Rabu, 16 Mei 2018

Siapa Teroris Yang Sebenarnya

Bertolak belakang dengan apa yang kerap dilontarkan oleh para penganut aliran fanatik ultra-liberal seperti tokoh komedian satire asal Amerika, Bill Maher. Ternyata, fakta menunjukkan bahwa orang-orang Muslim tidak lebih banyak melakukan kekerasan dibanding dengan para penganut agama-agama lain.

Salah satu indikatornya adalah tingkat kejahatan yang terkait pembunuhan. Di mayoritas dunia Islam, angka kejahatan terkait pembunuhan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kejahatan sejenis di AS. Dalam hal kekerasan bermotif politik, sejarah mencatat bahwa orang-orang Kristen di abad ke-20 telah membunuh puluhan juta manusia di dua perang dunia (WWI dan WWII) dan di era kolonialisme yang sangat represif.

Pembunuhan masal ini konon tidak terjadi karena orang-orang Kristen Eropa itu lebih buruk atau berbeda dengan umat manusia lainnya. Tetapi, karena mereka adalah orang-orang yang pertama kali melakukan industrialisasi perang, dan dalam rangka mencari sebuah model suatu bangsa, terkadang fakta sejarah tersebut dicoba untuk dikaburkan. Mereka berdalih dengan suatu alasan bahwa aksi pembunuhan puluhan juta manusia itu mereka – orang-orang Eropa – lakukan bukan dengan mengatasnamakan agama, tetapi atas nama nasionalisme.

Agama dan nasionalisme

Sesungguhnya hal itu sangat naïf, karena di Eropa, agama dan nasionalisme sangat erat berhubungan. Monarkhi Inggris adalah pemimpin Gereja Inggris, dan tradisi semacam ini masih terus berlangsung hingga paling tidak lima puluh tahun pertama abad ke-20 berjalan. Gereja Swedia merupakan Gereja resmi nasional. Bagaimana dengan Spanyol, apakah benar tidak ada keterkaitan sama sekali dengan agama Katolik? Apakah gereja dan perasaan Francisco Franco terkait gereja tersebut tidak berperan dalam Perang Sipil? Lalu apa bedanya?

Dengan premis dan argumentasi yang sama, mayoritas kekerasan yang dilakukan oleh Muslim seharusnya dianggap bahwa hal itu dilakukan juga atas nama nasionalisme modern atau motif non-agama.

Di sepanjang abad ke-20, pembunuhan sebagai efek dari aksi kekerasan yang dilakukan orang-orang Muslim karena motif politik tidak sampai pada angka 2 juta orang. Terutama dalam konflik Perang Iraq-Iran (1980-1988), invasi Uni Soviet di Afghanistan (1979-1989) dan beberapa masa sesudahnya, di mana orang-orang Eropa juga terlibat dan layak disalahkan.

Coba Anda bandingkan dengan angka atau jumlah korban pembunuhan oleh orang-orang Kristen Eropa. Anggaplah 100 juta, di mana 16 juta korban manusia itu dilakukan oleh Kristen Eropa pada Perang Dunia I, dan 60 juta oleh Kristen Eropa. Sebagiannya oleh orang-orang Budha di Asia pada Perang Dunia II, 24 juta sisanya terjadi selama era kolonialisme Barat/Eropa.

Belgia
Lalu bagaimana dengan Belgia? Ya, Belgia yang terkenal dengan produk bir strawberi dan istana Gravensteen itu pernah menaklukkan Kongo, dan selama masa penaklukan itu para agresor Belgia membantai kurang lebih separuh dari jumlah penduduknya. Berarti jumlah nyawa rakyat Kongo yang dibunuh sedikitnya adalah 8 juta orang.

Rusia
Di Rusia, sepanjang tahun 1916-1930, pasukan Tsar Rusia yang kemudian menjadi Uni Soviet menghadapi pemberontakan bangsa-bangsa di Asia Tengah yang menentang penjajahan Kristen (di era Tsar Rusia) atau penjajahan Komunisme Marxist (di era Soviet) yang notabene adalah para penguasa Eropa. Selama masa itu, pasukan Rusia diperkirakan telah membantai 1,5 juta manusia. Termasuk kisah tentang dua anak laki-laki yang tumbuh atau terlahir di salah satu wilayah tersebut, yaitu Kyrgystan, membantai 4 orang dan melukai beberapa orang lainnya hingga kritis.

Sangat mengerikan memang, tetapi tak satupun orang-orang di Rusia, atau di Eropa, atau di Amerika Utara yang menganggap bahwa pernah terjadi pembantaian masal di Asia Tengah selama, sebelum, dan sesudah Perang Dunia I. Dan setelah itu, kekayaan bangsa-bangsa di Asia Tengah juga mereka jarah dengan semena-mena. Pada saat Rusia dengan brutalnya menaklukkan dan mengusai wilayah Kaukasus dan Asia Tengah, Rusia merupakan negara atau kekaisaran Kristen Ortodoks Timur.

Perancis
Kemudian, antara setengah juta hingga sejuta rakyat Aljazair tewas dalam perang kemerdekaan negara itu melawan penjajahan Perancis (1954-1962). Padahal jumlah penduduk Aljazair saat itu tidak lebih dari 11 juta orang.

Selanjutnya, di mana saja anda menggali tanah di negara-negara tujuan kolonialisme Eropa di Afro-Asia, akan ditemukan banyak mayat di sana. Mayat-mayat manusia korban pembantaian bangsa Eropa sangat banyak. Sekarang baru disadari, bahwa barangkali jumlah angka 100 juta manusia yang dibunuh dalam sejarah orang-orang Kristen Eropa di abad dua puluh itu terlalu sedikit.

Terorisme bermotif agama, itu juga bersifat universal. Sudah diketahui secara luas, beberapa kelompok atau komunitas mengadopsi terorisme sebagai sebuah taktik lebih banyak daripada yang lain. Dari sudut pandang orang Inggris sendiri, gerakan Zionis di Palestina pada saat di bawah mandat Inggris merupakan organisasi teroris yang aktif pada tahun 1940an. Dan selama periode tahun 1965-1980, FBI menganggap Liga Pertahanan Yahudi (LPY) termasuk di antara kelompok-kelompok teroris yang sangat aktif di AS.

Pada suatu masa, para anggota LPY merencanakan pembunuhan terhadap seorang anggota Kongres dari Partai Republik, Dareell Issa (R-CA) karena memiliki darah Lebanon. Hanya beberapa tahun terakhir ini saja, di saat orang-orang nasionalis Yahudi telah memperoleh tujuan-tujuan dan keinginan mereka dengan berdirinya entitas Israel plus dukungan negara-negara terutama Amerika, maka taktik terorisme relatif “menurun”. Tetapi, terorisme akan mereka adopsi kembali jika komunitas Zionis-Yahudi itu menemui hambatan dalam meraih tujuan-tujuan politik mereka.

Faktanya, salah satu alasan para politisi Israel membolehkan para pemukim liar negara Yahudi itu tetap menduduki tanah Palestina di Tepi Barat yang telah mereka rampas secara tidak sah adalah, jika mereka (pemukim ilegal Yahudi) dipaksa kembali akan memicu kekerasan. Sebagai contoh, para pemukim ilegal Israel bukan hanya meneror warga Palestina, tetapi mereka juga mengarahkan ancaman teror itu kepada pejabat Israel, seperti dalam kasus pembunuhan PM Yitzhak Rabin.

Terlebih saat ini, sulit memahami mengapa Amerika menganggap Tamerlan Tsarnaev sebagai teroris, sementara Baruch Goldstein seorang ekstrimis Yahudi warga Israel yang membantai lebih banyak orang-orang Palestina ketika melakukan sholat di Hebron tidak.

Terorisme Hindu, Kristen, & Komunis di India
Pernah terjadi serangan teroris di situs makam tokoh sufi, Ajmer Sharif, di India yang dilakukan oleh pengebom berdarah dingin, bernama Bhavesh Patel dan sebuah geng nasionalis Hindu. Anehnya, mereka – para pelaku – merasa terganggu pada saat bom kedua yang telah mereka pasang tidak meledak, sehingga gagal membunuh banyak orang sebanyak yang mereka inginkan. Di India, Ajmer Sharif juga dikunjungi oleh para peziarah Hindu. Orang-orang penganut aliran fanatik semacam Bhavesh Patel dan geng nasionalis Hindu ini ingin menghentikan status Ajmer Sharif sebagai tempat terbuka bagi Muslim dan Hindu, karena didasari kebencian terhadap orang-orang Muslim.

Demikian juga dengan kelompok separatis NLF (National Liberation Front) yang berbasis Kristen, dan Partai Komunis India (Maoist) yang berbasis orang-orang Hindu yang berfaham komunis, kerap melakukan serangan-serangan mematikan, dan secara statistik jauh lebih banyak daripada yang dilakukan orang-orang Muslim.

Terorisme Buddha di Jepang & Myanmar
Para penganut Buddha juga terlibat dalam berbagai aksi terorisme dan juga aksi kekerasan lainnya. Banyak di antara ajaran-ajaran sekte Zen (Buddha) di Jepang menginspirasi dan mendukung militerisme di paruh pertama abad XX, meski kemudian para pemimpin mereka meminta maaf. Dampak destruktif mereka bisa kita saksikan secara masif ketika Jepang melancarkan kampanye militer di negara-negara Asia Timur & Tenggara dalam Perang Dunia Kedua.

Kita juga bisa menyaksikan bagaimana sekte Inoue Shiro melakukan kampanye pembunuhan pada tahun 1930an di Jepang. Hari ini, para biksu Buddha di Myanmar menghasut warganya untuk melakukan kekerasan dan genosida terhadap Muslim Rohingya. Organisasi Tamil Eelam (LTTE) yang mengadopsi kekerasan di Sri Lanka juga berbasis orang-orang Hindu & Buddha.

Terorisme Kristen di Afrika
Demikian juga dengan agama Kristen, kelompok Tentara Perlawanan Tuhan di Uganda memicu permusuhan dan konflik yang menyebabkan 2 juta rakyat Uganda terusir dari kampung halaman mereka. Meskipun mereka adalah orang-orang Kristen Afrika, namun ajaran agama mereka diperoleh dari para misionaris Kristen Barat yang mengajari mereka dengan doktrin-doktrin kekristenan. Jika para ulama Saudi disalahkan atas menyebarnya paham Wahabi, mengapa para misionaris Kristen Barat tidak disinggung sama sekali ketika kekerasan/terorisme dilakukan oleh murud-muridnya di Afrika?

Kristen Eropa Pembunuh Terbesar Dalam Sejarah
Menurut catatan resmi, delapan besar jumlah korban tewas manusia akibat perang dalam sejarah:
1. Perang Dunia II (1939-1945) , jumlah korban tewas 60 juta – 85 juta
2. Penaklukan Bangsa Mongol di Eurasia (1206-1324), jumlah korban tewas 40 juta – 70 juta
3. Perang Tiga Kerajaan di Cina (184-280), jumlah korban tewas 36 juta – 40 juta
4. Perang Jepang Sino Kedua di Cina (1937-1945), jumlah korban tewas 25 juta
5. Penaklukan Dinasti Qing/Ming di Cina (1616-1662), jumlah korban tewas 25 juta
6. Pemberontakan Taiping di Cina (1850-1864), jumlah korban tewas 20 juta – 100 juta
7. Perang Dunia I (1914-1918), jumlah korban tewas 20 juta
8. Pemberontakan An Lushan di Cina (755-763), jumlah korban tewas 13 juta – 36 juta

Jumlah korban tewas terbesar yang menempati urutan pertama sebetulnya bukan pada Perang Dunia II sebagaimana catatan resmi di atas, di mana bangsa-bangsa Eropa dan AS sebagai pemain utama. Orang-orang Kristen Eropa terbukti dalam sejarah paling banyak menumpahkan darah dibanding dengan agama manapun di seluruh dunia. Jutaan orang kehilangan hidup mereka akibat perang salib di Eropa. Di samping itu, orang-orang Eropa berhasil melakukan sesuatu yang tidak dilakukan bangsa-bangsa lain, yaitu penghilangan nyawa atau eliminasi kehidupan manusia di tiga benua di dunia, yaitu pemusnahan manusia penduduk asli Indian di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan penduduk Aborigin di benua Australia.

Tercatat, jumlah hingga 100 juta manusia dibunuh – versi lain hingga 137 juta – dalam sebuah genosida terbesar dalam sejarah saat bangsa-bangsa Kristen Eropa menaklukkan benua Amerika. Sementara sisa populasi yang ada hanyalah untuk tujuan penelitian arkeologi karena dianggap sebagai barang antik peninggalan masa lalu, sehingga jika bukan karena keperluan semacam itu niscaya mereka akan dimusnahkan sama sekali. Orang-orang Aborigin Australia dan Indian penduduk asli Amerika yang hidup hari ini adalah untuk tujuan tersebut.

Merujuk pada data statistik jumlah kematian manusia di abad kedua puluh di atas, maka menjadi sesuatu yang aneh dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang buta untuk melihat bahwa warisan agama Kristen Eropa sebagai sesuatu yang “baik”, sebaliknya Muslim dianggap identik sebagai pelaku kekerasan.

Di Eropa sendiri, meskipun jumlah populasi Muslim sangat banyak, menurut catatan pada tahun 2007-2009, ternyata kurang dari 1 persen aksi kekerasan dilakukan oleh masyarakat dari komunitas Muslim tersebut.

Terorisme adalah sebuah taktik yang diadopsi oleh sebagian orang dan itu ada di setiap agama, termasuk juga agama-agama sekuler, seperti marxisme, komunisme dan nasionalisme. Islam adalah satu-satunya agama yang secara tekstual membolehkan umatnya berperang, justru karena itulah Islam juga memiliki aturan-aturan yang ketat dan jelas mengenai tata cara berperang yang secara umum tidak boleh sembarangan membunuh musuh-musuhnya dari kalangan non-kombatan, seperti wanita, anak-anak, orang tua, termasuk tidak boleh dengan semena-mena merusak lingkungan alam.

Agama-agama dan ajaran lain, meski mengklaim tidak menyuruh umatnya untuk berperang, justru itulah di saat mereka menghadapi realita peperangan terjadi tindakan-tindakan brutal dan tidak beraturan dalam menyerang pihak lain dengan tanpa membeda-bedakan.

Klaim atau Fakta?
Akhirnya pada pertanyaan, bahwa Islam dan Muslim identik dengan kekerasan itu sebetulnya klaim atau fakta? Karena di era saat ini, Islam dan Muslim itu dinilai bukan semata-mata karena kondisi objektif Islam dan ulah orang-orang Muslim, tetapi lebih dominan karena opini media.

Adagium lama “people tend to believe what they hear the most” nampaknya betul-betul diterapkan oleh media-media mainstream untuk secara berulang-ulang mengaitkan Islam dan Muslim dengan sesuatu yang berada di luar Islam dan Muslim itu sendiri, seperti kekerasan.  Cara seperti ini dilakukan dan terus dilakukan hingga mayoritas manusia meyakini melalui alam bawah sadarnya bahwa Islam dan Muslim itu memang identik dengan kekerasan.


https://m.kiblat.net/2016/03/29/benarkah-islam-agama-teroris-jangan-kaget-ini-faktanya/

Kamis, 22 Maret 2018

Indonesia sebentar lagi akan Punah ?

Di bawah ini adalah tulisan Jarred Diamond, penulis yang memperoleh penghargaan Pulitzer. Dalam sebuah pidatonya Jarred pernah mengatakan bahwa negara seperti: Indonesia, Columbia dan Philipina, merupakan beberapa peradaban yang sebentar lagi akan punah.
Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar.
Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.
Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali perperangan besar.
Pada setiap kali perperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.
Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia.
Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:
1. Hancurkan tatanan keluarga
2. Hancurkan pendidikan
3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan (ulama, ustadz, habaib)
Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu.
Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.
Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru. Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.
Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan ulama adalah dengan cara melibatkan mereka kedalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.
Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para rohaniawan dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur?
Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah.
Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.

Selasa, 06 Februari 2018

Makna Huruf Jawa 'Dipangku, Mati'

Kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang kaya akan simbol-simbol pengajaran tentang kehidupan. Mulai dari bahasanya, kesusasteraannya, unen-unennya, tembangnya, dan sebagainya. Aksara Jawa pun ternyata tak lepas dari berbagai filosofi. Misalnya, rangkaian aksara legena (dua puluh huruf/aksara yang tidak diberi sandhangan) itu menceritakan kisah dua orang utusan Prabu Ajisaka yang sangat setia dan amanah. Namun penulis tidak akan berbicara tentang hal ini.
Hal yang ingin penulis bicarakan adalah sesuatu yang pernah disampaikan kakak penulis. Yaitu tentang filosofi aksara Jawa yang bila diberi sandhanganpangkon (pangku) akan mati (tidak berbunyi atau menjadi huruf konsonan). Bagi yang belum tahu tentang aksara Jawa, pembaca bisa melihat gambar dua puluh aksara legena di atas. Aksara “pa” bila diberi pangkon akan menjadi “p” saja. Aturan penggunaannya, pangkon hanya boleh digunakan di akhir kalimat, kecuali kalau di tengah kalimat ada dua huruf mati (konsonan). Fungsi mematikan huruf jika di tengah kalimat sudah digantikan oleh pasangan.
Gambar pangkon
Rumus “mati yen dipangku” ternyata tidak hanya berlaku untuk aksara Jawa, namun juga untuk orang Jawa. “Wong Jawa bakal mati yen dipangku” agaknya terjadi dalam kehidupan mereka, khususnya bagi yang masih memegang teguh tradisi Jawa. Mungkin tidak berlaku secara keseluruhan untuk semua orang Jawa, karena di zaman sekarang ini sudah banyak yang tidak memegang tradisi Jawa. Wong Jawa ilang jawane. Kacang lupa pada kulitnya.
Orang Jawa adalah orang yang tahu diri. Mereka sangat menghargai kebaikan dan budi baik orang lain. Tidak mungkin, haram hukumnya bagi orang Jawa kabecikan winales kadurakan, air susu dibalas dengan air tuba. Coba saja bila pembaca punya tetangga orang Jawa, kasihlah dia sesuatu, misalnya oleh-oleh, makanan yang barusan dimasak, buah-buahan yang dipanen dari pekarangan, dan sebagainya. Pasti dia akan berusaha pula untuk membalas memberi di lain hari atau pada kesempatan yang lain.
Sehingga, bisa dikatakan cukup mudah untuk ‘mematikan’ (menaklukkan) orang Jawa itu. Kita tinggal ‘memangku’ mereka sehingga mereka menjadi ‘mati’. Kata ‘memangku’ tersebut tentu bukan bermakna denotatif (makna sebenarnya), namun konotatif (kiasan). Jadi bukan memangku betulan, namun dengan cara bersikap baik kepada mereka, memberi kebaikan, membantu/menolong, memberikan hadiah, menyantuni dan sebagainya. Maka mereka akan ‘mati’ dalam artian jinak, tidak melawan, segan, atau bahkan mbangun turut dan membalas kebaikan kita karena sudah merasa berutang budi. Begitu pula apabila ada orang yang berbuat tidak baik kepada kita, kita balas dengan kebaikan, niscaya dia akan mati kutu.
Begitulah sekelumit paparan tentang salah satu filosofi dari aksara Jawa, yang mungkin bisa kita jadikan referensi dalam bermasyarakat. Tentu filosofi itu tidak harus berlaku kepada seluruhnya, akan tetapi tetap sesuai situasi dan kondisi.
==========
Dalam aksara Jawa, terdapat dentawyanjana yang terdiri dari duapuluh aksara tanpa sandhangan, tanpa pasangan, yang disebut dengan aksara nglegena. Sandhangan diperlukan untuk membuat aksara lainnya itu berbunyi tidak hanya dengan "a" seperti ha, na, ca, dan sebagainya, tetapi juga agar bisa berbunyi hi, ne, cu, dan seterusnya.
Disamping itu, dikenal juga pasangan dan pangkon. Pasangan digunakan untuk menandai huruf mati atau sigeg di tengah-tengah kalimat, sedangkan pangkon digunakan untuk "mematikan" aksara nglegena dan hanya bisa digunakan diakhir kalimat. Setiap aksara nglegena yang dipangku, akan menjadi aksara mati.
Dari aksara itulah muncul "filosofi" Jawa tentang "dipangku mati" atau "yang dipangku pasti akan mati" dapat digali. Dalam tradisi orang Jawa, aksara Jawa dengan segala tata aturan penulisannya, dianggap tidak hanya sekedar sebagai sarana untuk menulis, tetapi lebih dari itu aksara Jawa mengandung nilai-nilai filosofis tertentu.
"Mati yen dipangku" kemudian dianggap menjadi salah satu bagian dari manajemen kepemimpinan Jawa. Sebagai penerapan dalam gaya kepemimpinannya, jika saat memimpin ada orang yang dianggap sebagai ancaman, bahkan musuh, sebaiknya jangan dimusuhi. Dekatilah dia, kalau perlu berikanlah kedudukan atau jabatan yang layak sehingga akan merasa berhutang budi, dan dengan begitu niscaya akan mendukung yang memimpin.
Sudah menjadi sifat manusia, barangsiapa diberikan kebaikan, secara nurani pastilah dia akan merasa perlu untuk membalas budi dengan kebaikan juga. Barangsiapa dipangku, pastilah dia akan merasa mendapatkan kenikmatan sehingga akan berusaha membalas dengan kebaikan juga.
Pada masa akhir pemerintahan Majapahit, Prabu Brawijaya bukannya tidak menyadari ancaman yang bakal ditebarkan oleh para pemimpin wali terutama yang dipimpin oleh Sunan Bonang. Justru karena itulah dia merasa perlu untuk memangku mereka, memberikan tempat untuk mendirikan padhepokan, bahkan kasunanan. Begitu pula dengan Raja Jayakatwang, setelah berhasil mengalahkan Kertanegara dia memegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Kediri. Namun dibalik itu masih ada Raden Wijaya yang notabene menentu Kertanegara.
Raja Jayakatwang menyadari, Raden Wijaya adalah ancaman laten. Namun  terhadap ancaman laten tersebut, yang sewaktu-waktu bisa melancarkan serangan balasan, Raja Jayakatwang justru memangkunya. Diberikanlah izin kepada Raden Wijaya untuk menduduki tanah perdikan di Tarik dan babat alas disana.
Namun sebagaimana Sunan Bonang bagi Brawijaya, Raden Wijaya tetap saja menjadi "musuh dalam selimut" bagi Jayakatwang. Tindakan memangku ini secara tidak langsung justru malahan "membesarkan" musuh. Pada kasus ini, memangku tidak berujung pada kematian yang dipangku, tetapi justru menguatkannya. Memangku malah memberikan kekuatan yang dipangku.
Ketika sunat (khitan) masih dilaksanakan secara tradisional (ketika saya dikhitan dulu), biasanya yang disunat dipangku oleh seseorang yang dianggap memiliki kekuatan batin (dulu yang memangku saya adalah bapak). Setidak-tidaknya memberikan rasa keberanian dan ketenangan yang disunat, sehingga pada waktu pemotongan pucuk (maaf) kelamin dilakukan si anak tidak merasa gentar. Mangku dalam konteks ini selain untuk menguatkan dan menghibur, juga dalam rangka untuk melenakan, membuat lupa bahwa yang akan dihadapi itu adalah kesakitan.

Minggu, 28 Januari 2018

Berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.

Berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ini memang amat berat, bagai mereka yang memegang bara api.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa di zaman tersebut, orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara (nyala) api.

Ath Thibiy berkata bahwa maknanya adalah sebagaimana seseorang tidak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat ketika ingin berpegang teguh dengan agamanya. Hal itu lantaran banyaknya maksiat di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak, kefasikan pun semakin tersebar luas, juga iman pun semakin lemah.

Sedangkan Al Qari mengatakan bahwa sebagaimana seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran yang ekstra dan kesulitan yang luar biasa. Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman ini butuh kesabaran yang ekstra.

Itulah gambaran orang yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, begitu sulitnya dan begitu beratnya. Kadang cacian yang mesti diterima. Kadang dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Kadang jadi bahan omongan yang tidak enak. Sampai-sampai ada yang nyawanya dan keluarganya terancam. Demikianlah resikonya. Namun nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar.

Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

Sebagaimana disebut dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, Al Auza’i menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa ditimbang dan tak bisa ditakar. Itulah karena saking banyaknya.

Ibnu Juraij menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa terhitung (tak terhingga), juga ditambah setelah itu.

Jumat, 12 Januari 2018

Sering Share Ilmu Bukan Untuk “Sok Alim” Tetapi Berharap Pahala Dakwah


Tetap semangat berdakwah, mungkin tidak disangka, satu share ilmu dan faidah ternyata bisa memberikan hidayah kepada seseorang, walau hanya sekedar menekan “share”. Tentunya dengan niat yang ikhlas
Tidak mesti jadi ustadz, hanya menunjukkan dan mengajak ke jalan Allah, insyaAllah mendapatkan pahala sebagaimana pelakunya.
Demikian juga share ilmu baik di dunia nyata maupun dunia maya. Semoga mendapat pahala MLM sampai hari kiamat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi rahimahullahmenjelaskan,
المراد أن له ثوابا كما أن لفاعله ثوابا …
دل بالقول، واللسان، والإشارة، والكتابة
“Maksudnya adalah baginya pahala sebagaimana pahala yang menerjakan…ia menunjukkan dengan perkataan, lisan, ISYARAT dan tulisan.” (Syarah Shahih Muslim)
Bukannya merasa “sok alim dan sok ustadz”, tetapi ini yang diharapkan
Terkadang terbetik bisikan “kamu juga banyak maksiat, jangan sok alim dan sok suci”
tetapi teringat perkataan ulama “Kalau menunggu suci sekali, tidak akan ada yang berdakwah”
Ibnu Hazm rahimahullah berkata,
ولو لم ينه عن الشر إلا من ليس فيه منه شيء ولا أمر بالخير إلا من استوعبه؛ لما نهى أحد عن شر ولا أمر بخير بعد النبي صلى الله عليه وسلم
“Seandainya yang melarang dari dosa harus orang yang tidak terlepas dosa dan yang memerintahkan kebaikan harus orang yang sudah melakukan kebaikan semua, maka tidak ada lagi yang melarang dari keburukan dan mengajak kebaikan kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Akhlaq was Siyar hal. 252-253)
Jika harus menunggu jadi orang suci berdakwah, dakwah tak akan pernah ada
kita banyak-banyak berdoa  dan memperhatikan:
1. Semoga Ikhlas ketika share ilmu
2. Berniat yang paling pertama mengamalkannya (terkadang kita PeDe share sesuatu setelah kita amalkan) dan memohon kepada Allah agar kita bisa mengamalkannya
3. Jauhkan riya dan tendensi dunia serta ketenaran
seandainya bukan karena amanah ilmiah, ingin rasanya menulis sesuatu tanpa mencantumkan nama penulisnya. Sebagai bentuk amanah ilmiah, cantumkan sumber tulisannya jika ada.
4. Tidak melupakan dakwah di dunia nyata, karena itulah dakwah yang lebih baik dan lebih prioritas, di keluarga dan sahabat di sekitar kita. Walaupun dakwah dunia maya juga boleh dan terkadang efektif
5. Tidak lupa berdoa agar dakwah kita berkah dan bisa diterima oleh manusia dengan mudah
Tetap semangat share ilmu di dunia nyata ataupun dunia maya dan tetap berdakwah, tentunya dengan memohon pertolongan Allah dan berhias dengan keikhlasan.
@Kereta Api, perjalanan Cileungsi-Jogja
Penyusun: Raehanul Bahraen

Kesuksesan Setan adalah berhasil Menceraikan Suami Istri

Kesuksesan Setan Adalah Berhasil Menceraikan Suami-Istri.

Terdapat hadits bahwa Iblis memuji setan yang berhasil menceraikan suami-istri, sedangkan setan lainya telah melakukan sesuatu tetapi Iblis  tidak mengapresiasi hasilnya.
Dari Jabir radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallambersabda,
إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ
"Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, "Aku telah melakukan begini dan begitu". Iblis berkata, "Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun". Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, "Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, "Sungguh hebat (setan) sepertiengkau" (HR Muslim IV/2167 no 2813)
Jadi perceraian sangat disukai oleh Iblis dan hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraian
Al-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,
إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر
"Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan" [Faidhul Qadiir II/408]
Kerugian akibat perceraian lainnya:
[1] Rumah tangga adalah miniatur masyarakat dan bangasa, jika rumah tangga tidak harmonis maka akan berpengaruh juga ke kehidupan masyarakat
[2] Anak-anak akan menjadi korban, sering melihat pertengkaran di rumah tangga, kurang perhatian dan pendidikannya. Bisa jadi anak tersebut menjadi nakal dan inilah tujuan besar setan
Beberapa cara agar rumah tangga harmonis dan semoga dijauhkan sejauh-jauhnya dari perceraian:
[1] Sering-sering mengingat kebaikan pasangan dan melupakan serta buang jauh-jauh ingatan kekurangan pasangan, ini lebih baik daripada saling memikirkan kekurangan. Pasangan hidup adalah cerminan kita karena janji Allah yang baik akan mendapat yang baik-baik juga dan sebaliknya.
[2] Sama-sama mengenang kembali masa-masa indah di awal pernikahan, mengapa anda memilihnya dan ingat kembali kebaikan-kebaikan pasangan yang telah dijalani. Jika anda memilih bukan karena agama dan akhlaknya, masih ada waktu untuk bertaubat dan segera saling memperbaiki
[3] Saling menenangkan jika salah satu ada yang marah duluan, salah satu berusaha bersabar dan menenagkan dahulu karena emosi itu umumnya sesaat saja.
Abu Darda' berkata kepada istrinya Ummu Darda'.
إذا غضبت أرضيتك وإذا غضبت فارضيني فإنك إن لم تفعلي ذلك فما أسرع ما نفترق ثم قال إبراهيم لبقية يا أخي وكان يؤاخيه هكذا الإخوان إن لم يكونوا كذا ما أسرع ما يفترقون
"Jika kamu sedang marah, maka aku akan membuatmu jadi ridha dan Apabila aku sedang marah, maka buatlah aku ridha dan. Jika tidak maka kita tidak akan menyatu. Kemudian Ibrahim berkata kepada Baqiyah "Wahai saudaraku, begitulah seharusnya orang-orang yang saling bersaudara itu dalam melakukan persaudaraannya, kalau tidak begitu, maka mereka akan segera berpisah". (Tarikh Damasyqus 70/151)
[4] Bangun komunikasi yang baik, kebanyakan cerai karena tidak ada komunikasi yang baik. Sehingga jika ada sesuatu yang tidak mengena di hati, ia akan pendam, kemudian ia akan balas perbuatan tersebut pada pasangannya. Pada dasarnya kecintaan suami-istri itu sangat besar sekali, komunikasi yang tidak baik membuatnya terkikis secara perlahan-lahan. sebagaimana firman Allah,
وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
"Dan Allah menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang" (Ar-Ruum: 21)
[5] Jika memang sulit melakukan komunikasi dan saling berbaikan, maka komunikasi bisa melalui pihak ketiga (misalnya dari keluarga) yang disegani oleh kedua suami-istri sebagai penengah. Inilah petunjuk dalam Al-Quran.
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا
"Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (An-Nisa: 35)
[6] Penekanan khusus bagi suami, anda adalah pemimpin rumah tangga. Laki-laki dikaruniai kelebihan atas wanita yaitu lebih tenang dan lebih bijak menghadapi sesuatu. Suami harus yang lebih tenang dalam menghadapi problematika rumah tangga. Suami lebih sering memaklumi wanita yang "bengkok" dan sering-sering memperbaiki dan menasehati, seringnya wanita hanya emosi sesaat dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti suami, tetapi ketahuilah bahwa wanita itu sangat cinta suaminya, maka pelukan kepada istri sambil terus mendengarkan dan menenangkan adalah solusinya
Perhatikan juga para suami, Jika ada sesuatu yang tidak beres pada istri dan anak-anak bisa jadi akibat maksiat suami, maka intropeksi diri dan perbanyak istigfar
Sebagian ulama berkata,
إن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي
"Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku dan hewan tungganganku."
Demikian semoga bermanfaat
@Desa Pungka, Sumbawa Besar
Penyusun: Raehanul Bahraen

Menghadapi berbagai Fitnah

WASIAT PENTING DALAM MENGHADAPI BERBAGAI FITNAH
Al-Ustadz Abu Abdirrahman Abdullah bin Amr Al Barowy.
بسم الله الرحمن الرحيم
Ya akhy, mungkin sedikit tidaknya Antum telah mendengar bagaimana fitnah dan perselisihan yang akhir-akhir ini telah terjadi di Indonesia, maka dibangun atas dasar kecintaan ana kepada Antum karena Allah, ana wasiatkan antum kepada hal-hal sebagai berikut ;
1) Sesungguhnya adanya fitnah seperti ini merupakan Takdir dari Allah Robbul Alamin yang kita berharap hikmah yng besar dibelakangnya, dalam Firman-Nya ;
الم (١) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكاذِبِينَ (٣)
"Apakah manusia dibiarkan begitu saja mengucapkan kami telah beriman sementara mereka tidak diuji lagi sunnguh kami telah memfitnah orang-orang sebelum mereka sehingga kami benar-benar tahu siapa orang-orang yang jujur dalam keimanannya dan siapa yang dusta". (QS. Al-Ankabut : 1-3)
2) Sesungguhnya Da'wah Salafiyyah adalah da'wah yang haq oleh karenanya da'wah ini sangat dibenci oleh syaithon-syaithon dari kalangan manusia dan jin mereka berusaha dengan gigih untuk bisa merusak da'wah ini dengan berbagai macam makar dan tipu daya sehingga bisa memecah belah barisan Ahlussunnah, disebuntukan dalam sebuah hadits :
وعن جابر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إن الشيطان قد يئس أن يعبده المصلون في جزيرة العرب ولكن في التحريش بينهم رواه مسلم.
"Sesungguhnya Syaithon telah berputus asa untuk menjadikan manusia penyembah mereka di Jazirah Arab akan tetapi mereka berusaha membuat kericuhan perselisihan diantara mereka", (HR. Muslim) -Nas'alullahas salamah min hadza-
3) Sesungguhnya adanya perselisihan ini bukanlah hal yang baru-baru saja terjadi, sungguh telah terjadi perselisihan diantara para sahabat Rasulullah alaihish sholatu was salam sampai pada tarap perang diantara mereka -ridhwanullahi 'alaihim ajmain- maka hendaknya kita banyak-banyak mengambil ibroh dari peristiwa tersebut "Inna fii dzalika la aayatin li ulil albaab"
4) Merupakan Manhaj Ahlussunnah dalam menghadapi fitnah khilafiyyah untuk mengembalikannya kepada kitab dan sunnah 'ala fahmi salafil ummah, sebagaimana dalam Firman-Nya ;
((فَإِنْ تَنازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ ))
"Jika kalian berselisih pendapat dalam suatu urusan maka kmbalikanlah ia kepada Allah dan Rosul-Nya". (QS. An-Nisa : 59)
5) Mengembalikan perkara fitnah ini kepada para ulama ahlus sunnah, inilah jalan keselamatan biarkan lah mereka yang menyelesaikan perkara ini dan hendaknya kita berhati-hati dari sikap mendahului ulama karena itu adalah sikap ke-kurang ajaran kepada kehormatan mereka, dalam Firman-Nya :
((فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ))
"Tanyalah kepada orang yang lebih tahu (para ulama) jika kalian tidak mengetahuinya". (QS. An-Nahl : 43)
Dalam hadits :
وعن عبادة بن الصامت رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
"ليس من أمتي من لم يجِلّ كبيرنا، ويرحم صغيرنا، ويعرف لعالمناحقه"
رواه الإمام أحمد ٥/ ٣٢٣، وصححه الألباني في صحيح الترغيب والترهيب ١/ ٤٤.
"Bukan termasuk dari kami orang-orang yang tidak mengetahui dan mengenal hak orang-orang yang berilmu". (HR. Ahmad dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam shahih Targhib wat Tarhib)
6) Sibukkanlah diri-diri kita dengan ilmu dan amal karena sesungguhnya dengan ilmu akan terbantahkan segala syubhat yang ada, dan dengan amal serta kesabaran akan luluh lantahlah segala syahwat yang menghinggapi karenya para ulama kita mewasiatkan untuk banyak-banyak beribadah dan bertaqarrub kepada-Nya terkhusus saat fitnah tengah bergejolak. Dalam sebuah hadits :
«بادروا بالأعمال فتنا كقطع الليل المظلم، يصبح الرجل مؤمنا ويمسي كافرا، أو يمسي مؤمنا ويصبح كافرا، يبيع دينه بعرض من الدنيا»
رواه مسلم، كتاب الإيمان، باب الحث على المبادرة بالأعمال قبل تظاهر الفتن، ١/ ١١٠، برقم ١١٨، من حديث أبي هريرة رضي الله عنه.
"Bersegeralah kalian beramal karena fitnah-fitnah yang ada bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Dimana seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman namun di sore harinya sudah menjadi kafir, di sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir ia menjual agamanya dengan harta dunia". (HR. Muslim)
7) Berhati-hatilah dari sikap ketergesa-gesaan dan terburu-buru dalam bersikap dan menghukumi, akan tetapi hendaknya bersikap tenang dalam segala sesuatunya karena sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
فعن أنس – رضي الله عنه – يرفعه:
«التأني من الله والعجلة من الشيطان»
أخرجه أبو يعلى في مسنده، ٣/ ١٠٥٤، والبيهقي في السنن الكبرى، ١٠/ ١٠٤٠، وقال الألباني في سلسلة الأحاديث الصحيحة، ٤/ ٤٠٤: " هذا إسناد حسن رجاله ثقات ".
"Sikap tenang itu dari Allah sementara sikap tergesa-gesa itu dari syaithon". (HR. Abu Ya'la dan Al-Baihaqy. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah dengan sanad Hasan)
8) Ketahuilah sesungguhnnya merendahkan, menghinakan, mencela, menjatuhkan, melecehkan, dan menuduh dengan hal yang bukan-bukan terhadap derajat dan martabat seorang 'alim merupakan dosa besar yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak dihadapan Robbul 'alamin. Maka waspadalah dari hal ini semua, tahanlah lisan-lisan kita untuk berbicara yang akan mengundang murka Allah Ta'ala sesungguhnya Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda ;
وعن أبي هريرة رضي الله عنه أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول: "إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يزل بها إلى النار أبعد مما بين المشرق و المغرب". متفق عليه
"Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang ia tidak mencari kejelasan akan itu, maka dengan sebab satu kalimat yang ia lontarkan ternyata menggelincirkan ia ke dalam neraka yang lebih jauh dari jarak timur dan barat" (HR. Bukhari Muslim) -wal iyadzu billah-
9) Terakhir, banyak-banyaklah berdo'a kepada Allah Azza wa Jalla semoga menyelamatkan kita dari larut dengan fitnah-fitnah yang ada dan menjaga agama kita agar tetap istiqomah hingga ajal menjemput kita dimana pada hari itu tidak lagi bermanfa'at harta dan anak-anak kecuali siapa yang menghadap kepada Allah dengan hati yang selamat… Aamiin.. Aamiin.. Aamiin Yaa Mujibas Sa'iliin.
Dari saudara yang mencintaimu karena Allah Al-Ustadz Abu Abdirrahman Abdullah bin Amr Al Barowy.
Semoga Allah memaafkan dan mengampuni segala dosa-dosanya