SUATU daerah pedalaman di sebuah negara berkembang, terdapat seekor burung elang yang besar dan gagah. Penduduk setempat mengatakan bahwa elang itu tidak pernah mengganggu mereka sedikitpun.
Akan tetapi ada kejadian yang aneh setiap kali badai menerjang desa tersebut. Penduduk dan hewan lainnya berlarian menghindar, namun elang itu menghadapi sang badai dengan gagahnya. Ternyata badai itu dijadikannya untuk dapat mencapai titik terbang tertingginya.
Elang itu tidak mampu melakukannya jika tidak ada badai. Ia hanya mampu mencapai titik tertinggi saat badai datang. Karna dorongan kuat angin menyebabkan sang elang mampu terbang dengan bebas.
Saat badai datang menghadang kehidupan kita. Sadarilah bahwa ia akan meninggikanmu. Tidak percaya?
Baiklah, simak cerita ini.
Seorang wanita yang sudah mendapat penentuan tanggal pernikahan tiba-tiba mendengar kabar bahwa calon suaminya tabrakan dan meninggal.
Ia syok bukan main saat mengetahui hal itu. Bagaimana tidak, undangan sudah disebar, catring sudah dipesan, pakaian pernikahan sudah siap diantar oleh butik langganannya.
Satu bulan berlalu, ia mencoba bangkit. Ia perlahan berani berbaur. Ia sering berlama-lama menghabiskan waktunya di toko buku. Ternyata setelah kejadian satu bulan yang lalu, menyebabkan ia mulai menyukai dunia parenting. Maka dibelilah buku-buku parenting.
Kemudian lambat laun, ia sering berbagi tentang parenting kepada orang tua di komplek tempat ia tinggal. Dan semua orang tua merasa terbantu oleh arahan-arahannya.
Sampai akhirnya, seorang teman SMAnya yang memiliki Perusahaan EO terbasar dikota tersebut mengundangnya ke sebuah acara seminar parenting sebagi pembicara. Akhirnya ia terkenal sebagai trainer parenting dan Allah menakdirkan ia menikah dengan pengusaha sukses.
Badai tidak selalu merugikan. Yakinlah bahwa badai itu peninggimu.
Minggu, 07 Februari 2016
Resiko POLISI
Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial
KITA kerapkali menghujat Polisi, tapi di lain sisi kita sangat membutuhkan keberadaan Polisi, terutama dalam upaya pengamanan, pencegahan, pemberantasan kriminalitas dan Narkoba. Sayangnya, resiko tugas Polisi seringkali kita abaikan. Sekali-kali cobalah melihat Polisi dengan “mata hati”, jangan melulu dengan “mata kaki”.
———-
TIGA hari lalu, saat sedang dalam taksi menuju Plaza Indonesia, handphone saya berdering, ternyata sebuah panggilan dari sahabat karib saya, yakni anggota Satnarkoba Polres Bangka. “Yak, walaupun Pok sekarang tinggal di Jakarta, tapi Pok ngikutin pemberitaan di media lokal nggak, sekarang lagi ramai pemberitaan kita?” lantas saya pun bertanya: “Iya, selalu ngikutin. Pemberitaan yang mana? Apa soal kematian salah satu gembong Narkoba yang menyeret kawan-kawan Polisi diperiksa akibat kematiannya?”.
“Iya, itulah Yak” jawabnya. “Perlu ayak ketahui, kami tidak pernah menembak apalagi menyayat tubuhnya seperti yang diberitakan. Kami Polisi bukan PKI. Saya sedih sekali membaca pemberitaan di media massa lokal yang menyudutkan kami dari pihak kepolisian. Padahal niatan kami adalah menyelamatkan masyarakat dari Narkoba yang lah sangat nue di Bangka-Belitung ne. Tapi ternyata tidak didukung oleh pihak media bahkan masyarakat. Sebagai adik, ko ne nek curhat kek ayak……………” panjang lebar sahabat karib yang sudah saya anggap sebagai saudara kandung ini menceritakan isi hatinya mengenai ramainya pemberitaan di media massa lokal yang juga menyakut dirinya sebagai anggota Tim penyergapan salah satu gembong Narkoba di wilayah Bangka.
Seperti yang kita ketahui, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini aparat kepolisian di wilayah Babel sangat gencar dalam melakukan pemberantasan terhadap peredaran Narkoba. Hal ini patut kita berikan apresiasi karena Narkoba adalah musuh bersama, bukan hanya musuh Polisi. Pengaruh buruk Narkoba bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali Polisi sekalipun. Oleh karenanya, Polisi sebagai garda terdepan dalam pencegahan dan pemberantasan Narkoba sepatutnya kita dukung. Pernahkah kita sekali-kali merenung bahwa Polisi sebagai garda terdepan pencegahan dan pemberantasan peredaran Narkoba serta ratusan jenis kejahatan kriminal lainnya harus menanggung resiko yang sangat besar?
Melihat Polisi Dengan Mata Hati
HAMPIR 400 ribu Anggota Polri bertugas di seluruh Nusantara, sampai ke tingkat desa dalam lingkup organisasi ujung tombang disebut sebagai Kepolisian Sektor (Polsek). Peran Polri dalam melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat bersentuhan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Sikap inilah yang seharusnya mewarnai pelaksanaan tugas sebagai penegak hukum dan penjaga kamtibmas dalam negeri.
Tugas Polri penuh dengan resiko. Seperti warga negara lainnya, anggota Polri memiliki keluarga, rumah tangga, dan persoalan pribadi. Namun dalam kondisi demikian, seorang Polisi dituntut untuk tetap melaksanakan tugas tak mengenal waktu dan tak mengenal masalah pribadi disaat mengemban tugas, semuanya harus “siap Ndan!”. Tantangan kehidupan yang penuh resiko inilah selayaknya mendapat apresiasi dari pemerintah dan terlebih lagi dari masyarakat seperti kita.
Menurut Prof. Tjipto, Pekerjaan Polisi sulit diatur hukum karena bergelimang interaksi dengan manusia (masyarakat) secara langsung, yakni “penegak hukum jalanan”. Polisi sebagai penegak hukum jauh berbeda dengan Jaksa dan Hakim yang mungkin lebih pantas kita sebut sebagai “penegak hukum gedongan”. Polisi adalah petugas (officer) lapangan, bekerja “tanpa sarung tangan” dan “tidak dibelakang loket”, berada langsung ditengah orang baik maupun orang jahat. Makanya, resiko Polisi dikalungi celurit, ditembak saat penggerbekan jauh lebih besar ketimbang Jaksa atau Hakim yang rasa-rasanya tak mungkin diclurit di ruang sidang sebesar apapun tuntutan dan vonis yang diberikan.
Oleh karenanya, bagi Polisi menjalankan Hukum Pidana tidak seperti menarik garis lurus antara dua titik, tetapi penuh dengan pergulatan sosiologis dan kemanusiaan. Karena itu, secara agak dramatis kita boleh mengatakan, sebagian “nasib Indonesia” terletak di tangan Polisi. Hukum menyediakan banyak peluang untuk Polisi menjadi pahlawan bagi bangsanya, namun di lain pihak peluang itu juga ternyata dapat menjerumuskan Polisi ke jurang kenistaan dengan menjadi Polisi korup, suka melakukan kekerasan tanpa alasan jelas, pemerasan dan lain sebagainya.
Kadangkala masyarakat dan media pun seringkali bersikap tidak adil terhadap Polisi. Misalnya, berita tewasnya seorang Polisi saat menjalankan tugas bukanlah berita utama dan masyarakat tak perlu berbela sungkawa, komentator-komentator hilang suara. Pasalnya hal tersebut dianggap sebagai berita biasa dan publik sepertinya digiring untuk sekedar berkata “mun tu lah resiko e” atau “dak tau ngapelah, sape suruh jadi Polisi”. Namun jika hal sebaliknya terjadi, Polisi harus menanggung resiko sendiri.
Oleh karenanya, adagium yang menyebutkan Polisi itu diibaratkan orang yang menempatkan satu kakinya di kuburan dan satu lagi di penjara. Adagium ini sudah menyatu, terutama bagi Polisi di garda terdepan, misalnya Reserse. Mau tidak mau ia harus sadar bahwa tugas yang dihadapi adalah sebagai crime hunter atau pemburu kejahatan. Ia berhadapan dengan pelaku kejahatan, dari penjahat kelas teri hingga kelas kakap. Ia harus siap berduel secara fisik dengan penjahat yang sudah nekat untuk mati. Ia harus sangat siap untuk mengorbankan satu-satunya nyawa. Di sisi lain, apabila dalam proses penangkapan, penahanan, penyitaan, introgasi dan sebagainya terjadi kesalahan formal atau material, seorang Polisi harus siap digugat di Pengadilan dan mempertanggungjawabkan didepan sidang disiplin, kode etik, sampai pada sidang peradilan umum yang bisa mengantarkannya ke penjara. Di saat seperti itu, adakah masyarakat yang membela?
Lalu, bagaimana sikap negara? Pernahkah terpikirkan oleh negara bahwa Polisi di garda depan seperti Reserse, tim Narkoba, dan sebagainya mendapat gaji yang lebih dari Polisi lainnya? Secara khusus negara belum memberikan tunjangan khusus terhadap mereka, bahkan asuransi pun tidak menyentuh diri mereka dan keluarga. Padahal terhadap profesi yang berresiko tinggi sangat diperlukan jaminan-jaminan tersebut. Oleh karenanya, sudah saatnya negara memberikan ruang kesejahteraan kepada para Polisi yang bertugas di garda terdepan mencegah dan memberantas kriminalitas di negeri ini, apalagi persoalan Narkoba yang sangat merusak generasi bangsa. Tapi yang paling dibutuhkan oleh Polisi tersebut adalah perlindungan hukum dan perlindungan jiwa mereka. Karena bagaimana pun Polisi tidak lahir dari batu, hidup sendiri tanpa keluarga, tanpa lingkungan, tanpa anak isteri dan sebagainya. Upaya ini dilakukan agar Polisi bisa bertugas dengan penuh konsentrasi dan tanpa terbebani dengan persoalan yang menghantui.
Begitupula para petinggi (atasan) hendaknya bisa membela anggota-nya dengan sepenuh hati ketika bermasalah saat menjalankan tugas mulia. Jangan sampai apa yang kerapkali diungkapkan oleh Polisi kelas bawah (pangkat rendah) ada benarnya: “Nasib buruk tanggung sendiri dan akan dianggap resiko tugas oleh pimpinan, namun jika berhasil semua pucuk pimpinan berkata: “Itu anggota saya!”.
So, mari sekali-kali melihat polisi dengan mata hati, jangan melulu dengan mata kaki. Kita sadar Polisi bukanlah malaikat, tapi sedikit saja Polisi berbuat kekeliruan atau terpeleset, kita ramai-ramai menyerang, media sibuk memberitakan bahkan kadangkala berlebihan, komentator-komentator pun sibuk mencari celah menyalahkan Polisi tanpa ia sadari bahwa ia bisa tidur nyenyak salah satunya disebabkan karena lingkungan tempat tinggal kita aman oleh keberadaan Polisi.
Akhirnya, dengan penuh ketulusan, di penghujung komunikasi melalui handphone, kepada sahabat karib tadi, saya katakan: “Jangan menyerah dan tak perlu sedih. Salam saya buat seluruh anggota tim Narkoba Polres Bangka. Terus bekerja karena rakyat yang tak bersuara justru lebih banyak mendukung dan mendo’akan kalian, apalagi memberantas gembong-gembong Narkoba yang sangat merusak kehidupan generasi kita. Bekerjalah dengan niat lillahi ta’ala untuk bangsa dan negara. Memang, terkadang “sinyu” bukan dikalahkan oleh bandit, tapi seringkali dikalahkan oleh keadaan serta lingkungan yang tak mendukung. Kami masyarakat kecil masih sangat percaya dan membutuhkan Polisi!
Salam Polisi!
Penulis Buku / Pemerhati Sosial
KITA kerapkali menghujat Polisi, tapi di lain sisi kita sangat membutuhkan keberadaan Polisi, terutama dalam upaya pengamanan, pencegahan, pemberantasan kriminalitas dan Narkoba. Sayangnya, resiko tugas Polisi seringkali kita abaikan. Sekali-kali cobalah melihat Polisi dengan “mata hati”, jangan melulu dengan “mata kaki”.
———-
TIGA hari lalu, saat sedang dalam taksi menuju Plaza Indonesia, handphone saya berdering, ternyata sebuah panggilan dari sahabat karib saya, yakni anggota Satnarkoba Polres Bangka. “Yak, walaupun Pok sekarang tinggal di Jakarta, tapi Pok ngikutin pemberitaan di media lokal nggak, sekarang lagi ramai pemberitaan kita?” lantas saya pun bertanya: “Iya, selalu ngikutin. Pemberitaan yang mana? Apa soal kematian salah satu gembong Narkoba yang menyeret kawan-kawan Polisi diperiksa akibat kematiannya?”.
“Iya, itulah Yak” jawabnya. “Perlu ayak ketahui, kami tidak pernah menembak apalagi menyayat tubuhnya seperti yang diberitakan. Kami Polisi bukan PKI. Saya sedih sekali membaca pemberitaan di media massa lokal yang menyudutkan kami dari pihak kepolisian. Padahal niatan kami adalah menyelamatkan masyarakat dari Narkoba yang lah sangat nue di Bangka-Belitung ne. Tapi ternyata tidak didukung oleh pihak media bahkan masyarakat. Sebagai adik, ko ne nek curhat kek ayak……………” panjang lebar sahabat karib yang sudah saya anggap sebagai saudara kandung ini menceritakan isi hatinya mengenai ramainya pemberitaan di media massa lokal yang juga menyakut dirinya sebagai anggota Tim penyergapan salah satu gembong Narkoba di wilayah Bangka.
Seperti yang kita ketahui, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini aparat kepolisian di wilayah Babel sangat gencar dalam melakukan pemberantasan terhadap peredaran Narkoba. Hal ini patut kita berikan apresiasi karena Narkoba adalah musuh bersama, bukan hanya musuh Polisi. Pengaruh buruk Narkoba bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali Polisi sekalipun. Oleh karenanya, Polisi sebagai garda terdepan dalam pencegahan dan pemberantasan Narkoba sepatutnya kita dukung. Pernahkah kita sekali-kali merenung bahwa Polisi sebagai garda terdepan pencegahan dan pemberantasan peredaran Narkoba serta ratusan jenis kejahatan kriminal lainnya harus menanggung resiko yang sangat besar?
Melihat Polisi Dengan Mata Hati
HAMPIR 400 ribu Anggota Polri bertugas di seluruh Nusantara, sampai ke tingkat desa dalam lingkup organisasi ujung tombang disebut sebagai Kepolisian Sektor (Polsek). Peran Polri dalam melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat bersentuhan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Sikap inilah yang seharusnya mewarnai pelaksanaan tugas sebagai penegak hukum dan penjaga kamtibmas dalam negeri.
Tugas Polri penuh dengan resiko. Seperti warga negara lainnya, anggota Polri memiliki keluarga, rumah tangga, dan persoalan pribadi. Namun dalam kondisi demikian, seorang Polisi dituntut untuk tetap melaksanakan tugas tak mengenal waktu dan tak mengenal masalah pribadi disaat mengemban tugas, semuanya harus “siap Ndan!”. Tantangan kehidupan yang penuh resiko inilah selayaknya mendapat apresiasi dari pemerintah dan terlebih lagi dari masyarakat seperti kita.
Menurut Prof. Tjipto, Pekerjaan Polisi sulit diatur hukum karena bergelimang interaksi dengan manusia (masyarakat) secara langsung, yakni “penegak hukum jalanan”. Polisi sebagai penegak hukum jauh berbeda dengan Jaksa dan Hakim yang mungkin lebih pantas kita sebut sebagai “penegak hukum gedongan”. Polisi adalah petugas (officer) lapangan, bekerja “tanpa sarung tangan” dan “tidak dibelakang loket”, berada langsung ditengah orang baik maupun orang jahat. Makanya, resiko Polisi dikalungi celurit, ditembak saat penggerbekan jauh lebih besar ketimbang Jaksa atau Hakim yang rasa-rasanya tak mungkin diclurit di ruang sidang sebesar apapun tuntutan dan vonis yang diberikan.
Oleh karenanya, bagi Polisi menjalankan Hukum Pidana tidak seperti menarik garis lurus antara dua titik, tetapi penuh dengan pergulatan sosiologis dan kemanusiaan. Karena itu, secara agak dramatis kita boleh mengatakan, sebagian “nasib Indonesia” terletak di tangan Polisi. Hukum menyediakan banyak peluang untuk Polisi menjadi pahlawan bagi bangsanya, namun di lain pihak peluang itu juga ternyata dapat menjerumuskan Polisi ke jurang kenistaan dengan menjadi Polisi korup, suka melakukan kekerasan tanpa alasan jelas, pemerasan dan lain sebagainya.
Kadangkala masyarakat dan media pun seringkali bersikap tidak adil terhadap Polisi. Misalnya, berita tewasnya seorang Polisi saat menjalankan tugas bukanlah berita utama dan masyarakat tak perlu berbela sungkawa, komentator-komentator hilang suara. Pasalnya hal tersebut dianggap sebagai berita biasa dan publik sepertinya digiring untuk sekedar berkata “mun tu lah resiko e” atau “dak tau ngapelah, sape suruh jadi Polisi”. Namun jika hal sebaliknya terjadi, Polisi harus menanggung resiko sendiri.
Oleh karenanya, adagium yang menyebutkan Polisi itu diibaratkan orang yang menempatkan satu kakinya di kuburan dan satu lagi di penjara. Adagium ini sudah menyatu, terutama bagi Polisi di garda terdepan, misalnya Reserse. Mau tidak mau ia harus sadar bahwa tugas yang dihadapi adalah sebagai crime hunter atau pemburu kejahatan. Ia berhadapan dengan pelaku kejahatan, dari penjahat kelas teri hingga kelas kakap. Ia harus siap berduel secara fisik dengan penjahat yang sudah nekat untuk mati. Ia harus sangat siap untuk mengorbankan satu-satunya nyawa. Di sisi lain, apabila dalam proses penangkapan, penahanan, penyitaan, introgasi dan sebagainya terjadi kesalahan formal atau material, seorang Polisi harus siap digugat di Pengadilan dan mempertanggungjawabkan didepan sidang disiplin, kode etik, sampai pada sidang peradilan umum yang bisa mengantarkannya ke penjara. Di saat seperti itu, adakah masyarakat yang membela?
Lalu, bagaimana sikap negara? Pernahkah terpikirkan oleh negara bahwa Polisi di garda depan seperti Reserse, tim Narkoba, dan sebagainya mendapat gaji yang lebih dari Polisi lainnya? Secara khusus negara belum memberikan tunjangan khusus terhadap mereka, bahkan asuransi pun tidak menyentuh diri mereka dan keluarga. Padahal terhadap profesi yang berresiko tinggi sangat diperlukan jaminan-jaminan tersebut. Oleh karenanya, sudah saatnya negara memberikan ruang kesejahteraan kepada para Polisi yang bertugas di garda terdepan mencegah dan memberantas kriminalitas di negeri ini, apalagi persoalan Narkoba yang sangat merusak generasi bangsa. Tapi yang paling dibutuhkan oleh Polisi tersebut adalah perlindungan hukum dan perlindungan jiwa mereka. Karena bagaimana pun Polisi tidak lahir dari batu, hidup sendiri tanpa keluarga, tanpa lingkungan, tanpa anak isteri dan sebagainya. Upaya ini dilakukan agar Polisi bisa bertugas dengan penuh konsentrasi dan tanpa terbebani dengan persoalan yang menghantui.
Begitupula para petinggi (atasan) hendaknya bisa membela anggota-nya dengan sepenuh hati ketika bermasalah saat menjalankan tugas mulia. Jangan sampai apa yang kerapkali diungkapkan oleh Polisi kelas bawah (pangkat rendah) ada benarnya: “Nasib buruk tanggung sendiri dan akan dianggap resiko tugas oleh pimpinan, namun jika berhasil semua pucuk pimpinan berkata: “Itu anggota saya!”.
So, mari sekali-kali melihat polisi dengan mata hati, jangan melulu dengan mata kaki. Kita sadar Polisi bukanlah malaikat, tapi sedikit saja Polisi berbuat kekeliruan atau terpeleset, kita ramai-ramai menyerang, media sibuk memberitakan bahkan kadangkala berlebihan, komentator-komentator pun sibuk mencari celah menyalahkan Polisi tanpa ia sadari bahwa ia bisa tidur nyenyak salah satunya disebabkan karena lingkungan tempat tinggal kita aman oleh keberadaan Polisi.
Akhirnya, dengan penuh ketulusan, di penghujung komunikasi melalui handphone, kepada sahabat karib tadi, saya katakan: “Jangan menyerah dan tak perlu sedih. Salam saya buat seluruh anggota tim Narkoba Polres Bangka. Terus bekerja karena rakyat yang tak bersuara justru lebih banyak mendukung dan mendo’akan kalian, apalagi memberantas gembong-gembong Narkoba yang sangat merusak kehidupan generasi kita. Bekerjalah dengan niat lillahi ta’ala untuk bangsa dan negara. Memang, terkadang “sinyu” bukan dikalahkan oleh bandit, tapi seringkali dikalahkan oleh keadaan serta lingkungan yang tak mendukung. Kami masyarakat kecil masih sangat percaya dan membutuhkan Polisi!
Salam Polisi!
Kamis, 04 Februari 2016
Benarkah Orang Islam Menyembah Ka'bah?
KabarMakkah.Com - Banyak dari mereka yang memusuhi Islam mengatakan bahwa Tuhannya orang Islam adalah batu, karena di waktu sholat pasti mereka menghadap ke arah Ka'bah, dan ka'bah itu sendiri hanyalah sebuah batu yang disusun. Apakah anggapan ini benar?
Jika Islam memang menentang penyembahan berhala, lalu mengapa umat Islam menyembah dan sujud kepada Ka'bah ?
Benarkah Orang Islam Menyembah Ka'bah?
Dalam menjawab pertanyaan pertanyaan seperti diatas, mungkin sebagian kita akan bingung. Namun, Dr. Zakir Naik, seorang dai terkenal dari India yang dikenal cerdas dan ahli dalam ilmu perbandingan agama menjawabnya dengan lugas, cerdas, dan ilmiah.
Berikut adalah jawaban beliau yang diambil dari buku "Mereka Bertanya, Islam Menjawab: Kumpulan Pertanyaan Mengganjal tentang Islam yang Sering Diajukan Orang Awam dan Non-Muslim"
"Ka'bah adalah kiblat, yaitu arah kaum muslimin menghadap dalam shalat mereka. Perlu dicatat bahwa walaupun kaum muslimin menghadap Ka'bah dalam sholat, mereka tidak menyembah Ka'bah. Kaum muslimin hanya menyembah dan bersujud kepada Allah. Ketika mereka melakukan thawaf di Ka'bah atau mencium Hajar Aswad, itu semua dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Karena Allah-lah yang memerintahkannya untuk melakukan hal tersebut. Disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 144:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ
"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya...."
Berikut adalah berbagai argumentasi yang bisa digunakan untuk menjelaskan dan menyanggah orang orang yang mengatakan bahwa islam menyembah berhala.
1. Islam Menghendaki Persatuan
Ketika kaum muslimin hendak menunaikan sholat, bisa jadi ada sebagian orang yang ingin menghadap ke utara, sedangkan yang lainnya ingin menghadap ke selatan. Untuk menyatukan kaum muslimin dalam beribadah kepada Allah maka kaum muslimin di mana pun berada diperintahkan hanya menghadap ke satu arah, yaitu Ka'bah. Kaum muslimin yang tinggal di sebelah barat Ka'bah, mereka salat menghadap timur. Begitu pula yang tinggal di sebelah timur Ka'bah, mereka menghadap barat. Dan inilah satu satunya agama yang memiliki Qiblat
2. Ka'bah Terletak di Pusat Bumi
Kaum muslimin adalah umat pertama yang menggambar peta dunia. Mereka menggambar peta dengan selatan menunjuk ke atas dan utara ke bawah. Ka'bah berada di pusatnya. Kemudian, para kartografer Barat membuat peta terbalik dengan utara menghadap ke atas dan selatan ke bawah. Meski begitu, alhamdulillah, Ka'bah terletak di tengah-tengah peta. SubhanAllah..!
3. Thowaf Keliling Ka'bah adalah Untuk Menunjukkan Keesaan Allah
Ketika kaum muslimin pergi ke Masjidil Haram di Mekah, mereka melakukan tawaf atau berkeliling Ka'bah. Perbuatan ini melambangkan keimanan dan peribadahan kepada satu Tuhan. Sama persis dengan lingkaran yang hanya punya satu pusat maka hanya Allah saja yang berhak disembah.
4. Hadits Umar bin Khathab
Mengenai batu hitam, hajar aswad, Sayyidina Umar bin Khattab berkata, "Aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan mudarat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu."(HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukan bahwa Ka'bah bukanlah sesembahan, dan perlu anda ketahui bahwa hajar aswad termasuk bagian dari ka'bah juga.
5. Di Jaman Dahulu Orang Berdiri Diatas Ka'bah Dan Mengumandangkan Azan
Pada zaman Nabi, para sahabat bahkan berdiri di atas Ka'bah dan mengumandangkan azan.
Coba kita tanyakan kepada mereka yang menuduh kaum muslimin menyembah Ka'bah; penyembah berhala mana yang berani berdiri di atas berhala sesembahannya ? " tentu saja tidak ada. hal ini menunjukkan bahwa Ka'bah bukanlah sesembahan umat Muslim.
Dan sampai sekarang pada waktu pencucian Ka'bah pun cleaning servicenya juga berdiri menginjak Ka'bah.
Jika Islam memang menentang penyembahan berhala, lalu mengapa umat Islam menyembah dan sujud kepada Ka'bah ?
Benarkah Orang Islam Menyembah Ka'bah?
Dalam menjawab pertanyaan pertanyaan seperti diatas, mungkin sebagian kita akan bingung. Namun, Dr. Zakir Naik, seorang dai terkenal dari India yang dikenal cerdas dan ahli dalam ilmu perbandingan agama menjawabnya dengan lugas, cerdas, dan ilmiah.
Berikut adalah jawaban beliau yang diambil dari buku "Mereka Bertanya, Islam Menjawab: Kumpulan Pertanyaan Mengganjal tentang Islam yang Sering Diajukan Orang Awam dan Non-Muslim"
"Ka'bah adalah kiblat, yaitu arah kaum muslimin menghadap dalam shalat mereka. Perlu dicatat bahwa walaupun kaum muslimin menghadap Ka'bah dalam sholat, mereka tidak menyembah Ka'bah. Kaum muslimin hanya menyembah dan bersujud kepada Allah. Ketika mereka melakukan thawaf di Ka'bah atau mencium Hajar Aswad, itu semua dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Karena Allah-lah yang memerintahkannya untuk melakukan hal tersebut. Disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 144:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ
"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya...."
Berikut adalah berbagai argumentasi yang bisa digunakan untuk menjelaskan dan menyanggah orang orang yang mengatakan bahwa islam menyembah berhala.
1. Islam Menghendaki Persatuan
Ketika kaum muslimin hendak menunaikan sholat, bisa jadi ada sebagian orang yang ingin menghadap ke utara, sedangkan yang lainnya ingin menghadap ke selatan. Untuk menyatukan kaum muslimin dalam beribadah kepada Allah maka kaum muslimin di mana pun berada diperintahkan hanya menghadap ke satu arah, yaitu Ka'bah. Kaum muslimin yang tinggal di sebelah barat Ka'bah, mereka salat menghadap timur. Begitu pula yang tinggal di sebelah timur Ka'bah, mereka menghadap barat. Dan inilah satu satunya agama yang memiliki Qiblat
2. Ka'bah Terletak di Pusat Bumi
Kaum muslimin adalah umat pertama yang menggambar peta dunia. Mereka menggambar peta dengan selatan menunjuk ke atas dan utara ke bawah. Ka'bah berada di pusatnya. Kemudian, para kartografer Barat membuat peta terbalik dengan utara menghadap ke atas dan selatan ke bawah. Meski begitu, alhamdulillah, Ka'bah terletak di tengah-tengah peta. SubhanAllah..!
3. Thowaf Keliling Ka'bah adalah Untuk Menunjukkan Keesaan Allah
Ketika kaum muslimin pergi ke Masjidil Haram di Mekah, mereka melakukan tawaf atau berkeliling Ka'bah. Perbuatan ini melambangkan keimanan dan peribadahan kepada satu Tuhan. Sama persis dengan lingkaran yang hanya punya satu pusat maka hanya Allah saja yang berhak disembah.
4. Hadits Umar bin Khathab
Mengenai batu hitam, hajar aswad, Sayyidina Umar bin Khattab berkata, "Aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan mudarat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu."(HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukan bahwa Ka'bah bukanlah sesembahan, dan perlu anda ketahui bahwa hajar aswad termasuk bagian dari ka'bah juga.
5. Di Jaman Dahulu Orang Berdiri Diatas Ka'bah Dan Mengumandangkan Azan
Pada zaman Nabi, para sahabat bahkan berdiri di atas Ka'bah dan mengumandangkan azan.
Coba kita tanyakan kepada mereka yang menuduh kaum muslimin menyembah Ka'bah; penyembah berhala mana yang berani berdiri di atas berhala sesembahannya ? " tentu saja tidak ada. hal ini menunjukkan bahwa Ka'bah bukanlah sesembahan umat Muslim.
Dan sampai sekarang pada waktu pencucian Ka'bah pun cleaning servicenya juga berdiri menginjak Ka'bah.
Seseorang itu kalau sudah merasa ‘baik’… SULIT DIPERBAIKI
Berkata al-Ustaadz DR. Syafiq bin Riza Basalamah -hafizhahullaah- (semoga Allaah menjaganya) dalam salah satu pengajian rutin beliau :
“Seseorang itu kalau sudah merasa ‘baik’… SULIT DIPERBAIKI”
Sungguh perkataan singkat yang amat menusuk dan amat dalam maknanya…
[1] Awal mula tertimpanya keburukan bagi seseorang, apabila dia merasa dirinya sebagai ‘orang baik’
Perkataan beliau ini mengingatkan kita tentang nasehat dari Ummul Mu`miniin ‘Aa`isyah radhiyallaahu ‘anha ketika beliau ditanya:
مَتَى يَكُوْنُ الرَّجُلُ مُسِيْأً
Kapan seseorang itu dikatakan buruk?
Beliau menjawab:
إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ مُحْسِنٌ
Ketika dia menyangka dirinya seorang yang baik.
(At-Taisiir bisyarh Al-Jaami’ as-Shoghiir 2/606; kutip dari web ust. firanda)
Benarlah perkataan beliau, awal mula keterperosokan seseorang dalam keburukan, ketika dia menilai dirinya sebagai seorang yang baik. Maka dia pun akan mulai merendahkan orang lain. Maka dia pun merasa serba-berkecukupan, sehingga menghalangi dirinya untuk terus memperbaiki segala keburukannya, kesalahannya, kekeliruannya, serta kekurangan-kekurangannya dalam penunaian kebaikan.
[2] Demikian pula, Seseorang itu sulit mendapatkan ilmu, ketika sudah merasa berilmu.
Fudhayl bin ‘Iyyaadh ditanyakan tentang tawadhu’, maka beliau menjawab:
أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُ
Engkau tunduk dan patuh pada kebenaran, meskipun engkau mendengarnya dari seorang anak kecil; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya. Meskipun engkau mendengarnya dari manusia yang paling bodoh; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya.
(Hilyatul Auliyaa’ 8/91; kutip dari web ust. firanda)
Jangan sampai banyaknya pengajian yang telah kita hadiri, banyaknya buku yang telah kita baca, banyaknya nasehat yang kita dapatkan dari saudara seiman kita; tapi itu semua tidaklah menambah keimanan dalam hati-hati kita. Sehingga ketika kita mendapati nasehat, masukan, saran atau kritik dari saudara kita (dan apa yang disampaikan tersebut benar); yang kita nilai level keilmuannya mungkin lebih rendah dari kita; lantas kita malah menolaknya hanya karena hal tersebut. Sehingga kitapun terhalang dari mendapatkan ilmu karena sikap tersebut… Sehingga kitapun menjadi terbelakang, karena sikap tersebut…
[3] Demikian pula, seseorang itu sulit mengakui dan menghadirkan kekurangan amal dirinya, apabila dia telah menyangka amalnya sudah sempurna (apalagi menyangka amalnya sudah diterima); sehingga ia pun enggan memperbaiki kualitas amalnya, apalagi menambahkan kuantitasnya.
Berkata salah seorang ulamaa ketika melihat orang yang mengagumi amalnya:
لاَ يَغُرَنَّكَ مَا رَأَيْتَ مِنِّي فَإِنَّ إِبْلِيْسَ تَعَبَّدَ آلاَفَ سِنِيْنَ ثُمَّ صَارَ إِلَى مَا صَارَ إِلَيْهِ
“Janganlah engkau terpedaya dengan apa yang kau lihat dariku, sesungguhnya Iblis beribadah kepada Allah ribuan tahun, kemudian dia menjadi kafir kepada Allah”
(At-Taisiir bisyarh Al-Jaami’ as-Shoghiir 2/606; kutip dari web ust. firanda)
Allaahu akbar. Sungguh menakjubkan perkataan beliau. Alangkah jauhnya beliau dari ketertipuan dan keterpedayaan. Banyaknya amal yang beliau lakukan, tidaklah lantas menjadikan beliau pongah. Kagumnya orang-orang pada amal beliau, tidaklah menjadikan beliau berbangga. Bahkan beliau tetap khawatir dengan dirinya, karena dahulu ibliis pun adalah makhluq yang -zhahirnya- taat, tapi karena kebusukan niatnya, hingga akhirnya Allaah menampakkan hakikatnya ketika dia diuji.
Kita berlindung kepada Allaah dari ketertipuan, seraya kita memohon padaNya husnul khaatimah.. aamiin.
Semoga bermanfaat…
Aku Memilih Kehidupan Akhirat
DI antara langkah-langkah setan adalah menyibukan manusia dengan hal-hal yang mubah –perbuatan yang boleh dilakukan tetapi tidak mendapat pahala disisi-Nya—secara berlebihan sehingga dapat menyebabkan kelalaian dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan menyita waktu.
Termasuk dalam berlebih-lebihan ialah, berlebihan dalam bergaul, makan, minum, tidur, bebicara, mendengar, melihat, dan lain sebagainya. Nah, kegiatan itu merupakan halal –boleh-dikerjakan. Ada yang perlu dicatat, bahwa itu boleh dikerjakan akan tetapi tidak berlebihan, kerjakan sesuai porsinya saja, biar mantap!
Ketika seseorang melakukan segala sesuatu secara berlebihan hingga apa yang ia lakukan itu menjadi sebuah kebiasaan, maka akan mempengaruhi hati, dan jika manusia bersikap melampaui batas dalam melakukan perbuatan-perbuatan halal –makan, minum, tidur, dan lain-lain—maka apa yang akan terjadi, ia akan angkuh dan lupa untuk mengingat Allah SWT.
Dan apabila manusia hidup dalam buaian kenikmatan dan kemewahan yang mubah, maka akan terjerumus ke dalam lembah-lembah keragu-raguan (Syubhat), dan pada akhirnya akn terjerumus pada jurang syahwat, lalu pada gilirannya akan tumbuh pemikiran dan kemampuan mujahadahnya.
Padahal, kalau kita lihat sejarah kehidupan Rasulullah SAW dan generasi pertama dari umat Islam ini, mereka akan dapatkan bahwa kehidupan mereka akan lebih banyak unsur kezuhudan dan kefakirannya.
Itu karena Allah mengetahui bahwa tidak ada yang dapat memperbaiki keadaan mereka kecuali kefakiran, maka dari itu Allah SWT memilih kefakiran bagi mereka.
Padahal sekiranya Nabi SAW menginginkan kekayaan dunia, pasti Allah memberikan kepadanya, akan tetapi Nabi lebih memilih dan lebih menyukai kehidupan akhirat atas kehidupan dunia. Bahkan beliau wafat tanpa meninggalkan dirham, dinar, hamba sahaya, dan harta lainnya, beliau hanya meninggalkan baju besinya yang ia gadaikan kepada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha’(sukat) makanan.
Dari Anas RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda pada suatu hari, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak pernah ada pada keluarga Muhammad satu sha’ biji-bijian dan tidak pula satu sha’ buah kurma sampai sore hari, padahal keluarga Muhammad itu (terdiri)s Sembilan bilik dan saat itu beliau memiliki Sembilan istri.” (HR Ahmad).
Nabi Muhammad SAW menjalani hidupnya dengan kefakiran dan meninggalkan kenikmatan duniawi, maka dari itu beliau mendapatkan kenikmatan dalam ketaatan dan dapat menikmati manisnya bermunajat kepada Allah.
Dengan demikian beliau telah mendapatkan kekayaan yang hakiki, maka beliau mulia di hadapan Allah dan mulia di hadapan manusia. beliau dicintai langit dan bumi, dicintai tumbuhan dan pepohonan, bahkan hewan dan bebatuan menyampaikan salam kepadanya.
“Cukuplah bagi seseorang beberapa suap makanan saja untuk menegakkan tulang punggungnyam, dan kalau harus lebih, maka sepertiga (isi perutnya) untuk makanan, sepertiganya lagi untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk nafsunya,” (HR Ahmad).
Dan demikianlah para sahabat Nabi serta orang-orang setelah mereka terdidik hidup zuhud di dunia, mereka semua mengetahui bahwa kehidupan dunia hanya sesaat, maka dari itu mereka menjadikan kehidupan ini untuk Allah sebagai ketaatan.
Inilah pesan terakhir Abu Baqar ash-Shiddiq, ketika ajal telah mendekat, ia berkata kepada ‘Aisyah RA,“Sesungguhnya saya tidak mengetahui pada keluarga Abu Bakar sedikit harta pun kecuali seekor unta jantan dan budak yang selalu mengurus pedang-pedang kaum Muslimin ini dan selalu membantu kami, jika aku mati, maka serahkan ia kepada Umar,”
Maka ketika ‘Aisyah menyerahkan budak itu kepada Umar, maka Umar berkata, “Semoga Allah mengasihi Abu Bakar, sesungguhnya ia telah memberi beban kepada orang setelahnya.”
Dan beginilah kehidupan para sahabat Rasulullah SAW, mereka lapar makanan, akan tetapi mereka kenyang akan keimanan dan mereka telah menggunakan sebaik-baiknya pakaian, yaitu pakaian ketakwaan.
Maka dari itu mereka pusa dengan sedikit karena mereka mengharapkan sesuatu yang ada di sisi Allah SWT.
Amat jauh dengan kita sekarang, di mana kita saat ini masih amat erat berhubungan dengan segala sesuatu keduniawian. Bahkan, ada di antara kita menjadikan dunia ini sebagai kekasih dan pendamping hidup.
Allah SWT berfirman, “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja), dan kamu telah bersenang-senang dengannya,” (QS Al-Ahqaf: 20).
Sesungguhnya, manusia telah bersikap berlebihan dalam urusan kehidupan dunia hingga angan-angan dan tujuan ada hanyalah untuk memenuhi segala tuntutan nafsu.
Sebagian orang salaf berkata, “Dahulu ada beberapa generasi muda Bani Israil rajin beribadah dan berpuasa hingga jika tiba waktu untuk berbuka, maka seseorang di antara mereka berdiri lalu berkata, ‘Janganlah kamu banyak makan, karena hal itu akan banyak menyebabkan kamu banyak merugi’,”
Ibnu Jauzi berkata, “Ketahuilah bahwa membuka lebar-lebar pintu halal dapat menyebabkan banyak gangguan dalam menjalankan perintah agama, maka tutupilah bejana-bejana sebelum membuka air, gunakan baju besi sebelum turun ke medan perang, dan pikirkanlah sebelum akibat yang akan terjadi sebelum engkau menggerakkan tangan.”
Termasuk dalam berlebih-lebihan ialah, berlebihan dalam bergaul, makan, minum, tidur, bebicara, mendengar, melihat, dan lain sebagainya. Nah, kegiatan itu merupakan halal –boleh-dikerjakan. Ada yang perlu dicatat, bahwa itu boleh dikerjakan akan tetapi tidak berlebihan, kerjakan sesuai porsinya saja, biar mantap!
Ketika seseorang melakukan segala sesuatu secara berlebihan hingga apa yang ia lakukan itu menjadi sebuah kebiasaan, maka akan mempengaruhi hati, dan jika manusia bersikap melampaui batas dalam melakukan perbuatan-perbuatan halal –makan, minum, tidur, dan lain-lain—maka apa yang akan terjadi, ia akan angkuh dan lupa untuk mengingat Allah SWT.
Dan apabila manusia hidup dalam buaian kenikmatan dan kemewahan yang mubah, maka akan terjerumus ke dalam lembah-lembah keragu-raguan (Syubhat), dan pada akhirnya akn terjerumus pada jurang syahwat, lalu pada gilirannya akan tumbuh pemikiran dan kemampuan mujahadahnya.
Padahal, kalau kita lihat sejarah kehidupan Rasulullah SAW dan generasi pertama dari umat Islam ini, mereka akan dapatkan bahwa kehidupan mereka akan lebih banyak unsur kezuhudan dan kefakirannya.
Itu karena Allah mengetahui bahwa tidak ada yang dapat memperbaiki keadaan mereka kecuali kefakiran, maka dari itu Allah SWT memilih kefakiran bagi mereka.
Padahal sekiranya Nabi SAW menginginkan kekayaan dunia, pasti Allah memberikan kepadanya, akan tetapi Nabi lebih memilih dan lebih menyukai kehidupan akhirat atas kehidupan dunia. Bahkan beliau wafat tanpa meninggalkan dirham, dinar, hamba sahaya, dan harta lainnya, beliau hanya meninggalkan baju besinya yang ia gadaikan kepada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha’(sukat) makanan.
Dari Anas RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda pada suatu hari, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak pernah ada pada keluarga Muhammad satu sha’ biji-bijian dan tidak pula satu sha’ buah kurma sampai sore hari, padahal keluarga Muhammad itu (terdiri)s Sembilan bilik dan saat itu beliau memiliki Sembilan istri.” (HR Ahmad).
Nabi Muhammad SAW menjalani hidupnya dengan kefakiran dan meninggalkan kenikmatan duniawi, maka dari itu beliau mendapatkan kenikmatan dalam ketaatan dan dapat menikmati manisnya bermunajat kepada Allah.
Dengan demikian beliau telah mendapatkan kekayaan yang hakiki, maka beliau mulia di hadapan Allah dan mulia di hadapan manusia. beliau dicintai langit dan bumi, dicintai tumbuhan dan pepohonan, bahkan hewan dan bebatuan menyampaikan salam kepadanya.
“Cukuplah bagi seseorang beberapa suap makanan saja untuk menegakkan tulang punggungnyam, dan kalau harus lebih, maka sepertiga (isi perutnya) untuk makanan, sepertiganya lagi untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk nafsunya,” (HR Ahmad).
Dan demikianlah para sahabat Nabi serta orang-orang setelah mereka terdidik hidup zuhud di dunia, mereka semua mengetahui bahwa kehidupan dunia hanya sesaat, maka dari itu mereka menjadikan kehidupan ini untuk Allah sebagai ketaatan.
Inilah pesan terakhir Abu Baqar ash-Shiddiq, ketika ajal telah mendekat, ia berkata kepada ‘Aisyah RA,“Sesungguhnya saya tidak mengetahui pada keluarga Abu Bakar sedikit harta pun kecuali seekor unta jantan dan budak yang selalu mengurus pedang-pedang kaum Muslimin ini dan selalu membantu kami, jika aku mati, maka serahkan ia kepada Umar,”
Maka ketika ‘Aisyah menyerahkan budak itu kepada Umar, maka Umar berkata, “Semoga Allah mengasihi Abu Bakar, sesungguhnya ia telah memberi beban kepada orang setelahnya.”
Dan beginilah kehidupan para sahabat Rasulullah SAW, mereka lapar makanan, akan tetapi mereka kenyang akan keimanan dan mereka telah menggunakan sebaik-baiknya pakaian, yaitu pakaian ketakwaan.
Maka dari itu mereka pusa dengan sedikit karena mereka mengharapkan sesuatu yang ada di sisi Allah SWT.
Amat jauh dengan kita sekarang, di mana kita saat ini masih amat erat berhubungan dengan segala sesuatu keduniawian. Bahkan, ada di antara kita menjadikan dunia ini sebagai kekasih dan pendamping hidup.
Allah SWT berfirman, “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja), dan kamu telah bersenang-senang dengannya,” (QS Al-Ahqaf: 20).
Sesungguhnya, manusia telah bersikap berlebihan dalam urusan kehidupan dunia hingga angan-angan dan tujuan ada hanyalah untuk memenuhi segala tuntutan nafsu.
Sebagian orang salaf berkata, “Dahulu ada beberapa generasi muda Bani Israil rajin beribadah dan berpuasa hingga jika tiba waktu untuk berbuka, maka seseorang di antara mereka berdiri lalu berkata, ‘Janganlah kamu banyak makan, karena hal itu akan banyak menyebabkan kamu banyak merugi’,”
Ibnu Jauzi berkata, “Ketahuilah bahwa membuka lebar-lebar pintu halal dapat menyebabkan banyak gangguan dalam menjalankan perintah agama, maka tutupilah bejana-bejana sebelum membuka air, gunakan baju besi sebelum turun ke medan perang, dan pikirkanlah sebelum akibat yang akan terjadi sebelum engkau menggerakkan tangan.”
Rabu, 03 Februari 2016
Karena Aku Bekerja hanya untuk Allah
"Mereka yang bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan perut semata, maka hasilnya tidak jauh berbeda dari apa yang di keluarkan oleh perutnya" mungkin inilah kalimat yang menjadi cambukan bagi kita, memang tidak dapat dipungkiri setiap orang butuh uang untuk kelangsungan hidupnya, dengan uang orang bisa sedekah, dengan uang orang bisa sekolah, dengan uang orang bisa punya rumah dan membiayai kebutuhan rumah tangga, tetapi uang bukanlah segalanya, mereka yang berkerja yang niatnya hanya karena uang semata terkadang menjadi orang yang sangat MATREALISITIS, suatu kesuksesan adalah jika kita banyak uang dan punya segalanya dengan uang yang kita miliki, itulah pandangan orang yang hidupnya hanya untuk mencari uang, lantas untuk apa niat kita bekerja selama ini, maka hadist dibawah ini menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan yang menggantung dalam pikirankta mengenai niat kita dalam bekerja.
"Allah azza wa jalla tidak menerima amal kecuali bila dilaksanakan dengan ikhlas dalam mencari keridhaan-Nya semata" (H.R. Abu Daud dan Nasa'i)[1]
FAKTA
Di Jepang, orang-orang begitu semangat dan gigihnya melakukan sesuatu sampai dia rela mengorbankan diri dan juga harta serta waktu untuk mencapai tujuannya. Pernah suatu ketika seorang warga asli Jepang ditanya, "kenapa kau begitu gigihnya melakukan semua itu, bekerja keras tanpa lelah, bahkan lupa istirahat." Kemudian orang Jepang itu menjawab, "Sesungguhnya, aku melakukan semua ini (bekerja dengan gigihnya) hanya demi masa pensiunku nanti, sehingga aku bisa menikmati hidup dan berfoya-foya hingga ajalku".
Dari cerita di atas, tentu saja kita bisa melihat dengan jelas, bagaimana sikap orang Jepang terhadap niatnya. Sisi positifnya adalah, perbuatan mereka yang memiliki tekad kuat serta semangat juang dan rela berkorban pantang menyerah untuk mencapai tujuan mereka yaitu niat mereka, patut kita contoh. Saat ini, kitapun perlu merenungkan diri, bahwasanya niat yang selalu kita elu-elukan, yakni niat mencari Ridho-Nya dalam setiap kehidupan dan kegiatan kita, sudahkan terlaksana dg maksimal? Sudahkah pengorbanan kita benar-benar dalam melaksanakan usaha kita dalam menuju niat kita tersebut? Bila kita masih merasakan malas, ogah-ogahan untuk beramal, beribadah, atau bahkan berdakwah, maka sudah pataskah kita mendapat Ridha-Nya? Sisi negatifnya, tentu saja karena niat mereka adalah niat yang kosong. Karena hanya mengharap kenikmatan duniawi, sedangkan mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya ada kehidupan setelah mati. Apapun yang dilakukan orang kafir, sebaik apapun dan sebagus apapun, meski itu akhlak atau amalan yang sebenarnya Islami, seperti selalu menepati janji, rajin, suka berinfak, dan lain sebagainya, itu hanya akan bernilai kosong di mata Allah SWT, hal ini sesuai dengan Firman-Nya:
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat." (Q.S. Al-Kahfi: 103-105)
Ikhlas Karena Allah
Kalau kita membaca kitab-kitab fiqih ibadah, maka kita akan menemukan terutama saat berbicara tentang rukun ibadah. Sesuatu yang mutlak harus dipenuhi oleh seseorang agar ibadahnya makbul diterima Allah. Maka akan selalu kita temukan rukun yang pertama itu adalah “Niat”.
Rukun shalat, rukun haji, shaum, selalu saja rukun yang pertamanya itu adalah niat. Karena niatlah yang akan menentukan. Pertama yang akan menentukan bernilai atau tidaknya ibadah seseorang disisi Allah SWT. Rasul SAW mengatakan innamal hammadu binniat. Semua amal perbuatan manusia tergantung pada niatnya.
“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang
ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah
dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya
(akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”.
[HR. Muslim dan Abu Abdullah]
Niat yang mutlak harus dimiliki oleh setiap mukmin. Agar ibadahnya mabrur disisi Allah. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, semata-mata mengharapkan rida Allah SWT. Dalam sural Al-Bayyinah ayat 5, Allah mengatakan “wamaa umiruu illaa liya’buduullaaha mukhlishiina lahuddiina hunafaa-a wayuqiimuushshalaata.” ( Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus).
Dalam hal ibadah, maka ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang murni 100 persen. Diniatkan oleh seseorang mencari rida Allah.Maka, kita diingatkan dalam surat Al-Anaam ayat 162. Qul inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil’aalamiin.(Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.)
Bukan hanya salat, seluruh ibadah. Bukan ibadah dalam pengertian yang sempit. Seluruh hidup akan bernilai ibadah tiap detiknya, kalau kita niatkan semua lillahi taala.
Seorang sufi berkata, jika ada seseorang yang beribadah karena selain mengharap ridho Allah, melainkan mengharap surga atau takut ancaman neraka. Ibadah orang tersebut tidaklah haram. Namun, sedikitpun ia tidak akan memperoleh pahala di sisi Allah.
Lebih bagus dia tidak beribadah seperti itu. Rabiah al Adawiyah mengatakan ibadah orang seperti itu adalah tingkat ibadah seorang budak. Seorang budak yang hanya bekerja karena mengharapkan upah atau takut tersiksa.
Sehingga terkenallah doa Rabiah al Adawiyah. “Ya Allah jika saya beribadah karena mengharapkan surgamu, maka jauhkan saya dari surgamu. Dan jika saya beribadah karena takut akan neraka jahannam, masukkanlah saya kedalam neraka jahannam. Tapi jika saya beribadah karena semata-mata hanya karena mengharapkan ridhomu. Engkaulah yang Maha Tahu dimana aku berada.”
Kendati demikian, ulama-ulama fiqih tidak sepenuhnya sependapat dengan ulama-ulama seperti ini. Mereka menyatakan, sedikitpun tidak terganggu keikhlasan ibadah seseorang kepada Allah, sepanjang yang diharapkan adalah kebahagiaan akhirat, surga, dan rida Allah.
Wajar menurut para ulama fiqih jika seorang mengharapkan syurga karena Allah. Mengiming-imingi kita dengan janji surga itu. Wajar jika seseorang itu takut kepada neraka, karena memang Allah menakut-nakuti kita dengan neraka itu. Artinya ibadah seseorang sama sekali tidak terganggu keikhlasannya karena Allah jika dia mengharapkan surga atau takut neraka.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. [QS 28:77]
Tapi, tidak akan pernah kita temukan satupun ulama yang membenarkan seorang beribadah karena mengharap kenikmatan dunia. Akhir-akhir ini umat banyak digiring pada sesuatu yang semestinya bernilai ibadah. Namun saya khawatir hal tersebut sebenarnya sangat jauh dari nilai ibadah, salah satunya adalah fenomena sodaqoh.
----------------------
Bagaimana menjadi orang yang Ikhlas
Disusun oleh: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Muroja’ah: Ustadz Ahmad Daniel Lc.
Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?. Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48)
Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul Ulum Wal Hikam menyatakan, “Amalan riya yang murni jarang timbul pada amal-amal wajib seorang mukmin seperti shalat dan puasa, namun terkadang riya muncul pada zakat, haji dan amal-amal lainnya yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi orang lain (semisal berdakwah, membantu orang lain dan lain sebagainya). Keikhlasan dalam amalan-amalan semacam ini sangatlah berat, amal yang tidak ikhlas akan sia-sia, dan pelakunya berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan hukuman dari Allah.”
Bagaimana Agar Aku Ikhlas ?
Setan akan senantiasa menggoda dan merusak amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Tuhannya kelak dalam keadaan iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah
Banyak Berdoa
Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:
« اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ »
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)
Nabi kita sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan padahal beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan. Inilah dia, Umar bin Khattabradhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat besar dan utama, sahabat terbaik setelah Abu Bakar, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.”
Menyembunyikan Amal Kebaikan
Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits, “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim).
Apabila kita perhatikan hadits tersebut, kita dapatkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan Allah naungi kelak di hari kiamat adalah orang-orang yang melakukan kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya sebaik-baik shalat yang dilakukan oleh seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari Muslim)
Rasulullah menyatakan bahwa sebaik-baik shalat adalah shalat yang dilakukan di rumah kecuali shalat wajib, karena hal ini lebih melatih dan mendorong seseorang untuk ikhlas. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalamSyarah Riyadush Sholihin menyatakan, “di antara sebabnya adalah karena shalat (sunnah) yang dilakukan di rumah lebih jauh dari riya, karena sesungguhnya seseorang yang shalat (sunnah) di mesjid dilihat oleh manusia, dan terkadang di hatinya pun timbul riya, sedangkan orang yang shalat (sunnah) di rumahnya maka hal ini lebih dekat dengan keikhlasan.” Basyr bin Al Harits berkata, “Janganlah engkau beramal agar engkau disebut-sebut, sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu.”
Seseorang yang dia betul-betul jujur dalam keikhlasannya, ia mencintai untuk menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Maka dari itu wahai saudaraku, marilah kita berusaha untuk membiasakan diri menyembunyikan kebaikan-kebaikan kita, karena ketahuilah, hal tersebut lebih dekat dengan keikhlasan.
Memandang Rendah Amal Kebaikan
Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal perbuatan kita tersebut lebih ikhlas. Di antara bencana yang dialami seorang hamba adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keikhlasan. Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Beliau menjawab, “seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.”
Takut Akan Tidak Diterimanya Amal
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut ( Tafsir Ibnu Katsir ).
Hal semakna juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamyang diriwayatkan dari Aisyah ketika beliau bertanya kepada Rasulullah tentang makna ayat di atas. Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah apakah yang dimaksud dengan ayat, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” adalah orang yang mencuri, berzina dan meminum khamr kemudian ia takut terhadap Allah?. Maka Rasulullah pun menjawab: Tidak wahai putri Abu Bakar Ash Shiddiq, yang dimaksud dengan ayat itu adalah mereka yang shalat, puasa, bersedekah namun mereka takut tidak diterima oleh Allah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih )
Ya saudaraku, di antara hal yang dapat membantu kita untuk ikhlas adalah ketika kita takut akan tidak diterimanya amal kebaikan kita oleh Allah. Karena sesungguhnya keikhlasan itu tidak hanya ada ketika kita sedang mengerjakan amal kebaikan, namun keikhlasan harus ada baik sebelum maupun sesudah kita melakukan amal kebaikan. Apalah artinya apabila kita ikhlas ketika beramal, namun setelah itu kita merasa hebat dan bangga karena kita telah melakukan amal tersebut. Bukankah pahala dari amal kebaikan kita tersebut akan hilang dan sia-sia? Bukankah dengan demikian amal kebaikan kita malah tidak akan diterima oleh Allah? Tidakkah kita takut akan munculnya perasaan bangga setelah kita beramal sholeh yang menyebabkan tidak diterimanya amal kita tersebut? Dan pada kenyataannya hal ini sering terjadi dalam diri kita. Sungguh amat sangat merugikan hal yang demikian itu.
Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia
Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya, beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim)
Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun saudaraku, janganlah engkau jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut. Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari Allah.Manakah yang akan kita pilih wahai saudaraku, dipuji manusia namun Allah mencela kita ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita ?
Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka
Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka. Bahkan saudaraku, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka saudaraku, mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk mereka?
Ibnu Rajab dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam berkata: “Barang siapa yang berpuasa, shalat, berzikir kepada Allah, dan dia maksudkan dengan amalan-amalan tersebut untuk mendapatkan dunia, maka tidak ada kebaikan dalam amalan-amalan tersebut sama sekali, amalan-amalan tersebut tidak bermanfaat baginya, bahkan hanya akan menyebabkan ia berdosa”. Yaitu amalan-amalannya tersebut tidak bermanfaat baginya, lebih-lebih bagi orang lain.
Ingin Dicintai, Namun Dibenci
Saudaraku, sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan karena ingin dipuji oleh manusia tidak akan mendapatkan pujian tersebut dari mereka. Bahkan sebaliknya, manusia akan mencelanya, mereka akan membencinya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang memperlihat-lihatkan amalannya maka Allah akan menampakkan amalan-amalannya “ (HR. Muslim)
Akan tetapi, apabila seseorang melakukan amalan ikhlas karena Allah, maka Allah dan para makhluk-Nya akan mencintainya sebagaimana firman Allah ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia akan menanamkan dalam hati-hati hamba-hamba-Nya yang saleh kecintaan terhadap orang-orang yang melakukan amal-amal saleh (yaitu amalan-amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi-Nya ). (Tafsir Ibnu Katsir).
Dalam sebuah hadits dinyatakan“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata: wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah kecintaan padanya di bumi. Dan sesungguhnya apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata : wahai Jibril, sesungguhnya Aku membenci fulan, maka bencilah ia. Maka Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah membenci fulan, maka benciilah ia. Maka penduduk langit pun membencnya. Kemudian ditanamkanlah kebencian padanya di bumi.” (HR. Bukhari Muslim)
Hasan Al Bashri berkata: “Ada seorang laki-laki yang berkata : ‘Demi Allah aku akan beribadah agar aku disebut-sebut karenanya’. Maka tidaklah ia dilihat kecuali ia sedang shalat, dia adalah orang yang paling pertama masuk mesjid dan yang paling terakhir keluar darinya. Ia pun melakukan hal tersebut sampai tujuh bulan lamanya. Namun, tidaklah ia melewati sekelompok orang kecuali mereka berkata: ‘lihatlah orang yang riya ini’. Dia pun menyadari hal ini dan berkata: tidaklah aku disebut-sebut kecuali hanya dengan kejelekan, ‘sungguh aku akan melakukan amalan hanya karena Allah’. Dia pun tidak menambah amalan kecuali amalan yang dulu ia kerjakan. Setelah itu, apabila ia melewati sekelompok orang mereka berkata: ‘semoga Allah merahmatinya sekarang’. Kemudian Hasan al bashri pun membaca ayat:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Demikianlah pembahasan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri penulis dan kaum muslimin pada umumnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
(Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya sehingga sempurnalah segala amal kebaikan)
"Allah azza wa jalla tidak menerima amal kecuali bila dilaksanakan dengan ikhlas dalam mencari keridhaan-Nya semata" (H.R. Abu Daud dan Nasa'i)[1]
FAKTA
Di Jepang, orang-orang begitu semangat dan gigihnya melakukan sesuatu sampai dia rela mengorbankan diri dan juga harta serta waktu untuk mencapai tujuannya. Pernah suatu ketika seorang warga asli Jepang ditanya, "kenapa kau begitu gigihnya melakukan semua itu, bekerja keras tanpa lelah, bahkan lupa istirahat." Kemudian orang Jepang itu menjawab, "Sesungguhnya, aku melakukan semua ini (bekerja dengan gigihnya) hanya demi masa pensiunku nanti, sehingga aku bisa menikmati hidup dan berfoya-foya hingga ajalku".
Dari cerita di atas, tentu saja kita bisa melihat dengan jelas, bagaimana sikap orang Jepang terhadap niatnya. Sisi positifnya adalah, perbuatan mereka yang memiliki tekad kuat serta semangat juang dan rela berkorban pantang menyerah untuk mencapai tujuan mereka yaitu niat mereka, patut kita contoh. Saat ini, kitapun perlu merenungkan diri, bahwasanya niat yang selalu kita elu-elukan, yakni niat mencari Ridho-Nya dalam setiap kehidupan dan kegiatan kita, sudahkan terlaksana dg maksimal? Sudahkah pengorbanan kita benar-benar dalam melaksanakan usaha kita dalam menuju niat kita tersebut? Bila kita masih merasakan malas, ogah-ogahan untuk beramal, beribadah, atau bahkan berdakwah, maka sudah pataskah kita mendapat Ridha-Nya? Sisi negatifnya, tentu saja karena niat mereka adalah niat yang kosong. Karena hanya mengharap kenikmatan duniawi, sedangkan mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya ada kehidupan setelah mati. Apapun yang dilakukan orang kafir, sebaik apapun dan sebagus apapun, meski itu akhlak atau amalan yang sebenarnya Islami, seperti selalu menepati janji, rajin, suka berinfak, dan lain sebagainya, itu hanya akan bernilai kosong di mata Allah SWT, hal ini sesuai dengan Firman-Nya:
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat." (Q.S. Al-Kahfi: 103-105)
Ikhlas Karena Allah
Kalau kita membaca kitab-kitab fiqih ibadah, maka kita akan menemukan terutama saat berbicara tentang rukun ibadah. Sesuatu yang mutlak harus dipenuhi oleh seseorang agar ibadahnya makbul diterima Allah. Maka akan selalu kita temukan rukun yang pertama itu adalah “Niat”.
Rukun shalat, rukun haji, shaum, selalu saja rukun yang pertamanya itu adalah niat. Karena niatlah yang akan menentukan. Pertama yang akan menentukan bernilai atau tidaknya ibadah seseorang disisi Allah SWT. Rasul SAW mengatakan innamal hammadu binniat. Semua amal perbuatan manusia tergantung pada niatnya.
“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang
ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah
dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya
(akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”.
[HR. Muslim dan Abu Abdullah]
Niat yang mutlak harus dimiliki oleh setiap mukmin. Agar ibadahnya mabrur disisi Allah. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, semata-mata mengharapkan rida Allah SWT. Dalam sural Al-Bayyinah ayat 5, Allah mengatakan “wamaa umiruu illaa liya’buduullaaha mukhlishiina lahuddiina hunafaa-a wayuqiimuushshalaata.” ( Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus).
Dalam hal ibadah, maka ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang murni 100 persen. Diniatkan oleh seseorang mencari rida Allah.Maka, kita diingatkan dalam surat Al-Anaam ayat 162. Qul inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil’aalamiin.(Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.)
Bukan hanya salat, seluruh ibadah. Bukan ibadah dalam pengertian yang sempit. Seluruh hidup akan bernilai ibadah tiap detiknya, kalau kita niatkan semua lillahi taala.
Seorang sufi berkata, jika ada seseorang yang beribadah karena selain mengharap ridho Allah, melainkan mengharap surga atau takut ancaman neraka. Ibadah orang tersebut tidaklah haram. Namun, sedikitpun ia tidak akan memperoleh pahala di sisi Allah.
Lebih bagus dia tidak beribadah seperti itu. Rabiah al Adawiyah mengatakan ibadah orang seperti itu adalah tingkat ibadah seorang budak. Seorang budak yang hanya bekerja karena mengharapkan upah atau takut tersiksa.
Sehingga terkenallah doa Rabiah al Adawiyah. “Ya Allah jika saya beribadah karena mengharapkan surgamu, maka jauhkan saya dari surgamu. Dan jika saya beribadah karena takut akan neraka jahannam, masukkanlah saya kedalam neraka jahannam. Tapi jika saya beribadah karena semata-mata hanya karena mengharapkan ridhomu. Engkaulah yang Maha Tahu dimana aku berada.”
Kendati demikian, ulama-ulama fiqih tidak sepenuhnya sependapat dengan ulama-ulama seperti ini. Mereka menyatakan, sedikitpun tidak terganggu keikhlasan ibadah seseorang kepada Allah, sepanjang yang diharapkan adalah kebahagiaan akhirat, surga, dan rida Allah.
Wajar menurut para ulama fiqih jika seorang mengharapkan syurga karena Allah. Mengiming-imingi kita dengan janji surga itu. Wajar jika seseorang itu takut kepada neraka, karena memang Allah menakut-nakuti kita dengan neraka itu. Artinya ibadah seseorang sama sekali tidak terganggu keikhlasannya karena Allah jika dia mengharapkan surga atau takut neraka.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. [QS 28:77]
Tapi, tidak akan pernah kita temukan satupun ulama yang membenarkan seorang beribadah karena mengharap kenikmatan dunia. Akhir-akhir ini umat banyak digiring pada sesuatu yang semestinya bernilai ibadah. Namun saya khawatir hal tersebut sebenarnya sangat jauh dari nilai ibadah, salah satunya adalah fenomena sodaqoh.
----------------------
Bagaimana menjadi orang yang Ikhlas
Disusun oleh: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Muroja’ah: Ustadz Ahmad Daniel Lc.
Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?. Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48)
Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul Ulum Wal Hikam menyatakan, “Amalan riya yang murni jarang timbul pada amal-amal wajib seorang mukmin seperti shalat dan puasa, namun terkadang riya muncul pada zakat, haji dan amal-amal lainnya yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi orang lain (semisal berdakwah, membantu orang lain dan lain sebagainya). Keikhlasan dalam amalan-amalan semacam ini sangatlah berat, amal yang tidak ikhlas akan sia-sia, dan pelakunya berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan hukuman dari Allah.”
Bagaimana Agar Aku Ikhlas ?
Setan akan senantiasa menggoda dan merusak amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Tuhannya kelak dalam keadaan iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah
Banyak Berdoa
Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:
« اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ »
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)
Nabi kita sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan padahal beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan. Inilah dia, Umar bin Khattabradhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat besar dan utama, sahabat terbaik setelah Abu Bakar, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.”
Menyembunyikan Amal Kebaikan
Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits, “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim).
Apabila kita perhatikan hadits tersebut, kita dapatkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan Allah naungi kelak di hari kiamat adalah orang-orang yang melakukan kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya sebaik-baik shalat yang dilakukan oleh seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari Muslim)
Rasulullah menyatakan bahwa sebaik-baik shalat adalah shalat yang dilakukan di rumah kecuali shalat wajib, karena hal ini lebih melatih dan mendorong seseorang untuk ikhlas. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalamSyarah Riyadush Sholihin menyatakan, “di antara sebabnya adalah karena shalat (sunnah) yang dilakukan di rumah lebih jauh dari riya, karena sesungguhnya seseorang yang shalat (sunnah) di mesjid dilihat oleh manusia, dan terkadang di hatinya pun timbul riya, sedangkan orang yang shalat (sunnah) di rumahnya maka hal ini lebih dekat dengan keikhlasan.” Basyr bin Al Harits berkata, “Janganlah engkau beramal agar engkau disebut-sebut, sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu.”
Seseorang yang dia betul-betul jujur dalam keikhlasannya, ia mencintai untuk menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Maka dari itu wahai saudaraku, marilah kita berusaha untuk membiasakan diri menyembunyikan kebaikan-kebaikan kita, karena ketahuilah, hal tersebut lebih dekat dengan keikhlasan.
Memandang Rendah Amal Kebaikan
Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal perbuatan kita tersebut lebih ikhlas. Di antara bencana yang dialami seorang hamba adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keikhlasan. Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Beliau menjawab, “seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.”
Takut Akan Tidak Diterimanya Amal
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut ( Tafsir Ibnu Katsir ).
Hal semakna juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamyang diriwayatkan dari Aisyah ketika beliau bertanya kepada Rasulullah tentang makna ayat di atas. Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah apakah yang dimaksud dengan ayat, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” adalah orang yang mencuri, berzina dan meminum khamr kemudian ia takut terhadap Allah?. Maka Rasulullah pun menjawab: Tidak wahai putri Abu Bakar Ash Shiddiq, yang dimaksud dengan ayat itu adalah mereka yang shalat, puasa, bersedekah namun mereka takut tidak diterima oleh Allah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih )
Ya saudaraku, di antara hal yang dapat membantu kita untuk ikhlas adalah ketika kita takut akan tidak diterimanya amal kebaikan kita oleh Allah. Karena sesungguhnya keikhlasan itu tidak hanya ada ketika kita sedang mengerjakan amal kebaikan, namun keikhlasan harus ada baik sebelum maupun sesudah kita melakukan amal kebaikan. Apalah artinya apabila kita ikhlas ketika beramal, namun setelah itu kita merasa hebat dan bangga karena kita telah melakukan amal tersebut. Bukankah pahala dari amal kebaikan kita tersebut akan hilang dan sia-sia? Bukankah dengan demikian amal kebaikan kita malah tidak akan diterima oleh Allah? Tidakkah kita takut akan munculnya perasaan bangga setelah kita beramal sholeh yang menyebabkan tidak diterimanya amal kita tersebut? Dan pada kenyataannya hal ini sering terjadi dalam diri kita. Sungguh amat sangat merugikan hal yang demikian itu.
Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia
Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya, beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim)
Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun saudaraku, janganlah engkau jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut. Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari Allah.Manakah yang akan kita pilih wahai saudaraku, dipuji manusia namun Allah mencela kita ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita ?
Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka
Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka. Bahkan saudaraku, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka saudaraku, mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk mereka?
Ibnu Rajab dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam berkata: “Barang siapa yang berpuasa, shalat, berzikir kepada Allah, dan dia maksudkan dengan amalan-amalan tersebut untuk mendapatkan dunia, maka tidak ada kebaikan dalam amalan-amalan tersebut sama sekali, amalan-amalan tersebut tidak bermanfaat baginya, bahkan hanya akan menyebabkan ia berdosa”. Yaitu amalan-amalannya tersebut tidak bermanfaat baginya, lebih-lebih bagi orang lain.
Ingin Dicintai, Namun Dibenci
Saudaraku, sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan karena ingin dipuji oleh manusia tidak akan mendapatkan pujian tersebut dari mereka. Bahkan sebaliknya, manusia akan mencelanya, mereka akan membencinya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang memperlihat-lihatkan amalannya maka Allah akan menampakkan amalan-amalannya “ (HR. Muslim)
Akan tetapi, apabila seseorang melakukan amalan ikhlas karena Allah, maka Allah dan para makhluk-Nya akan mencintainya sebagaimana firman Allah ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia akan menanamkan dalam hati-hati hamba-hamba-Nya yang saleh kecintaan terhadap orang-orang yang melakukan amal-amal saleh (yaitu amalan-amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi-Nya ). (Tafsir Ibnu Katsir).
Dalam sebuah hadits dinyatakan“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata: wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah kecintaan padanya di bumi. Dan sesungguhnya apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata : wahai Jibril, sesungguhnya Aku membenci fulan, maka bencilah ia. Maka Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah membenci fulan, maka benciilah ia. Maka penduduk langit pun membencnya. Kemudian ditanamkanlah kebencian padanya di bumi.” (HR. Bukhari Muslim)
Hasan Al Bashri berkata: “Ada seorang laki-laki yang berkata : ‘Demi Allah aku akan beribadah agar aku disebut-sebut karenanya’. Maka tidaklah ia dilihat kecuali ia sedang shalat, dia adalah orang yang paling pertama masuk mesjid dan yang paling terakhir keluar darinya. Ia pun melakukan hal tersebut sampai tujuh bulan lamanya. Namun, tidaklah ia melewati sekelompok orang kecuali mereka berkata: ‘lihatlah orang yang riya ini’. Dia pun menyadari hal ini dan berkata: tidaklah aku disebut-sebut kecuali hanya dengan kejelekan, ‘sungguh aku akan melakukan amalan hanya karena Allah’. Dia pun tidak menambah amalan kecuali amalan yang dulu ia kerjakan. Setelah itu, apabila ia melewati sekelompok orang mereka berkata: ‘semoga Allah merahmatinya sekarang’. Kemudian Hasan al bashri pun membaca ayat:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Demikianlah pembahasan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri penulis dan kaum muslimin pada umumnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
(Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya sehingga sempurnalah segala amal kebaikan)
Senin, 01 Februari 2016
Menghadap orang berpakaian rapi, menghadap Allah seadanya ?? Jangan lagi...!!!
Masjid adalah tempat pembinaan umat yang sangat penting.
Di tempat yang mulia ini ada adab-adab yang perlu diperhatikan ketika kita berhubungan dengan masjid.
Namun banyak kaum muslimin yang melalaikan adab-adab tersebut padahal mereka berada di rumah-rumah milik Allah.
Seperti misalkan menggunakan pakaian yang kurang pantas ketika hendak melaksanakan salat di masjid.
Seperti dikutip kabarmakkah, seringkali kita abaikan perjumpaan dengan Allah Azza Wa Jalla, dengan berpenampilan apa adanya.
Mau menghadap-Nya, meminta rahmat dari-Nya, memohon ampun pada-Nya.
Penampilan kita sama seperti mau tidur? tentunya hal tersebut kalah jauh dengan ketika kita kalau mau ke kantor, ke mall, ke acara pesta yang gayanya dibuat semaksimal mungkin.
Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk sekedar memakai pakaian yang menutup aurat, akan tetapi memerintahkan kita pula untuk memperbagus pakaian apalagi ketika ke masjid.
Allah SWT berfirman, “Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al A’raf: 31).
Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa dari ayat ini dapat diambil pelajaran bahwa kita disunnahkan berhias ketika salat.
Lebih-lebih ketika hari jumat dan hari raya.
Dan termasuk perhiasan adalah siwak dan parfum.
Namun sekarang banyak kita jumpai kaum muslimin yang ketika pergi ke masjid hanya mengenakan pakaian seadanya.
Padahal ia memiliki pakaian yang bagus.
Banyak yang mengatakan “yang penting pakaiannya bersih”.
So, kalau menghadap orang yang terhormat saja kita berpakaian rapi, maka kita menghadap Allah yang menguasai alam semesta ini berpakaian seadanya? semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)

