PENGERTIAN KEBENARAN
Kebenaran adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Pernyatan ini pasti, dan tidak dapat dipungkiri lagi. Kita manusia selalu ingin tahu kebenaran, karena hanya kebenaranlah yang bisa memuaskan rasa ingin tahu kita, dengan kata lain tujuan pengetahuan ialah mengetahui kebenaran.
Tujuan ilmu juga mencapai kebenaran, dengan kata lain, dalam ilmu kita manusia ingin memperoleh pengetahuann yang benar, karena ilmu merupakan pengetahuan yang sistematis, maka pengetahuan yang dituju ilmu adalah pengetahuan ilmiah.
Kita manusia bukan hanya sekedar ingin tahu, tetapi ingin mengetahu kebenaran. Kita juga selalu ingin memiliki pengetahuan yang benar. Kebenaran ialah persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya.
Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya.
JENIS-JENIS KEBENARAN
1. Kebenaran Individual
Kebenaran Individual ini merupakan kebenaran yang di ikuti manusia berdasarkan pendapat sendiri.
2. Kebenaran Objektif
Kebenaran Objektif merupakan kebenaran yang biasanya bersumber dari ajaran leluhur yang diwariskan secara turun temurun dan sudah mendarah daging dalam masyarakat.
3. Kebenaran Hakiki
Kebenaran yang sifatnya mutlak, pasti dan tidak akan pernah mengalami perubahan, tentunya kebenaran ini bukan dari manusia, tetapi kebanaran inidatangnya dari Sang Pencipta sebab itu jangan sekali-kali kita meragukannya.
UPAYA MEMPEROLEH KEBENARAN
1. Pendekatan Empiris
Manusia mempunyai seperangkat indera yang berfungsi sebagai penghubung dirinya dengan dunia nyata, dengan inderanya manusia mampu mengenal berbagai hal yang ada di sekitarnya. Kenyataan seperti ini menyebabkan timbulnya anggapan bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui penginderaan atau pengalaman.
Bagi yang mempercayai bahwa penginderaan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh kebenaran disebut sebagai kaum empiris. Bagi golongan ini, pengetahuan itu bukan didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun melalui pengalaman yang konkrit.
2. Pendekatan Rasional
Cara lain untuk mendapatkan kebenaran adalah dengan mengandalkan rasio, upaya ini sering disebut sebagai pendekatan rasional. Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir, sehingga dengan kemampuannya tersebut manusia dapat menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu, yang pada akhirnya sampai pada kebenaran, yaitu kebenaran rasional.
3. Pendekatan Intuitif
Pendekatan ini merupakan pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses penalaran tertentu. Misalkan Seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara tiba-tiba menemukan jalan pemecahan dari masalah yg dihadapi.
4. Pendekatan Religius
Kita sebagai makhluk Tuhan yang diberi akal pikiran harus menyadari bahwa alam semesta beserta isinya ini diciptakan dan dikendalikan oleh kekuatan Tuhan. Upaya untuk memperoleh kebenaran dengan jalan seperti ini disebut sebagai pendekatan religius.
5. Pendekatan Otoritas
Yang dimaksud dengan pendekatan otoritas ini adalah seseorang yang memiliki kelebihan tertentu disbanding orang lain. Kelebihan-kelebihan tersebut bisa berupa kekuasaan, kemampuan intelektual, keterampilan, pengalaman, dan sebagainya. Yang memiliki kelebihan-kelebihan seperti itu disegani, ditakuti, ataupun dijadikan figur panutan. Apa yang mereka nyatakan akan diterima sebagai suatu kebenaran.
Jumat, 19 April 2019
Kamis, 18 April 2019
Kisah Perang Uhud Yang Menggetarkan Jiwa
Kisah Perang Uhud Yang Menggetarkan Jiwa
Terjadinya perang uhud ini berawal dari rasa kekecewaan dan rasa dendam kafir quraisy kepada muslimin.
Rasa dendam setelah kekalahan mereka dalam perang badar atau perang ahzab. Dalam segi jumlah dan kekuatan mereka kafir quraisy lebih banyak dan kuat.
Seharuslah merekalah yang berhak megundapatkan kemenangan, namun Allah menghendaki kemenangan diatas tangan muslimin. Berkat pertolongan bala tentara Allah dari kalangan malaikat, kafir quraisy lari tunggang langgang.
Lebih menyakitkan lagi banyak tokoh tokoh mereka banyak yang gugur dalam perang tersebut.
Waktu Dan kejadian Perang Uhud
Perang uhud terjadi pada tanggal 22 Maret 625 M (7 Syawal 3 H). Peperangan ini terjadi kurang lebih satu tahun setelah berkecamuknya perang badar. Para ahli sejarah berselisih akan hari terjadinya.
Menurut kebanyakan pakar sejarah mengatakan perang uhud terjadi pada hari sabtu.
Adapun tempatnya perang uhud berkecamuk di bukit uhud. Sebuah bukit yang berada pada ketinggian 128 meter.
Bukit ini berada disebalah utara Madinah dengan jarak 5,5 kilo meter dari Masjid Nabawi.
Sebab Terjadinya Perang Uhud
Kekalahan di perang badar membuat mereka hancur berkeping-keping. Banyak korban dari kalangan para tokoh berjatuhan, bahkan sebagian mereka menjadi tawanan muslimin.
Banyak yang lari tunggang langgang dan akhirnya bisa sampai ke rumah dengan kepedihan dan kekecewaan yang mendalam.
Dengan sesampainya Abu Sufyan beserta kafilah dagang tiba di Makkah, maka mereka kafir Quraisy mengadu kepadanya agar diadakan penyerangan balik. Salah satu keluarga yang gugur di perang badar pun menyeru kepada Abu Sufyan dan kafilah dagang lainnya.
“Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah membinasakan kalian serta membunuh orang – orang terbaik kalian. Maka dari itu, bantulah kami dengan harta kalian itu untuk memeranginya. Mudah-mudahan kami dapat membalas dendam atas kematian orang – orang kita!”
Selain karena balas dendam, Perang Uhud ini bertujuan agar mereka kafir Quraisy bisa kembali membuka jalur perdagangan. Yaitu jalur perdagangan menuju Syam yang harus melewati kota Madinah.
Menyambut Musuh Diluar Kota
Setelah mendengar akan kabar bahwa kafir Quraisy akan menyerang Madinah yang dikomandani oleh Abu Sufyan, maka Rosulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam mengadakan musyawarah bersama para sahabat.
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam bermusyawarah untuk mengambil tindakan penyerangan kafir Quraisy.
Apakah bertahan di Madinah dan menunggu kedatangan mereka atau menyongsong Kafir Quraisy dari luar kota Madinah. Perdebatan pun terjadi dikalangan para sahabat.
Para pemuda anshor berpendapat agar menyongsong mereka dari luar kota Madinah. Akhirnya keputusan pun berakhir yaitu dengan menyongsong mereka diluar Madinah.
Padahal waktu itu Rosulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam lebih condong untuk menunggu mereka dan menyerang dari dalam kota Madinah.
Para sahabat pun saling menyalahkan kenapa tidak mengikuti pendapat Rosulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Akhirnya para sahabat meminta Hamzah agar disampaikan kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
Ketika Hamzah menyampaikan kepada Rosulullah, maka beliau menjawab ‘Sesungguhnya jika seorang nabi sudah mengenakan peralatan perangnya, maka dia tidak akan menanggalkannya hingga terjadi peperangan.
Akhirnya keputusan awal tetap dilaksanakan, yaitu menghadang mereka diluar kota Madinah.
Sebelum keberangkatan para mujahidin ke medan tempur, Rosulullah mengamanahkan kota Madinah kepada sahabat Ibnu Ummi Maktum.
Jumlah Pasukan Perang Uhud Kafir Quraisy
Sudah jauh-jauh hari kafir Quraisy menyiapakan pasukan bela tentaranya. Pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan membawa banyak akan harta barang dagangan yang selamat dari serangan muslimin.
Selanjutnya barang dagangan dan keuntungan tersebut untuk bekal pasukan Quraisy dalam perang Uhud.
Demi balas dendam mereka dalam perang badar, Abu Sufyan mengirim bala tentara sejumlah tiga ribu orang. Pasukan yang terdiri dari qoum Quraisy sendiri dan beberapa suku yang pro dengan mereka.
Suku-suku yang loyal kepada Qoum Quraisy seperti Bani Kinanah dan penduduk Tuhamah. Bahkan mereka pun mengirim dua ratus pasukan kuda dan tujuh ratus pasukan bertameng.
Mereka pun juga sudah mengatur strategi untik perang uhud ini. Mereka mengangkat Khâlid bin al-Walîd sebagai komandan sayap kanan, sementara sayap kiri di bawah komando Ikrimah bin Abu Jahl.
Tak lupa juga, mereka juga mengajak beberapa orang wanita untuk membangkitkan semangat pasukan Quraisy dan menjaga mereka supaya tidak melarikan diri. Sebab jika ada yang melarikan diri, dia akan dicela oleh para wanita ini.
Pasukan Perang Uhud Muslimin
Jumlah pasukan muslimin dalam perang uhud ini bisa dikatakan sedikit, karena tak sebanding dengan jumlah kafir Quraisy. Pada waktu itu jumlah total pasukan muslimin cuman seribu orang dengan perlengkapan seratus baju besi dan lima puluh ekor kuda.
Bahkan ditengah perjalan menuju bukit Uhud sebagian kaum muslimin terhasut oleh perkataan Ubay Bin Salul sang tokoh munafiq.
Akhirnya pasukan muslimin yang setia bersama nabi tinggal tujuh ratus orang saja.
Strategi Rosulullah Di perang Uhud
Pertempuran yang dipimpin oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam ini terjadi diluar madinah. Yaitu tepatnya disekitar bukit uhud.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam mengatur posisi pasukan dengan membelakangi Uhud dan menghadap Madinah, sehingga pasukan musuh berada di tengah kaum muslimin dan Madinah.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam menerapakan strategi bertahan, karena jumlah pasukan kaum muslimin yang sedikit.
Tidak hanya karena jumlah pasukannya yang lebih sedikit dari kaum Quraisy, tetapi terlebih karena pasukan muslimin baru saja mengalami ‘hantaman psikologis’ karena Abdullah bin Ubay bersama 300 pengikutnya tiba-tiba mundur (desersi), kembali ke Madinah, setelah melihat pasukan Quraisy yang berkekuatan 3.000 orang.
Sisa 700 pasukan muslimin yang sempat terguncang akhirnya kembali tegar dan semangat berjuang karena Allah dan rosulNya.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam juga memilih pasukan khusus yang berjumlah lima puluh orang. Meraka adalah pasukan pemanah jitu yang sudah berbakat.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam menempatkan mereka diatas bukit, tepatnya di Jabal Rumat/Jabal Ainain. Jarak pasukan panah dengan kaum muslimin yang dibawah bukit sekitar seratus lima puluh meter.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam memilih Abdullah bin Jubair sebagai komando pasukan panah. Beliau juga mewanti-wanti agar tetap fokus diatas bukit dan jangan sekali-kali turun bukit tanpa ada perintah dari beliau.
Beliau bersabda: “Lindungilah punggung kami. Jika kalian melihat kami sedang beretempur, maka kalian tidak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami telah mengumpulkan harta rampasan, maka janganlah kalian turun bergabung bersama kami.
Dalam riwayat Bukhari juga disebutkan.
Beliau bersabda: ”Jika kalian melihat kami disambar burung sekalipun, maka janganlan kalian meninggalkan tempat itu, kecuali ada utusan yang datang kepada kalian. Jika kalian melihat kami dapat mengalahkan mereka, maka janganlah kalian meninggalkan tempat, hingga ada utusan yang datang kepada kalian.”
Sepuluh Pemanah Syahid Di Bukit Uhud
Mungkin kisah perang uhud ini cukup jadi pembelajaran bagi kita semua.
Ketika Allah dan rosulNya memerintahkan sesuatu maka wajib untuk mentaatinya.
Sebelumya Rosulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam sudah berulang kali mewanti-wanti agar pasukan panah tidak turun kecuali atas perintah beliau. Dari sini seakan-akan Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam sudah tahu apa yang akan terjadi kedepanya nanti.
Ketika pertempuran hampir usai dan kemenangan hampir di tangan muslimin, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam tetap saja memerintahkan agar pasukan bersiaga di tempatnya masing-masing.
Namun karena tergiur dengan harta dunia yang fana, beberapa pasukan pemanah yang berada diatas bukit berteriak-teriak ” Harta ghonimah, harta ghonimah !!! Wahai para sahabat, kita sudah menang, ayok kita semua turun.
Sang komandan Abdullah bin Jubair pun meneriaki para pasukan pemanah yang turun kebawah karena tergiur dengan gelimpang harta dunia. “Apakah kalian sudah lupa apa yang diamanahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam kepada kita?!!
Memang sekilas tampak sudah menang, tetapi ini masalah amanah, dan ketaatan kepada baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam.
Tetapi mayoritas dari mereka tidak mengabaikan peringatan itu. Tampaknya perasaan cinta duniawiah (hubbud dunya) masih ada di hati mereka. Mereka berkata, “Demi Allah, kami benar-benar akan bergabung dengan mereka (pasukan inti) agar kami mendapatkan bagian dari rampasan perang ini…!”
Empat puluh pemanah segera beranjak pergi meninggalkan bukit. Ibnu Jubair dengan sembilan temannya yang tersisa berusaha keras menahannya.
Tetapi tetap saja mereka pergi, sehingga hanya tinggal mereka saja yang bertahan. Situasi dan kondisi seperti ini yaitu turunya para pasukan pemanah ternyata menjadi pengamatan Khalid bin Walid.
Ia memerintahkan pasukan berkudanya kembali ke arah Uhud, mengambil jalan memutar hingga langsung berhadapan dengan pasukan panah Ibnu Jubair, yang tentu saja tidak mampu menahan laju serangan seperti sebelumnya. Satu persatu mereka terkapar bersimbah darah menemui syahidnya, demi mematuhi perintah Rasulullah SAW untuk tetap bertahan di atas bukit, apapun yang terjadi.
Kemudian Khalid bin Walid menyerang pasukan muslimin dari arah belakang hingga mereka porak poranda. Pergerakan ini ternyata diikuti oleh pasukan Quraisy lainnya, yang segera kembali ke arena pertempuran dan memborbardir kaum muslimin dengan serangan dari segala arah.
Amrah binti Alqamah al Haritsiyah seorang wanita Quraisy segera mengambil panji pertempuran dan mengibarkannya sehingga semangat mereka kembali menyala. Kemenangan kaum muslimin yang tinggal sedikit saja diraih, berbalik menjadi kekalahan hanya karena ketidak-disiplinan dan ketidak patuhan 40 orang pemanah di bukit terhadap perintah Rasulullah SAW.
Gugurnya Sang Singanya Allah
Julukan Asadullah yang berarti singanya Allah diberikan kepada pamanya rosulullah yaitu Hamzah Bin Abdul Muthollib.
Beliau berperang seakan-akan singa kelaparan yang memburu mangsanya. Semangat dan keberanian Hamzah sangat ditakuti oleh kafir Quraisy.
Qodarullah, akhirnya beliau sang ksatria yang gagah berani akhirnya syahid di perang uhud. Disaat perang berkecamuk beliau memporak porandakan pasukan kafir, ada seorang budak bernama Wahsy bin Harb yang selalu mengintai gerak gerik Hamzah.
Wahsy bin Harb adalah budak hitam Jubair bin Muthi’im dari Habsyah. Budak itu sangat pandai dalam melempar tombak.
Hampir setiap lemparan yang ia lemparkan pasti mengenani sasaran.
Merupakan syarat dimerdekakannya dia dari perbudakan yaitu dengan membunuh Hamzah bin Abdul Mutholib.
Wahsy bin Harb pun mengiyani tawaran majikanya, yaitu membunuh Hamzah. Jubair bin Muthi’im menyuruh membunuh karena sebagai balas dendam atas kematian pamanya di perang badar.
Dengan bersembunyi-sembunyi dan fokus menepatkan sasaran tombak kearah Hamzah, Wahsyi akhirnya bisa berhasil membunuhnya. Tepat dibagian perut bawah hingga tembus keluar dari selangkangan.
Allahu Akbar maka gugurlah Hamzah bin Abdul Mutholib sebagai syahid di perang uhud. Semoga Allah menempatkan beliau bersama kafilah syuhada’.
Penutup
Dari kisah perang uhud yang sudah kita bahas tadi banyak pelajaran yang bisa dipetik.
Diantaranya adalah
wajibnya kita mentaati perintah seorang pemimpin muslimin. Selagi perintah itu baik dan tidak melanggar syari’at islam. Dunia itu sifatnya fana, kenikmatan dunia hanya sesaat saja. Jangan sampai kita tertipu dengan kegemerlapan materi dunia sehingga lupa akan akhirot.
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Wallahu a’lam bishowaab.
Senin, 25 Maret 2019
ANATOMI AL QUR'AN
ANATOMI AL-QUR’AN
Oleh: Julianda Boangmanalu
Meminjam istilah ilmu kedokteran, Al-Qur’an bisa dibedah layaknya sebuah anatomi untuk melihat dan berusaha memahami isi kandungannya. Terutama yang berkaitan dengan penciptaam alam semesta dan makhluk di dalamnya, termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
Setiap muslim disyariatkan untuk selalu membaca, mempelajari, dan memahami isi kandungan Al-Qur’an, tanpa memandang latar belakang seorang muslim itu sendiri. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan hal ini, seperti Surah Al Ankabut (surah ke-29) ayat 45 (selanjutnya, penyebutan surat Al-Qur’an dituliskan hanya nomor surat dan nomor ayat, seperti: QS.29:45). Dalam surat tersebut berbunyi yang artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an)….”
Ayat lain dengan makna perintah memahami Al-Qur’an, yaitu: QS.2:121, QS.3:101 dan 113, QS.4:20 dan 82, QS.7:204, QS.8:2 dan 31, QS.12:111, QS.16:98, QS.17:45,46, dan 107, QS.18:27, QS.19:58 dan 73, QS.20:123, QS.22:72, QS.25:73, QS.27:91-92, QS.31:7, QS.35:29, QS.37:3 dan 73, QS.47:24, QS.82:21, dan QS.96:1 dan 3.
Baik muslim maupun non-muslim sepakat bahwa Al-Qur’an adalah literatur berbahasa Arab bernilai tinggi. Al-Qur’an juga telah menduduki posisi sebagai sastra Arab terbaik di muka bumi. Al-Qur’an diyakini oleh seluruh umat Islam sebagai kitab suci yang harus dipegang teguh. Kebenarannya berlaku sepanjang zaman, dan didalamnya terdapat aturan serta petunjuk yang berasal dari Allah swt.
Al-Qur’an juga diyakini dan diakui oleh umat Islam sebagai satu-satunya Kitab Suci yang belum dan tidak akan pernah mengalami perubahan sejak diturunkan. Al-Qur’an adalah inti sari dari semua pengetahuan. Tetapi, pengetahuan ini terkandung di dalam Al-Qur’an sebagai benih dan prinsip. Al-Qur’an memuat prinsip dari segala pengetahuan, termasuk kosmologi dan pengetahuan tentang alam semesta.
Al-Qur’an bukan hanya sumber pengetahuan metafisis dan religius, melainkan juga sumber dari segala pengetahuan. Al-Qur’an menerangkan seluruh kehidupan dialam semesta, termasuk penciptaan manusia mulai didalam kandungan, lahir, masa perkembangannya sampai pada kematiannya termasuk etika dan tingkah laku baik dalam hubungannya kepada sesama manusia dan hubungannya dengan Allah swt sang pencipta.
Dunia Islam yang diterangi oleh cahaya Al-Qur’an pernah mencapai masa keemasan di bidang sains, tekhnologi, dan filsafat tepatnya dibawah Dinasti Abbasyiah yang berkuasa sekitar abad ke-8 sampai ke-15.
Perkembangan tersebut melahirkan berbagai bidang ilmu dan munculnya ratusan bahkan ribuan sarjana-sarjana Muslim, seperti al-Kindī (801-873 M), al-Farabī (870-950 M), al-Rāzī (864930 M atau 251-313 H), Ibn Tufail (1105-1185 M), Ibn Bajjah (1085-1138 M), dan sejumlah pakar pada bidangknya masing-masing, seperti Ibn Rushd (11261198 M), Ibn al-Haytham (965-1040 M atau 354-430 H), dan Jabir ibn Hayyan (721-815 M) serta pakar etika muslim, Ibn Maskawaih (932-1030 M atau 330 - 421 H).
Dewasa ini, sains dalam dunia Islam mengalami kemunduran dan sains saat ini identik dengan barat. Dalam ilmu pengetahuan dan sains saat ini lebih didominasi oleh barat yang betul-betul menggeluti dan mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kejayaan umat Islam sekarang tinggal kenangan karena negeri-negeri muslim umumnya masih terbelakang dan miskin.
Selain itu, menurut Agus Purwanto, Fisikawan Teoretik, Pencinta dan Pengkaji Al-Qur’an, kondisi saat ini, umat dan ulama banyak menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, dan dana untuk membahas persoalan fiqih, dan sering berseteru serta bertengkar karenanya.
Mereka lalai atas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan, dan kelap-kelipnya bintang. Mereka abaikan gerak awan di langit, kilat yang menyambar, listrik yang membakar, malam yang gelap gulita, dan mutiara yang gemerlap. Mereka juga tak tertarik pada aneka tumbuhan disekitarnya, binatang ternak maupun binatang buas yang bertebaran di muka bumi, dan aneka fenomena serta keajaiban alam lainnya.
Seiring dengan itu, menurut Syaikh Jauhari Thanthawi, guru besar Universitas Kairo, dalam tafsirnya Al-Jawair, sebagaimana dikutip oleh Purwanto, Syaikh Thanthawi menulis bahwa di dalam Kitab Suci Al-Qur’an terdapat lebih dari 750 ayat kauniyah, ayat tentang alam semesta, dan hanya sekitar 150 ayat fiqih.
Anehnya, para ulama telah menulis ribuan kitab fiqih, tetapi nyaris tidak memerhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya. Pada prinsipnya, semua ciptaan Allah yang dipahami sebagai ayat-ayat Allah, menurut Al-Qur’an menjadi objek ilmu.
Maka Allah menciptakan langit dan Bumi dan apa yang ada diantara keduanya (sebagai ayat-ayat-Nya) dengan hak (QS.46:3). Allah swt akan menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang terlihat di cakrawala (al-afaq) dan dalam diri manusia sendiri (fi anfusihim) (QS.41:53) sebagai objek Ilmu atau perenungan manusia.
Kita juga dihimbau untuk memperhatikan langit, bagaimana ia tinggikan (QS.88:17), diciptakan dan ditinggikan tanpa tiang (QS.31-10 dan QS. 13:2).
Banyak ayat dalam Al-Qur’an, Allah mengajak manusia untuk berfikir dan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya mengenai fenomena alam dan diri sendiri (QS.41:53), tanda-tanda keagungan Allah hanya bagi orang yang berfikir (QS.39:42).
Al-Qur’an mengkisahkan bagaimana penciptaan alam semesta terjadi, dimana pada awalnya seluruh alam semesta berbentuk satu massa yang besar (Nebula Primer) yang kemudian terjadi “Big Bang” (Ledakan Pemisah Skunder) yang mengakibatkan pembentukan galaksi. Kemudian, terbentuk dan terbagi dalam bentuk bintang, planet, matahari, bulan, dan lain sebagainya (QS.21:3), bagi para ahli astrofisika dikenal dengan Teori Big Bang. Al-Qur’an menerangkan bahwa sebelum pembentukan galaksi, pada awalnya berbentuk gas/asap (QS.41:11), bumi bulat seperti telur burung unta (geo-spherical) (QS.31:29, QS.39:5, QS.79:30). Cahaya rembulan adalah pantulan sinar matahari (QS.25:61, QS.71:15-16), matahari berputar pada sumbunya (QS.21:33).
Tentang bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi ditegakkan, bumi dihamparkan (QS. 88:17-20), dan bagaimana manusia diciptakan (QS. 51:21). Al-Qur’an sudah menerangkan tentang perumpamaan dunia (QS. 10:24), tentang fenommena alam (QS.2:164 dan QS.13:3), hujan dan tanaman (QS.16:11), fenoma lebah (QS.16:69), fenomena tidur (QS.39:42), alam ditundukkan bagi manusia (QS.16:12 dan QS.45:13), orbit matahari dan bulan (QS.10:15), buah beraneka rasa (QS.13:4), buah kurma dan anggur (QS.16:67), tentang kilat dan hujan (QS.30:24).
Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan (QS.51:49 dan QS.36:36), bukan cuma manusia dan hewan saja yang berpasang-pasangan, buah-buahan juga berpasang-pasangan (QS.13:3). Al-Qur’an menganjurkan kita untuk menggunakan akal kita untuk mengamati, berfikir dan merenungi (QS. 24:61).
Beberapa gaya Al-Qur’an untuk mengajak kita mengamati, memikirkan dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah swt adalah dengan pertanyaan retoris: afala ta’qilun (tidakkah kamu menggunakan akal) (QS.2:44 dan QS.12:109), afala ya’qilun (tidakkah kamu menggunakan akal) (QS.36:68), afala tatafakkarun (tidakkah kamu berfikir) (QS.6:50), awalam yanzhuru (tidakkah kamu perhatikan) (QS.7:185), afalam yanzhuru (tidakkah kamu perhatikan) (QS.50:6), hal yanzhuruna (tidakkah kamu amati) (QS.2:250, QS.6:158, dan QS.16:33), afala yanzhuruna (tidakkah kamu cermati) (QS.88:17).
Disyariatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab terdahulu. Syari'at bagi setiap umat berbeda-beda sesuai kondisi zaman dan keadaan pada waktu itu, dan semua syari'at itu merujuk kepada keadilan yang memang layak diterapkan pada zaman itu (QS.5:48). Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia dan tidak ada keraguan baginya (QS.2:2).
Bahkan Al-Qur’an menantang manusia yang masih meragukannya, untuk membuat surah yang paling tidak mirip dengan keindahan, kefasihan, kedalaman makna dengan surah-surah yang ada di dalam Al-Qur’an (QS.2:23-24).
Tapi, ternyata tantangan itu sampai detik ini tidak pernah terpenuhi karena tidak ada manusia yang mampu menandinginya. Dalam Al-Qur’an diatur mengenai seluk beluk penciptaan manusia, dari sebelum lahir sampai wafat. Sebelum terlahir (QS.96:1-2, QS.86:5-7, QS.32:8, QS.76:2, QS.53:45-46, QS.75:37-39), diterangkan bagaimana manusia dalam kandungan supaya nyaman (janin yang terlindungi) (QS.39:6 dan QS.23:12-14), tentram dan terlahir sebagai anak yang saleh (QS.7:189).
Ketika sudah lahir, diterangkan bagaimana memohon agar Air Susu Ibu (ASI) dilancarkan, diatur mengenai pembagian tugas ibu dan ayah agar berjalan dengan baik, diatur tentang ibu menyusui hingga dua tahun, ayahnya kemudian menyiapkan perlengkapan-perlengkapannya (QS.2:233).
Dari usia dua tahun sampai menjelang baligh mulai belajar, pendidikan pertama apa yang diberikan supaya dekat dengan Allah taat kepada kedua orang tuanya, baik akhlaknya dan gemar ibadahnya ada di (QS.31:13-31).
Pada saat mulai belajar, supaya cepat memahami pelajarannya, apa yang harus dia berikan dan dia lakukan ada dalam (QS.9:122). Diatur bagaimana menghadiri majelis yang meningkatkan iman dan taqwanya, bukan sekedar tambah ilmunya tapi imannya menguat (QS.58:11).
Kemudian tata cara pergaulan, mencari teman yang baik dan bagaimana meningkatkan taqwa (QS.49:13). Sampai ia temukan pasangannya dan mulai muncul sifat cintanya, cara melamar terbaik, cari mahar terbaik (QS.4:4).
Terjadi pernikahan (QS.30:21), membagi tugas dalam rumah tangga (QS.4:34). Laki-laki mulai mencari nafkah (QS.2:168), agar rizkinya cepat mendatangi anda (QS.2:172). Agar dibukakan pintu keberkahan langit dan bumi (QS.7:96).
Tantangan dalam hidup, ada yang iri, dengki, ingin menyingkirkan, laksanakan amalan bangun malam lalu shalat dan mohon kebaikan kepada Allah (QS.17:79-81). Istri yang merawat anak-anak tentu tidak mudah tidak segampang laki-laki yang bekerja di luar rumah, kadang ada anak yang sulit diatur, maka merawatnya sesuai dengan (QS.17:23-27).
Bila sakit, Allah akan menyembuhkannya (QS.26:80). Bagi yang mengalami sakit kronis dan mustahil ada obatnya, seperti yang dialami Nabi Ayub, Allah berjanji akan menyembuhkannya (QS.21:83-84).
Bagi yang mengalami kesulitan bagai dalam kegelapan, lakukan amalan seperti Nabi Yunus, maka akan dibebaskan dari kegelapan (QS.21:87-88).
Bagi rumah tangga yang tidak punya keturunan tidak usah mengeluh karena ada yang lebih lama tidak punya keturunan seperti Nabi Zakaria sampai tua dan akhirnya doanya dikabulkan dan mempunyai anak (QS.19:2-15), berdoa agar mendapat keturunan yang baik (QS.3:38-39).
Tentang belajar bersabar dan mengatasi masalah (QS.2:214), cara mengatasinya (QS.3:142), apa jenis masalahnya (QS.2:155), bila mengalami musibah dan cara mengatasinya (QS.2:156-157).
Ketika sudah sukses dan cara mensyukurinya (QS.14:7) Tentang cara berbakti kepada orang tua (QS.46:15), ketika sudah tua renta dan pikun (QS.22:5), ketika berada diujung fase kehidupan dan menjelang maut (QS.3:185), dibawa malaikat maut (QS.32:11), ketika tiba ajal (QS.7:34). Kalau ingin dipanggil dengan tenang maka perbanyak amal saleh (QS.89:27-30). Bagi yang disiksa oleh malaikat (QS.8:50), bila ingin mendapat kenikmatan dalam kubur (QS.3:169-171), bagi yang banyak dosa akan ditampakkan neraka dari pagi sampai petang (QS.40:46-47). Tentang datangnya hari kiamat (QS.75:1-40). Melihat Allah tanpa hijab (QS.75:22-23), masuk surga tanpa hisab (QS.2:25), juga adanya masuk neraka tanpa hisab (QS.18:100-101).
Bagi yang masuk surga, surga ada 4 tingkatan. Tingkatan pertama bertetangga dengan para nabi, orang soleh, para syuhada, orang jujur (QS.4:69). Di taman surga dan bisa melihat Allah dan dilayani dengan penuh keindahan (QS.51:15-23). Tentang surga seluas langit dan bumi (QS.3:133-134), serendah-rendahnya surga yang dapatkan (QS.2:25), masing-masing surga yang paling rendah sampai yang paling tinggi yaitu surga firdaus (QS.23:1-9).
Ada yang masuk neraka, maka neraka yang paling ringan ada di (QS.4:56). Begitu manusia dicelupkan maka hancur tubuhnya lepas dengan kulitnya. Yang paling duluan masuk negara jahannam adalah orang munafik lalu orang kafir (QS.4:140).
Tentang Shalat dan zakat (QS.2:43,45, dan 153), dikerjakan lima waktu (QS.11:114) lalu ditegaskan dalam (QS.17:78). Waktu shalat (QS.4:103) menjaga waktu shalat (QS.2:238).
Mengerjakan fungsi mata untuk laki-laki (QS.24:30) dan untuk perempuan (QS.24:31). Mulut dilarang berbicara yang kotor (QS.49:11-12). Menggunakan fungsi tangan dan kaki (QS.25:63). Tentang larangan berlaku sombong (QS.31:18).
Dengan demikian, sudah saatnya kita kembali memperbanyak amalan untuk meningkatkan keimanan kita serta kembali kepada mempelajari dan memahami kembali makna ayat dalam Al-Qur’an.
Padahal, Allah berjanji mengangkat derajat orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat (QS.58:11). Karena kalau tidak, Allah swt mengingatkan bahwa hati manusia akan keras bagai batu (QS.5:13). Sehingga manusia tidak akan bisa menggunakan akal/hatinya untuk memikirkan kebenaran ayat-ayat Allah, menggunakan telinganya untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan menggunakan matanya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (QS.7:179).
Sehingga manusia menutup mata dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah (QS.18:101). Allah juga menyebutkan bahwa hati manusia akan berpenyakit (QS.2:10, QS.5:52, dan QS.22:53), hati mengeras (QS.2:74, QS.6:43, dan QS.39:22), dan terkunci rapat (QS.4:155, QS.47:24, QS.2:7, QS.40:35, QS.10:74, QS.7:101, QS.9:93, QS.6:46, QS.7:179, QS.9:87, dan QS.17:46), telinga tersumbat (QS.6:25, QS.17:46, QS.18:57, QS.31:7, QS.41:5, dan QS.41:44).
Ancaman bagi orang kafir, sama saja apakah mereka diberi peringatan atau tidak (QS.2:6 dan QS.36:10), bahkan sama saja apakah Rasulullah saw memohon ampun bagi mereka atau tidak (QS.63:6).
Mari buka hati, mata, dan telinga kita (QS.40:35). Karena orang yang terkunci hatinya adalah orang yang tidak mau menggunakan akalnya/hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah, matanya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan telinganya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka serupa, bahkan lebih rendah, daripada binatang (QS.7:179). Mereka itu ibarat tuli, bisu, dan buta karena tidak mau menggunakan akalnya (QS.2:171 dan QS.8:22). Allah menjelaskan bahwa bukan mata fisik itu yang buta tetapi mata hati yang ada dalam dada (QS.22.46).
Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Julianda Boangmanalu
Meminjam istilah ilmu kedokteran, Al-Qur’an bisa dibedah layaknya sebuah anatomi untuk melihat dan berusaha memahami isi kandungannya. Terutama yang berkaitan dengan penciptaam alam semesta dan makhluk di dalamnya, termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
Setiap muslim disyariatkan untuk selalu membaca, mempelajari, dan memahami isi kandungan Al-Qur’an, tanpa memandang latar belakang seorang muslim itu sendiri. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan hal ini, seperti Surah Al Ankabut (surah ke-29) ayat 45 (selanjutnya, penyebutan surat Al-Qur’an dituliskan hanya nomor surat dan nomor ayat, seperti: QS.29:45). Dalam surat tersebut berbunyi yang artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an)….”
Ayat lain dengan makna perintah memahami Al-Qur’an, yaitu: QS.2:121, QS.3:101 dan 113, QS.4:20 dan 82, QS.7:204, QS.8:2 dan 31, QS.12:111, QS.16:98, QS.17:45,46, dan 107, QS.18:27, QS.19:58 dan 73, QS.20:123, QS.22:72, QS.25:73, QS.27:91-92, QS.31:7, QS.35:29, QS.37:3 dan 73, QS.47:24, QS.82:21, dan QS.96:1 dan 3.
Baik muslim maupun non-muslim sepakat bahwa Al-Qur’an adalah literatur berbahasa Arab bernilai tinggi. Al-Qur’an juga telah menduduki posisi sebagai sastra Arab terbaik di muka bumi. Al-Qur’an diyakini oleh seluruh umat Islam sebagai kitab suci yang harus dipegang teguh. Kebenarannya berlaku sepanjang zaman, dan didalamnya terdapat aturan serta petunjuk yang berasal dari Allah swt.
Al-Qur’an juga diyakini dan diakui oleh umat Islam sebagai satu-satunya Kitab Suci yang belum dan tidak akan pernah mengalami perubahan sejak diturunkan. Al-Qur’an adalah inti sari dari semua pengetahuan. Tetapi, pengetahuan ini terkandung di dalam Al-Qur’an sebagai benih dan prinsip. Al-Qur’an memuat prinsip dari segala pengetahuan, termasuk kosmologi dan pengetahuan tentang alam semesta.
Al-Qur’an bukan hanya sumber pengetahuan metafisis dan religius, melainkan juga sumber dari segala pengetahuan. Al-Qur’an menerangkan seluruh kehidupan dialam semesta, termasuk penciptaan manusia mulai didalam kandungan, lahir, masa perkembangannya sampai pada kematiannya termasuk etika dan tingkah laku baik dalam hubungannya kepada sesama manusia dan hubungannya dengan Allah swt sang pencipta.
Dunia Islam yang diterangi oleh cahaya Al-Qur’an pernah mencapai masa keemasan di bidang sains, tekhnologi, dan filsafat tepatnya dibawah Dinasti Abbasyiah yang berkuasa sekitar abad ke-8 sampai ke-15.
Perkembangan tersebut melahirkan berbagai bidang ilmu dan munculnya ratusan bahkan ribuan sarjana-sarjana Muslim, seperti al-Kindī (801-873 M), al-Farabī (870-950 M), al-Rāzī (864930 M atau 251-313 H), Ibn Tufail (1105-1185 M), Ibn Bajjah (1085-1138 M), dan sejumlah pakar pada bidangknya masing-masing, seperti Ibn Rushd (11261198 M), Ibn al-Haytham (965-1040 M atau 354-430 H), dan Jabir ibn Hayyan (721-815 M) serta pakar etika muslim, Ibn Maskawaih (932-1030 M atau 330 - 421 H).
Dewasa ini, sains dalam dunia Islam mengalami kemunduran dan sains saat ini identik dengan barat. Dalam ilmu pengetahuan dan sains saat ini lebih didominasi oleh barat yang betul-betul menggeluti dan mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kejayaan umat Islam sekarang tinggal kenangan karena negeri-negeri muslim umumnya masih terbelakang dan miskin.
Selain itu, menurut Agus Purwanto, Fisikawan Teoretik, Pencinta dan Pengkaji Al-Qur’an, kondisi saat ini, umat dan ulama banyak menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, dan dana untuk membahas persoalan fiqih, dan sering berseteru serta bertengkar karenanya.
Mereka lalai atas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan, dan kelap-kelipnya bintang. Mereka abaikan gerak awan di langit, kilat yang menyambar, listrik yang membakar, malam yang gelap gulita, dan mutiara yang gemerlap. Mereka juga tak tertarik pada aneka tumbuhan disekitarnya, binatang ternak maupun binatang buas yang bertebaran di muka bumi, dan aneka fenomena serta keajaiban alam lainnya.
Seiring dengan itu, menurut Syaikh Jauhari Thanthawi, guru besar Universitas Kairo, dalam tafsirnya Al-Jawair, sebagaimana dikutip oleh Purwanto, Syaikh Thanthawi menulis bahwa di dalam Kitab Suci Al-Qur’an terdapat lebih dari 750 ayat kauniyah, ayat tentang alam semesta, dan hanya sekitar 150 ayat fiqih.
Anehnya, para ulama telah menulis ribuan kitab fiqih, tetapi nyaris tidak memerhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya. Pada prinsipnya, semua ciptaan Allah yang dipahami sebagai ayat-ayat Allah, menurut Al-Qur’an menjadi objek ilmu.
Maka Allah menciptakan langit dan Bumi dan apa yang ada diantara keduanya (sebagai ayat-ayat-Nya) dengan hak (QS.46:3). Allah swt akan menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang terlihat di cakrawala (al-afaq) dan dalam diri manusia sendiri (fi anfusihim) (QS.41:53) sebagai objek Ilmu atau perenungan manusia.
Kita juga dihimbau untuk memperhatikan langit, bagaimana ia tinggikan (QS.88:17), diciptakan dan ditinggikan tanpa tiang (QS.31-10 dan QS. 13:2).
Banyak ayat dalam Al-Qur’an, Allah mengajak manusia untuk berfikir dan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya mengenai fenomena alam dan diri sendiri (QS.41:53), tanda-tanda keagungan Allah hanya bagi orang yang berfikir (QS.39:42).
Al-Qur’an mengkisahkan bagaimana penciptaan alam semesta terjadi, dimana pada awalnya seluruh alam semesta berbentuk satu massa yang besar (Nebula Primer) yang kemudian terjadi “Big Bang” (Ledakan Pemisah Skunder) yang mengakibatkan pembentukan galaksi. Kemudian, terbentuk dan terbagi dalam bentuk bintang, planet, matahari, bulan, dan lain sebagainya (QS.21:3), bagi para ahli astrofisika dikenal dengan Teori Big Bang. Al-Qur’an menerangkan bahwa sebelum pembentukan galaksi, pada awalnya berbentuk gas/asap (QS.41:11), bumi bulat seperti telur burung unta (geo-spherical) (QS.31:29, QS.39:5, QS.79:30). Cahaya rembulan adalah pantulan sinar matahari (QS.25:61, QS.71:15-16), matahari berputar pada sumbunya (QS.21:33).
Tentang bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi ditegakkan, bumi dihamparkan (QS. 88:17-20), dan bagaimana manusia diciptakan (QS. 51:21). Al-Qur’an sudah menerangkan tentang perumpamaan dunia (QS. 10:24), tentang fenommena alam (QS.2:164 dan QS.13:3), hujan dan tanaman (QS.16:11), fenoma lebah (QS.16:69), fenomena tidur (QS.39:42), alam ditundukkan bagi manusia (QS.16:12 dan QS.45:13), orbit matahari dan bulan (QS.10:15), buah beraneka rasa (QS.13:4), buah kurma dan anggur (QS.16:67), tentang kilat dan hujan (QS.30:24).
Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan (QS.51:49 dan QS.36:36), bukan cuma manusia dan hewan saja yang berpasang-pasangan, buah-buahan juga berpasang-pasangan (QS.13:3). Al-Qur’an menganjurkan kita untuk menggunakan akal kita untuk mengamati, berfikir dan merenungi (QS. 24:61).
Beberapa gaya Al-Qur’an untuk mengajak kita mengamati, memikirkan dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah swt adalah dengan pertanyaan retoris: afala ta’qilun (tidakkah kamu menggunakan akal) (QS.2:44 dan QS.12:109), afala ya’qilun (tidakkah kamu menggunakan akal) (QS.36:68), afala tatafakkarun (tidakkah kamu berfikir) (QS.6:50), awalam yanzhuru (tidakkah kamu perhatikan) (QS.7:185), afalam yanzhuru (tidakkah kamu perhatikan) (QS.50:6), hal yanzhuruna (tidakkah kamu amati) (QS.2:250, QS.6:158, dan QS.16:33), afala yanzhuruna (tidakkah kamu cermati) (QS.88:17).
Disyariatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab terdahulu. Syari'at bagi setiap umat berbeda-beda sesuai kondisi zaman dan keadaan pada waktu itu, dan semua syari'at itu merujuk kepada keadilan yang memang layak diterapkan pada zaman itu (QS.5:48). Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia dan tidak ada keraguan baginya (QS.2:2).
Bahkan Al-Qur’an menantang manusia yang masih meragukannya, untuk membuat surah yang paling tidak mirip dengan keindahan, kefasihan, kedalaman makna dengan surah-surah yang ada di dalam Al-Qur’an (QS.2:23-24).
Tapi, ternyata tantangan itu sampai detik ini tidak pernah terpenuhi karena tidak ada manusia yang mampu menandinginya. Dalam Al-Qur’an diatur mengenai seluk beluk penciptaan manusia, dari sebelum lahir sampai wafat. Sebelum terlahir (QS.96:1-2, QS.86:5-7, QS.32:8, QS.76:2, QS.53:45-46, QS.75:37-39), diterangkan bagaimana manusia dalam kandungan supaya nyaman (janin yang terlindungi) (QS.39:6 dan QS.23:12-14), tentram dan terlahir sebagai anak yang saleh (QS.7:189).
Ketika sudah lahir, diterangkan bagaimana memohon agar Air Susu Ibu (ASI) dilancarkan, diatur mengenai pembagian tugas ibu dan ayah agar berjalan dengan baik, diatur tentang ibu menyusui hingga dua tahun, ayahnya kemudian menyiapkan perlengkapan-perlengkapannya (QS.2:233).
Dari usia dua tahun sampai menjelang baligh mulai belajar, pendidikan pertama apa yang diberikan supaya dekat dengan Allah taat kepada kedua orang tuanya, baik akhlaknya dan gemar ibadahnya ada di (QS.31:13-31).
Pada saat mulai belajar, supaya cepat memahami pelajarannya, apa yang harus dia berikan dan dia lakukan ada dalam (QS.9:122). Diatur bagaimana menghadiri majelis yang meningkatkan iman dan taqwanya, bukan sekedar tambah ilmunya tapi imannya menguat (QS.58:11).
Kemudian tata cara pergaulan, mencari teman yang baik dan bagaimana meningkatkan taqwa (QS.49:13). Sampai ia temukan pasangannya dan mulai muncul sifat cintanya, cara melamar terbaik, cari mahar terbaik (QS.4:4).
Terjadi pernikahan (QS.30:21), membagi tugas dalam rumah tangga (QS.4:34). Laki-laki mulai mencari nafkah (QS.2:168), agar rizkinya cepat mendatangi anda (QS.2:172). Agar dibukakan pintu keberkahan langit dan bumi (QS.7:96).
Tantangan dalam hidup, ada yang iri, dengki, ingin menyingkirkan, laksanakan amalan bangun malam lalu shalat dan mohon kebaikan kepada Allah (QS.17:79-81). Istri yang merawat anak-anak tentu tidak mudah tidak segampang laki-laki yang bekerja di luar rumah, kadang ada anak yang sulit diatur, maka merawatnya sesuai dengan (QS.17:23-27).
Bila sakit, Allah akan menyembuhkannya (QS.26:80). Bagi yang mengalami sakit kronis dan mustahil ada obatnya, seperti yang dialami Nabi Ayub, Allah berjanji akan menyembuhkannya (QS.21:83-84).
Bagi yang mengalami kesulitan bagai dalam kegelapan, lakukan amalan seperti Nabi Yunus, maka akan dibebaskan dari kegelapan (QS.21:87-88).
Bagi rumah tangga yang tidak punya keturunan tidak usah mengeluh karena ada yang lebih lama tidak punya keturunan seperti Nabi Zakaria sampai tua dan akhirnya doanya dikabulkan dan mempunyai anak (QS.19:2-15), berdoa agar mendapat keturunan yang baik (QS.3:38-39).
Tentang belajar bersabar dan mengatasi masalah (QS.2:214), cara mengatasinya (QS.3:142), apa jenis masalahnya (QS.2:155), bila mengalami musibah dan cara mengatasinya (QS.2:156-157).
Ketika sudah sukses dan cara mensyukurinya (QS.14:7) Tentang cara berbakti kepada orang tua (QS.46:15), ketika sudah tua renta dan pikun (QS.22:5), ketika berada diujung fase kehidupan dan menjelang maut (QS.3:185), dibawa malaikat maut (QS.32:11), ketika tiba ajal (QS.7:34). Kalau ingin dipanggil dengan tenang maka perbanyak amal saleh (QS.89:27-30). Bagi yang disiksa oleh malaikat (QS.8:50), bila ingin mendapat kenikmatan dalam kubur (QS.3:169-171), bagi yang banyak dosa akan ditampakkan neraka dari pagi sampai petang (QS.40:46-47). Tentang datangnya hari kiamat (QS.75:1-40). Melihat Allah tanpa hijab (QS.75:22-23), masuk surga tanpa hisab (QS.2:25), juga adanya masuk neraka tanpa hisab (QS.18:100-101).
Bagi yang masuk surga, surga ada 4 tingkatan. Tingkatan pertama bertetangga dengan para nabi, orang soleh, para syuhada, orang jujur (QS.4:69). Di taman surga dan bisa melihat Allah dan dilayani dengan penuh keindahan (QS.51:15-23). Tentang surga seluas langit dan bumi (QS.3:133-134), serendah-rendahnya surga yang dapatkan (QS.2:25), masing-masing surga yang paling rendah sampai yang paling tinggi yaitu surga firdaus (QS.23:1-9).
Ada yang masuk neraka, maka neraka yang paling ringan ada di (QS.4:56). Begitu manusia dicelupkan maka hancur tubuhnya lepas dengan kulitnya. Yang paling duluan masuk negara jahannam adalah orang munafik lalu orang kafir (QS.4:140).
Tentang Shalat dan zakat (QS.2:43,45, dan 153), dikerjakan lima waktu (QS.11:114) lalu ditegaskan dalam (QS.17:78). Waktu shalat (QS.4:103) menjaga waktu shalat (QS.2:238).
Mengerjakan fungsi mata untuk laki-laki (QS.24:30) dan untuk perempuan (QS.24:31). Mulut dilarang berbicara yang kotor (QS.49:11-12). Menggunakan fungsi tangan dan kaki (QS.25:63). Tentang larangan berlaku sombong (QS.31:18).
Dengan demikian, sudah saatnya kita kembali memperbanyak amalan untuk meningkatkan keimanan kita serta kembali kepada mempelajari dan memahami kembali makna ayat dalam Al-Qur’an.
Padahal, Allah berjanji mengangkat derajat orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat (QS.58:11). Karena kalau tidak, Allah swt mengingatkan bahwa hati manusia akan keras bagai batu (QS.5:13). Sehingga manusia tidak akan bisa menggunakan akal/hatinya untuk memikirkan kebenaran ayat-ayat Allah, menggunakan telinganya untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan menggunakan matanya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (QS.7:179).
Sehingga manusia menutup mata dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah (QS.18:101). Allah juga menyebutkan bahwa hati manusia akan berpenyakit (QS.2:10, QS.5:52, dan QS.22:53), hati mengeras (QS.2:74, QS.6:43, dan QS.39:22), dan terkunci rapat (QS.4:155, QS.47:24, QS.2:7, QS.40:35, QS.10:74, QS.7:101, QS.9:93, QS.6:46, QS.7:179, QS.9:87, dan QS.17:46), telinga tersumbat (QS.6:25, QS.17:46, QS.18:57, QS.31:7, QS.41:5, dan QS.41:44).
Ancaman bagi orang kafir, sama saja apakah mereka diberi peringatan atau tidak (QS.2:6 dan QS.36:10), bahkan sama saja apakah Rasulullah saw memohon ampun bagi mereka atau tidak (QS.63:6).
Mari buka hati, mata, dan telinga kita (QS.40:35). Karena orang yang terkunci hatinya adalah orang yang tidak mau menggunakan akalnya/hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah, matanya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan telinganya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka serupa, bahkan lebih rendah, daripada binatang (QS.7:179). Mereka itu ibarat tuli, bisu, dan buta karena tidak mau menggunakan akalnya (QS.2:171 dan QS.8:22). Allah menjelaskan bahwa bukan mata fisik itu yang buta tetapi mata hati yang ada dalam dada (QS.22.46).
Wallahu a’lam bishawab.
Jumat, 15 Maret 2019
Berkawan dengan orang Shalih
BERKAWAN DENGAN ORANG SHALIH
Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari
Manusia itu laksana sekawanan burung, memiliki naluri untuk berkumpul dengan sejenisnya. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi orang shalih, hendaklah berusaha berkawan dan berkumpul dengan orang-orang shalih.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” [At-Taubah/9:119]
Bersabar Dalam Berkawan Dengan Orang Shalih Ini berlaku bagi laki-laki dan wanita. Seorang Muslim hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan laki-laki yang shalih sebagai kawan-kawannya. Dan wanita Muslimah hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan wanita-wanita shalihah sebagai kawan-kawannya. Jangan merasa rendah bergaul dengan orang-orang yang taat, walaupun mereka orang-orang yang kekurangan secara duniawi, namun mereka memiliki derajat di sisi Allâh Yang Maha Tinggi.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” [Al-Kahfi/18: 28]
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau bersabar bersama orang-orang Mukmin, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang banyak kembali (bertaubat) kepada Allâh. Yaitu orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari, yaitu di awal dan akhir siang, mereka mengharap keridhaan-Nya. Allâh Azza wa Jalla menyifati mereka dengan ibadah dan ikhlas dalam beribadah.
Di dalam ayat ini terdapat perintah untuk berkawan dengan orang-orang baik, menundukkan jiwa untuk berkawan dan bergaul dengan mereka, walaupun mereka adalah orang-orang miskin, karena sesungguhnya berkawan dengan mereka terdapat faedah-faedah yang tidak terbatas”.[1]
Ibrâhim al-Khawwâsh rahimahullah berkata:
دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ
Penawar hati itu ada lima : membaca al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), kosongnya perut (dengan puasa-pen), qiyâmul lail (shalat malam), berdoa di waktu sahar (waktu akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang shalih”. [2]
Namun hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengenal semua orang. Mengenal semua orang dibolehkan, namun kita jangan menjadikan kawan dekat kecuali orang-orang yang shalih atau shalihah. Kita harus memilih kawan-kawan yang baik untuk keselamatan kita.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlaq) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat.[3]
Perumpamaan Kawan Baik Dan Kawan Buruk Berkawan dengan orang shalih membawa dampak yang baik, karena kawan itu akan mempengaruhi kawannya. Jika kawan itu shalih akan membawa kepada kebaikan, sebaliknya jika kawan itu buruk akan membawa kepada keburukan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini di dalam hadits shahih sebagaimana riwayat berikut ini:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“ Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[4]
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan hadits ini dengan penjelasan yang gamblang dan panjang lebar. Beliau rahimahullah berkata, “Hadits ini memuat anjuran untuk memilih kawan-kawan yang shalih dan memperingatkan dari kebalikan mereka (yakni kawan-kawan yang buruk). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat perumpamaan dengan dua perumpamaan ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa seluruh keadaanmu dengan kawan yang shalih senantiasa dalam keberuntungan dan kebaikan.
(Kawan shalih adalah) seperti penjual minyak wangi yang engkau dapat manfaat dari minyak wanginya. Mungkin dengan cara hadiah (gratis) atau dengan ganti (membeli darinya), atau minimal dengan duduk bersamanya, engkau akan mendapat ketenangan dengan bau harum minyak wangi. Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih itu jauh lebih besar dan lebih utama daripada minyak wangi yang semerbak aromanya. Karena sesungguhnya, kawan yang shalih akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagimu dalam (urusan) agama dan duniamu.
Atau dia akan memberikan nasihat kepadamu. Atau dia akan memperingatkanmu dari perkara yang akan mencelakakanmu. Kawan yang shalih akan mendorongmu untuk mentaati Allâh Azza wa Jalla , berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan menunjukkan kekurangan-kekuranganmu. Dia juga mengajakmu untuk berakhlak mulia, baik dengan perkataannya, perbuatannya, dan keadaannya.
Karena manusia itu memiliki tabiat mengikuti kawan atau teman dekatnya. Tabiat dan ruh itu seperti tentara yang berkumpul dengan sesamanya. Sebagian akan menggiring lainnya menuju kebaikan atau keburukan. Manfaat minimal yang akan didapatkan dari kawan yang shalih, dan ini adalah manfaat yang tidak boleh diremehkan, yaitu dengan sebab (berteman dengan orang shalih-red) dia akan tercegah dari perbuatan buruk dan kemaksiatan. Karena menjaga persahabatan, berlomba dalam kebaikan, serta meninggalkan keburukan.
Kawan yang shalih akan menjagamu, baik disaat engkau ada di hadapannya atau ketika engkau tidak ada di hadapannya. Kecintaan dan doanya akan memberikan manfaat kepadamu, baik di saat hidupmu maupun setelah matimu. Dia juga akan membelamu karena hubungannya denganmu dan kecintaannya kepadamu (berkaitan dengan) perkara-perkara yang engkau tidak bisa membelanya sendiri.
Demikian juga kawan yang shalih akan menghubungkanmu dengan pekerjaan-pekerjaan atau orang-orang yang akan memberi manfaat kepadamu. Manfaat-manfaat kawan yang shalih tidak terhitung dan tidak terbatas. Di antaranya adalah seseorang itu akan dinilai dengan kawannya, dan dia akan mengikuti din (agama; tabiat; akhlak) kawan dekatnya.
Adapun berkawan dengan orang-orang yang buruk, maka itu kebalikan dari seluruh apa yang telah kami sebutkan. Kawan-kawan yang buruk akan mendatangkan bahaya kepada orang yang berkawan dengan mereka, mendatangkan keburukan kepada orang-orang yang bergaul dengan mereka dari segala sisi.
Betapa banyak orang-orang yang hancur dengan sebab mereka, dan betapa banyak mereka menggiring kawan-kawan mereka menuju kehancuran, dari arah yang mereka sadari maupun tidak mereka sadari.
Oleh karena itu, termasuk nikmat Allâh Azza wa Jalla yang paling besar bagi seorang Mukmin adalah bimbingan-Nya untuk berkawan dengan orang-orang shalih. Dan termasuk hukuman dari Allâh Azza wa Jalla adalah menjadikannya berkawan dengan orang-orang yang buruk.
Berkawan dengan orang-orang shalih akan menghantarkan hamba menuju puncak derajat yang tinggi, dan berkawan dengan orang-orang buruk akan menghantarkan hamba menuju tingkatan paling rendah dari neraka.
Berkawan dengan orang-orang shalih akan menghasilkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, akhlak-akhlak yang mulia, dan amal-amal yang shalih. Sedangkan berkawan dengan orang-orang yang buruk akan menghalangi semua itu.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ﴿٢٧﴾ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ﴿٢٨﴾ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya (yakni: sangat menyesal), seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. [Al-Furqan/25: 27-29] [5]
Inilah ajaran agama kita, ajaran mulia dari Allâh Azza wa Jalla , dan dari Rasul yang utama, untuk keselamatan kita bersama. Adakah orang-orang yang menginginkan keselamatan mau menerimanya?
Hanya Allâh Tempat memohon dan meminta. Semoga Allâh senantiasa membimbing kita semua di atas jalan keselamatan dunia dan akhirat.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIX/1437H/2016M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,
Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183
Footnote
[1] Taisir Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’adi, Tafsir surat Al-Kahfi ayat 28
[2] Al-Adzkar karya Al-Imam an-Nawawi, hal. 107; Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth
[3] HR. Abu Dâwud, no.4833;Tirmidzi, no.2378. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah ash-Shahîhah no. 927
[4] HR. Bukhari, no.5534; Muslim, no.2628
[5] Bahjah Quluubil Abrar, hal. 139-141, penerbit: Wizarah asy-Syu’un al-Islamiyah KSA. Cet: 4, th: 1423 H
Read more https://almanhaj.or.id/6786-berkawan-dengan-orang-shalih.html
Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari
Manusia itu laksana sekawanan burung, memiliki naluri untuk berkumpul dengan sejenisnya. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi orang shalih, hendaklah berusaha berkawan dan berkumpul dengan orang-orang shalih.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” [At-Taubah/9:119]
Bersabar Dalam Berkawan Dengan Orang Shalih Ini berlaku bagi laki-laki dan wanita. Seorang Muslim hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan laki-laki yang shalih sebagai kawan-kawannya. Dan wanita Muslimah hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan wanita-wanita shalihah sebagai kawan-kawannya. Jangan merasa rendah bergaul dengan orang-orang yang taat, walaupun mereka orang-orang yang kekurangan secara duniawi, namun mereka memiliki derajat di sisi Allâh Yang Maha Tinggi.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” [Al-Kahfi/18: 28]
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau bersabar bersama orang-orang Mukmin, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang banyak kembali (bertaubat) kepada Allâh. Yaitu orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari, yaitu di awal dan akhir siang, mereka mengharap keridhaan-Nya. Allâh Azza wa Jalla menyifati mereka dengan ibadah dan ikhlas dalam beribadah.
Di dalam ayat ini terdapat perintah untuk berkawan dengan orang-orang baik, menundukkan jiwa untuk berkawan dan bergaul dengan mereka, walaupun mereka adalah orang-orang miskin, karena sesungguhnya berkawan dengan mereka terdapat faedah-faedah yang tidak terbatas”.[1]
Ibrâhim al-Khawwâsh rahimahullah berkata:
دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ
Penawar hati itu ada lima : membaca al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), kosongnya perut (dengan puasa-pen), qiyâmul lail (shalat malam), berdoa di waktu sahar (waktu akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang shalih”. [2]
Namun hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengenal semua orang. Mengenal semua orang dibolehkan, namun kita jangan menjadikan kawan dekat kecuali orang-orang yang shalih atau shalihah. Kita harus memilih kawan-kawan yang baik untuk keselamatan kita.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlaq) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat.[3]
Perumpamaan Kawan Baik Dan Kawan Buruk Berkawan dengan orang shalih membawa dampak yang baik, karena kawan itu akan mempengaruhi kawannya. Jika kawan itu shalih akan membawa kepada kebaikan, sebaliknya jika kawan itu buruk akan membawa kepada keburukan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini di dalam hadits shahih sebagaimana riwayat berikut ini:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“ Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[4]
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan hadits ini dengan penjelasan yang gamblang dan panjang lebar. Beliau rahimahullah berkata, “Hadits ini memuat anjuran untuk memilih kawan-kawan yang shalih dan memperingatkan dari kebalikan mereka (yakni kawan-kawan yang buruk). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat perumpamaan dengan dua perumpamaan ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa seluruh keadaanmu dengan kawan yang shalih senantiasa dalam keberuntungan dan kebaikan.
(Kawan shalih adalah) seperti penjual minyak wangi yang engkau dapat manfaat dari minyak wanginya. Mungkin dengan cara hadiah (gratis) atau dengan ganti (membeli darinya), atau minimal dengan duduk bersamanya, engkau akan mendapat ketenangan dengan bau harum minyak wangi. Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih itu jauh lebih besar dan lebih utama daripada minyak wangi yang semerbak aromanya. Karena sesungguhnya, kawan yang shalih akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagimu dalam (urusan) agama dan duniamu.
Atau dia akan memberikan nasihat kepadamu. Atau dia akan memperingatkanmu dari perkara yang akan mencelakakanmu. Kawan yang shalih akan mendorongmu untuk mentaati Allâh Azza wa Jalla , berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan menunjukkan kekurangan-kekuranganmu. Dia juga mengajakmu untuk berakhlak mulia, baik dengan perkataannya, perbuatannya, dan keadaannya.
Karena manusia itu memiliki tabiat mengikuti kawan atau teman dekatnya. Tabiat dan ruh itu seperti tentara yang berkumpul dengan sesamanya. Sebagian akan menggiring lainnya menuju kebaikan atau keburukan. Manfaat minimal yang akan didapatkan dari kawan yang shalih, dan ini adalah manfaat yang tidak boleh diremehkan, yaitu dengan sebab (berteman dengan orang shalih-red) dia akan tercegah dari perbuatan buruk dan kemaksiatan. Karena menjaga persahabatan, berlomba dalam kebaikan, serta meninggalkan keburukan.
Kawan yang shalih akan menjagamu, baik disaat engkau ada di hadapannya atau ketika engkau tidak ada di hadapannya. Kecintaan dan doanya akan memberikan manfaat kepadamu, baik di saat hidupmu maupun setelah matimu. Dia juga akan membelamu karena hubungannya denganmu dan kecintaannya kepadamu (berkaitan dengan) perkara-perkara yang engkau tidak bisa membelanya sendiri.
Demikian juga kawan yang shalih akan menghubungkanmu dengan pekerjaan-pekerjaan atau orang-orang yang akan memberi manfaat kepadamu. Manfaat-manfaat kawan yang shalih tidak terhitung dan tidak terbatas. Di antaranya adalah seseorang itu akan dinilai dengan kawannya, dan dia akan mengikuti din (agama; tabiat; akhlak) kawan dekatnya.
Adapun berkawan dengan orang-orang yang buruk, maka itu kebalikan dari seluruh apa yang telah kami sebutkan. Kawan-kawan yang buruk akan mendatangkan bahaya kepada orang yang berkawan dengan mereka, mendatangkan keburukan kepada orang-orang yang bergaul dengan mereka dari segala sisi.
Betapa banyak orang-orang yang hancur dengan sebab mereka, dan betapa banyak mereka menggiring kawan-kawan mereka menuju kehancuran, dari arah yang mereka sadari maupun tidak mereka sadari.
Oleh karena itu, termasuk nikmat Allâh Azza wa Jalla yang paling besar bagi seorang Mukmin adalah bimbingan-Nya untuk berkawan dengan orang-orang shalih. Dan termasuk hukuman dari Allâh Azza wa Jalla adalah menjadikannya berkawan dengan orang-orang yang buruk.
Berkawan dengan orang-orang shalih akan menghantarkan hamba menuju puncak derajat yang tinggi, dan berkawan dengan orang-orang buruk akan menghantarkan hamba menuju tingkatan paling rendah dari neraka.
Berkawan dengan orang-orang shalih akan menghasilkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, akhlak-akhlak yang mulia, dan amal-amal yang shalih. Sedangkan berkawan dengan orang-orang yang buruk akan menghalangi semua itu.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ﴿٢٧﴾ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ﴿٢٨﴾ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya (yakni: sangat menyesal), seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. [Al-Furqan/25: 27-29] [5]
Inilah ajaran agama kita, ajaran mulia dari Allâh Azza wa Jalla , dan dari Rasul yang utama, untuk keselamatan kita bersama. Adakah orang-orang yang menginginkan keselamatan mau menerimanya?
Hanya Allâh Tempat memohon dan meminta. Semoga Allâh senantiasa membimbing kita semua di atas jalan keselamatan dunia dan akhirat.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIX/1437H/2016M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,
Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183
Footnote
[1] Taisir Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’adi, Tafsir surat Al-Kahfi ayat 28
[2] Al-Adzkar karya Al-Imam an-Nawawi, hal. 107; Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth
[3] HR. Abu Dâwud, no.4833;Tirmidzi, no.2378. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah ash-Shahîhah no. 927
[4] HR. Bukhari, no.5534; Muslim, no.2628
[5] Bahjah Quluubil Abrar, hal. 139-141, penerbit: Wizarah asy-Syu’un al-Islamiyah KSA. Cet: 4, th: 1423 H
Read more https://almanhaj.or.id/6786-berkawan-dengan-orang-shalih.html
Jumat, 01 Maret 2019
MAKNA KAFIR DALAM AL QURAN
Makna Kafir Dalam Al-Quran
Kata kafir dan turunannya terulang ratusan kali dalam al Quran, Abu Hilal al Askary mengatakan bahwa secara bahasa al kufr bermakna menutupi, orang Arab bisa mengatakan:
الليل كافِر
“Malam adalah Kafir” karena malam menutupi segala sesuatu dengan kegelapannya.
كَفَر الغمامُ النجومَ
“Mendung menutupi bintang”.
Orang yang menanam disebut Kafir, karena ia menyembunyikan/menutup benih di dalam tanah, Kufur nikmat disebut kufur karena menutupinya. (al Wujuuh wa an Nadhaair fi al Quran)
Diantara beberapa makna dari kata kafir dalam al Quran, adalah:
1- Makna yang paling terkenal yaitu lawan dari keimanan, ini nampak dalam firman Allah QS at Taghoobun 2 berikut:
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌ وَمِنكُم مُّؤْمِنٌ( التغابن ٢)
Dialah yang menciptakan kamu, lalu diantara kamu ada yang kafir dan ada yang mukmin. atau dalam firman Allah berikut:
فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ (الكهف ٢٩) .
Barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.
2- Lawan dari ketaqwaan, ini bisa dilihat dalam firman Allah dalam QS az Zumar 71-73:
وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا (الزمر ٧١)
Orang-orang kafir digiring ke neraka jahannam secara berombongan… yang diikuti oleh firman Allah berikut:
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا (الزمر ٧٣) .
Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan… Kekafiran dalam makna kedua ini bukan termasuk kafir aqidah, ia lebih dekat dengan makna “Pelanggaran/kejahatan”(الإجرام), ini dikuatkan dengan ayat ayat yang senada seperti:
يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَنِ وَفْدًا * وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا (مريم ٨٥ـ٨٦)
Pada hari Kami mengumpulkan orang orang yang bertaqwa kepada Yang Maha Pengasih bagaikan kafilah yang terhormat.
Dan Kami akan menggiring orang yang durhaka ke neraka jahannam dalam keadaan dahaga. Atau dalam ayat berikut:
أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ (ص ٢٨)
Atau pantaskah Kami mengganggap orang orang yang bertaqwa sama dengan orang orang jahat.
3-Lawan dari syukur atau ingkar kenikmatan, ini bisa dilihat dalam ayat berikut:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (إبراهيم ٧)
Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari, maka pasti azab-Ku sangat berat. Juga dalam firman Allah:
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (لقمان ١٢)
Dan barang siapa bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur kepada dirinya sendiri, dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. dan dalam ayat berikut:
إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا (الإنسان ٧٦)
Ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Kafir dalam makna ini bukan termasuk kafir aqidah.
4- Lawan dari amal sholih, yakni berbuat kerusakan, ini bisa dilihat dari firman Allah dalam ar Ruum 44:
مَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْره وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ (الروم ٤٤) .
Barangsiapa kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya, dan barangsiapa beramal sholih maka mereka menyiapkan untuk diri mereka sendiri (tempat yang menyenangkan). Kafir dalam ayat ini bukan bermakna kafir aqidah, melainkan bermakna berbuat kerusakan, karena lawan beramal sholih adalah merusak (الفساد) sebagaimana dalam ayat berikut:
أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ (ص ٢٨) .
Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang beriman dan beramal sholih sama dengan orang yang berbuat kerusakan di bumi?.
5- Bebas atau tidak ada keterkaitan, ini bisa dilihat dalam firman Allah berikut:
كَفَرْنا بِكُمْ (الممتحنة ٤)
Kami mengingkarimu.
juga dalam ayat:
يكفُرُ بَعضُكم ببَعضٍ (العنكبوت ٢٥)
Sebagian kamu akan saling mengingkari…
dan dalam ayat:
إنِّي كفَرْتُ بما أَشْركتُمُونِ (إبراهيم ٢٢)
Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah).
Kesimpulan dari paparan singkat di atas adalah: Makna kafir dalam al Quran, bermacam-macam, ia bisa berarti kafir dalam aqidah, berbuat pelanggaran, mengingkari kenikmatan Allah, berbuat kerusakan dan pengingkaran keterkaitan/hubungan…
Pemaknaan ini bisa diamati melalui konteks ayat dan kaitannya dengan ayat yang lain.
Wallahu A’lam.
Kata kafir dan turunannya terulang ratusan kali dalam al Quran, Abu Hilal al Askary mengatakan bahwa secara bahasa al kufr bermakna menutupi, orang Arab bisa mengatakan:
الليل كافِر
“Malam adalah Kafir” karena malam menutupi segala sesuatu dengan kegelapannya.
كَفَر الغمامُ النجومَ
“Mendung menutupi bintang”.
Orang yang menanam disebut Kafir, karena ia menyembunyikan/menutup benih di dalam tanah, Kufur nikmat disebut kufur karena menutupinya. (al Wujuuh wa an Nadhaair fi al Quran)
Diantara beberapa makna dari kata kafir dalam al Quran, adalah:
1- Makna yang paling terkenal yaitu lawan dari keimanan, ini nampak dalam firman Allah QS at Taghoobun 2 berikut:
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌ وَمِنكُم مُّؤْمِنٌ( التغابن ٢)
Dialah yang menciptakan kamu, lalu diantara kamu ada yang kafir dan ada yang mukmin. atau dalam firman Allah berikut:
فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ (الكهف ٢٩) .
Barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.
2- Lawan dari ketaqwaan, ini bisa dilihat dalam firman Allah dalam QS az Zumar 71-73:
وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا (الزمر ٧١)
Orang-orang kafir digiring ke neraka jahannam secara berombongan… yang diikuti oleh firman Allah berikut:
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا (الزمر ٧٣) .
Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan… Kekafiran dalam makna kedua ini bukan termasuk kafir aqidah, ia lebih dekat dengan makna “Pelanggaran/kejahatan”(الإجرام), ini dikuatkan dengan ayat ayat yang senada seperti:
يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَنِ وَفْدًا * وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا (مريم ٨٥ـ٨٦)
Pada hari Kami mengumpulkan orang orang yang bertaqwa kepada Yang Maha Pengasih bagaikan kafilah yang terhormat.
Dan Kami akan menggiring orang yang durhaka ke neraka jahannam dalam keadaan dahaga. Atau dalam ayat berikut:
أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ (ص ٢٨)
Atau pantaskah Kami mengganggap orang orang yang bertaqwa sama dengan orang orang jahat.
3-Lawan dari syukur atau ingkar kenikmatan, ini bisa dilihat dalam ayat berikut:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (إبراهيم ٧)
Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari, maka pasti azab-Ku sangat berat. Juga dalam firman Allah:
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (لقمان ١٢)
Dan barang siapa bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur kepada dirinya sendiri, dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. dan dalam ayat berikut:
إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا (الإنسان ٧٦)
Ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Kafir dalam makna ini bukan termasuk kafir aqidah.
4- Lawan dari amal sholih, yakni berbuat kerusakan, ini bisa dilihat dari firman Allah dalam ar Ruum 44:
مَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْره وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ (الروم ٤٤) .
Barangsiapa kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya, dan barangsiapa beramal sholih maka mereka menyiapkan untuk diri mereka sendiri (tempat yang menyenangkan). Kafir dalam ayat ini bukan bermakna kafir aqidah, melainkan bermakna berbuat kerusakan, karena lawan beramal sholih adalah merusak (الفساد) sebagaimana dalam ayat berikut:
أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ (ص ٢٨) .
Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang beriman dan beramal sholih sama dengan orang yang berbuat kerusakan di bumi?.
5- Bebas atau tidak ada keterkaitan, ini bisa dilihat dalam firman Allah berikut:
كَفَرْنا بِكُمْ (الممتحنة ٤)
Kami mengingkarimu.
juga dalam ayat:
يكفُرُ بَعضُكم ببَعضٍ (العنكبوت ٢٥)
Sebagian kamu akan saling mengingkari…
dan dalam ayat:
إنِّي كفَرْتُ بما أَشْركتُمُونِ (إبراهيم ٢٢)
Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah).
Kesimpulan dari paparan singkat di atas adalah: Makna kafir dalam al Quran, bermacam-macam, ia bisa berarti kafir dalam aqidah, berbuat pelanggaran, mengingkari kenikmatan Allah, berbuat kerusakan dan pengingkaran keterkaitan/hubungan…
Pemaknaan ini bisa diamati melalui konteks ayat dan kaitannya dengan ayat yang lain.
Wallahu A’lam.
Minggu, 10 Februari 2019
Dampak Makanan dan Harta Haram
Sebagian dari kita mungkin sudah paham mengenai dampak negatif baik langsung maupun tidak langsung dari makanan haram dan harta yang haram. Namun banyak yang belum tau jika Allah akan menolak doa orang yang didalam tubuhnya terdapat makanan haram dan selama 40 hari amalannya tidak akan diterima Allah swt.
Ibnu Abbas berkata bahwa Sa'ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah. " Apa jawaban Rasulullah SAW, "Wahai Sa'ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya." (HR At-Thabrani)
Berikut ini dampak dari makanan dan harta haram :
A. 5 Dampak Langsung
1. Tidak Diterima Amalan
Rasulullah saw bersabda, "Ketahuilah bahwa suapan haram jika masuk ke dalam perut salah satu dari kalian, maka amalannya tidak diterima selama 40 hari." (HR At-Thabrani).
2. Tidak Terkabul Doa
Sa'ad bin Abi Waqash bertanya kepada Rasulullan saw, "Ya Rasulullah, doakan saya kepada Allah agar doa saya terkabul." Rasulullah menjawab, "Wahai Sa'ad, perbaikilan makananmu, maka doamu akan terkabulkan." (HR At-Thabrani).
Disebutkan juga dalam hadis lain bahwa Rasulullah saw bersabda, "Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, mukanya berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan, "Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!" Padahal makanannya haram dan mulutnya disuapkan dengan yang haram, maka bagaimanakah akan diterima doa itu?" (HR Muslim).
3. Mengikis Keimanan Pelakunya
Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah peminum khamr, ketika ia meminum khamr termasuk seorang mukmin." (HR Bukhari Muslim).
4. Mencampakkan Pelakunya ke Neraka
Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah tumbuh daging dari makanan haram, kecuali neraka lebih utama untuknya." (HR At Tirmidzi).
5. Mengeraskan Hati
Imam Ahmad ra pernah ditanya, apa yang harus dilakukan agar hati mudah menerima kesabaran, maka beliau menjawab, "Dengan memakan makanan halal." (Thabaqat Al Hanabilah : 1/219). At Tustari, seorang mufassir juga mengatakan, "Barangsiapa ingin disingkapkan tanda-tanda orang yang jujur (shiddiqun), hendaknya tidak makan, kecuali yang halal dan mengamalkan sunnah," (Ar Risalah Al Mustarsyidin : hal 216).
B. 4 Dampak Tidak Langsung
1. Haji dari Harta Haram Tertolak
Rasulullah saw bersabda, "Jika seorang keluar untuk melakukan haji dengan nafaqah haram, kemudian ia mengendarai tunggangan dan mengatakan, "Labbaik, Allahumma labbaik!" Maka yang berada di langit menyeru, "Tidak labbaik dan kau tidak memperoleh kebahagiaan! Bekalmu haram, kendaraanmu haram dan hajimu mendatangkan dosa dan tidak diterima." (HR At Thabrani)
2. Sedekahnya ditolak
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mengumpulkan harta haram, kemudian menyedekahkannya, maka tidak ada pahala, dan dosa untuknya." (HR Ibnu Huzaimah)
3. Shalatnya tidak diterima
Dalam kitab Sya'bul Imam disebutkan, "Barangsiapa yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham di antaranya uang haram, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama pakaian itu dikenakan." (HR Ahmad)
4. Silaturrahminya sia-sia
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mendapatkan harta dari dosa, lalu ia dengannya bersilaturahim (menyambung persaudaraan) atau bersedekah, atau membelanjakan (infaq) di jalan Allah, maka Allah menghimpun seluruhnya itu, kemudian Dia melemparkannya ke dalam neraka. Lalu Rasulullah saw bersabda, " Sebaik-baiknya agamamu adalah al-wara' (berhati-hati)." (HR Abu Daud).
Ibnu Abbas berkata bahwa Sa'ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah. " Apa jawaban Rasulullah SAW, "Wahai Sa'ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya." (HR At-Thabrani)
Berikut ini dampak dari makanan dan harta haram :
A. 5 Dampak Langsung
1. Tidak Diterima Amalan
Rasulullah saw bersabda, "Ketahuilah bahwa suapan haram jika masuk ke dalam perut salah satu dari kalian, maka amalannya tidak diterima selama 40 hari." (HR At-Thabrani).
2. Tidak Terkabul Doa
Sa'ad bin Abi Waqash bertanya kepada Rasulullan saw, "Ya Rasulullah, doakan saya kepada Allah agar doa saya terkabul." Rasulullah menjawab, "Wahai Sa'ad, perbaikilan makananmu, maka doamu akan terkabulkan." (HR At-Thabrani).
Disebutkan juga dalam hadis lain bahwa Rasulullah saw bersabda, "Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, mukanya berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan, "Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!" Padahal makanannya haram dan mulutnya disuapkan dengan yang haram, maka bagaimanakah akan diterima doa itu?" (HR Muslim).
3. Mengikis Keimanan Pelakunya
Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah peminum khamr, ketika ia meminum khamr termasuk seorang mukmin." (HR Bukhari Muslim).
4. Mencampakkan Pelakunya ke Neraka
Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah tumbuh daging dari makanan haram, kecuali neraka lebih utama untuknya." (HR At Tirmidzi).
5. Mengeraskan Hati
Imam Ahmad ra pernah ditanya, apa yang harus dilakukan agar hati mudah menerima kesabaran, maka beliau menjawab, "Dengan memakan makanan halal." (Thabaqat Al Hanabilah : 1/219). At Tustari, seorang mufassir juga mengatakan, "Barangsiapa ingin disingkapkan tanda-tanda orang yang jujur (shiddiqun), hendaknya tidak makan, kecuali yang halal dan mengamalkan sunnah," (Ar Risalah Al Mustarsyidin : hal 216).
B. 4 Dampak Tidak Langsung
1. Haji dari Harta Haram Tertolak
Rasulullah saw bersabda, "Jika seorang keluar untuk melakukan haji dengan nafaqah haram, kemudian ia mengendarai tunggangan dan mengatakan, "Labbaik, Allahumma labbaik!" Maka yang berada di langit menyeru, "Tidak labbaik dan kau tidak memperoleh kebahagiaan! Bekalmu haram, kendaraanmu haram dan hajimu mendatangkan dosa dan tidak diterima." (HR At Thabrani)
2. Sedekahnya ditolak
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mengumpulkan harta haram, kemudian menyedekahkannya, maka tidak ada pahala, dan dosa untuknya." (HR Ibnu Huzaimah)
3. Shalatnya tidak diterima
Dalam kitab Sya'bul Imam disebutkan, "Barangsiapa yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham di antaranya uang haram, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama pakaian itu dikenakan." (HR Ahmad)
4. Silaturrahminya sia-sia
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mendapatkan harta dari dosa, lalu ia dengannya bersilaturahim (menyambung persaudaraan) atau bersedekah, atau membelanjakan (infaq) di jalan Allah, maka Allah menghimpun seluruhnya itu, kemudian Dia melemparkannya ke dalam neraka. Lalu Rasulullah saw bersabda, " Sebaik-baiknya agamamu adalah al-wara' (berhati-hati)." (HR Abu Daud).
Jumat, 08 Februari 2019
Yakin harta yang kita peroleh halal ??
Yakin Harta yang Kita Peroleh Halal?
Harta, wanita dan tahta adalah sebuah momok yang sering kita dengar yang paling diperebutkan di dunia ini, dan menjadi salah satu pencetus terjadinya perselisihan hingga peperangan.
Kita tidak akan membahas mengapa tahta dan wanita menjadi salah satu pencetus perselisihan.
Yang kita akan bahas adalah harta, yang halal dan yang haram.
Pernah mendengar seseorang bicara demikian?
"Harta Haram aja susah apa lagi yang Halal?"
Ini benar-benar kebablasan. Ini adalah perihal Tauhid atau Aqidah, keyakinan kita kepada Allah sang pencipta dan pemilik sejati harta.
Jika ada kesulitan bagi kita mencari harta halal? Masalah terbesarnya kadang kita tidak mau mencarinya dengan penuh kesungguhan. Karena, jika kita tahu dampak buruk dari harta haram, bicara hal demikian pun tidak akan terlintas di benak kita untuk mencari yang haram.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Akan datang suatu masa orang-orang tidak peduli dari mana harta dihasilkannya, apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram”. (HR. Bukhari).
Apakah jaman ini sudah masuk seperti yang Rasulullah katakan?
Wallahu a'lam..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang dikabulkan doanya, bila ia mendoakan kehancuran untuk para pemuja harta, niscaya kebinasaan akan menimpa mereka.
Bagaimana tidak, saat manusia di hatinya di penuhi kecintaan akan harta, maka apa yang menjadi hak Allah terhadap dia, akan di kesampingkan. Seolah-olah harta yang mereka dapatkan berasal dari keahlian dan hasil kerja kerasnya, tidak ada campur tangan siapa pun, termasuk Allah.
Bukan kah sering kita mendengar, tempatkan hartamu ditangan bukan dihati mu, agar jelas harta hanyalah alat untuk kita mendekatkan diri kepada Allah bukan semakin menjauh dari Allah.
“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan”. (QS. Al-Ankabut: 17).
Lalu bagaimana dengan orang yang masih memiliki hati yang peka, akan tetapi mereka tidak pernah mengerti dan memahami muamalah, kelompok ini mau tidak mau, suka tidak suka akan melanggar syariat Allah saat mereka mengumpulkan harta atas ketidaktahuan mereka.
Mereka adalah orang yang dimaksud oleh khalifah ke 4, yaitu Ali bin Abi Thalib radhyalahu ‘anhu.
“ Barang siapa yang melakukan perniagaan sebelum mempelajari fikih (muamalah) dia akan terjerumus ke dalam riba, dia akan terjerumus dan terjerumus”. (dinukil oleh Abu Layts, Tanbih Al Ghafilin, hal. 364).
Jika sudah seperti ini, kembali ke pertanyaan di atas,
"Yakin Harta yang Kita Peroleh Halal?"
Langganan:
Postingan (Atom)
