Senin, 18 Februari 2013
Senin, 11 Februari 2013
Ishihara Color Test
Ishihara Color Test Instructions
Plates 1 – 17 each contain a number, plates 18 – 24 contain one or
two wiggly lines. To pass each test you must identify the correct
number, or correctly trace the wiggly lines.
- Sit approximately 75cm from your monitor, with each circle set at eye level.
- Preferably have mild natural light and no glare on your screen. Interior lights and glare can alter the color of the pictures.
- Attempt to identify the hidden number or line within 5 seconds then click on the image (left mouse button).
- Upon left clicking, the answer will be revealed along with an analysis explaining your condition if you got it wrong.
- Continue to the next Ishihara test, Complete them all to help gauge your color blindness severity.
- Share the test with your friends!
Notes:
- You can toggle back and forth between the original plate and the answer by clicking on the plate itself.
- Plate 1 and 24 are control tests – people with normal vision and all forms of color blindness should be able to distinguish these. These two plates are particularly useful for identifying cheeky behaviour when testing children!
- This test cannot guarantee complete accuracy. Your monitor and quality loss of online images may affect the original colors used. Should these tests suggest that you may be color blind, you should seek professional confirmation.
- You need to have JavaScript enabled to reveal the answers. For any
further problems – leave a comment at the bottom of this page
.
NEW: A man by the name of Antony Tran has converted
my test into an Android App, So for all of you with Android smartphones /
Pads, check out Color Blend.
The app can also tell you what color something is just by pointing your
device’s camera at it – VERY handy for us color blind people.
The Ishihara Color Test for Color Blindness
Ishihara Color Blindness Test Plate 1
Ishihara Color Blindness Test Plate 2
Ishihara Color Blindness Test Plate 3
Ishihara Color Blindness Test Plate 4
Ishihara Color Blindness Test Plate 5
Ishihara Color Blindness Test Plate 6
Ishihara Color Blindness Test Plate 7
Ishihara Color Blindness Test Plate 8
Ishihara Color Blindness Test Plate 9
Ishihara Color Blindness Test Plate 10
Ishihara Color Blindness Test Plate 11
Ishihara Color Blindness Test Plate 12
Ishihara Color Blindness Test Plate 13
Ishihara Color Blindness Test Plate 14
Ishihara Color Blindness Test Plate 15
Ishihara Color Blindness Test Plate 16
Ishihara Color Blindness Test Plate 17
Ishihara Color Blindness Test Plate 18
Ishihara Color Blindness Test Plate 19
Ishihara Color Blindness Test Plate 20
Ishihara Color Blindness Test Plate 21
Ishihara Color Blindness Test Plate 22
Ishihara Color Blindness Test Plate 23
Ishihara Color Blindness Test Plate 24
Rabu, 06 Februari 2013
Senin, 21 Januari 2013
Ajining diri soko lathi, ajining sariro soko busono
Di kesempatan ini saya mencoba untuk mereview folosofi jawa yang juga sangat terkenal yaitu "Ajining diri soko lathi, ajining sariro soko busono".
Untuk filosofi ini, saya membahasanya dalam 2 hal yang berbeda dan tersendiri, mengingat keduanya memiliki perspektif yang berbeda.
Ajining diri soko lathi ---> ini diartikan bahwa "setiap orang itu dihargai dan dihormati karena lidahnya" dalam artian bisa menjaga tutur kata dengan senantiasa berbicara benar, dapat dipercaya dan tidak berlebihan.
Sungguh esensi yang terkandung sangat lah dalam. Tentu saja kita tidak bakal mudah percaya dengan omongan orang yang baru kita kenal, apalagi omongan orang yang sudah terbiasa kita tau bahwa dia tukang bohong! lain ceritanya ketika kita mendengar perkataan orang alim yang setiap tutur katanya adalah hikmah dan bijak, maka pastilah kita langsung saja sepakat dan mengiyakannya.
Hal ini ternyata mempunyai korelasi yang positif dengan dogma, dimana ternyata Tuhan pun telah memerintahkan kita untuk menjaga lidah :
- Sabda Rasulullah SAW : "Hati-hatilah kamu dengan ini!" dan Rasul pun menunjuk ke arah lidahnya.
- Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasul pun juga pernah bersabda : "Barang siapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam..."
Dari contoh uraian di atas jelas sekali apa yang "seharusnya" dilakukan oleh lidah pun telah diatur. Jika kita tidak bisa berkata yang baik dan memberi manfaat maka jauh lebih baik bagi kita untuk diam, bukannya malah berbicara yang menghasilkan dosa seperti bergunjing (ghibah) dan obral janji (seperti pemilu 9 April kemarin).
Sesungguhnya yang paling utama bagi kita adalah agar senatiasa mengingat bahwa segala hal dalam diri kita akan dimintai pertanggungjawaban, tak terkecuali lidah, mata, kuping, hati dan yang lain. Seperti firman Tuhan dalam QS AL Isra' 36 :"...Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya".
Berbeda dengan ulasan di atas, "Ajining sariro soko busono" ternyata memiliki perspektif yang 180 derajat berbeda. Dimana untuk yang kedua ini jauh lebih menonjol pencitraan diri yang bersifat duniawi.
Ajining sariro soko busono ---> diartikan bahwa "setiap orang dihargai dan dihormati dari penampilan/atributnya". Busono disini bisa diartikan secara harfiah maupun turunannya. Secara harfiah diartikan "baju/pakaian" dan secara turunan dapat diartikan "atribut/pangkat jabatannya".
Kalo kita melihat dari perspektif duniawi, jelas lah hal ini sangat benar. Dimana orang yang berpakain necis, perlente bisa saja sangat dipadang orang meskipun sebenarnya dia hanyalah seorang penipu. Selayaknya pejabat yang sangat disegani padahal dia hanyalah seorang koruptor. Jadi cenderung membuat kita tertipu dengan kemasan dan penampilan, tanpa melihat ke isinya yang lebih dalam.
Hal ini tentu saja terbalik dengan kenyataan bahwa "harga manusia" di mata Tuhan adalah dilihat dari kualitas takwanya. Sebagaimana firman Alloh : "...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu..." ( QS. Al Hujurat :13). Senada dengan apa yang sudah saya uraikan dalam tulisan sebelumnya ("Apa yang membuatmu berharga?") bahwa harkat derajat dan penerimaan terhadap diri kita yang hakiki itu bukanlah karena atribut, baju ataupun pangkat kita. Melainkan ke yang lebih dalam di dalam diri kita, yaitu jiwa dan hati.
Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik.
Jagalah lisan kita dan jangan sampai kita terjebak dengan atribut di dunia. Karena atribut hanyalah duniawi, dan dunia adalah kesenangan yang menyengsarakan.
Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake.
Arti gambar ungkapan Jawa Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake
secara harafiah dapat diartikan: kaya tanpa harta, memiliki kesaktian
tanpa ilmu/benda pusaka, menyerang tanpa bala pasukan, menang tanpa
merendahkan.
Penjabaran penjelasan ungkapan Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake tersebut di atas adalah sebagai berikut :
1. Sugih tanpa bandha.
Sugih tanpa bandha,
kaya tanpa harta. Kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak
berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok
ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan
uang selama hidup.Tidak berkekurangan karena kita mempunyai relasi yang
banyak, pertemanan yang banyak, dimana relasi tersebut membuat kita
selalu mudah untuk melakukan segala sesuatu, karena relasi kita,
teman-teman kita secara langsung / tidak langsung mau membantu kita,
bahkan dengan sukarela / ikhlas. Hal tersebut sebenarnya berawal dari
kita sendiri, dimana kita juga dituntut sebelumnya mau melakukan segala
sesuatu dengan sepenuh hati, bahkan tanpa imbalan sekalipun. Dengan
demikian, dalam kehidupan kita, budi baik kita, akan senantiasi diingat
orang lain, dan suatu waktu kita membutuhkan bantuan / pertolongan orang
lain, orang lain yang juga dengan sepenuh hati menolong kita / membantu
kita, juga tanpa imbalan.
2. Digdaya tanpa aji
Kekuasaan sering kali tercipta karena suatu kemenangan fisik, kemenangan mental. Ungkapan Jawa ' digdaya tanpa aji
' tersebut di atas, kata-kata kekuasaan bukan juga karena kita
mempunyai suatu ilmu beladiri / ilmu tenaga dalam / aji-aji. Namun
disini, suatu kekuasaan tercipta karena citra dan wibawa seseorang,
perkataannya, membuat orang lain sangat menghargainya. Sehingga apa yang
diucapkannya, orang lain senantiasa mau mengikutinya.
3. Nglurug tanpa bala
Ungkapan Jawa nglurug tanpa bala
dapat di artikan secara harafiah ' menyerang tanpa pasukan '. Di sini
memiliki arti bahwa kita haruslah menjadi orang yang berani bertanggung
jawab, berani untuk beraksi walaupun terkadang tinggal kita sendiri.
Sikap ini adalah mencontoh sikap kesatria, yang mana bukanlah orang yang
mudah untuk terhasut, ikut-ikutan, tetapi lebih cenderung kepada orang
yang berani maju, berani meghadapi masalah, berani untuk bertanggung
jawab, walaupun yang lainnya mundur / lari dari masalah tersebut.
4. Menang tanpa ngasorake
Ungkapan Jawa menang tanpa ngasorake
tersebut memiliki arti bahwa tujuan pencapaian kita yang kita harapkan,
kemenangan yang kita inginkan, haruslah tanpa merendahkan orang lain.
Secara modern filosopi ungkapan ini sama dengan ' win win solution ', yang memiliki arti semua pihak yang berselisih paham memiliki hasil yang menguntungkan untuk semuanya.
Ungkapan Jawa sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake tersebut
di atas dapat di jadikan pedoman berperilaku dalam hidup kita. Filosofi
yang sangat mendasar, yang akan membuat hidup kita menjadi kehidupan
yang lebih indah, tanpa merendahkan orang lain, kehidupan yang di isi
dengan sikap-sikap kesatria, kehidupan yang jauh dari keserakahan.
Kamis, 17 Januari 2013
40 AKIBAT MAKSIAT YANG SANGAT MENAKUTKAN
Sungguh dosa dan kemaksiatan itu akan dibayar spontan di dunia sesuai dengan masyi-atillah. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi telah menghitung dan ternyata ada kurang lebih 40 balasan bagi pelaku sebuah kemaksiatan.
Saya kutip dan tulis dalam sebuah bulletin mungil, agar seluruh lapisan mengetahuinya dengan mudah. Ibnul Qayyim Al-Jauzi menuturkan, bahwa efek kemaksiatan itu sebagaimana berikut:
1. Tidak mendapatkan ilmu. Sebab ilmu itu adalah nur yang diberikan Allah ke suatu hati, sedangkan maksiat itu berfungsi mematikan nyala nur tersebut. Imam Malik pernah berkata kepada Imam Syafi'i muridnya: Sungguh aku telah melihat Allah memberikan nur ke hatimu, maka jangan engkau matikan dengan kemaksiatan.
2. Kehilangan jatah rizkinya. Nabi bersabda: "Sungguh seseorang bisa tidak mendapatkan rizkinya sebab dosa yang dilakukannya." (HR. Ahmad dan Hakim dari Tsauban)
3. Pelaku maksiat akan mengalami kegersangan jiwa terhadap Rabbnya. Dia akan kehilangan kelezatan ma'iyatillah, padahal hal ini tidak bisa dinilai dengan kenikmatan duniawi. Jika semua kelezatan duniawi disatukan tidak akan bisa mengobati kekeringan jiwa seseorang.
4. Dia juga akan merasa buas dengan sesama, utamanya dengan para pelaku kebaikan. Semakin kuat rasa kebuasannya semakin jauh dia dengan manusia baik.
5. Semua perkaranya menjadi semakin susah. Maka dari itu, ia akan selalu mendapati pintu tertutup dalam segala hal.
Kebalikannya, orang yang menjauhi dosa akan selalu menemukan way out dari segala urusannya. Allah berfirman yang artinya: "Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, maka Allah mejadikan segala urusanya menjadi lebih mudah."
6. Pendosa ini akan mendapati kegelapan hati. Ia merasakannya seperti saat berjalan pada malam kelam. Pertama kali akan tampak secara lahiriyah di matanya, lalu menjalar ke mukanya dan akhirnya akan diketahui oleh semua orang.
7. Kemaksiatan bisa melemahkan badan dan hati seseorang. Maka dari itu, ia tidak memiliki keteguhan hati dan juga akan terlihat loyo saat kegentingan yang memerlukannya walau kelihatan tegap badan dan ototnya.
8. Kehilangan ketaatan dan banyak pahala. Karena dengan dosa tersebut, ia terhalang untuk melakukan berbagai ketaatan. Padahal sebuah amal ketaatan itu jauh lebih baik daripada dunia seisinya.
9. Kemaksiatan mengurangi jatah umur dan menghilangkan keberkahannya. Karena amal kebajikan itu menambah umur seseorang maka kemaksiatan (amal bejat) dapat mengurangi usia. Rahasianya, usia seseorang adalah waktu hidupnya. Sedangkan hidup tidak berarti kecuali dengan berbakti (beribadah) kepada Penciptanya, merasa nikmat dengan mencintai dan mengingatNya serta lebih mendahulukan ridhaNya.
10. Kemaksiatan menumbuhkan benih-benih dosa. Sebagian ulama berkomentar: Termasuk balasan amal buruk (maksiat) adalah amal buruk berikutnya. Sedangkan balasan amal baik (hasanat) ialah amalan baik selanjutnya.
11. Kemaksiatan melemahkan keinginan pelakunya. Karena maksiat itu akan menguatkan keinginan berbuat dosa dan melemahkan keinginan bertobat.
12. Menganggap kemaksiatan sebagai hal yang biasa. Lalu lenyaplah rasa benci kepadanya dan bahkan berubah menjadi suatu tradisi. Pelakunya menjadi apatis tidak menghiraukan suara dan pandangan masyarakat.
13. Kemaksiatan salah satu faktor jatuhnya di mata Tuhan dan masyarakatnya. Allah berfirman yang artinya: "Dan siapa saja yang dihinakan oleh Allah, maka tidak ada lagi yang memuliakannya." (QS. Al-Hajj: 18)
14. Kesialan akan menghantui pelakunya.
15. Kemaksiatan mewariskan kehinaan. Karena kehormatan dan kemuliaan itu berada pada naungan taat kepada Allah. Allah berfirman yang artinya: "Siapa saja yang menginginkan kemuliaan, sesungguhnya seluruh kemuliaan itu hanya milik Allah." (QS. Fathir: 10)
16. Kemaksiatan merusak otak. Karena pikiran itu memiliki nur sedangkan maksiat fungsinya adalah memadamkan nur tersebut. Jika nur pikiran padam maka berkuranglah kebriliannya.
17. Jika dosa-dosa banyak menumpuk, maka akan lengket di hati pelakunya dan menjadikannya orang yang lalai. Sebagian ulama menafsirkan ayat yang artinya: " ... " (QS. Al-Muthoffifin: 14) dengan: Dosa di atas dosa.
18. Pelaku kemaksiatan masuk dalam rangkaian laknat Rasulullah. Maka sungguh amat merugi manusia yang didoakan buruk oleh orang yang amat mustajab doanya.
19. Dia juga kehilangan peluang untuk mendapatkan doa baik dari Rasulullah dan para malaikat.
20. Dosa dan kemaksiatan itu termasuk faktor utama dalam kerusakan bumi. Allah berfirman yang artinya: "Sungguh telah tampak jelas kerusakan di daratan dan lautan sebab tingkah polah manusia (dengan dosanya) agar merasakan akibat tindakannya tersebut dan mau kembali." (QS. Ar-Rum: 11)
21. Juga bisa mematikan api kecemburuan dalam hati. Padahal ghirah itu merupakan energi dan penawar hati. Manusia termulai adalah yang paling hebat kadar ghirahnya, utamanya pada diri sendiri, keluarga dan seluruh umat.
22. Kemaksiatan bisa menghilangkan sifat malu. Malu merupakan inti kehidupan hati seseorang dan pangkal segala kebaikan. Jika hilang, maka ia kehilangan banyak hal. Nabi bersabda: "Rasa malu itu adalah kebaikan seluruhnya." (HR. Muslim)
23. Demikian pula dapat melemahkan rasa pengagungan terhadap Allah dalam hati seseorang dan menghilangkan kewibawaanya di mata manusia. Karena termasuk balasan dari meremehkan Allah adalah dicabutnya kewibawaan di mata orang lain, baik ia rela atau tidak. Akhirnya ia tidak memiliki harga di mata mereka.
24. Kemaksiatan termasuk salah satu faktor dilupakan Allah dan dibiarkan bergelimang dengan hawa nafsu dan setannya. Maka dari itu, kebinasaan dan kehancuran saja yang akan didapat. Allah berfirman yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah, hendaknya seseorang itu melihat apa yang telah dipersembahkan untuk esok dan sekali lagi bertakwalah kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah Maha Tahu mengenai apa saja yang kalian kerjakan. Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah melupakan jiwa mereka. Mereka itu adalah orang-orang fasik." (QS. Al-Hasyr: 18-19)
25. Dosa dan maksiatu itu memperlemah jalan seseorang menuju Allah dan akhirat dan bahkan menyebabkannya terputus.
26. Dosa-dosa itu juga bisa menyingkirkan nikmat dan mendatangkan bencana. Karena termasuk balasan buruk bagi pelakunya adalah menghilangkan kenimatan yang datang dan memutus aliran nikmat yang akan diterima. Oleh karenanya, seorang hamba selalu dalam kenikmatan selama tidak melanggar dosa dan tidak mendapati malapetakan melainkan karena dosa pula. Allah berfirman yang artinya: "... " (QS. Al-Anfal: 53) seorang penyair bersenandung:
Jika anda dalam kenikmatan maka peliharalah, karena kemaksiatan itu menghilangkan kenikmatan-kenikmatan. Hapuslah kemaksiatan tersebut dengan menaatiNya, karena siksa dan ancamanNya amatlah cepat.
27. Sebab kemaksiatan; Allah menimpakan ketakutan dan rasa kecut di hati pelakunya. Karena ketaatan itu adalah benteng Allah yang agung, siapa saja yang memasukinya akan mendapati jaminan keamanan dari siksa dunia dan akhirat. Sedangkan pelaku kemaksiatan tidak terlihat kecuali dalam kondisi penuh ketakutan dan kehawatiran, sebab dihantui perasaan dosanya terus menerus.
28. Kemaksiatan itu membelokkan hati seseorang dari komitmen dan konsisten kepada inhiraf (melenceng) dan sakit. Sungguh, pengaruh hati itu amat besar seperti sakit atas badan seseorang. Bahkan dosa-dosa itu pada hakikatnya adalah penyakit hati yang hanya bisa sembuh dengan meninggalkannya.
29. Kemaksiatan itu mematikan mata hati, meredupkan cahayanya, menutup jalan ilmu dan menghalangi pintu hidayah.
30. Kemaksiatan mengkerdilakan jiwa dan menjadikannya hina dina. Sebaliknya amal taat mengembangkan jiwa, membersihkan dan membesarkannya. Allah berfirman yang artinya: "Sungguh telah berbahagia orang yang..." (QS. As-Syams: 9-10)
31. Dosa juga menjatuhkan kedudukan seseorang di sisi Allah dan di mata manusia. Karena orang termulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa, sedangkan yang paling dekat denganNya ialah orang yang paling taat kepadaNya.
32. Kemaksiatan merampas nama terpuji dan kemuliaan. Maka ia kehilangan predikat mukmin, pelaku kebaikan dan orang yang bertaqwa. Tapi mendapatkan predikat pendurhaka, fasik, penzina, pemabok dll.
33. Kemaksiatan memutus tali hubungan seseorang dengan Rabbnya. Jika hal itu terputus, maka terputuslah aliran kebaikan dan hanya menemui semua faktor keburukan.
34. Kemaksiatan menghapuskan keberkahan-keberkahan, baik keberkahan umur, rezeki, ilmu, pekerjaan dan ketaatan. Secara keseluruhan menghilangkan keberkahan agami dan duniawi.
35. Kemaksiatan menjadikan pelakunya hina dina. Padahal memiliki peluang menjadi lebih terhormat. Nabi bersabda: "Aku diutus dihadapan hari Kiamat. Rzkiku berada di bawah tombakku dan ditimpakan orang yang tidak menaatiku kehinaan dan kekerdilan." (HR. Ahmad dari Abdullah bin Amr)
36. Kemaksiatan menarik makhluk lain untuk lebih berani kepada pelakunya. Maka dari itu, setan lebih berani menimpakan penyakit, kesesatan, waswas, kesedihan dan kesusahan. Demikian pula setan manusia dan hewan lain.
37. Kemaksiatan itu menghianati pelakunya dalam hal yang amat diperlukannya. Baik itu dalam mendapatkan ilmu, lebih mementingkan sesuatu yang remeh daripada yang lebih mulia.
38. Maksiat bisa menjadikan lupa pelakunya terhadap dirinya sendiri. Jika ia melupakannya maka akan menyia-nyiakan, merusakkan dan menghancurkannya.
Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah lalu Allah lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itu adalah orang-orang fasik." (Al-Hasyr: 19). Juga dalam ayat: "Mereka lupa Allah, maka Allah lupa mereka." (At-Taubah: 67)
39. Maksiat menjauhkan diri pelakunya dari para penolongnya. Maka ia akan lebih dekat kepada setan.
40. Termasuk efek maksiat adalah kehidupan sulit di dunia, kubur dan siksa pedih di akhirat. Allah berfirman yang artinya: "Dan siapa saja yang berpaling dari mengingatKu, maka sungguh ia akan menemui kehidupan susah." (Thoha: 124)
Ini semua adalah aneka efek maksiat dan dosa. Orang yang menggunakan akalnya akan merasa cukup untuk bertaubat dan kembali kepada Allah dengan salah satunya saja. Maka sungguh amat layak untuk seorang muslim untuk segera bertobat secara benar. Allah berfirman yang artinya:
"Katakanlah, Waha para hambaKu yang telah menzalimi dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Allah Maha pengampun dan Maha penyayang." (Az-Zumar: 53)
Nabi bersabda: "Bahwasanya Allah membentangkan kedua Tangannya pada malam hari untuk menerima tobat orang yang berbuat dosa di siang hari. Dan membukanya pada siang hari untuk menerima tobat orang yang berbuat dosa pada malam hari."
Jauhilah tobat yang bohong yang hanya dibibir saja, sementara hatinya selalu ingin melakukan kemaksiatan. Jangan anda anggap remah suatu kemaksiatan, karena sebab kemaksiatanlah bapak dan ibu kita dikeluarkan dari Surga. Juga penyebab Iblis dikeluarkan dari lingkungan malaikat.
Demikian pula yang menyebabkan disiksanya kaum 'Ad, kaum Tsamud dengan suatu teriakan, kaum Luth, kaum Nabi Syu'aib, Fir'aun dan pengikutnya serta maksiat merupakan penyebab segala bencana yang menimpa manusia.
Dan akhirnya, wa shallallaahu 'alaa Muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii wa sallam...
Selasa, 08 Januari 2013
Ka'bah Pusat Dunia, Tempat Terbaik dan Faktanya
Umat Islam meyakini Ka’bah adalah tempat ibadah pertama
yang berdiri di muka bumi. Hal ini terabadikan dalam Al-Qur’an Surat Ali
Imran 96, “Sesungguhnya rumah yang pertama kali dibangun untuk (tempat
ibadah) manusia, adalah Baitullah di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan
menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Dari tampilan fisiknya, Ka’bah memang tidak mengadopsi desain dan
arsitektur bangunan canggih. Bentuknya sederhana, sesuai namanya (Ka’bah
berarti kubus) dengan ukuran panjang-lebar-tinggi: 13,16 m X 11,53 m X
12,03 m. Di dalamnya ada sebuah ruangan berukuran sekitar 10 X 8 meter
persegi, dengan dua pilar menjulang ke langit-langit.
Fakta-fakta Mengenai Ka'bah :
1. Dalam sebuah penelitian, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota
Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi
tersebut bersifat infinite (tidak berujung). Hal ini terbuktikan ketika
mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut
terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki
karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan
Ka’bah di alam akhirat.
2. Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan
batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium
di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka’Bah)
dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut
bukan berasal dari sistem tata surya kita.
3. Pada 1977 ilmuwan Mesir Dr Husain Kamaluddin mempublikasikan temuan
ilmiahnya bahwa Mekkah adalah pusat bumi. Dibantu pakar Matematika dari
Universitas Asyuth, Dr Muhammad Al-Syafi’I ‘Abd Al-Lathif, Husain
melakukan penelitian bertahun-tahun melibatkan sekian banyak tabel
matematika serta bantuan program komputer. Husain menyiapkan peta berisi
gambar benua-benua. Ternyata ia mendapatkan Mekkah berada di
tengah-tengah peta dunia. Ia mendapati bahwa tanah di permukaan bumi
menyebar dari Mekkah sebagai pusat dengan sangat teratur.
4. Hal lain menarik tentang
Ka’bah diungkapkan oleh Agus Mustafa dalam bukunya, Pusaran Energi
Ka’bah. Menurut Agus, mengapa doa-doa seorang muslim lebih cepat
terkabul ketika ia tengah berada di depan Ka’bah atau Multazam, itu ada
penjelasan ilmiahnya. Agus
menyodorkan hukum gaya Lorentz atau juga dikenal dengan aturan tangan
kanan. Hukum itu mengatakan bahwa pada konduktor melingkar yang dialiri
arus listrik berlawanan arah jarum jam, akan menghasilkan medan magnet
yang mengarah ke atas.
5. Ka’bah,
ternyata ka’bah selain sebagai titik sentral menghadap ketika sholat
(dari manapun arahnya ke Ka’bah menghadapnya) namun Ka’bah mempunyai
keajaiban lain, Miracle Of Kaaba ini terbukti dengan penelitian ilmuwan,
ditemukan bukti adanya keajaiban yang akurat dengan ditemukannya angka
unik 1,618. Jarak dari
ka’bah ke kutub utara dan jarak ka’bah ke kutub selatan, dimana jarak
terpanjang di bagi dengan jarak terpendek hasilnya 1,618. Begitu juga
jarak dari Ka’bah ke barat dan jarak ka’bah ke timur dimana sisi panjang
di bagi sisi pendeknya, juga ketemu angka 1,618. Begitu
juga jarak diagonal ka’bah di peta, dari jarak sisi panjang ke sisi
jarak pendeknya di bagi dua, akan menghasilkan jarak 1,618. Dan jarak
dimana ka’bah ke Timur dan ke Barat lebih semetris di bandingkan dengan
jarak dari Greenwich Mean time (GMT). Di London yang dijadikan titik
sentral untuk menentukan waktu dari 0 (nol ) derajat ke barat sejauh 180
derajat dan 0 (nol) derajat ke timur sejauh 180 derajat yang bertemu di
Samudera Pasifik, sebenarnya tidak akurat, jadi menurut konsep ini
mestinya pembagian waktu yang tepat bukan dari kota London, tapi kota
Mekkah, Allahu Akbar.
Langganan:
Postingan (Atom)


















