Minggu, 21 Maret 2021

Kisah Rasulullah SAW sebelum wafat.

Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum wafat.


Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi beliau sangat lemah.

Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendapat taushiyah dari Rasulullah SAW.

Beliau duduk dengan lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sahabat-sabahatku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu-satunya Tuhan yang layak di sembah?"

Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, " Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

"Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka."

Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu. 

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."

Ketika itu semua sahabat diam, dan dalam hati masing-masing berkata "Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah".

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.

Tiba-tiba bangun seorang lelaki yang bernama UKASYAH, seorang sahabat mantan preman sebelum masuk Islam, dia berkata:

"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".

Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".

Maka Ukasyah pun mulai bercerita:

"Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."

Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian. 

Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pada Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. bukankah Baginda sedang sakit..!?"

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.

Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"

Bilal menjawab dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah"

Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:

"Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".

Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua".

Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah.

Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah. 

Tiba-tiba Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah..! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".

Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:

"Ukasyah..! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku..!."

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:

"Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, tiba-tiba berdiri Ali bin Abu Talib sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.

Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah".

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:

"Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah" .

Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah. Tiba-tiba tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen. 

Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon. "Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dengan memukul kami sesungguhnya itu sama dengan menyakiti kakek kami, wahai Paman."

Lalu Rasulullah SAW berkata: "Wahai cucu-cucu kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dengan Paman Ukasyah".

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata:

"Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini."

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:

"Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah.

Tanpa berlama-lama dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Kemudian Rasulullah SAW berkata:

"Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah akan murka padamu."

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh-jauh, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi2nya, 

Ukasyah berkata:

"Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Seumur hidupku aku bercita-cita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah..."

Rasulullah SAW dengan senyum berkata:

"Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!"

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW.


--------------------------------------


Meski sudah sering membaca dan mendengar kisah ini berulang-ulang, tetap saja saya menangis. 

Semoga tetesan air mata ini membuktikan kecintaan kita kepada kekasih Allah SWT....


Allahumma sholli 'alaa Muhammad. 

Allahumma sholli 'alayhi wassalam 

KENAPA DAKWAH SALAFIYAH SERING DIMUSUHI ???

 KENAPA DAKWAH SALAFIYAH SERING DIMUSUHI ???

Oleh Siswo Khusyudhanto

Sering kali mengajak teman yang awam ke kajian Sunnah sering kali ajakan itu mendapatkan penolakan, alasannya hampir sama, seperti, " kajianmu itu aliran keras", "golongan mu itu dikit-dikit haram", atau "kajian yang saya ikut lebih sejuk, gak pernah membahas Syirik, Bid'ah dan Riba, enak pokoknya, bikin seneng".

Kenapa bisa demikian?, berikut ini mungkin penjelasannya.

Dalam sebuah kajian seorang jamaah bertanya kepada ustadz pemateri kajian, "Ustadz kenapa banyak disebut dikalangan masyarakat awam kajian ini terlalu keras, radikal dan semacamnya?, Mungkin Ustadz dapat menjelaskan fenomena ini".

Ustadz menjawab, "Hal seperti ini mungkin diakibatkan kebanyakan masyarakat terbiasa mendengar kajian agama yang hanya materinya adalah bermuatan Amar Ma'ruf, dan sangat sedikit mereka mendengar kajian agama yang menjelaskan Nahi Munkar, sehingga ketika mereka mendengar kajian yang materinya bermuatan Nahi Munkar mereka menilai hal demikian sangat keras, sehingga menimbulkan tuduhan berbagai macam pada kajian yang demikian, seperti kajian radikal, kajian aliran keras bahkan juga Wahabi.

Semua itu disebabkan karena sangat sedikit pendakwah di negri ini mengikuti konsep Sunnah dalam berdakwah, yakni Amar Ma'ruf Nahi Munkar, kebanyakan pendakwah hanya menyampaikan Amar Ma'ruf, mereka menyampaikan kajian yang berisi seruan agar umat menjadi anak yang baik, istri yang baik, suami yang baik, karyawan yang baik dan seterusnya, dan mereka meninggalkan dakwah yang berisi seruan Nahi Munkar, sangat sedikit pendakwah menjelaskan bahaya Syirik, bahaya Bid'ah, bahaya Riba dan seterusnya.

Ketika mereka(para pendakwah) itu ditanya "kenapa kalian hanya mendakwahkan Amar Ma'ruf saja dan meninggalkan dakwah Nahi Munkar?", Mereka menjawab "itu bukan tugas saya", atau dalam artian mereka hanya mencari aman dengan menyampaikan Amar Ma'ruf dan takut ditinggalkan jamaahnya jika menyampaikan yang berkaitan dengan Nahi Munkar.

Maka ketika ada sebagian kecil pendakwah di negri ini yang berusaha mengikuti konsep Dakwah Sunnah yakni menyampaikan Amar Ma'ruf sekaligus Nahi Munkar, menjelaskan syariat agama dengan jelas mana yang hak dan bathil, yang terjadi justru banyak tuduhan dilayangkan kepada mereka, mulai ustadz radikal, aliran keras atau Wahabi, padahal apa yang disampaikan mereka didasarkan kepada dalil Sahhih baik dari Al-Qur'an dan Sunnah Sahhihah sekalipun.

Akibat budaya ingkar Nahi Munkar dan hanya mengutamakan Amar Ma'ruf ini akhirnya masyarakat terfitnah syubhat dan terlibat dalam amalan-amalan yang menyimpang, banyak perbuatan Syirik, Bid'ah dan Riba didalam masyarakat kita, dan kebanyakan merasa dalam amalan yang benar.

Hal demikian disebabkan tidak ada yang menjelaskan kepada mereka mana Perkara yang hak dan bathil.

Untuk itu menjadi pekerjaan besar para pendakwah untuk mengedukasi masyarakat terutama Umat Muslim agar mereka dapat menerima Dakwah Sunnah, yakni dakwah yang mengikuti Konsep Dakwah Sunnah, Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

Waalahua'lam.


Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali Imrân/3:104]

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

JANGAN MENGERASKAN SUARA SAAT BERDOA

 Dalam hadits Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ »

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704).

Imam Syafi’i berpendapat bahwa asal dzikir adalah dengan suara lirih (tidak dengan jaher), berdalil dengan ayat,

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya” (QS. Al Isro’: 110). 

Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang ayat tersebut, “Janganlah menjaherkan, yaitu mengeraskan suara. Jangan pula terlalu merendahkan sehingga engkau tidak bisa mendengarnya sendiri.” (Al Umm, 1: 

Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’rof: 55)

Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.” (QS. Al A’raf: 205).

Dalam shahihain disebutkan bahwa para sahabat pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Mereka mengeraskan suara mereka saat itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَإِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا إنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ

“Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” Inilah yang disebutkan oleh para ulama ketika dalam hal shalat dan do’a, di mana mereka sepakat akan h al ini. (Majmu’ Al Fatawa, 22: 468-469)

BAHAYA ASHOBIYAH

BAHAYA ASHOBIYAH 

Ada diantara kita yang sangat cinta kepada sukunya, sangat bangga dengan kabilahnya, teramat gandrung kepada yayasanya, basah kuyub mandi keringat demi paguyuban, hidup dan mati demi organisasi. Dan siap mati demi seragam, membela atribut dan panji-panji kebesaran korps kebanggaaan. 

Bahkan demi partai mereka siap membantai, demi negara mereka siap sengsara,  demi komunitas mereka siap untuk menumpas, demi asosiasi mereka tega  mencaci-maki, dan demi kesebelasan sepak bola mereka bisa melakukan apa saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

- ".لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَعَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ“

"Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme golongan).” (HR. Abu Dawud 4456)

Begitulah fenomena dan perilaku (ashobiyyah) yang  sering menghinggapi sekelompok manusia, baik dari kalangan pelajar, mahasiswa, angkatan bersenjata, sampai rakyat jelata ikut-ikutan bangkit kemarahannya, padahal sering tak tahu apa duduk persoalannya. 

Kadang kala hanya demi membela sobat satu marga,  kawan sekolah, teman almamater, korps, atau kesebelasan yang mereka banggakan, mereka tega tawuran sampai mati konyol di lapangan.

Sungguh sebuah pengorbanan jahil dan sia-sia belaka, mereka korbankan nyawa demi susuatu yang tiada berguna sampai ke akhirat sana. Mereka korbankan nyawa kepada sesuatu yang tak bisa membela derajatnya. 

Terhadap perilaku ashobiyah, Rasulullah tidak akan mengakui sebagai umatnya. 

Rasulullah ﷺ bersabda:  "Barangsiapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada kebangsaan atau mendukungnya, maka matinya seperti mati Jahiliyah." (HR. Muslim, No. 3440).

Seseorang datang kepada Nabi  ﷺ dan berujar:  "Ada seorang yang berperang karena dorongan FANATISME, atau berperang karena ingin memperlihatkan KEBERANIAN, dan ada yang berperang karean ingin DILIHAT ORANG, siapakah yang disebut FI SABILILLAH?" Nabi menjawab; "Siapa yang berperang agar KALIMATULLAH menjadi TINGGI, ia berada FI SABILILLAH.” (HR. Bukhari No. 6904)

Bahkan yang lebih tragis lagi, demi  menonton konser artis. Mereka rela sakit meringis-ringis dipijak-pijak orang-orang yang histeris. 

Nabi ﷺ,  bersabda: "Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan Jama'ah kemudian ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Dan barangsiapa mati di bawah bendera kefanatikan, dia marah karena fanatik kesukuan atau karena ingin menolong kebangsaan kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Dan barangsiapa keluar dari ummatku, kemudian menyerang orang-orang yang baik maupun yang fajir tanpa memperdulikan orang mukmin, dan tidak pernah mengindahkan janji yang telah di buatnya, maka dia tidak termasuk dari golonganku dan saya tidak termasuk dari golongannya." (HR. Muslim No. 3436)

Sungguh sesuatu yang sangat ironis, terhadap agama-Nya mereka bisa biasa saja. Bahkan terkesan cuek bebek, dan tak mau tahu tentang suatu perkara yang akan menyelamatkan ( kebahagiaan) dunia dan akhiratnya. Ketika agama Islam dihina, sunah-sunah Nabi dicaci-maki, dan syari’at Islam dicela, mereka diam seribu basa. Namun ketika partai dan ormas dan tokoh pujaanmu dikritisisi, seketika bangkit kemarahanmu, membela dengan membabi buta, harga mati demi organisasi dan gengsi.

Kepada kaum Muslimin yang sampai saat ini masih terjerat belenggu hizbiyah, mohon untuk segera melepaskannya. Bergabunglah kembali bersama jamaah Rasulullah  ﷺ dengan pemahaman para sahabatnya yang shalih. Jangan sampai loyalitas beragama kita terkedilkan oleh ormas-ormas bikinan manusia, yang membuat wawasan agama kita menjadi sempit, picik, dan fanatik.

Dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa keluar dari keta'atan dan memisahkan diri dari Jama'ah kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Barangsiapa terbunuh di bawah bendera kefanatikan, balas dendam karena kefanatikan, dan berperang karena kebangsaan, maka dia TIDAK termasuk dari ummatku. Dan barangsiapa keluar dari ummatku lalu (menyerang) ummatku dan membunuh orang yang baik maupun yang fajir, dan tidak memperdulikan orang mukminnya serta tidak pernah mengindahkan janji yang telah dibuatnya, maka dia TIDAK termasuk dari golonganku." (SHAHIH MUSLIM, No. 3437).

Senin, 08 Februari 2021

SUSUNAN HURUF KEYBOARD

 Mengapa Susunan Keyboard Tidak Berurutan?


Pernahkah Anda bertanya mengapa susunan huruf dalam keyboard mesin ketik, komputer, hingga ponsel berupa QWERTYUIO? Mengapa tidak dibuat berurutan seperti ABCDEFGHIJ?


Keyboard diciptakan tahun 1860an oleh Sholes dan Dunsmore. Awalnya mereka membuatnya berurutan sesuai abjad. Namun, lambat laun seiring dengan meningkatnya kemampuan (kebiasaan) user, kecepatan mengetik menjadi lebih cepat padahal mekanisme mesin saat itu masih sangat sederhana. Akibatnya, (baris) tombol tertentu menjadi sering macet dan menghambat pekerjaan.


Berdasar pengalaman mereka, akhirnya disusunlah keyboard yang sengaja dipersulit dan dibuat tidak efisien agar keyboard tidak mudah jammed. Desain mesin ketik itu kemudian dijual ke Remington untuk diproduksi secara massal tahun 1873. Seiring berjalannya waktu, teknologi berkembang pesat dan masalah tombol keyboard yang sering macet sudah teratasi dengan desain mekanik yang lebih baik. Sejumlah desain keyboard alternatif juga muncul di pasaran. Salah satu yang cukup populer adalah DVORAK Simplified Keyboard (DSK) yang dibuat oleh August Dvorak tahun 1936. Desain itu diklaim merupakan desain yang lebih efisien, cepat, dan egronomis.


Tetapi mungkin karena terlambat, akhirnya DVORAK harus tunduk karena dominasi QWERTY yang sudah terjadi pada organisasi-organisasi dunia saat itu dan mereka tidak mau menanggung resiko rush apabila mengganti ke susunan keyboard DVORAK.


Satu-satunya pengakuan adalah datang dari ANSI (American National Standard Institute) yang menyetujui susunan keyboard DVORAK sebagai versi alternatif di sekitar Tahun 1970. Susunan keyboard lainnya yang masih perkembangan dari susunan QWERTY adalah QWERTZ yang dipakai di negara seperti Hungaria, Jerman, Swiss, dll. Dan AZERTY oleh negara Prancis dan Belgia.


QWERTY sebenarnya punya banyak kelemahan seperti membuat tangan kiri Anda overload terutama ketika menulis dalam bahasa Inggris (hal serupa dirasakan ketika menulis dalam bahasa Indonesia). QWERTY juga membuat kelingking Anda overload. Penelitian menunjukkan bahwa distribusi huruf tidak merata sehingga jari Anda harus menyeberang dari baris ke baris. Bila dihitung jari tukang ketik tipikal akan berjalan lebih dari 20 mil per hari dibandingkan dengan DVORAK yang hanya 1 mil.


Sayangnya, orang terlanjur ogah berpaling dari desain QWERTY kendati desain tersebut bukan merupakan desain yang terbaik. Sekalipun teknologi sudah bisa mengatasi problem tombol yang nge-jam, orang tetap bertahan dengan desain QWERTY. Bukannya beralih ke desain lain yang lebih superior. Bahkan QWERTY malah dinobatkan menjadi standar internasional di tahun 1966.


Hal yang sama juga terjadi di Microsoft Windows. Kita tentu tahu bahwa Windows bukanlah sistem operasi terbaik, entah itu dari segi keamanan, kemudahan, kinerja, sampai soal keindahan. Namun, karena penetrasi pasar Windows sudah begitu deras, orang mulai terbiasa menggunakan Windows dan sistem operasi tersebut menjadi terstandardisasi.


Apakah tidak ada yang lebih baik dari Windows? Tentu saja ada. Namun orang perlu berpikir beberapa kali sebelum berpaling dari standar tersebut. Mereka harus menghadapi barrier seperti faktor biaya, isu kompatibilitas, proses pembelajaran, faktor waktu, dan masih banyak lagi. Akibatnya jumlah mereka yang setia jauh lebih besar daripada yang murtad. Inilah yang menjadikan Windows atau QWERTY kemudian menjadi standar, kendati mereka bukan yang terbaik.


Dalam dunia ilmiah, fenomena ini dijelaskan sebagai konsep path dependency dan network externality. Intinya, inovasi tidak menghasilkan outcome yang out of the blue, tetapi merupakan perkembangan yang bisa diprediksi dari yang sudah-sudah. Selain itu, value dari inovasi tersebut akan makin tinggi bila digunakan oleh makin banyak orang. Pada tahap tertentu, inovasi tersebut akan menjadi standar yang digunakan oleh umum. 

Selasa, 15 Desember 2020

Bagaimana Mendeteksi Kebohongan

Saat ini dalam mengungkap suatu kasus atau melakukan penyelidikan terhadap seseorang telah tersedia berbagai alat bantu sesuai dengan perkembangan teknologi. Mulai dari alat perekam suara (Vice record), kamera pengintai (spy camera recorder) dengan berbagai jenis dan tipe, serta bentuk yang bermacam-macam, Pen spy camera berbetuk pena biasa yang keberadaannya tidak akan disadari oleh orang yang kita intai atau menggunakan alat sadap suara dan kamera, bahkan dengan menggunakan alat pendeteksi kebohongan bernama Polygraph, yang banyak digunakan di Kepolisian atau FBI untuk menginterogasi seseorang Biasanya digunakan dalam pemeriksaan khusus atau investigasi, terkadang juga dimanfaatkan pada saat tes masuk kerja.

Mekanisme kerja alat Polygraph yaitu dengan mencatat dan merekam seluruh respon tubuh secara simultan ketika seseorang diberi pertanyaan, sehingga jika berbohong maka kalimat atau ucapan yang disampaikannya akan menyebabkan reaksi psikologis tubuh dan mempengaruhi kerja organ tubuh terkait, yakni: jantung, kulit dan organ tubuh lainnya. Dengan suatu sensor penghubung akan terdeteksi grafik perubahan fungsi organ yang dinilai seperti peningkatan pernafasan, detak jantung, tekanan darah, keringat, gerakan tangan dan kaki. Pemeriksaan ini berlangsung hingga + 2 jam dengan tingkat ketepatan (accuracy) + 90%.

Walaupun telah tersedia alat IT canggih namun tentunya masih terdapat beberapa kekurangan dan masih dituntut kemampuan pemeriksa atau penyidik untuk mendeteksi kebohongan secara cepat untuk mengungkapkan adanya fraud/kecurangan.

Dari pendidikan dan latihan yang diperoleh serta pengalaman dalam pemeriksaan, cara yang umum dipakai dengan teknik interviu. Dengan memperhatikan gerakan tubuh dan gerakan mata bisa menjadi petunjuk yang direkomendasikan. Pertanyaannya, apakah mendeteksi kebohongan itu mudah untuk dilaksanakan? Belum tentu, karena seorang pemeriksa senior sekalipun yang sudah terlatih membaca kebohongan dari gerakan tubuh dan ekspresi wajah seseorang, tetap saja akan mengira-ngira atau mereka-reka urutan kejadian. Arah pemeriksaan tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan, bisa jadi jawaban dari pertanyaan yang diajukan tidak diikuti dengan respon atau ekspresi yang ditunggu. Ada faktor lain yang mempengaruhi, tergantung kemampuan dari orang yang diselidiki menutupi sikap grogi atau canggung, gemetar atau dengan mengatur tekanan suaranya.

Lalu bagaimana trik untuk menghadapi situasi ini dan mampu mengungkap dalam waktu yang singkat? Disarankan untuk membuang semua praduga, asumsi, opini dan membaca dokumen. Fokus pada mata, gerakan badan, mimik muka, suara, seperti: perubahan warna wajah, pipi menjadi kemerahan, gerakan ekor mata yang berlawanan, gerakan refleks hidung, menyentuh hidung, atau dari bunyi tawa yang terdengar sumbang. Pada beberapa orang akan membuat kontak mata dengan si penanya namun banyak yang menghindar. Hal ini juga tidak dapat dijadikan suatu kesimpulan adanya sinyal kebohongan, karena ada pribadi yang memang tidak biasa saling bertatapan dengan lawan bicara.

Area kunci pada mata yang perlu diamati adalah: kontak mata, kecepatan kedipan, dan gerakan mata. Refleks gerakan mata ketika diajukan pertanyaan seharusnya adalah:

·      bergerak horizontal atau diagonal ke atas, ke arah kanan si penanya, jika mengingat sesuatu yang benar-benar terjadi;

·      bergerak horizontal atau diagonal ke atas, ke arah kiri si penanya, jika mengarang suatu kebohongan;

·      kadangkala ada yang melihat lurus ke depan dengan sedikit atau tanpa gerakan mata yang mengindikasikan bahwa memang sedang mencoba mengingat peristiwa yang terjadi.

Ketika seseorang menyangkal telah melakukan sesuatu atau berbohong, biasanya terbawa sikap dan emosi berusaha menutupinya, termasuk menambahkan informasi yang tidak terkait dengan panjang lebar dan pada hal inti yang tidak ingin diungkap justru sedikit memberi keterangan, biasanya pada inti masalah akan terlihat sikap gugup yang sulit untuk disembunyikan, terkadang memperlihatkan emosi riang atau senang untuk memberi kesan sebaliknya. Walaupun sebagian orang dapat menutupi perasaannya namun tidak seluruh kesan pada wajah dapat ditutupi, pada wajah yang dipasang datar tanpa ekspresi sekalipun sebenarnya masih dapat terlihat gerakan-gerakan kecil yang membuka kebohongan.

Secara psikologis, ada beberapa cara untuk mengamatinya. Sebagian orang bisa dengan mudah berbohong melalui kata-kata dan alibi yang meyakinkan, namun tidak semua orang mampu berbohong. Kadang-kadang dibutuhkan ketegasan untuk mengungkapkan kebenaran, membuat tipuan atau rekayasa seolah-olah sudah memahami kronologi kejadian dan sudah ada informasi dari lingkungan sekitar atau teman-teman yang bersangkutan, serta sikap menyerang untuk membuatnya terpojok dan akhirnya mengakui kesalahan.

Dari pengalaman menghadapi beberapa kasus ditemui bahwa ada pribadi yang berteriak dengan lantang menyangkal telah melakukan suatu kesalahan, semata-mata hanya untuk menutupi kebenaran, bahkan berani bersumpah, demi nama Allah, demi keluarga, tidak melakukan yang dituduhkan, tidak memakan uang haram sedikitpun, tidak melakukan mark up harga atau tidak melakukan korupsi, nyatanya kata-kata sumpah inipun tidak menjamin kebenaran kata-kata yang telah diucapkan. Dalam waktu tidak lama berselang merevisi pernyataannya dan memohon-mohon untuk negosiasi, meminta keringanan atau dimaafkan pada saat itu. Bahkan sering ditemui, walaupun kebohongan atau pelanggarannya telah terungkap namun yang bersangkutan tetap saja menyangkal, sampai-sampai membuat kita merasa bersalah telah men-judge seseorang dan berpikir ulang atas suatu kesimpulan. Apa benar yang bersangkutan memang melakukannya. Berarti harus menggunakan trik lain dengan menggeser fokus pengamatan perilaku yang bersangkutan kepada jawaban yang disampaikannya, dengan pengulangan pertanyaan yang sama dinilai apakah jawabannya tetap sama, kemudian secara perlahan menyelidiki titik-titik kritis dan tekanan yang tepat untuk membuatnya mengaku. Atau dengan cara membujuk yang bersangkutan untuk mengakui kesalahan maka akan dipertimbangkan dalam menjatuhkan sanksi atau hukuman nantinya.

Dari bahan yang dipelajari dan pengalaman kasus yang ditangani terdapat serangkaian prinsip percakapan yang bisa meningkatkan peluang dalam mendeteksi kebohongan sebagai berikut:

1.  Menggunakan pertanyaan terbuka;

yaitu membiarkan si yang bersangkutan bercerita, mendengarkan, menandai pada titik-titik yang kita anggap penting, mengulangi pertanyaan yang sama beberapa kali lebih detil dengan maksud agar yang bersangkutan terperangkap dalam kebohongannya sendiri. Ketika dia tidak ingat lagi dengan jawaban dan alur kejadian semula, akan memberikan jawaban yang berbeda-beda. Jika menemukan kontradiksi, jangan langsung disela atau konfrontir, biarkan dia melanjutkan cerita palsunya untuk membuatnya semakin percaya diri. Terakhir mengunci keadaan dengan menyampaikan salah satu jawabannya, kenapa tidak sinkron dengan kondisi yang ada dan kenapa jawabannya dari awal selalu berubah-rubah, mana yang benar. Dari seluruh rangkaian pertanyaan tersebut bisa diperoleh benang merah kejadian, menganalisa kemungkinannya dan menarik suatu kesimpulan.

2.  Pemberian elemen kejutan.

Para pemeriksa terkadang memberikan pertanyaan-pertanyaan kejutan yang tidak diperkirakan atau antisipasi akan terjadi dan membingungkan, atau dengan meminta mereka menceritakan kejadian di masa lalu.

Jadi rangkaian pertanyaan yang disusun sebelum mewawancarai seseorang yang dirancang dengan baik dan teliti, juga dapat bisa mendeteksi kejanggalan inti cerita bohong dibandingkan memperhatikan gerakan tubuh. Yang perlu diingat adalah harus berpikiran terbuka, menolkan diri dan tidak langsung mengambil kesimpulan. Bukan berarti karena seseorang terlihat gugup atau sulit mengingat secara detail, mengambil kesimpulan bahwa mereka bersalah, harus melihat in-konsistensi secara umum. Biasanya untuk mengungkapkan adanya fraud/kecurangan/kesalahan membutuhkan perhatian dan energi lebih.

Jadi langkah-langkah yang dilakukan dalam mengungkap suatu kebenaran:

1.  Melakukan komunikasi yang baik, menggunakan berbagai teknik komunikasi dan metode yang efektif sehingga orang yang dimintai keterangan memberikan data yang valid.

2.  Membedakan informasi yang akurat dengan yang tidak akurat dan mengambil intisari permasalahan.

3.  Perlunya mendalami titik kritis masalah untuk melakukan verifikasi dan validasi data dengan teknik interviu dan investigasi terselubung.

4.  Mendeteksi kebohongan dengan cepat.

5.  Mengemas penyampaian pesan dengan baik.

6.  Menuliskan hasil laporan investigasi dalam bentuk laporan, selain data deskriptif untuk mengambil keputusan.

7.  Menentukan Tindak Lanjut Hasil Laporan (TLHP).

8.  Berusaha menggiring pertanyaan atau memojokkan agar yang bersangkutan mau memberikan keterangan atau data yang sebenarnya.

Pertanyaan yang umumnya diberikan pada saat wawancara fraud, yakni:

1.  pendahuluan;

2.  pertanyaan yang sifatnya informatif;

3.  pengujian;

4.  penutup; dan

5.  pencarian pengakuan.

Misalnya pada kasus penggunaan Narkotika dan Bahan Berbahaya (Narkoba). Diawali dengan rangkaian pertanyaan ringan tentang kabar dirinya dan keluarganya, dimana tinggal, bersama siapa, kesehatannya saat ini, keinginan dan kesungguhannya untuk kembali beraktivitas layaknya manusia biasa. Baru dilanjutkan dengan maksud dan tujuan memanggilnya serta interviu untuk mengungkap masalah inti ketergantungannya terhadap narkoba. Sampaikan data umum yang telah dimiliki, darimana memperoleh narkoba, proses hukum yang telah dijalani dan rangkaian pemulihan kecanduan narkoba di RS Ketergantungan Obat (RSKO). Ungkap kronologi kejadian dari penjelasan yang disampaikan sementara kita menyimak setiap keterangan yang diberikan, menilai apakah kehidupan keluarganya berbahagia atau tidak, amati sikap dan perilakunya dalam memberikan keterangan, ekspresi wajah, perubahan warna muka, gerakan ekor mata, gerakan tambahan yang tidak wajar seperti merapikan jilbab, padahal sebenarnya tidak ada masalah dengan jilbabnya. Amati tremor atau gemetar pada tangan atau ada alat yang terjatuh karena tidak sengaja seperti pena atau kunci, terus melihat kearah Hand Phone (HP) untuk menghilangkan kecanggungan. Kadang mengulangi pertanyaan yang disampaikan penanya dengan maksud memikirkan jawaban yang cocok, nilai kecepatannya dalam memberikan jawaban, lancar atau tidak. Lakukan pengujian terhadap perbedaan informasi disampaikan dengan data yang telah dimiliki. Misal: apakah saat ini masih merokok atau narkoba, jika masih merokok berapa jumlah rokok dihabiskan dalam sehari. Kaitkan dengan kemampuan finansialnya saat ini untuk membeli rokok atau narkoba, kaitkan juga dengan jadwal dan obat-obatan sewaktu pengobatan terakhir yang dijalani RSKO. Jika dia menjawab masih atau kadang-kadang, lanjutkan dengan pertanyaan kapan terakhir kali merokok, gali terus bagaimana caranya menghambat keinginan untuk menggunakan narkoba. Bagaimana dia menata hidupnya lebih berkualitas ke arah keagamaan atau spiritual. Siapa teman dekat atau dengan siapa saja dia berhubungan belakangan ini, apakah masih kelompok sesama pengguna yang memungkinkannya memperoleh narkoba, sehingga walaupun secara ekonomi tidak mampu membeli narkoba masih terbuka peluang memperoleh dari seseorang yang mau memberi atau mensuplai ketersediaan narkoba. Sampaikan pertanyaan untuk mencari pengakuan atas kesalahannya. Jika jawaban dari rangkaian pertanyaan yang diajukan tidak konsisten, dicurigai adanya kebohongan. Apakah dia punya keinginan untuk berubah, sampaikan ancaman hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya. Amati respon verbal maupun non verbal responden untuk menilainya.

Petunjuk verbal dan non verbal yang dapat digunakan untuk mendeteksi kebohongan, antara lain:

1.  Gerakan jari, tangan, kaki, atau diam yang tidak biasa.

2.  Perubahan pola atau kecepatan berbicara, karena orang yang berbohong seringkali mempercepat atau memperlambat kecepatan berbicara, atau berbicara lebih keras dari biasanya, terkadang ada kecenderungan ingin batuk atau menelan ludah selama berbohong.

3.  Banyak yang salah dalam pengucapan.

4.  Kalimat jawaban tidak mengalir lancar dan alami sesuai pertanyaan.

5.  Mengulang pertanyaan, karena orang yang berbohong akan menanyakan kembali pokok masalah yang ditanyakan untuk mengulur waktu.

6.  Gerakan mata tidak konsisten, karena mengarang cerita dan bukan berusaha mengingat. Berkurang atau bertambahnya kontak mata, kedipan bola mata diluar ritme normal, lebih cepat atau lebih lambat. Pupil mata jadi melebar.

7.  Bibir mengering, hidung menjadi gatal karena aliran darah ke urat-urat hidung.

8.     Melipat tangan atau kaki, gerakan tubuh tidak rileks atau alami. Jari-jari tangan kadang ditautkan di depan wajah.

9.     Pura-pura kurang fokus, lelah, mengantuk, mengeluarkan suara batuk-batuk kecil, mendehem atau menelan ludah.

10.   Mengomentari wawancara, karena orang yang berbohong akan mengomentari lingkungan sekitar, merasa cuaca terasa panas atau dingin.

11.   Memilih-milih ingatan atau memory, walaupun ingatannya bagus terhadap kejadian-kejadian yang kecil tapi tidak dapat mengingat kejadian-kejadian yang penting.

12.   Alasan yang dibuat-buat dan bersumpah.

13.   Menyarankan untuk minta testimoni orang dekat disekitarnya untuk mengecek kebenaran pernyataan kepada istri, teman atau yang lain.

 

Orang yang jujur akan mudah menjawab dengan singkat dan jelas, “Ya”, atau “Tidak”. Namun orang yang suka berbohong akan berbelit-belit dalam menjawab, menjauhi pokok permasalahan. Bahkan berusaha menutupi hal yang ditanyakan dengan cerita tentang kesibukannya mengurus orang tua yang sedang dirawat untuk mengambil empati atau harus segera pergi menjemput anak atau hal lainnya, dengan maksud agar diloloskan. Seorang pembohong akan menghindari penggunaan kata-kata yang menyinggung perbuatannya, seperti: mencuri, berbohong, dan tindakan kriminal lainnya. Biasanya akan menghindari kata-kata yang berkaitan dengan tindakannya dan sebaliknya akan menggunakan kata yang lebih halus atau tidak berkaitan. Orang jujur atau tidak jujur biasanya enggan memberikan nama-nama pihak yang terlibat dalam perbuatannya, namun orang yang tidak jujur cenderung tetap dengan pendiriannya untuk tidak membongkar satu namapun karena takut rahasianya terbongkar. Biasanya akan bersikap toleran missal ketika ditanyakan apa konsekuensi hukuman atas suatu kesalahan, orang jujur kemungkinan menjawab ekstrim agar dilaksanakan sesuai dengan aturan dan sesuai ancaman sanksi atas perbuatan, namun orang yang berbohong akan memikirkan bagaimana peluangnya mendapatkan pengampunan atau kesempatan kedua tidak akan mengulangi lagi perbuatan.

Dalam menjawab pertanyaan yang sensitif seorang pembohong akan mengubah postur tubuhnya, reaksi yang tidak disadari ketika takut rahasia terbongkar misal: detak jantung menjadi lebih cepat, menelan ludah atau napas terengah-engah, bisa juga menutupi mulut dengan tangan. Mengamati reaksi seseorang ketika melihat dokumen bukti yang disodorkan, pembohong bisa saja mengamati dengan santai, namun segera dikembalikan atau memberikan senyuman palsu (Well, Joseph T. Principles of Fraud Examination 4th Edition).

Menurut DR. David Craig dalam bukunya ada model 5 (lima) Deteksi Kebohongan MAGIC yaitu:

1.  Motivation; apakah seseorang punya motivasi untuk berbohong.

2.  Ask control question; ajukan pertanyaan-pertanyaan pengendali dan amati perilaku serta pola bicara normal.

3.  Guilt questions; ajukan pertanyaan untuk memancing rasa bersalah dengan kalimat terbuka agar bisa berkata jujur atau berbohong.

4.  Indicators; apakah ada tanda-tanda kebohongan pada rangkaian petunjuk, cari hal-hal yang tidak sinkron dalam pola perilaku atau bicara, rangkaian tanda kebohongan dalam jarak yang rapat dalam menjawab pertanyaan rasa bersalah.

5.  Check again, lakukan pengecekan kembali dengan mengajukan pertanyaan kendali dan pertanyaan rasa bersalah, jika rangkaian petunjuk timbul berarti orang tersebut sedang berbohong.

Semua fraud/kecurangan dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor sering disebut sebagai segitiga fraud, yakni:

1.  adanya tekanan;

2.  adanya kesempatan; dan

3.  rasionalisasi.

Ketiga hal tersebut berperan penting, ketika seseorang memiliki tekanan dan kesempatan yang tinggi namun jika dirinya memiliki nilai-nilai kejujuran dan etika yang tinggi maka tidak akan melakukan fraud. Jika seseorang memiliki tekanan dan rasionalisasi tinggi namun kesempatan nya sangat kecil, maka tidak akan dapat menjalankan kejahatannya. Manusia akan dipengaruhi tekanan yang dialaminya dan tingkat etika yang dimiliki. Dalam kasus financial crime di perusahaan atau perkantoran, ada celah-celah akuntansi yang dapat dimanfaatkan seperti: adanya perbedaan waktu yang dapat dimanfaatkan, membuat penjualan fiktif, menghilangkan utang atau beban, melakukan pengungkapan secara tidak tepat dan melakukan penilaian aset yang tidak tepat.

Faktor tekanan dapat disebabkan berbagai hal seperti: desakan ekonomi, kondisi keuangan memburuk, tuntutan gaya hidup yang tinggi, kebiasaan buruk seperti: berjudi, pecandu alkohol atau ekstacy, tekanan pekerjaan atau sebab-sebab lainnya (Albretch, 2012). Selain tekanan, tingkat rasionalisasi diri juga akan mempengaruhi keputusan manusia untuk melakukan fraud atau tidak. Seseorang yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang baik, memiliki keteguhan hati untuk selalu jujur, dan etika yang tinggi tidak akan membiarkan dirinya melakukan hal-hal yang tidak etis, dan tidak akan mentolerir seseorang untuk melakukan kejahatan.

Dengan demikian pemikiran manusia dapat dipengaruhi oleh pengaruh dari dalam dirinya sendiri atau dari lingkungan sekitarnya. Kesempatan fraud dapat sangat beragam wujudnya. Mulai dari kesempatan yang muncul karena dirinya memiliki jabatan, karena kontrol internal di lingkungan kurang memadai, hingga adanya cara-cara yang memungkinkan untuknya melaku-kan fraud. Jadi secara umum, kesuksesan dalam mendeteksi kebohongan hanya dapat diperoleh dari pengalaman menangani kasus dalam mengungkap suatu perkara, dengan mengkombinasikan seluruh sumber daya yang ada pada diri kita.

Selasa, 03 November 2020

4 (EMPAT) GOLONGAN MANUSIA YANG TIDAK TERSENTUH API NERAKA

Ketika di hari pembalasan kelak sejumlah golongan manusia akan dikumpulkan dan dipertimbangkan keburukan dan amal kebaikan dirinya ketika masih hidup.

Namun ternyata rupanya ada golongan orang yang tidak akan disentuh api neraka. Mereka disebut akan selamat dari siksaan api neraka.

Tahukah kamu wahai saudaraku yang mudah-mudahan senantiasa diberkahi oleh Allah ta’ala Bahwa Si Hayyin, Si Layyin, Si Qaribin, dan Si Sahlin itu tidak Bisa disentuh oleh Api Neraka Ini penjelasanya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟, قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ, قَالَ: ” كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ قَرِيبٍ سَهْلٍ

انظر صَحِيح الْجَامِع: 3135 , صَحِيح التَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيب: 1747

Dari Abdillah bin Mas’ud radhiyallahu anhu ia berkata: telah bersabda rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

Maukah kamu aku tunjukkan orang yang diharamkan neraka baginya? Para sahabat menjawab: tentu saja wahai Rasulallah! Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab: “(Haram tersentuh api neraka orang yang) Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl“.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan at Tirmidzi dan Ibu Hibban serta dishahihkan oleh Al Albani, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyebutkan 4 golongan orang yang haram tersentuh api neraka. Mereka adalah golongan orang yang Hayyin, Layyin, Qarib dan Sahl.

Hadits tersebut di atas diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada para sahabat, “Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram baginya tersentuh api neraka?’

Para sahabat kemudian menjawab, “Mau, wahai Rasulullah!”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “(Haram tersentuh api neraka orang yang) Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl.”

1. Hayyin

Hayyin adalah golongan orang-orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin. Mereka tidak mudah marah, tidak mudah memaki melaknat dan menghina. Mereka memiliki jiwa yang teduh dan menenangkan orang-orang di sekitarnya.

Beginilah seharusnya seorang muslim, ia dapat menahan amarahnya, menghindari perdebatan, bahkan mengalah meskipun ia benar.

Seorang muslim yang berat untuk menyakiti orang lain dan senantiasa menjaga lisannya, sebab ia tahu bahwa kebanyakkan dosa dihasilkan dari anggota tubuh bernama, mulut.

2. Layyin

Layyin adalah sebutan bagi orang-orang yang senantiasa menginginkan kebaikan untuk sesama manusia. Mereka memiliki sifat yang lembut dan santun, baik dalam bertutur kata dan bersikap.

Tidak kasar, tidak mengikuti hawa nafsu sendiri. Lemah lembut kepada setiap orang.

Terkadang nafsu dan ego kita yang selalu ingin menang sendiri dan hanya memikirkan kepentingan pribadi justru menyebabkan keburukan bagi diri kita.

Dalam hidup, kita harus senantiasa bersosialisasi dengan baik, memikirkan kepentingan bersama serta menghindari perseteruan.

3. Qarib

Golongan manusia yang haram tersentuh api neraka ini adalah orang-orang yang menyenangkan saat diajak berbicara, bersikap ramah tamah kepada siapa saja.

Wajahnya teduh karena senantiasa tersenyum saat bertemu orang. Kehadirannya akan membuat suasana menjadi sangat nyaman dan tenang.

Menjadi orang yang selalu disenangi orang-orang sekitar merupakan impian kita. Senantiasa menyebarkan kebahagiaan kepada semua orang, dan membawa ketenangan yang dapat membantu orang lain untuk merasa lebih baik dalam keseharian.

Kamu mau menjadi orang tersebut? Mari senantiasa bersikap baik dan menebarkan kebaikan, Moslem Fellas.

4. Sahl

Sahl adalah sebutan bagi mereka yang tidak pernah mempersulit ataupun mempermudah segala sesuatu. Mereka selalu ada cara untuk menyelesaikan setiap permasalahan secara baik-baik dan kepala dingin.

Islam mengenal istilah bermusyawarah dalam mengambil setiap keputusan, jalan yang baik untuk menentukan sebuah pilihan terpilih.

Menjadi seseorang yang mampu berpikir jernih meski dalam waktu genting merupakan sosok yang patut dihormati dan ditiru.

Menjadi manusia yang sederhana dan menjalani hidup sebaik mungkin tanpa memberat urusan dan tidak juga memudahkan/meremehkan hal apapun.