur yang jauh adalah cara-cara yang masih banyak digunakan oleh masyarakat kita saat ini.

Dengan harapan, uang yang dihasilkan bisa mendatangkan kebahagiaan. Dengan mengikuti tren dan gaya hidup yang terus berubah saat ini. Uang menjadi sumber utama mendapatkan semua hal yang diinginkan.

Benarkah dengan memiliki uang dalam jumlah besar, seseorang bisa merasa lebih bahagia?

Jawabannya tergantung. Ya dan tidak. Jika kita mengacu pada teori kebutuhan Abraham Maslow akan sangat mudah untuk menjawabnya.

Menurut Maslow manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan ini memiliki tingkat dan hierarki. Berikut hirarki kebutuhan yang diungkapkan oleh Maslow.

1. Kebutuhan fisiologis
2. Kebutuhan akan rasa aman
3. Kebutuhan akan sosial
4. Kebutuhan akan penghargaan
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri

Ada 2 hal besar yang paling mencolok dari teori di atas. Pertama, saat satu kebutuhan berhasil dipuaskan, seseorang akan berhenti memenuhi kebutuhan tersebut. Ini adalah kebutuhan dasar yang pertama kali harus dipenuhi. Yaitu kebutuhan fisiologis. Anda akan berhenti makan dan minum ketika Anda telah kenyang dan terpuaskan.

Tapi, ada kebutuhan lain yang harus di penuhi secara terus menerus. Kebutuhan ini memiliki peran dan pengaruh besar terhadap seorang individu. Mulai dari kecepatan belajar, penyesuaian diri, produktivitas kerja, kesehatan secara fisik dan mental dan masih banyak manfaat lain.

Menjawab pertanyaan di atas, apakah dengan memiliki uang dalam jumlah besar bisa membuat seseorang bahagia?

Ya, jika orang tersebut masih fokus memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Seperti makan, minum dan tempat tinggal. Jelas sekali kalau uang bisa membuat mereka bahagia.

Tapi berbeda dengan orang yang telah bisa memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Uang bukan menjadi hal utama untuk merasa bahagia. Ada hal lain selain uang yang bisa membuat mereka bahagia seperti hubungan sosial dan penghargaan.

Kembali ke topik, berbicara tentang kebahagiaan dan uang, berikut beberapa alasan mengapa uang tidak bisa membuat Anda bahagia:

1. Kesenangan Yang Bersifat Sementara

Memang saat membeli barang baru seseorang pasti akan merasa senang dan bahagia. Apalagi jika diimbangi dengan brand yang sudah terkenal. Pasti akan menambah rasa percaya diri mereka saat berhubungan dengan orang lain.

Kebahagiaan itu akan semakin bertambah saat seseorang memberikan pujian “wah handphone kamu keluaran baru ya, berapa harganya? Bagaimana rasanya dibandingkan dengan mereka X? Apa saja kelebihannya?” dan pertanyaan lain seputar handphone misalnya. Pujian ini akan menambah kebahagiaan dan percaya dirinya.

Kebahagiaan di atas tidak ubahnya dengan kesenangan sesaat. Ia sulit dipertahankan dan memudar seiring waktu berjalan. Dibutuhkan pemahaman yang tepat bahwa kebahagiaan tidak bersumber dari barang-barang baru yang dimiliki.

Ada cara dan teknis khusus membuat seseorang bahagia dalam waktu lama. Semua itu bukan tentang uang. Kecuali saat ini Anda masih fokus memenuhi kebutuhan fisiologis Anda.

2. Syarat Untuk Bahagia Yang Salah

Apakah syarat untuk Anda bahagia adalah uang dengan memiliki materi Anda suka? Jika uang menjadi syarat kebahagian Anda, maka semakin sulit untuk Anda merasa bahagia. Anda akan bahagia jika Anda bisa membeli barang tersebut. Jika Anda tidak bisa memilikinya, Anda tidak akan merasa bahagia.

Banyak orang menetapkan syarat yang salah untuk bahagia. Mereka menganggap bahwa uang bisa membuat mereka bahagia. Mereka menetapkan syarat yang sulit untuk mereka bisa bahagia.

Mengapa tidak membuat syarat yang lebih mudah untuk merasa bahagia. Misalnya melewati waktu bersama pasangan Anda. Carilah syarat yang mudah Anda capai. Agar Anda mudah untuk bahagia.

3. Tidak Bijak Jika Uang Menjadi Tujuan Utama Atas Semua Tindakan Yang Dilakukan

Ini yang kurang tepat jika uang menjadi tujuan tertinggi seseorang. Ia bisa melakukan cara apa saja untuk bisa mendapatkan kertas persegi empat tersebut. Menghalalkan segala cara agar kertas bergambarkan orang yang dihormati ini bisa masuk ke kantong mereka. Semua ini semata-mata untuk mereka bisa bahagia.

Jika uang menjadi tujuan seseorang untuk bahagia, ia akan kehilangan nilai penting dalam melakukan pekerjaannya. Ia bisa menggadaikan hal penting yang ia jaga selama ini. Dan yang lebih parah keyakinannya pun dipertaruhkan agar bisa mengumpulkan kertas mahal tersebut.

Apakah ia akan bahagia saat mendapatkan tujuannya?

Tentu ia akan bahagia. Tapi berapa lama kira-kira kebahagiaan itu bisa bertahan?

Tujuan bukanlah tentang uang semata. Anda harus memiliki tujuan selain uang. Tujuan dengan muatan energi yang lebih besar. Dan tentunya ini bisa bertahan dalam waktu lama dan terus bertumbuh seiring waktu berjalan. Tujuan yang memfokuskan kepada kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Seperti keluarga, orangtua, bahkan orang lain di luar sana.

Inilah yang menjelaskan mengapa seseorang tidak termotivasi melakukan pekerjaannya setelah mereka mencapai tujuannya. Pikiran bawah sadarnya berkata “Tujuan sudah tercapai ni, waktunya istirahat. Kan tidak ada tujuan lain yang perlu dicapai”. Semua ini karena tujuan yang tidak ditumbuhkan dan terus di up to date.

4. Semakin Banyak Memiliki, Semakin Banyak Keinginan

Semakin baik kehidupan ekonomi seseorang, tentunya kebutuhan mereka pun semakin meningkat. Mereka dihadapkan dengan kebebasan untuk memilih barang-barang yang memiliki nilai beli yang lebih tinggi. Saat ia tidak bisa mengontrol arus keinginan yang begitu derasnya. Ia akan menjadi manusia yang lebih serakah.

Mereka tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Yang pada akhirnya membuat mereka sulit untuk merasa bahagia.

5. Digunakankah Semua Barang Yang Dibeli?

Dengan barang-barang yang Anda miliki, apakah Anda bisa menggunakan semuanya secara maksimal? Dengan semua tumpukan baju, celana, tas, sepatu, dan barang-barang lain yang tersusun rapi ditempatnya. Jika tidak bisa menggunakan semua barang tersebut, akan lebih bermanfaat jika dibagikan atau disumbangkan kepada orang lain lain yang lebih membutuhkannya.

Ini tentu akan membuat Anda menjadi lebih bahagia. Menjadikannya satu pengalaman berharga dalam hidup karena melihat orang yang dibantu bahagia. Anda juga bisa menjadikan semua barang yang tidak bermanfaat menjadi uang dengan menjualnya ke tempat penjual barang bekas. Kemudian menyumbang ke panti asuhan misalnya.

6. Memiliki Banyak Belum Tentu Baik

Perlu di perhatikan bahwa memiliki banyak belum tentu baik untuk diri Anda sendiri. Justru akan membuat Anda lebih sulit menikmati hal-hal kecil di luar sana. Menikmati terbenamnya matahari diikuti angin sepoi-sepoi, kupu-kupu yang terbang mengelilingi bunga yang sedang mekar dan hal-hal kecil lainnya.

Terkadang kebahagiaan datang dari hal-hal kecil di sekitar kita. Seperti menikmati hangatnya matahari terbit, berjalan di rumput hijau dengan kaki telanjang, menikmati embun pagi yang masih terlihat di taman.

7. Kebahagiaan Tidak Bisa Dibeli Di Toko

Kebahagiaan bukanlah barang yang berwujud. Bisa dilihat, dipegang atau disentuh. Ia hanya bisa dirasakan. Itulah sebabnya tidak ada satupun toko yang menjual kebahagiaan.

Seberapa banyak pun uang Anda, Anda tidak bisa menukar uang dengan kebahagiaan. Anda bisa mendapatkannya dengan cara-cara yang benar. Kabar baiknya, bukan tentang uang dan materi lain. Tapi melalui diri sendiri.

Diri sendirilah yang membuat kita bahagia. Ketenangan pikiran, menyatunya hati dan pikiranlah yang membuat kebagaiaan menjadi lebih bermakna. Pastinya, Anda bisa menikmatinya tanpa memiliki banyak uang. Uang bisa menjamin Anda untuk bertahan hidup tapi tidak untuk bahagia.

Sabtu, 11 Februari 2017

ORANG BAIK BANYAK TEMANNYA, PENYERU KEBAIKAN BANYAK MUSUH

ORANG BAIK BANYAK TEMAN & PENYERU KEBAIKAN BANYAK MUSUH

Untaian Hikmah nan Indah

 ما الفرق بين الصالح والمصلح ؟

Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)..?

 الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره.

Orang Baik, melakukan kebaikan untuk dirinya.
Sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan utk dirinya dan orang lain..

الصالح  تحبُه الناس. والمصلح تعاديه الناس .

Orang Baik, dicintai manusia..
Penyeru Kebaikan dimusuhi manusia..

🗯 لماذا !!!؟؟؟؟
Kok gitu...?!?!

الحبيب المصطفى(صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه  لأنه صالح .

Rosululloh SAW sebelum diutus, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik..

ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون.

Namun ketika Alloh ta'ala mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya; Tukang sihir, Pendusta, Gila..

🗯 ما السبب ؟
 لأن المصلح يصطدم بصخرة 
أهواء من يريد أن يصلح من فسادهم .

Apa sebabnya..?
Karena Penyeru Kebaikan 'menyikat' batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan..

ولذا أوصى لقمان ابنه بالصبر حين حثه على الإصلاح لأنه سيقابل بالعداوة.

Itulah sebabnya kenapa Luqman menasihati anaknya agar BERSABAR ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan..

( يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك ) 

Hai anakku tegakkan sholat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu..

قال أهل الفضل والعلم : مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين ، 

Berkata ahli ilmu:
Satu penyeru kebaikan lebih dicintai Alloh daripada ribuan orang baik...

لأن المصلح يحمي الله به أمة، والصالح يكتفي بحماية نفسه .

Karena melalui penyeru Kebaikan itulah Alloh jaga umat ini..
Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri...

فقد قال الله عزَّ و جلَّ في محكم التنزيل :

Alloh SWT berfirman :

( وَمَا كَانَ رَبُّكَ  لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُون َ).

"Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan satu negeri dengan zalim padahal penduduknya adalah penyeru kebaikan.."

ولم يقل صالحون ...

Alloh tidak berfirman;
"...Orang Baik (Sholih)"

كونوا مصلحين ولا تكتفوا بأن تكونوا صالحين.

Maka jadilah PENYERU KEBAIKAN, jangan merasa puas hanya sebagai ORANG BAIK saja...

بارك الله لنا ولكم جميعا

Selasa, 31 Januari 2017

Yang Harus Diingat dan Yang Harus Dilupakan

2 Hal yang harus kita INGAT
Pertama adalah kebaikan orang lain kepada kita, dan yang kedua adalah keburukan kita kepada orang lain.

2 Hal yang harus kita LUPAKAN
Pertama adalah kebaikan kita kepada orang lain, dan yang kedua adalah keburukan orang lain kepada kita

Mengapa demikian? Karena yang membahayakan diri kita bukanlah perbuatan orang lain. Demikian juga yang memberikan kebaikan diri kita bukanlah perbuatan orang lain. Yang mendatangkan kebaikan dan keburukan kepada diri kita ini adalah perbuatan kita sendiri.

Sehingga dua hal yang penting adalah mengingat kebaikan orang lain kepada kita dan mengingat keburukan kita kepada orang lain, maka kita akan senantiasa ingat untuk bertaubat dan meminta maaf kepada yang bersangkutan. Dan, kita pun termotivasi untuk terus memperbaiki sikap kepada orang lain.

Sedangkan mengingat kebaikan orang lain terhadap kita, akan membuat kita senantiasa bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada orang tersebut. Kita pun akan termotivasi untuk memberikan kebaikan pula terhadapnya, meskipun ia tidak pernah mengharapkannya.

Karena sesungguhnya mengucapkan terima kasih dan membalas kebaikan orang lain yang telah berbuat baik kepada kita, adalah salah satu bentuk syukur kita kepada Allah Swt.

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepada kalian, hendaklah kalian membalasnya, jika kalian tidak mampu membalasnya, maka berdoalah untuknya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Allah adalah Dzat yang Maha Tahu Berterimakasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur.” (HR.Thobroni).

Pengalaman hidup saya sendiri membuktikan bahwa hanya dalam memberi saya menerima. Artinya ketika saya memberi dengan tulus dan ikhlas, apakah itu materi, waktu, perhatian, maupun turut  mendoakan, maka saya menerima kebahagiaan yang luar biasa dan tak terukur dengan uang,  karena saya tahu bahwa balasan manusia itu terbatas dan mungkin mengecewakan. Tapi ketika Tuhan memberi, maka itu selalu dalam kelimpahan.

Dunia memang sudah mulai asing dengan ketulusan dan keikhlasan.  Dalam kepintarannya manusia melakukan berbagai hal untuk senantiasa mendapatkan keuntungan yang lebih. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh untung. Lha gimana mau hidup kalau tiap hari tekor ?.  Keuntungan yang saya maksudkan adalah keuntungan yang membawa dampak baik bagi banyak orang, dan bukan semata mata berfokus pada diri sendiri.

Mengapa kita harus iri dan takut melihat orang lain sukses atau diuntungkan ?. Rasa iri dan cemburu atas kesuksesan orang lain hanya akan menutupi jalan hidup kita sendiri, karena fokus kita ada pada kelebihan orang kain, bukannya bersyukur atas apa yang Tuhan sudah berikan bagi kita. Energi dan konsentrasi kita terbuang percuma pada kehebatan orang lain, dan kita malah lupa melangkah maju.

Dengan memberi kita menyatakan secara tidak langsung rasa terima kasih kepada Tuhan karena kita masih diberikan kesempatan berbuat baik. Hanya orang hidup yang bisa memberi bukan ?. Memberi juga adalah tindakan pernyataan iman kita kepada Tuhan bahwa kita tidak takut kekurangan. Kita percaya bahwa kebaikan Tuhan itu akan selalu mencukupi. Bagi saya, inilah Iman; mempercayai tuntunan dan kebaikan Tuhan yang tak berkesudahan  dalam hidup ini.

Memberi mungkin bukan sesuatu yang sulit, bagian tersulitnya adalah tidak mengingat ingat apa yang sudah kita berikan. Ada satu perasaan ringan dan kelegaan yang luar biasa ketika kita bisa melakukan hal ini. Artinya kita melepaskan diri dari ikatan bergantung dan menanti balasan kembali  dari si penerima.  Itu sebabnya manusia banyak hidup dalam kekecewaan karena terlalu tekun mengingat dan mengharapkan kembali apa yang sudah diberikan.

Ketika kita diberi kesempatan untuk menolong atau memberi kepada orang lain, berikanlah dengan penuh ketulusan. Tidak ada alasan bagi kita untuk menambah penuh kapasitas memori otak kita, karena sesunguhnya Tuhan tidak pernah lupa. Percayalah, alam ini selalu mengalir dalam keseimbangan. Tuhan bisa mencukupkan kita tanpa memiskinkan orang lain. Kita bisa memberi tanpa harus takut menjadi miskin.

Memberilah dengan bijaksana. Artinya kita memberi dengan tujuan yang baik dan untuk membaiki kehidupan orang yang kita tolong . Kalau kita memberi uang padahal sudah jelas jelas uangnya nanti dipakai mabuk atau berjudi, kita malah jadi ikut berpartisipasi dalam hal yang tidak baik, dan semakin menghancurkan kehidupan orang itu.

Saya tidak pernah mau memberi hutang. Saya orang akuntansi dan administrasi yang selalu harus mencatat segala sesuatunya. Ketika ada saudara atau kenalan yang datang meminta dipinjamkan uang, maka saya akan memberi sesuai dengan kemampuan saya secara ikhlas, dan tidak menganggapnya sebagai hutang. Dengan demikian saya bisa tidur lelap. Saya melepaskan diri sendiri dan orang lain dalam keikhlasan. Hutang itu merusak banyak sekali persahabatan dan mengacaukan hubungan baik. Jadi lebih baik saya tidak ikut berpartisipasi di dalamnya sebagai pemberi atau penerima.

Sisi yang lain dari memberi adalah menerima.  Banyak orang mungkin berpikir bahwa menerima itu enak. Kita berada di posisi yang diuntungkan. Justru bagi saya, menerima sesuatu dari orang lain selalu menjadi beban tersendiri, karena saya tidak bisa melupakan kebaikan orang lain dalam hidup saya.  Orang tua saya menjadi contoh yang sangat baik dalam mendidik dan mengajarkan untuk tidak pernah melupakan budi baik orang lain.

Apa jadinya dunia ini kalau semua orang hanya mau menerima tanpa membalas ?. Mungkin kita tidak diberikan kesempatan setara atau secara  langsug membalas kepada si pemberi, tapi latihlah diri kita untuk mengingat kebaikan yang sudah kita terima, dan disiplinkan diri kita untuk berbuat hal yang sama kepada orang lain ketika kita diberikan kesempatan. Hanya dengan cara itu kebaikan bisa menjadi bola salju yang bergulir tanpa henti, dan kita dapat hidup di dunia yang dapat mewartakan  indahnya kebaikan hati.

Ketika kita  memberi tanpa mengingat ingat untuk dibalas, kita dapat hidup dalam ketentraman hati yang tenang, ikhlas dan lega.  Ketika kita menerima tanpa melupakan, maka kita menjadi penerus kebaikan yang konsisten mendatangkan lebih banyak kebaikan dimana saja kita berada.

Sabtu, 03 Desember 2016

Tangisan Umar bin Abdul Aziz saat menerima jabatan

Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Khalifah pada dinasti Bani Umayyah, hari Jum’at tanggal 10 Shafar tahun 99 Hijriyah, menggantikan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik, Sang Khalifah menangis terisak-isak. Ia memasukkan kepalanya ke dalam dua lututnya dan menangis sesunggukan.

Di dalam tangisnya, Umar mengucapkan kalimat, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun”, sambil berujar, “Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikitpun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.”

Melihat kondisi sang Khalifah seperti itu, beberapa penyair datang dengan maksud ingin menghiburnya, tetapi Khalifah Umar menolak dengan baik. Sikap Khalifah Umar itu turut mendapat perhatian anaknya yang resah melihat ayahnya menangis hampir sepanjang hari. Walaupun dia berusaha mencari penyebabnya, namun anak Umar gagal mendapat jawabannya. Hal yang sama dilakukan oleh istrinya Fatimah.

Fatimah berkata kepada suaminya, “Wahai suamiku, mengapa engkau menangis seperti itu ?”
Umar pun menjawab, “Sesungguhnya aku telah diangkat menjadi khalifah untuk memimpin urusan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Sang Khalifah berkata kepada istri dan anaknya, “Aku termenung dan terpaku memikirkan nasib para fakir miskin yang sedang kelaparan dan tidak mendapat perhatian dari pemimpinnya. Aku juga memikirkan orang-orang sakit yang tidak mendapati obat yang memadai. Hal yang sama terpikir olehku tentang orang-orang yang tidak mampu membeli pakaian, orang-orang yang selama ini dizalimi dan tidak ada yang membela, mereka yang mempunyai keluarga yang ramai dan hanya memiliki sedikit harta, orang-orang tua yang tidak berdaya, orang-orang yang menderita dipelosok negeri ini, dan lain sebagainya.”

Sang Khalifah melanjutkan kesedihannya, “Aku sadar dan memahami sepenuh hati, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban dariku, sebab hal ini adalah amanah yang terpikul di pundakku. Namun aku bimbang dan ragu, apakah aku mampu dan sanggup memberikan bukti kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , bahwa aku telah melaksanakan amanah itu dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan Tuhanku. Atas dasar itulah, wahai istri dan anakku, sehingga aku menangis.”

Khalifah Umar kemudian membaca Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam surat Yunus (10) ayat 15,
“Sesungguhnya aku benar-benar takut akan adzab hari yang besar (kiamat) jika mendurhakai Tuhanku.”

Persoalannya sekarang adalah seberapa banyakkah pemimpin kita pada masa ini yang mempunyai semangat, roh dan motivasi seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz?
Sebab, fakta menunjukkan, justru banyak di antara pemimpin kita yang hanya bijak menjadikan Khalifah Umar sebagai alat, simbol dan slogan politik, tetapi dari cara berfikir, kebijakan yang ditekankan dan tindakan yang dilakukan, justru sangat jauh dengan apa yang dilakukan oleh sang khalifah.

Sang Khalifah mengucapkan,“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun,” ketika terpilih dan diangkat jadi khalifah. Pemimpin hari ini, justru bersyukur dan pesta pora besar-besaran ketika terpilih dan diangkat menjadi pemimpin. Seolah tak ada beban berat dan tanggungjawab di atas pundaknya.

Semangat menjadi pemimpin serta gairah merebut jabatan dan kedudukan, tidak sebanding dan sejalan dengan apa yang dia lakukan, setelah terpilih jadi pemimpin. Dia bahkan lupa, bahwa sesungguhnya jabatan dan kedudukan yang diraih oleh seseorang hamba, selain harus dipertanggungjawabkan di dunia ini di hadapan makhluq, juga harus dipertanggungjawabkan kelak di akhirat, di hadapan Sang Khaliq Azza wa Jalla. Tetapi begitulah dunia, kegairahan untuk berkuasa dan meraih kekusaan, menyebabkan seseorang lupa daratan, lupa tujuan hakiki dari kekuasaan itu, dan bahkan lupa terhadap hari pembalasan nanti.

Kuasa, jabatan dan kedudukan bukan lagi dipandang sebagai suatu amanah mulia yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi lebih banyak dipergunakan dan diperalatkan untuk kepentingan diri, keluarga dan kelompok masing-masing.

Adalah sesuatu yang malang dan nestapa, akibat dari nafsu ingin berkuasa dan berkedudukan ini, justru yang menjadi mangsa dan korbannya adalah rakyat kecil yang tidak mengerti apa-apa dan butuh pertolongan dari pemimpinnya. Sebahagian di antara mereka, ada yang cari makan pagi untuk dimakan pagi, dan cari makan petang untuk dimakan petang.

Mereka tidak tahu dan atau tidak peduli dengan kekuasaan, jabatan dan kedudukan. Yang mereka tahu ialah mencari rezeki bagi meneruskan kehidupan di dunia fana ini. Kondisi mereka bukanlah dalam kategori, hari ini makan dimana sebagaimana orang-orang kaya, tetapi bagi mereka hari ini mau makan apa. Sementara pemimpin mereka berfikir, hari ini makan dimana dan bila perlu makan siapa.

Sungguh malang nian nasib bangsa ini, sebahagian diantara pemimpinnya, ada yang hidup dalam kemewahan, tanpa mau merenung nasib rakyat jelata. Bandingkan dengan sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz, selepas dilantik menjadi Khalifah, menyadari dengan sepenuh hati, jiwa dan raga, bahwa masih banyak rakyat yang miskin, menderita, sengsara, terlunta-lunta, dan hidup dibawah garis kemiskinan.

Sungguh sikap luar biasa yang dilakukan oleh Sang Khalifah. Khalifah Umar membuat keputusan tidak tinggal di istana, tapi hanya menempati rumah sederhana tanpa pengawal pribadi, istana dan pengawal keselamatan. Sang Khalifah juga bersikap di luar kebiasaan sikap pemimpin pada umumnya. Khalifah Umar bin Abdul Aziz menolak menggunakan fasilitas Negara, termasuk berbagai perhiasan yang diwariskan pendahulunya, untuk istrinya.

Sungguh suatu sikap yang berbeda dengan sikap yang ditempuh para pemimpin kita saat ini, banyak pemimpin yang lupa daratan dan mabuk lautan. Mereka mengambil sikap, apabila sudah dilantik menjadi pemimpin, segala janji yang diumbar dan kontrak kinerja yang ditandatangani ketika berkampanye untuk mendapatkan kedudukan, kini hanya janji tinggal janji, tiada satupun yang ditunaikan.

Terkadang, jangankan untuk membantu dan memenuhi janji kampanye, untuk bertemu sajapun susahnya bukan kepayang. Sungguh sifat yang jauh bertolak belakang dengan sikap yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz. Umar bersikap, ingin dekat dan mendengar keluhan akan kebutuhan rakyatnya dan ingin secepatnya mengatasi persoalan yang dihadapinya.

Umar bin Abdul Aziz, memiliki konsep yang jelas untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh rakyatnya, khususnya dalam hal pengentasan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Umar menerapkan konsep zakat secara tepat dan cermat. Rakyatnya yang kaya dan juga para pegawai pemerintahan, bergegas membayar zakat dan shadaqah kepada fakir miskin.

Hasilnya, hanya dalam rentang waktu dua setengah tahun atau tiga puluh bulan masa kepemimpinannya, seseorang yang kaya raya, merasa kesulitan mendapatkan orang yang berhak (mustahiq) menerima zakat, sebab fakir miskin yang selama ini berhak menerima zakat, kini telah berubah menjadi orang yang berkewajiban membayar zakat (muzakki). Semua rakyatnya, hidup dalam kesejahteraan yang memadai.

Demikianlah Umar bin Abdul Aziz yang digelar sebagai Khulafaur Rasyidin Kelima, memenuhi tanggungjawab dan amanah yang dibebankan di pundaknya. Umar tidak lari dari tanggungjawab, tetapi justru berlari memenuhi tanggungjawab.

Janganlah karena gairah dan semangat yang menggebu-gebu untuk berkuasa, menyebabkan kita sanggup memperdayakan dan membinasakan rakyat, tetapi hendaknya dapat memberdayakan dan membina rakyat.

Sejatinya kita harus ingat, bahwa kekuasaan, jabatan dan kedudukan tidaklah kekal abadi, tetapi sebaliknya, ia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Barokalloh fiik.

Jumat, 02 Desember 2016

Kisah Nabi Ibrahim dan Semut

Ketika Namrud memutuskan untuk melemparkan Ibrahim ke dalam api, seekor semut mendengar kabar itu. Si semut lantas berpikir, "Apa yang harus kuperbuat? Bagaimana mungkin aku sanggup menolong khalilullah? Tak boleh bagiku untuk berdiam diri dan membiarkan itu terjadi karena Allah akan mempertanyakanku pada hari kiamat."

Si semut pun membuat bejana dari kayu kecil, lalu pergi ke danau dan memenuhi bejana yang dibuatnya itu dengan air. Ia memikul bejana air itu dengan susah payah di atas punggungnya. Langkahnya pasti menuju tempat api yang telah dinyalakan oleh Namrud. Dalam perjalanan ke sana, si semut bertemu dengan seekor gagak, lalu si gagak bertanya dengan perasaan aneh,

Gagak : "Mau ke mana kau semut?"

Semut : "Aku mau ke kota raja."

Gagak : "Apa yang kamu pikul itu sampai-sampai kau begitu payah membawanya?"

Semut : "Aku membawa bejana berisi air."

Gagak : "Untuk apa air itu?"

Semut : "Tidakkah kau mendengar bahwa Namrud laknatullah telah menyalakan api untuk membakar Khalilullah Ibrahim ‘alaihis salam?"

Gagak : "Tidak, aku belum mendengar kabar itu. Namun, aku tak mengerti hubungan itu dengan air yang kau bawa ini?"

Semut : "Aku ingin turut ambil bagian untuk memadamkan api si Namrud."

Gagak (seraya mencemooh) : "Hai semut bodoh, apakah kau merasa yakin bahwa dirimu bisa memadamkan api besar Namrud dengan sedikit air dalam bejana kecil ini?"

Semut : "Aku tahu bahwa aku takkan mampu memadamkan api besar itu karena hal itu memang berada di luar kemampuanku. Akan tetapi aku melakukan ini karena dua alasan."

Gagak : "Apa kedua alasan itu?"

Semut : "Aku memastikan (di posisi mana aku berdiri) dan mengetahui sasaranku sehingga aku tahu apa yang kutuju. Dengan demikian aku bukanlah jenis makhluk yang tak peduli sehingga rela dengan keburukan yang terjadi. Aku harus punya andil untuk memberikan pertolongan meskipun itu di luar kemampuanku."

Gagak: "Apa alasan kedua?"

Semut : "Agar aku punya alasan yang benar di depan Rabb-ku. Aku mengetahui khalilullah akan dibakar tapi aku tak melakukan apa-apa? Oleh karena itu aku bangkit memberikan bantuan sebesar kemampuanku. Aku tak mau membiasakan diri hidup tanpa kepedulian."

Gagak pun mencemooh seraya meneruskan perjalanannya sambil tertawa. Adapun si semut yang tulus, ia berjalan terus menuju api Namrud dengan hati yang dipenuhi tekad kuat dan iman.

Faidah-Faidah Yang Terkandung

(1) Berbuatlah (berkontribusilah) meskipun kemampuan dan kesanggupanmu lemah. Yang penting itu berbuat.

(2) Janganlah rela dengan hal yang buruk, bahkan senantiasalah berusaha untuk pertambahan kebaikan dan meminimalisir keburukan.

(3) Tetapkan (titik keberpihakanmu) dan arah-arah tujuanmu, jangan hidup terombang-ambing tanpa arah tujuan dan tak berbuat dengan pasti.

(4) Jangan pedulikan orang yang menghalangi semangatmu, tetaplah teguh menjalani. Tak usah kau hiraukan mereka karena mereka itu orang pengecut yang gagal dan menginginkanmu seperti mereka.

(5) Ketahuilah bahwa Allah akan mempertanyakanmu atas apa yang telah kau perbuat di dunia dan pengejawantahannya dalam kehidupanmu. Apakah kau berbuat untuk menyeru kepada-Nya.