Rabu, 17 Juli 2019

DZIKIR SETELAH SHALAT


DZIKIR SETELAH SHALAT

Dzikir sesudah atau setelah shalat adalah di antara dzikir yang mesti kita amalkan. Seusai shalat tidak langsung bubar, namun hendaknya kita merutinkan beristighfar dan bacaan dzikir lainnya.
Dzikir akan menguatkan seorang muslim dalam ibadah, hati akan terasa tenang dan mudah mendapatkan pertolongan Allah.

[1]

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (3x)
اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

Astagh-firullah 3x
Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

Artinya:

“Aku minta ampun kepada Allah,” (3x).
“Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

Faedah: Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam jika selesai dari shalatnya beliau beristighfar sebanyak tiga kali dan membaca dzikir di atas. Al Auza’i menyatakan bahwa bacaan istighfar adalah astaghfirullah, astaghfirullah.


[2]

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Allahumma laa maani’a limaa a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

Artinya:

“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”

[3]

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyaah. Lahun ni’mah wa lahul fadhlu wa lahuts tsanaaul hasan.
Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.

Artinya:

“Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.”

Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca tahlil (laa ilaha illallah) di akhir shalat.

[4]

سُبْحَانَ اللهِ (33 ×)
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (33 ×)
اَللهُ أَكْبَرُ (33 ×)
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Subhanallah (33x)
Al hamdulillah (33x)
Allahu akbar (33 x)
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Artinya:

“Maha Suci Allah (33 x), Segala puji bagi Allah (33 x), Allah Maha Besar (33 x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Faedah: Siapa yang membaca dzikir di atas, maka dosa-dosanya diampuni walau sebanyak buih di lautan.
Kata Imam Nawawi rahimahullah, tekstual hadits menunjukkan bahwa bacaan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar, masing-masing dibaca 33 kali secara terpisah.

[5]

Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardla walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim

Artinya :

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Faedah: Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.

[6]

Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas setiap selesai shalat (fardhu).
Faedah: Tiga surat ini disebut mu’awwidzot.

[7]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyiba, wa ‘amalan mutaqobbala

Artinya:

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (Dibaca setelah salam dari shalat Shubuh)

Semoga bisa diamalkan.


Senin, 17 Juni 2019

Kertas Thermal dan Bahayanya




Suka Meremas atau Menyimpan Kertas Thermal? Ini Bahayanya!

Pasti kamu bertanya tanya, apa sih kertas thermal?

Kertas ini bisa ditemui dalam keseharian aktivitas kamu, seperti: saat berbelanja, melakukan transaksi, mengambil uang atau melakukan transfer di mesin ATM. Bahkan saat kamu memiliki tiket konser untuk menonton pertunjukan musisi kesayangan, maupun tiket pesawat saat akan bepergian.   

Sayangnya tidak banyak orang yang tahu jika setruk atau tiket dari kertas thermal ini mengandung zat kimia beracun BPA dan BPS yang berbahaya bagi tubuh.

Berikut penjelasannya:

Apa itu kertas thermal? Kertas thermal biasanya dikemas dalam bentuk rol atau dikenal dengan sebutan thermal paper roll. Kertas ini biasa digunakan dalam mesin faksimili, setruk belanja, setruk ATM, tiket pesawat maupun tiket konser.

Dinamakan kertas jenis thermal karena kertas ini memang bekerja berdasarkan panas/thermal yang dikenakan pada bahan kertas tersebut. Dalam mencetak dokumen melalui mesin faks, ATM atau mesin lainnya, digunakan kertas khusus yaitu thermal paper yang peka terhadap panas (heat-sensitive thermal).

Thermal Paper adalah kertas yang dipenuhi dengan bahan kimiawi yang akan berubah warna ketika dipanaskan.  Permukaan thermal paper dilapisi campuran bahan pewarna yang padat dan kandungan yang sesuai, seperti fluoran leuco dye dan octadecylphosphonic acids.

Thermal paper juga mengandung konsentrat BPA (Bisphenol A) dan BPS (Bisfenol S) yang cukup tinggi, yaitu bahan pemecah endokrin. BPA dan BPS adalah bahan kimia yang digunakan untuk penguat warna pada setruk kertas thermal.

Bahan kimia ini tidak hanya digunakan dalam setruk belanja, tapi juga dalam plastik dan lapisan wadah makanan dan minuman.

Selain pada mesin faks, printer thermal digunakan juga untuk keperluan mencetak setruk di SPBU, daftar harga, label barcode, setruk di mesin ATM, maupun pada pembayaran tunai atau non tunai di kasir maupun bukti pembayaran lainnya seperti tiket konser dan tiket pesawat.

Bahaya menyimpan kertas thermal

Jika kamu sering menyimpan kertas setruk belanja atau setruk lainnya di dompet maupun kantong celana/baju, risiko yang bisa mengintai adalah kanker payudara, kanker prostat, diabetes dan obesitas.

Seperti dikutip dari doktersehat.com, berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di Taiwan, sekitar 20 sampel dari kertas setruk ATM, beberapa lembar kertas setruk belanja, 7 kertas faksimile dan beberapa kertas dari kantor pos di cek kandungan kimianya.

Hasil dari penelitian ini adalah, 60 persen dari dari sampel tersebut mengandung bahan kimia BPA yang bersifat karsinogenik. Dari 18 hingga 28 sampel tersebut, diketahui bahwa kandungan kimia di dalam kertas mencapai 10 hingga 50 ppm atau parts per million.

Jumlah ini tergolong sangat tinggi sehingga bisa menyebabkan datangnya masalah kesehatan seperti pubertas dini, obesitas, serta kanker.

Walaupun dalam dosis yang sangat sedikit, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa BPA yang ada di setruk belanja bisa memicu kanker.

Bahaya meremas kertas thermal

Saat kamu melakukan transaksi atau mengambil uang di mesin ATM biasanya akan menerima kertas setruk. Setelah melihat data yang ada di kertas, sebagian orang akan meremas kertas setruk tersebut sebelum dibuang.

Ternyata meremas kertas setruk dari mesin ATM atau setruk belanja sama bahayanya dengan menyimpan setruk di dompet atau di kantong celana.

Masalahnya adalah, bahan kertas thermal ini memiliki bahan kimia BPA (Bisphenol A) dan dan BPS (bisphenol S) yang berpotensi menyebabkan datangnya beberapa penyakit termasuk penyebab munculnya penyakit kanker.

Kertas ini juga akan cenderung mudah berubah warna saat terpapar panas.  Organisasi Perlindungan Lingkungan Hidup AS dalam penelitian yang mereka lakukan disebutkan jika kita menyentuh 2,5 mikrogram BPA yang bisa ditemukan di dalam kertas setruk ATM selama 10 detik saja, maka kita akan terpapar bahaya dari bahan bersifat karsinogenik tersebut. Bahkan, risiko ini akan meningkat 1,5 kali lipat jika kita meremas kertas setruk ATM tersebut. Bisa menyerap dalam kulit.

Kontak dengan kertas termal membuka peluang paparan BPA dan BPS ke dalam tubuh, baik melalui transfer langsung ke kulit, maupun transfer oral lewat makanan yang tersentuh kontaminan tangan.

Namun, paparan paling mudah terjadi lewat kulit, BPA dan BPS bisa meresap ke lapisan bawah kulit dan masuk ke aliran darah. 

Seperti yang dilansir dari Plastic Pollution Coalition, AS, BPA yang ada di kertas setruk bisa mengganggu sistem reproduksi pada pria dan wanita. Hal tersebut dapat terjadi akibat menyerapnya senyawa kimia yang menyerupai estrogen tersebut ke dalam kulit.  

Kandungan BPA dan BPS ini bisa dengan mudah diserap kulit jika kamu memegang setruk dengan jari yang lembab atau baru saja menggunakan lotion.

Tak hanya itu, jika kamu tidak mencuci tangan usai menyentuh atau meremas kertas setruk belanjaan atau setruk atm maka bahan kimia tersebut juga bisa masuk ke dalam tubuh.  

Parahnya lagi belum banyak orang yang paham bahwa paparan BPA kertas thermal bisa jadi lebih berbahaya dari BPA plastik.

Massa total BPA kertas thermal bisa mencapai 250-1000 kali lebih besar dari BPA pada kaleng makanan, kaleng susu formula, atau botol bayi plastik. 

Bagaimana dengan di Indonesia?

Namun, hal ini berbeda dengan Indonesia, seperti dilansir warstek.com, (16/4/2019), Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Imran Agus Nurali mengatakan “Memang ada informasi kertas print dari ATM itu mengandung bisphenol A (BPA) yang mungkin berdampak buruk pada kesehatan.”

Namun ia menambahkan perlu adanya informasi dari hasil kajian tentang bagaimana setruk ATM berdampak pada kesehatan manusia. “Uji klinis yang tidak mudah saya rasa, ini peranan lembaga penelitian atau akademisi untuk memfasilitasinya. Mudah-mudahan dampaknya nanti kepada kebijakan pemerintah terkait penggunaan plastik.” jelasnya.

Pencegahan yang bisa dilakukan Jika kamu tak ingin terpapar racun BPA dan BPS, yang ada pada setruk kertas thermal, mulailah untuk membuang kertas tersebut ke tempat sampah agar tidak bertahan lama di sana. Selain itu ada beberapa cara yang harus kamu perhatikan agar mengurangi resiko terpapar racun BPA dan BPS ini, yaitu:

1. Terdapat cara khusus untuk mengetahui apakah setruk belanja yang kamu terima mengandung BPA/BPS atau tidak. Cobalah untuk menggores sisi pada setruk belanja kamu. Jika terdapat tanda gelap, maka bisa jadi setruk tersebut mengandung BPA.

2. Jika memungkinkan, jangan menerima setruk saat belanja atau saat mengambil uang di ATM

3. Apabila harus menerima setruk belanja atau setruk dari mesin atm (jika melakukan transfer uang), cobalah untuk menyentuh bagian belakang dan sisi kertas setruk karena biasanya hanya mengandung BPA yang lebih sedikit.

4. Jangan simpan setruk di dompet atau didalam kantong celana/baju, lebih baik simpan pada sebuah amplop kosong. Pasalnya racun BPA dan BPS dapat menempel pada uang atau barang-barang di dompet kamu, maupun menempel pada kain di kantong celana/baju, sehingga berbahaya bagi kesehatan.

5. Jangan lupa selalu cuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air yang mengalir, setelah kamu memegang setruk belanja atau setruk ATM.

6. Jangan menggunakan pembersih tangan berbahan kimia untuk membersihkan tangan kamu usai memegang setruk kertas thermal.

Selasa, 30 April 2019

Masjid Al Aqsa

BELUM lama ini terjadi hal yang menyayat hati terutama bagi umat muslim dunia. Pasalnya, di area Masjid Al-Aqsa, tentara Israel melakukan tindakan kejam ke masyarakat Palestina yang tak bersenjata. Atas peristiwa tersebut, beberapa orang tewan dan mengalami luka-luka.
Alhasil, berbagai kecamanan pun muncul dari seluruh dunia. Banyak yang mengunggah foto Masjid yang memiliki kubah emas. Pertanyaannya benarkah masjid tersebut adalah Masjid Al-Aqsa?

Peta Masjid Al-Aqsa (Peta Islam site)
Faktanya ternyata foto masjid yang diposting banyak orang itu bukanlah Masjid Al-Aqsa. Bangunan yang memiliki kubah warna emas itu adalah Masjid Kubah Sakhrah (Dome of the Rock), sedangkan Masjid Al-Aqsa letaknya berada di dekat Dome of the Rock.
Meski berdekatan Masjid Al-Aqsa yang memiliki kubah hijau sangat berbeda dengan Dome of the Rock. Jika Dome of the Rock terlihat sedikit lebih indah, sebaliknya, Masjid Al-Aqsa sangat kusam dan ada beberapa bagian yang rusak berat.
Kondisi Masjid Al-Aqsa terkini (Facebook/Andre Raditya)
Dome of the Rock sendiri merupakan merupakan bagunan bersejarah bagi umat muslim. Di dalamnya terdapat batu besar yang kabarnya tempat berdiri Nabi Muhammad untuk naik ke langin di peristiwa Isra dan Miraj.
Sedangkan Masjid Al-Aqsa merupakan salah satu tempat suci bagi umat muslim. Pasalnya, bangunan yang berada di Kota Yerusalem itu adalah kiblat pertama sebelum Ka'bah.

Jumat, 19 April 2019

PENGERTIAN KEBENARAN

PENGERTIAN KEBENARAN

Kebenaran adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Pernyatan ini pasti, dan tidak dapat dipungkiri lagi. Kita manusia selalu ingin tahu kebenaran, karena hanya kebenaranlah yang bisa memuaskan rasa ingin tahu kita, dengan kata lain tujuan pengetahuan ialah mengetahui kebenaran.

Tujuan ilmu juga mencapai kebenaran, dengan kata lain, dalam ilmu kita manusia ingin memperoleh pengetahuann yang benar, karena ilmu merupakan pengetahuan yang sistematis, maka pengetahuan yang dituju ilmu adalah pengetahuan ilmiah.

Kita manusia bukan hanya sekedar ingin tahu, tetapi ingin mengetahu kebenaran. Kita juga selalu ingin memiliki pengetahuan yang benar. Kebenaran ialah persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya.

Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya.

JENIS-JENIS KEBENARAN

1. Kebenaran Individual

Kebenaran Individual ini merupakan kebenaran yang di ikuti manusia berdasarkan pendapat sendiri.

2. Kebenaran Objektif

Kebenaran Objektif merupakan kebenaran yang biasanya bersumber dari ajaran leluhur yang diwariskan secara turun temurun dan sudah mendarah daging dalam masyarakat.

3. Kebenaran Hakiki

Kebenaran yang sifatnya mutlak, pasti dan tidak akan pernah mengalami perubahan, tentunya kebenaran ini bukan dari manusia, tetapi kebanaran inidatangnya dari Sang Pencipta sebab itu jangan sekali-kali kita meragukannya.

UPAYA MEMPEROLEH KEBENARAN

1. Pendekatan Empiris

Manusia mempunyai seperangkat indera yang berfungsi sebagai penghubung dirinya dengan dunia nyata, dengan inderanya manusia mampu mengenal berbagai hal yang ada di sekitarnya. Kenyataan seperti ini menyebabkan timbulnya anggapan bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui penginderaan atau pengalaman.

Bagi yang mempercayai bahwa penginderaan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh kebenaran disebut sebagai kaum empiris. Bagi golongan ini, pengetahuan itu bukan didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun melalui pengalaman yang konkrit.

2. Pendekatan Rasional

Cara lain untuk mendapatkan kebenaran adalah dengan mengandalkan rasio, upaya ini sering disebut sebagai pendekatan rasional. Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir, sehingga dengan kemampuannya tersebut manusia dapat menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu, yang pada akhirnya sampai pada kebenaran, yaitu kebenaran rasional.

3. Pendekatan Intuitif

Pendekatan ini merupakan pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses penalaran tertentu. Misalkan Seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara tiba-tiba menemukan jalan pemecahan dari masalah yg dihadapi.

4. Pendekatan Religius

Kita sebagai makhluk Tuhan yang diberi akal pikiran harus menyadari bahwa alam semesta beserta isinya ini diciptakan dan dikendalikan oleh kekuatan Tuhan. Upaya untuk memperoleh kebenaran dengan jalan seperti ini disebut sebagai pendekatan religius.

5. Pendekatan Otoritas

Yang dimaksud dengan pendekatan otoritas ini adalah seseorang yang memiliki kelebihan tertentu disbanding orang lain. Kelebihan-kelebihan tersebut bisa berupa kekuasaan, kemampuan intelektual, keterampilan, pengalaman, dan sebagainya. Yang memiliki kelebihan-kelebihan seperti itu disegani, ditakuti, ataupun dijadikan figur panutan. Apa yang mereka nyatakan akan diterima sebagai suatu kebenaran.

Kamis, 18 April 2019

Kisah Perang Uhud Yang Menggetarkan Jiwa 

Kisah Perang Uhud Yang Menggetarkan Jiwa 

Terjadinya perang uhud ini berawal dari rasa kekecewaan dan rasa dendam kafir quraisy kepada muslimin. Rasa dendam setelah kekalahan mereka dalam perang badar atau perang ahzab. Dalam segi jumlah dan kekuatan mereka kafir quraisy lebih banyak dan kuat.

Seharuslah merekalah yang berhak megundapatkan kemenangan, namun Allah menghendaki kemenangan diatas tangan muslimin. Berkat pertolongan bala tentara Allah dari kalangan malaikat, kafir quraisy lari tunggang langgang. 

Lebih menyakitkan lagi banyak tokoh tokoh mereka banyak yang gugur dalam perang tersebut.

Waktu Dan kejadian Perang Uhud 

Perang uhud  terjadi pada tanggal 22 Maret 625 M (7 Syawal 3 H). Peperangan ini terjadi kurang lebih satu tahun setelah berkecamuknya perang badar. Para ahli sejarah berselisih akan hari terjadinya. Menurut kebanyakan pakar sejarah mengatakan perang uhud terjadi pada hari sabtu. 

Adapun tempatnya perang uhud berkecamuk di bukit uhud. Sebuah bukit yang berada pada ketinggian 128 meter. Bukit ini berada disebalah utara Madinah dengan jarak 5,5 kilo meter dari Masjid Nabawi. 

Sebab Terjadinya Perang Uhud 

Kekalahan di perang badar membuat mereka hancur berkeping-keping. Banyak korban dari kalangan para tokoh berjatuhan, bahkan sebagian mereka menjadi tawanan muslimin. Banyak yang lari tunggang langgang dan akhirnya bisa sampai ke rumah dengan kepedihan dan kekecewaan yang mendalam. 

Dengan sesampainya Abu Sufyan beserta kafilah dagang tiba di Makkah, maka mereka kafir Quraisy mengadu kepadanya agar diadakan penyerangan balik. Salah satu keluarga yang gugur di perang badar pun menyeru kepada Abu Sufyan dan kafilah dagang lainnya. 

“Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah membinasakan kalian serta membunuh orang – orang terbaik kalian. Maka dari itu, bantulah kami dengan harta kalian itu untuk memeranginya. Mudah-mudahan kami dapat membalas dendam atas kematian orang – orang  kita!” 

Selain karena balas dendam, Perang Uhud ini bertujuan agar mereka kafir Quraisy bisa kembali membuka jalur perdagangan. Yaitu jalur perdagangan menuju Syam yang harus melewati kota Madinah.

Menyambut Musuh Diluar Kota 

Setelah mendengar akan kabar bahwa kafir Quraisy akan menyerang Madinah yang dikomandani oleh Abu Sufyan, maka Rosulullah  Shallallahu ‘alaihi Wa sallam mengadakan musyawarah bersama para sahabat. 

Rosulullah  Shallallahu ‘alaihi Wa sallam bermusyawarah untuk mengambil tindakan penyerangan kafir Quraisy. 

Apakah bertahan di Madinah dan menunggu kedatangan mereka atau menyongsong Kafir Quraisy dari luar kota Madinah. Perdebatan pun terjadi dikalangan para sahabat. Para pemuda anshor berpendapat agar menyongsong mereka dari luar kota Madinah. Akhirnya keputusan pun berakhir yaitu dengan menyongsong mereka diluar Madinah. Padahal waktu itu Rosulullah  Shallallahu ‘alaihi Wa sallam lebih condong untuk menunggu mereka dan menyerang dari dalam kota Madinah. 

Para sahabat pun saling menyalahkan kenapa tidak mengikuti pendapat Rosulullah  Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Akhirnya para sahabat meminta Hamzah agar disampaikan kepada  Rosulullah  Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Ketika Hamzah menyampaikan kepada Rosulullah, maka beliau menjawab ‘Sesungguhnya jika seorang nabi sudah mengenakan peralatan perangnya, maka dia tidak akan menanggalkannya hingga terjadi peperangan. 

Akhirnya keputusan awal tetap dilaksanakan, yaitu menghadang mereka diluar kota Madinah. 

Sebelum keberangkatan para mujahidin ke medan tempur, Rosulullah mengamanahkan kota Madinah kepada sahabat Ibnu Ummi Maktum. 

Jumlah Pasukan Perang Uhud Kafir Quraisy 

Sudah jauh-jauh hari kafir Quraisy menyiapakan pasukan bela tentaranya. Pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan membawa banyak akan harta barang dagangan yang selamat dari serangan muslimin. Selanjutnya barang dagangan dan keuntungan tersebut untuk bekal pasukan Quraisy dalam perang Uhud.

Demi balas dendam mereka dalam perang badar, Abu Sufyan mengirim bala tentara sejumlah tiga ribu orang. Pasukan yang terdiri dari qoum Quraisy sendiri dan beberapa suku yang pro dengan mereka. Suku-suku yang loyal kepada Qoum Quraisy seperti Bani Kinanah dan penduduk Tuhamah. Bahkan mereka pun mengirim dua ratus pasukan kuda dan tujuh ratus pasukan bertameng.

Mereka pun juga sudah mengatur strategi untik perang uhud ini. Mereka mengangkat Khâlid bin al-Walîd sebagai komandan sayap kanan, sementara sayap kiri di bawah komando Ikrimah bin Abu Jahl. Tak lupa juga, mereka juga mengajak beberapa orang wanita untuk membangkitkan semangat pasukan Quraisy dan menjaga mereka supaya tidak melarikan diri. Sebab jika ada yang melarikan diri, dia akan dicela oleh para wanita ini.

Pasukan  Perang Uhud Muslimin 

Jumlah pasukan muslimin dalam perang uhud ini bisa dikatakan sedikit, karena tak sebanding dengan jumlah kafir Quraisy. Pada waktu itu jumlah total pasukan muslimin cuman seribu orang dengan perlengkapan seratus baju besi dan lima puluh ekor kuda.

Bahkan ditengah perjalan menuju bukit Uhud sebagian kaum muslimin terhasut oleh perkataan Ubay Bin Salul sang tokoh munafiq. Akhirnya pasukan muslimin yang setia bersama nabi tinggal tujuh ratus orang saja. 

Strategi Rosulullah Di perang Uhud 

Pertempuran yang dipimpin oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam ini terjadi diluar madinah. Yaitu tepatnya disekitar bukit uhud. 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam mengatur posisi pasukan dengan membelakangi Uhud dan menghadap Madinah, sehingga pasukan musuh berada di tengah kaum muslimin dan Madinah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam menerapakan strategi bertahan, karena jumlah pasukan kaum muslimin yang sedikit. Tidak hanya karena jumlah pasukannya yang lebih sedikit dari kaum Quraisy, tetapi terlebih karena pasukan muslimin baru saja mengalami ‘hantaman psikologis’ karena Abdullah bin Ubay bersama 300 pengikutnya tiba-tiba mundur (desersi), kembali ke Madinah, setelah melihat pasukan Quraisy yang berkekuatan 3.000 orang. 

Sisa 700 pasukan muslimin yang sempat terguncang akhirnya kembali tegar dan semangat berjuang karena Allah dan rosulNya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam juga memilih pasukan khusus yang berjumlah lima puluh orang. Meraka adalah pasukan pemanah jitu yang sudah berbakat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam menempatkan mereka diatas bukit, tepatnya di Jabal Rumat/Jabal Ainain. Jarak pasukan panah dengan kaum muslimin yang dibawah bukit sekitar seratus lima puluh meter. 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam memilih Abdullah bin Jubair sebagai komando pasukan panah. Beliau juga mewanti-wanti agar tetap fokus diatas bukit dan jangan sekali-kali turun bukit tanpa ada perintah dari beliau. Beliau  bersabda: “Lindungilah punggung kami. Jika kalian melihat kami sedang beretempur, maka kalian tidak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami telah mengumpulkan harta rampasan, maka janganlah kalian turun bergabung bersama kami. Dalam riwayat Bukhari juga disebutkan. Beliau bersabda: ”Jika kalian melihat kami disambar burung sekalipun, maka janganlan kalian meninggalkan tempat itu, kecuali ada utusan yang datang kepada kalian. Jika kalian melihat kami dapat mengalahkan mereka, maka janganlah kalian meninggalkan tempat, hingga ada utusan yang datang kepada kalian.” 

Sepuluh Pemanah Syahid Di Bukit Uhud 

Mungkin kisah perang uhud ini cukup jadi pembelajaran bagi kita semua. Ketika Allah dan rosulNya memerintahkan sesuatu maka wajib untuk mentaatinya. Sebelumya Rosulullah  Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam sudah berulang kali mewanti-wanti agar pasukan panah tidak turun kecuali atas perintah beliau. Dari sini seakan-akan Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam sudah tahu apa yang akan terjadi kedepanya nanti. 

Ketika pertempuran hampir usai dan kemenangan hampir di tangan muslimin, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam tetap saja memerintahkan agar pasukan bersiaga di tempatnya masing-masing. Namun karena tergiur dengan harta dunia yang fana, beberapa pasukan pemanah yang berada diatas bukit berteriak-teriak ” Harta ghonimah, harta ghonimah !!! Wahai para sahabat, kita sudah menang, ayok kita semua turun. Sang komandan Abdullah bin Jubair pun meneriaki para pasukan pemanah yang turun kebawah karena tergiur dengan gelimpang harta dunia. “Apakah kalian sudah lupa apa yang diamanahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam kepada kita?!! 

Memang sekilas tampak sudah menang, tetapi ini masalah amanah, dan ketaatan kepada baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam. Tetapi mayoritas dari mereka tidak mengabaikan peringatan itu. Tampaknya perasaan cinta duniawiah (hubbud dunya) masih ada di hati mereka. Mereka berkata, “Demi Allah, kami benar-benar akan bergabung dengan mereka (pasukan inti) agar kami mendapatkan bagian dari rampasan perang ini…!” 

Empat puluh pemanah segera beranjak pergi meninggalkan bukit. Ibnu Jubair dengan sembilan temannya yang tersisa berusaha keras menahannya. Tetapi tetap saja mereka pergi, sehingga hanya tinggal mereka saja yang bertahan. Situasi dan kondisi seperti ini yaitu turunya para pasukan pemanah ternyata menjadi pengamatan Khalid bin Walid. Ia memerintahkan pasukan berkudanya kembali ke arah Uhud, mengambil jalan memutar hingga langsung berhadapan dengan pasukan panah Ibnu Jubair, yang tentu saja tidak mampu menahan laju serangan seperti sebelumnya. Satu persatu mereka terkapar bersimbah darah menemui syahidnya, demi mematuhi perintah Rasulullah SAW untuk tetap bertahan di atas bukit, apapun yang terjadi. 

Kemudian Khalid bin Walid menyerang pasukan muslimin dari arah belakang hingga mereka porak poranda. Pergerakan ini ternyata diikuti oleh pasukan Quraisy lainnya, yang segera kembali ke arena pertempuran dan memborbardir kaum muslimin dengan serangan dari segala arah.  

Amrah binti Alqamah al Haritsiyah seorang wanita Quraisy segera mengambil panji pertempuran dan mengibarkannya sehingga semangat mereka kembali menyala. Kemenangan kaum muslimin yang tinggal sedikit saja diraih, berbalik menjadi kekalahan hanya karena ketidak-disiplinan dan ketidak patuhan 40 orang pemanah di bukit terhadap perintah Rasulullah SAW. 

Gugurnya Sang Singanya Allah 

Julukan Asadullah yang berarti singanya Allah diberikan kepada pamanya rosulullah yaitu Hamzah Bin Abdul Muthollib. Beliau berperang seakan-akan singa kelaparan yang memburu mangsanya. Semangat dan keberanian Hamzah sangat ditakuti oleh kafir Quraisy. 

Qodarullah, akhirnya beliau sang ksatria yang gagah berani akhirnya syahid di perang uhud. Disaat perang berkecamuk beliau memporak porandakan pasukan kafir, ada seorang budak bernama Wahsy bin Harb yang selalu mengintai gerak gerik Hamzah. Wahsy bin Harb adalah budak hitam Jubair bin Muthi’im dari Habsyah. Budak itu sangat pandai dalam melempar tombak. Hampir setiap lemparan yang ia lemparkan pasti mengenani sasaran. 

Merupakan syarat dimerdekakannya dia dari perbudakan yaitu dengan membunuh Hamzah bin Abdul Mutholib. Wahsy bin Harb pun mengiyani tawaran majikanya, yaitu membunuh Hamzah. Jubair bin Muthi’im menyuruh membunuh karena sebagai balas dendam atas kematian pamanya di perang badar. 

Dengan bersembunyi-sembunyi dan fokus menepatkan sasaran tombak kearah Hamzah, Wahsyi akhirnya bisa berhasil membunuhnya. Tepat dibagian perut bawah hingga tembus keluar dari selangkangan. Allahu Akbar maka gugurlah Hamzah bin Abdul Mutholib sebagai syahid di perang uhud. Semoga Allah menempatkan beliau bersama kafilah syuhada’. 

Penutup 

Dari kisah perang uhud yang sudah kita bahas tadi banyak pelajaran yang bisa dipetik. Diantaranya adalah wajibnya kita mentaati perintah seorang pemimpin muslimin. Selagi perintah itu baik dan tidak  melanggar syari’at islam. Dunia itu sifatnya fana, kenikmatan dunia hanya sesaat saja. Jangan sampai kita tertipu dengan kegemerlapan materi dunia sehingga lupa akan akhirot.

Semoga bermanfaat untuk kita semua. Wallahu a’lam bishowaab.

Senin, 25 Maret 2019

ANATOMI AL QUR'AN

ANATOMI AL-QUR’AN

Oleh: Julianda Boangmanalu

Meminjam istilah ilmu kedokteran, Al-Qur’an bisa dibedah layaknya sebuah anatomi untuk melihat dan berusaha memahami isi kandungannya. Terutama yang berkaitan dengan penciptaam alam semesta dan makhluk di dalamnya, termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Setiap muslim disyariatkan untuk selalu membaca, mempelajari, dan memahami isi kandungan Al-Qur’an, tanpa memandang latar belakang seorang muslim itu sendiri. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan hal ini, seperti Surah Al Ankabut (surah ke-29) ayat 45 (selanjutnya, penyebutan surat Al-Qur’an dituliskan hanya nomor surat dan nomor ayat, seperti: QS.29:45). Dalam surat tersebut berbunyi yang artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an)….”

Ayat lain dengan makna perintah memahami Al-Qur’an, yaitu: QS.2:121, QS.3:101 dan 113, QS.4:20 dan 82, QS.7:204, QS.8:2 dan 31, QS.12:111, QS.16:98, QS.17:45,46, dan 107, QS.18:27, QS.19:58 dan 73, QS.20:123, QS.22:72, QS.25:73, QS.27:91-92, QS.31:7, QS.35:29, QS.37:3 dan 73, QS.47:24, QS.82:21, dan QS.96:1 dan 3.

Baik muslim maupun non-muslim sepakat bahwa Al-Qur’an adalah literatur berbahasa Arab bernilai tinggi. Al-Qur’an juga telah menduduki posisi sebagai sastra Arab terbaik di muka bumi. Al-Qur’an diyakini oleh seluruh umat Islam sebagai kitab suci yang harus dipegang teguh. Kebenarannya berlaku sepanjang zaman, dan didalamnya terdapat aturan serta petunjuk yang berasal dari Allah swt.

Al-Qur’an juga diyakini dan diakui oleh umat Islam sebagai satu-satunya Kitab Suci yang belum dan tidak akan pernah mengalami perubahan sejak diturunkan. Al-Qur’an adalah inti sari dari semua pengetahuan. Tetapi, pengetahuan ini terkandung di dalam Al-Qur’an sebagai benih dan prinsip. Al-Qur’an memuat prinsip dari segala pengetahuan, termasuk kosmologi dan pengetahuan tentang alam semesta.

Al-Qur’an bukan hanya sumber pengetahuan metafisis dan religius, melainkan juga sumber dari segala pengetahuan. Al-Qur’an menerangkan seluruh kehidupan dialam semesta, termasuk penciptaan manusia mulai didalam kandungan, lahir, masa perkembangannya sampai pada kematiannya termasuk etika dan tingkah laku baik dalam hubungannya kepada sesama manusia dan hubungannya dengan Allah swt sang pencipta.

Dunia Islam yang diterangi oleh cahaya Al-Qur’an pernah mencapai masa keemasan di bidang sains, tekhnologi, dan filsafat tepatnya dibawah Dinasti Abbasyiah yang berkuasa sekitar abad ke-8 sampai ke-15.

Perkembangan tersebut melahirkan berbagai bidang ilmu dan munculnya ratusan bahkan ribuan sarjana-sarjana Muslim, seperti al-Kindī (801-873 M), al-Farabī (870-950 M), al-Rāzī (864930 M atau 251-313 H), Ibn Tufail (1105-1185 M), Ibn Bajjah (1085-1138 M), dan sejumlah pakar pada bidangknya masing-masing, seperti Ibn Rushd (11261198 M), Ibn al-Haytham (965-1040 M atau 354-430 H), dan Jabir ibn Hayyan (721-815 M) serta pakar etika muslim, Ibn Maskawaih (932-1030 M atau 330 - 421 H).

Dewasa ini, sains dalam dunia Islam mengalami kemunduran dan sains saat ini identik dengan barat. Dalam ilmu pengetahuan dan sains saat ini lebih didominasi oleh barat yang betul-betul menggeluti dan mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kejayaan umat Islam sekarang tinggal kenangan karena negeri-negeri muslim umumnya masih terbelakang dan miskin.

Selain itu, menurut Agus Purwanto, Fisikawan Teoretik, Pencinta dan Pengkaji Al-Qur’an, kondisi saat ini, umat dan ulama banyak menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, dan dana untuk membahas persoalan fiqih, dan sering berseteru serta bertengkar karenanya.

Mereka lalai atas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan, dan kelap-kelipnya bintang. Mereka abaikan gerak awan di langit, kilat yang menyambar, listrik yang membakar, malam yang gelap gulita, dan mutiara yang gemerlap. Mereka juga tak tertarik pada aneka tumbuhan disekitarnya, binatang ternak maupun binatang buas yang bertebaran di muka bumi, dan aneka fenomena serta keajaiban alam lainnya.

Seiring dengan itu, menurut Syaikh Jauhari Thanthawi, guru besar Universitas Kairo, dalam tafsirnya Al-Jawair, sebagaimana dikutip oleh Purwanto, Syaikh Thanthawi menulis bahwa di dalam Kitab Suci Al-Qur’an terdapat lebih dari 750 ayat kauniyah, ayat tentang alam semesta, dan hanya sekitar 150 ayat fiqih.

Anehnya, para ulama telah menulis ribuan kitab fiqih, tetapi nyaris tidak memerhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya. Pada prinsipnya, semua ciptaan Allah yang dipahami sebagai ayat-ayat Allah, menurut Al-Qur’an menjadi objek ilmu.

Maka Allah menciptakan langit dan Bumi dan apa yang ada diantara keduanya (sebagai ayat-ayat-Nya) dengan hak (QS.46:3). Allah swt akan menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang terlihat di cakrawala (al-afaq) dan dalam diri manusia sendiri (fi anfusihim) (QS.41:53) sebagai objek Ilmu atau perenungan manusia.

Kita juga dihimbau untuk memperhatikan langit, bagaimana ia tinggikan (QS.88:17), diciptakan dan ditinggikan tanpa tiang (QS.31-10 dan QS. 13:2).

Banyak ayat dalam Al-Qur’an, Allah mengajak manusia untuk berfikir dan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya mengenai fenomena alam dan diri sendiri (QS.41:53), tanda-tanda keagungan Allah hanya bagi orang yang berfikir (QS.39:42).

Al-Qur’an mengkisahkan bagaimana penciptaan alam semesta terjadi, dimana pada awalnya seluruh alam semesta berbentuk satu massa yang besar (Nebula Primer) yang kemudian terjadi “Big Bang” (Ledakan Pemisah Skunder) yang mengakibatkan pembentukan galaksi. Kemudian, terbentuk dan terbagi dalam bentuk bintang, planet, matahari, bulan, dan lain sebagainya (QS.21:3), bagi para ahli astrofisika dikenal dengan Teori Big Bang. Al-Qur’an menerangkan bahwa sebelum pembentukan galaksi, pada awalnya berbentuk gas/asap (QS.41:11), bumi bulat seperti telur burung unta (geo-spherical) (QS.31:29, QS.39:5, QS.79:30). Cahaya rembulan adalah pantulan sinar matahari (QS.25:61, QS.71:15-16), matahari berputar pada sumbunya (QS.21:33).

Tentang bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi ditegakkan, bumi dihamparkan (QS. 88:17-20), dan bagaimana manusia diciptakan (QS. 51:21). Al-Qur’an sudah menerangkan tentang perumpamaan dunia (QS. 10:24), tentang fenommena alam (QS.2:164 dan QS.13:3), hujan dan tanaman (QS.16:11), fenoma lebah (QS.16:69), fenomena tidur (QS.39:42), alam ditundukkan bagi manusia (QS.16:12 dan QS.45:13), orbit matahari dan bulan (QS.10:15), buah beraneka rasa (QS.13:4), buah kurma dan anggur (QS.16:67), tentang kilat dan hujan (QS.30:24).

Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan (QS.51:49 dan QS.36:36), bukan cuma manusia dan hewan saja yang berpasang-pasangan, buah-buahan juga berpasang-pasangan (QS.13:3). Al-Qur’an menganjurkan kita untuk menggunakan akal kita untuk mengamati, berfikir dan merenungi (QS. 24:61).

Beberapa gaya Al-Qur’an untuk mengajak kita mengamati, memikirkan dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah swt adalah dengan pertanyaan retoris: afala ta’qilun (tidakkah kamu menggunakan akal) (QS.2:44 dan QS.12:109), afala ya’qilun (tidakkah kamu menggunakan akal) (QS.36:68), afala tatafakkarun (tidakkah kamu berfikir) (QS.6:50), awalam yanzhuru (tidakkah kamu perhatikan) (QS.7:185), afalam yanzhuru (tidakkah kamu perhatikan) (QS.50:6), hal yanzhuruna (tidakkah kamu amati) (QS.2:250, QS.6:158, dan QS.16:33), afala yanzhuruna (tidakkah kamu cermati) (QS.88:17).

Disyariatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab terdahulu. Syari'at bagi setiap umat berbeda-beda sesuai kondisi zaman dan keadaan pada waktu itu, dan semua syari'at itu merujuk kepada keadilan yang memang layak diterapkan pada zaman itu (QS.5:48). Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia dan tidak ada keraguan baginya (QS.2:2).

Bahkan Al-Qur’an menantang manusia yang masih meragukannya, untuk membuat surah yang paling tidak mirip dengan keindahan, kefasihan, kedalaman makna dengan surah-surah yang ada di dalam Al-Qur’an (QS.2:23-24).

Tapi, ternyata tantangan itu sampai detik ini tidak pernah terpenuhi karena tidak ada manusia yang mampu menandinginya. Dalam Al-Qur’an diatur mengenai seluk beluk penciptaan manusia, dari sebelum lahir sampai wafat. Sebelum terlahir (QS.96:1-2, QS.86:5-7, QS.32:8, QS.76:2, QS.53:45-46, QS.75:37-39), diterangkan bagaimana manusia dalam kandungan supaya nyaman (janin yang terlindungi) (QS.39:6 dan QS.23:12-14), tentram dan terlahir sebagai anak yang saleh (QS.7:189).

Ketika sudah lahir, diterangkan bagaimana memohon agar Air Susu Ibu (ASI) dilancarkan, diatur mengenai pembagian tugas ibu dan ayah agar berjalan dengan baik, diatur tentang ibu menyusui hingga dua tahun, ayahnya kemudian menyiapkan perlengkapan-perlengkapannya (QS.2:233).

Dari usia dua tahun sampai menjelang baligh mulai belajar, pendidikan pertama apa yang diberikan supaya dekat dengan Allah taat kepada kedua orang tuanya, baik akhlaknya dan gemar ibadahnya ada di (QS.31:13-31).

Pada saat mulai belajar, supaya cepat memahami pelajarannya, apa yang harus dia berikan dan dia lakukan ada dalam (QS.9:122). Diatur bagaimana menghadiri majelis yang meningkatkan iman dan taqwanya, bukan sekedar tambah ilmunya tapi imannya menguat (QS.58:11).

Kemudian tata cara pergaulan, mencari teman yang baik dan bagaimana meningkatkan taqwa (QS.49:13). Sampai ia temukan pasangannya dan mulai muncul sifat cintanya, cara melamar terbaik, cari mahar terbaik (QS.4:4).

Terjadi pernikahan (QS.30:21), membagi tugas dalam rumah tangga (QS.4:34). Laki-laki mulai mencari nafkah (QS.2:168), agar rizkinya cepat mendatangi anda (QS.2:172). Agar dibukakan pintu keberkahan langit dan bumi (QS.7:96).

Tantangan dalam hidup, ada yang iri, dengki, ingin menyingkirkan, laksanakan amalan bangun malam lalu shalat dan mohon kebaikan kepada Allah (QS.17:79-81). Istri yang merawat anak-anak tentu tidak mudah tidak segampang laki-laki yang bekerja di luar rumah, kadang ada anak yang sulit diatur, maka merawatnya sesuai dengan (QS.17:23-27).

Bila sakit, Allah akan menyembuhkannya (QS.26:80). Bagi yang mengalami sakit kronis dan mustahil ada obatnya, seperti yang dialami Nabi Ayub, Allah berjanji akan menyembuhkannya (QS.21:83-84).

Bagi yang mengalami kesulitan bagai dalam kegelapan, lakukan amalan seperti Nabi Yunus, maka akan dibebaskan dari kegelapan (QS.21:87-88).

Bagi rumah tangga yang tidak punya keturunan tidak usah mengeluh karena ada yang lebih lama tidak punya keturunan seperti Nabi Zakaria sampai tua dan akhirnya doanya dikabulkan dan mempunyai anak (QS.19:2-15), berdoa agar mendapat keturunan yang baik (QS.3:38-39).

Tentang belajar bersabar dan mengatasi masalah (QS.2:214), cara mengatasinya (QS.3:142), apa jenis masalahnya (QS.2:155), bila mengalami musibah dan cara mengatasinya (QS.2:156-157).

Ketika sudah sukses dan cara mensyukurinya (QS.14:7) Tentang cara berbakti kepada orang tua (QS.46:15), ketika sudah tua renta dan pikun (QS.22:5), ketika berada diujung fase kehidupan dan menjelang maut (QS.3:185), dibawa malaikat maut (QS.32:11), ketika tiba ajal (QS.7:34). Kalau ingin dipanggil dengan tenang maka perbanyak amal saleh (QS.89:27-30). Bagi yang disiksa oleh malaikat (QS.8:50), bila ingin mendapat kenikmatan dalam kubur (QS.3:169-171), bagi yang banyak dosa akan ditampakkan neraka dari pagi sampai petang (QS.40:46-47). Tentang datangnya hari kiamat (QS.75:1-40). Melihat Allah tanpa hijab (QS.75:22-23), masuk surga tanpa hisab (QS.2:25), juga adanya masuk neraka tanpa hisab (QS.18:100-101).

Bagi yang masuk surga, surga ada 4 tingkatan. Tingkatan pertama bertetangga dengan para nabi, orang soleh, para syuhada, orang jujur (QS.4:69). Di taman surga dan bisa melihat Allah dan dilayani dengan penuh keindahan (QS.51:15-23). Tentang surga seluas langit dan bumi (QS.3:133-134), serendah-rendahnya surga yang dapatkan (QS.2:25), masing-masing surga yang paling rendah sampai yang paling tinggi yaitu surga firdaus (QS.23:1-9).

Ada yang masuk neraka, maka neraka yang paling ringan ada di (QS.4:56). Begitu manusia dicelupkan maka hancur tubuhnya lepas dengan kulitnya. Yang paling duluan masuk negara jahannam adalah orang munafik lalu orang kafir (QS.4:140).

Tentang Shalat dan zakat (QS.2:43,45, dan 153), dikerjakan lima waktu (QS.11:114) lalu ditegaskan dalam (QS.17:78). Waktu shalat (QS.4:103) menjaga waktu shalat (QS.2:238).

Mengerjakan fungsi mata untuk laki-laki (QS.24:30) dan untuk perempuan (QS.24:31). Mulut dilarang berbicara yang kotor (QS.49:11-12). Menggunakan fungsi tangan dan kaki (QS.25:63). Tentang larangan berlaku sombong (QS.31:18).

Dengan demikian, sudah saatnya kita kembali memperbanyak amalan untuk meningkatkan keimanan kita serta kembali kepada mempelajari dan memahami kembali makna ayat dalam Al-Qur’an.

Padahal, Allah berjanji mengangkat derajat orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat (QS.58:11). Karena kalau tidak, Allah swt mengingatkan bahwa hati manusia akan keras bagai batu (QS.5:13). Sehingga manusia tidak akan bisa menggunakan akal/hatinya untuk memikirkan kebenaran ayat-ayat Allah, menggunakan telinganya untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan menggunakan matanya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (QS.7:179).

Sehingga manusia menutup mata dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah (QS.18:101). Allah juga menyebutkan bahwa hati manusia akan berpenyakit (QS.2:10, QS.5:52, dan QS.22:53), hati mengeras (QS.2:74, QS.6:43, dan QS.39:22), dan terkunci rapat (QS.4:155, QS.47:24, QS.2:7, QS.40:35, QS.10:74, QS.7:101, QS.9:93, QS.6:46, QS.7:179, QS.9:87, dan QS.17:46), telinga tersumbat (QS.6:25, QS.17:46, QS.18:57, QS.31:7, QS.41:5, dan QS.41:44).

Ancaman bagi orang kafir, sama saja apakah mereka diberi peringatan atau tidak (QS.2:6 dan QS.36:10), bahkan sama saja apakah Rasulullah saw memohon ampun bagi mereka atau tidak (QS.63:6).

Mari buka hati, mata, dan telinga kita (QS.40:35). Karena orang yang terkunci hatinya adalah orang yang tidak mau menggunakan akalnya/hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah, matanya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan telinganya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka serupa, bahkan lebih rendah, daripada binatang (QS.7:179). Mereka itu ibarat tuli, bisu, dan buta karena tidak mau menggunakan akalnya (QS.2:171 dan QS.8:22). Allah menjelaskan bahwa bukan mata fisik itu yang buta tetapi mata hati yang ada dalam dada (QS.22.46).

Wallahu a’lam bishawab.

Jumat, 15 Maret 2019

Berkawan dengan orang Shalih

BERKAWAN DENGAN ORANG SHALIH

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Manusia itu laksana sekawanan burung, memiliki naluri untuk berkumpul dengan sejenisnya. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi orang shalih, hendaklah berusaha berkawan dan berkumpul dengan orang-orang shalih.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” [At-Taubah/9:119]

Bersabar Dalam Berkawan Dengan Orang Shalih Ini berlaku bagi laki-laki dan wanita. Seorang Muslim hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan laki-laki yang shalih sebagai kawan-kawannya. Dan wanita Muslimah hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan wanita-wanita shalihah sebagai kawan-kawannya. Jangan  merasa rendah bergaul dengan orang-orang yang taat, walaupun mereka orang-orang yang kekurangan secara duniawi, namun mereka memiliki derajat di sisi Allâh Yang Maha Tinggi.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

 وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” [Al-Kahfi/18: 28]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau bersabar bersama orang-orang Mukmin, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang banyak kembali (bertaubat) kepada Allâh. Yaitu orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari, yaitu di awal dan akhir siang, mereka mengharap keridhaan-Nya. Allâh Azza wa Jalla menyifati mereka dengan ibadah dan ikhlas dalam beribadah.

Di dalam ayat ini terdapat perintah untuk berkawan dengan orang-orang baik, menundukkan jiwa untuk berkawan dan bergaul dengan mereka, walaupun mereka adalah orang-orang miskin, karena sesungguhnya berkawan dengan mereka terdapat faedah-faedah yang tidak terbatas”.[1]

Ibrâhim al-Khawwâsh rahimahullah berkata:

 دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ

Penawar hati itu ada lima : membaca al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), kosongnya perut (dengan puasa-pen), qiyâmul lail (shalat malam), berdoa di waktu sahar (waktu akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang shalih”. [2]

Namun hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengenal semua orang. Mengenal semua orang dibolehkan, namun kita jangan menjadikan kawan dekat kecuali orang-orang yang shalih atau shalihah. Kita harus memilih kawan-kawan yang baik untuk keselamatan kita.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlaq) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat.[3] 

Perumpamaan Kawan Baik Dan Kawan Buruk Berkawan dengan orang shalih membawa dampak yang baik, karena kawan itu akan mempengaruhi kawannya. Jika kawan itu shalih akan membawa kepada kebaikan, sebaliknya jika kawan itu buruk akan membawa kepada keburukan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini di dalam hadits shahih sebagaimana riwayat berikut ini:

 عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“ Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[4]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan hadits ini dengan penjelasan yang gamblang dan panjang lebar. Beliau rahimahullah berkata, “Hadits ini memuat anjuran untuk memilih kawan-kawan yang shalih dan memperingatkan dari kebalikan mereka (yakni kawan-kawan yang buruk). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat perumpamaan dengan dua perumpamaan ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa seluruh keadaanmu dengan kawan yang shalih senantiasa dalam keberuntungan dan kebaikan. 

(Kawan shalih adalah) seperti penjual minyak wangi yang engkau dapat manfaat dari minyak wanginya. Mungkin dengan cara hadiah (gratis) atau dengan ganti (membeli darinya), atau minimal dengan duduk bersamanya, engkau akan mendapat ketenangan dengan bau harum minyak wangi. Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih itu jauh lebih besar dan lebih utama daripada minyak wangi yang semerbak aromanya. Karena sesungguhnya, kawan yang shalih akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagimu dalam (urusan) agama dan duniamu.

Atau dia akan memberikan nasihat kepadamu. Atau dia akan memperingatkanmu dari perkara yang akan mencelakakanmu. Kawan yang shalih akan mendorongmu untuk mentaati Allâh Azza wa Jalla , berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan menunjukkan kekurangan-kekuranganmu. Dia juga mengajakmu untuk berakhlak mulia, baik dengan perkataannya, perbuatannya, dan keadaannya.

Karena manusia itu memiliki tabiat mengikuti kawan atau teman dekatnya. Tabiat dan ruh itu seperti tentara yang berkumpul dengan sesamanya. Sebagian akan menggiring lainnya menuju kebaikan atau keburukan. Manfaat minimal yang akan didapatkan dari kawan yang shalih, dan ini adalah manfaat yang tidak boleh diremehkan, yaitu dengan sebab (berteman dengan orang shalih-red) dia akan tercegah dari perbuatan buruk dan kemaksiatan. Karena menjaga persahabatan,  berlomba dalam kebaikan, serta meninggalkan keburukan.

Kawan yang shalih akan menjagamu, baik disaat engkau ada di hadapannya atau ketika engkau tidak ada di hadapannya. Kecintaan dan doanya akan memberikan manfaat kepadamu, baik di saat hidupmu maupun setelah matimu. Dia juga akan membelamu karena hubungannya denganmu dan kecintaannya kepadamu (berkaitan dengan) perkara-perkara yang engkau tidak bisa membelanya sendiri.

Demikian juga kawan yang shalih akan menghubungkanmu dengan pekerjaan-pekerjaan atau orang-orang yang akan memberi manfaat kepadamu. Manfaat-manfaat kawan yang shalih tidak terhitung dan tidak terbatas. Di antaranya adalah seseorang itu akan dinilai dengan kawannya, dan dia akan mengikuti din (agama; tabiat; akhlak) kawan dekatnya.

Adapun berkawan dengan orang-orang yang buruk, maka itu kebalikan dari seluruh apa yang telah kami sebutkan. Kawan-kawan yang buruk akan mendatangkan bahaya kepada orang yang berkawan dengan mereka, mendatangkan keburukan kepada orang-orang yang bergaul dengan mereka dari segala sisi.

Betapa banyak orang-orang yang hancur dengan sebab mereka, dan betapa banyak mereka menggiring kawan-kawan mereka menuju kehancuran, dari arah yang mereka sadari maupun tidak mereka sadari.

Oleh karena itu, termasuk nikmat Allâh Azza wa Jalla yang paling besar bagi seorang Mukmin adalah bimbingan-Nya untuk berkawan dengan orang-orang shalih. Dan termasuk hukuman dari Allâh Azza wa Jalla adalah menjadikannya berkawan dengan orang-orang yang buruk.

Berkawan dengan orang-orang shalih akan menghantarkan hamba menuju puncak derajat yang tinggi, dan berkawan dengan orang-orang buruk akan menghantarkan hamba menuju tingkatan paling rendah dari neraka.

Berkawan dengan orang-orang shalih akan menghasilkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, akhlak-akhlak yang mulia, dan amal-amal yang shalih. Sedangkan berkawan dengan orang-orang yang buruk akan menghalangi semua itu.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

 وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ﴿٢٧﴾ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ﴿٢٨﴾ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya (yakni: sangat menyesal), seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. [Al-Furqan/25: 27-29] [5]

Inilah ajaran agama kita, ajaran mulia dari Allâh Azza wa Jalla , dan dari Rasul yang utama, untuk keselamatan kita bersama. Adakah orang-orang yang menginginkan keselamatan mau menerimanya?

Hanya Allâh Tempat memohon dan meminta. Semoga Allâh senantiasa membimbing kita semua di atas jalan keselamatan dunia dan akhirat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIX/1437H/2016M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,
Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183

Footnote

[1] Taisir Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’adi, Tafsir surat Al-Kahfi ayat 28 
[2] Al-Adzkar karya Al-Imam an-Nawawi, hal. 107; Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth
[3] HR. Abu Dâwud, no.4833;Tirmidzi, no.2378. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah ash-Shahîhah no. 927
[4] HR. Bukhari, no.5534; Muslim, no.2628
[5] Bahjah Quluubil Abrar, hal. 139-141, penerbit: Wizarah asy-Syu’un al-Islamiyah KSA. Cet: 4, th: 1423 H

Read more https://almanhaj.or.id/6786-berkawan-dengan-orang-shalih.html