Minggu, 11 Oktober 2015

Terroris dan Jihad

Dalam SEJARAH dunia, Banyak Manusia yang Tidak Berdosa telah menjadi Korban Pembunuhan secara BRUTAL, Diantaranya Oleh :

1) "Hitler"
Apakah Anda tahu siapa dia ?!!
Dia adalah seorang Kristen, namun media tidak akan pernah memanggil dia dengan nama TERORIS Kristen

2) "Joseph Stalin disebut sebagai Paman Joe".
Dia telah membunuh 20 juta manusia termasuk 14,5 juta yang mati kelaparan.
Apakah dia seorang Muslim ??!! BUKAN !!!

3) "Mao Tse Tsung (Cina)"
Dia telah membunuh 14-20 juta manusia.
Apakah dia seorang Muslim ??!!  BUKAN !!!

4) "Benito Mussolini (Italia)"
Dia telah membunuh 400 ribu manusia.
Apakah dia seorang Muslim ??!!  BUKAN !!!

5) "Ashoka" Dalam Kalinga Pertempuran
Dia telah membunuh 100 ribu manusia.
Apakah dia seorang Muslim ??!!  BUKAN !!!

6) Embargo yang dimasukkan oleh George Bush di Irak,
1/2 juta anak telah tewas di Irak saja !!! 

Bayangkan !!!
Mereka diatas TIDAK PERNAH disebut TERORIS oleh media.

Mengapa Hari ini sebagian besar non-muslim takut dengan mendengar kata-kata "JIHAD".

Jihad adalah kata Arab yang berasal dari akar kata bahasa Arab "jahada" yang berarti "BERJUANG" atau "BERSUNGGUH-SUNGGUH" melawan kejahatan dan ketidak adilan. 

Itu tidak berarti membunuh orang tidak berdosa.

Perbedaannya adalah kita berdiri MELAWAN KEJAHATAN, bukan dengan kejahatan ".

Anda masih berpikir bahwa Islam adalah masalah ???
Coba Renungkan dan Fikir baik baik ....

1. Pertama Perang Dunia, 17 juta orang mati
(Disebabkan oleh NON-MUSLIM)

2. Kedua Perang Dunia, 50-55 Juta orang mati 
(Disebabkan oleh NON-MUSLIM )

3. Nagasaki bom atom 200.000 mati
(Disebabkan oleh NON-MUSLIM )

4. Perang di Vietnam, lebih dari 5 juta orang mati 
(Disebabkan oleh NON-MUSLIM)

5. Perang di Bosnia / Kosovo, lebih 5,00,000 mati 
(Disebabkan oleh NON-MUSLIM)

6. Perang di Irak (sejauh ini) 12.000.000 kematian
(Disebabkan oleh NON-MUSLIM)

7. Afghanistan, Irak, Palestina, Burma dll 
(Disebabkan oleh NON-MUSLIM)

8. Di Kamboja 1975-1979, hampir 3 juta kematian 
(disebabkan oleh NON-MUSLIM).

"ORANG MUSLIM BUKANLAH TERORIS DAN TERORIS BUKANLAH ORANG MUSLIM. "

TERORIS SESUNGGUHNYA ADALAH APA YANG TELAH DISEBUTKAN DIATAS

Hapus standar ganda Legalitas Pembunuhan atas nama TERORIS

Sabtu, 10 Oktober 2015

Tahukah Anda tentang Al Qur'an

Tahukah Anda? Al-Quran Itu Ada: 

S : Berapa jumlah Surah dlm al-Quran ?
J : 114 Surah

S : Berapa jumlah Juz dlm al-Quran ?
J : 30 Juz

S : Berapa jumlah Hizb dlm al-Quran ?
J : 60 Hizb

S : Berapa jumlah Ayat dlm al-Quran ?
J : 6236 Ayat

S : Berapa jumlah Kata dlm al-Quran ?, dan Berapa Jumlah Hurufnya ?
J : 77437 Kata, atau 77439 Kata dan 320670 Huruf

S : Siapa Malaikat yang disebut dlm al-Quran ?,
J : Jibril, Mikail, Malik, Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazoh, Al-Kiromulkatibun HamalatulArsy, dll.

S : Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm al-Quran?
J : 14 Sajdah

S : Berapa Jumlah para Nabi yg disebut dlm Al-Quran ?
J : 25 Nabi

S : Berapa Jumlah Surah Madaniyah dlm al-Quran ?, sebutkan.
J : 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa" al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra'd, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum'ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr.

S : Berapa Jumlah Surah Makiyah dlm al-Quran ?sebutkan.
J : 86 Surat, selain surah tersebut di atas.

S : Berapa Jumlah Surah yg dimulai dgn huruf dlm al-Quran ?
J : 29 Surah.

S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Makiyah ?, sebutkan 10 saja.
J : Surah Makiyah adalah Surah yg diturunkan sebelum Hijrah, seperti : al-An'am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra', al-Naml, al-Waqi'ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq.

S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Madaniyah? sebutkan lima saja ?
J : Surah Madaniyah adalah Surah yg diturunkan setelah Hijrah, seperti : al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj.

S : Siapakah nama para Nabi yg disebut dlm Al-Quran?
J : Adam, Nuh, Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Dawud, Sulaiman, Yusuf, Zakaria, Yahya, Ilyas, Alyasa', Luth, Hud, Saleh, ZulKifli, Syuaib, Idris, Muhammad Saw.

S : Siapakah satu-satunya nama wanita yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Maryam binti Imran.

S : Siapakah satu-satunya nama Sahabat yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Zaid bin Haritsah. Rujuk dlm surah Al Ahzab ayat 37.

S : Apakah nama Surah yg tanpa Basmalah?
J : Surah at-Tawbah.

S : Apakah nama Surah yg memiliki dua Basmalah?
J : Surah al-Naml.

S : Apakah nama Surah yg bernilai seperempat al-Quran?
J : Surah al-Kafirun.

S : Apakah nama Surah yg bernilai sepertiga al-Quran?
J : Surah al-Ikhlas

S : Apakah nama Surah yg menyelamatkan dari siksa Qubur?
J : Surah al-Mulk

S : Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada hari Jum'at akan menerangi sepanjang minggu ?
J : Surah al-Khafi

S : Apakah ayat yg paling Agung dan dlm Surah apa?
J : Ayat Kursi, dlm Surah al-Baqarah ayat No.255

S : Apakah nama Surah yg paling Agung dan berapa jumlah ayatnya ?
J : Surah al-Fatihah, tujuh ayat.

S : Apakah ayat yg paling bijak dan dlm surah apa?
J : Firman Allah Swt :" Barang siapa yg melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat.. (Surah al-Zalzalah ayat 7-8)

S : Apakah nama Surah yg ada dua sajdahnya ?
J : Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77.

S : Pada Kata apakah pertengahan al-Quran itu di Surah apa ? ayat no Berapa ?
J : وليتلطف Surah al-Kahfi ayat No. 19.

S : Ayat apakah bila dibaca setiap habis Solat Fardhu dpt mengantarkannya masuk ke dalam surga ?
J : Ayat Kursi.

S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 31 kali dlm satu Surah dan di Surah apa ?
J : Ayat  فبأي آلاء ربكما تكذبانِ ) pada Surah al-Rahman.

S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 10 kali dlm satu Surah dan di surah apa ? Apakah ayat ini ada juga disebut dlm surah lainnya? Di Surah apa ?
J : Ayat ( ويل يومئذ للمكذبين ) pada Surah al-Mursalat, juga ada dlm Surah al-Muthafifin ayat No. 10.

S : Apakah Ayat terpanjang dlm al-Quran ? pada Surah apa? Ayat berapa?
J : Ayat No 282 Surah al-Baqarah...

Sila "Share" bagi semua orang tahu. Semoga Bermanfaat❤

Jumat, 09 Oktober 2015

Jumlah ayat Al Qur'an = 6.236

Semenjak Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah saya sudah mengetahui jumlah ayat Al-Quran yaitu sebanyak 6.666 (enam ribu enam ratus enam puluh enam), tapi belum saya hitung secara langsung hanya cukup mendengar dari guru saya. Sampai sekarang  jumlah itu masih teringat karena angka yang manis, mudah diingat dan sedap didengar. Tapi pas saya membaca buku yang berjudul Matematika Islam yang ditulis oleh KH Fahmi Basya, saya baru tahu bahwa jumlah ayat Al-Qur’an itu sebanyak 6236. Saya pun langsung membuka Al-Qur’an dan mengambil kalkulator untuk menghitung ayat Al-Qur’an mulai dari surat Al-Fatihah kemudian surat ke-2 Al-Baqaroh serta meneruskan surat demi surat hingga ke ujung surat terakhir yaitu surat yang ke-114, setelah dijumlahkan ternyata hasilnya 6236. Dengan spontan saya langsung istigfar,  dan berkata dalam hati kenapa baru kali ini saya mengetahuinya. Untuk lebih jelasnya saya akan menguraikan di bawah ini:

1-5 (7+286+200+176+120)=789
6-10 (165+ 206 + 75 + 129 + 109) = 684
11-15 (123 + 111 + 43 + 52 + 99) = 428
16-20 (128 + 111 + 110 + 98 + 135) = 582
21-25 (112 + 78 + 118 + 64 + 77 ) = 449
26-30 ( 227 + 93 + 88 + 69 + 60 ) = 537
31-35 ( 34 + 30 + 73 + 54 + 45 ) = 236
36-40 ( 83 + 182 + 88 + 75 + 85 ) = 513
41-45 ( 54 + 53 + 89 + 59 + 37 ) = 292
46-50 ( 35 + 38 + 29 + 18 + 45 ) = 165
51-55 ( 60 + 49 + 62 + 55 + 78 ) = 304
56-60 ( 96 + 29 + 22 + 24 + 13 ) = 184
61-65 ( 14 + 11 + 11 + 18 + 12 ) = 66
66-70 ( 12 + 30 + 52 + 52 + 44 ) = 190
71-75 ( 28 + 28 + 20 + 56 + 40 ) = 172
76-80 ( 31 + 50 + 40 + 46 + 42 ) = 209
81-85 ( 29 + 19 + 36 + 25 + 22 ) = 131
86-90 ( 17 + 19 + 26 + 30 + 20 ) = 112
91-95 ( 15 + 21 + 11 + 8 + 8 ) = 63
96-100 ( 19 + 5 + 8 + 8 + 11 ) = 51
101-105 ( 11 + 8 + 3 + 9 + 5 ) = 36
106-110 ( 4 + 7 + 3 + 6 + 3 ) = 23
111-114 ( 5 + 4 + 5 + 6 ) = 20

———————————————————–
Jumlah besar = 6,236 ayat
———————————————————–

Bilangan ayat di atas jelas berjumlah 6.236 bukan 6.666. Berarti, informasi waktu dulu salah padahal berita itu disampaikan oleh guru, ustadz dan ulama. Apakah perkataan ustadz/ulama itu bohong? Pertanyaan inilah yang selalu menghantui saya dan semakin ingin lebih mengetahui jumlah yang sebenarnya..

Jumlah ayat Al-Qur’an sebanyak 6236 itu jika ditambahkan dengan jumlah bismillah yang berjumlah 112 itu sebanyak 6348, bukan juga sebanyak 6.666. Jadi belum memenuhi 6.666. Perbedaan bilangan ayat di antara dua jumlah tersebut selisihnya 430 itu adalah perbedaan besar. Jadi, dimanakah sisa tersimpannya ayat-ayat yang lebih itu?

Ternyata dalam perbincangan di beberapamailing list di internat, ada beberapa kalangan mencoba bersikap objektif dengan merujuk riwayat dan beberapa kitab ulumul-Qur’an yang membahas ‘addul ayi (hitungan ayat), namun beberapa yang lain bersikap emosional dan bahkan menuduh bahwa jumlah hitungan di atas dihasilkan oleh “ulama palsu”. Bahkan yang tidak mau “ambil pusing” mengambil jalan pintas dan ‘prematur’, bahwa yang paling benar adalah 6.236 ayat sesuai dengan jumlah ayat yang dicetak oleh Saudi Arabia (Mushaf Madinah). Akibatnya, diskusi tentang jumlah ayat dalam 30 juz Al-Qur’an menjadi ajang debat kusir yang tidak jelas arahnya.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah ayat Al-Qur’an. Ibnu Katsir menyebutkan beberapa pendapat, dan beliau tegaskan bahwa jumlah ayat Al-Quran tidak kurang dari 6000 ayat, sementara lebihnya diperselisihkan. Menurut Nafi’ yang merupakan ulama Madinah, jumlah tepatnya adalah 6.217 ayat. Sedangkan Syaibah yang juga ulama Madinah, jumlah tepatnya 6214 ayat. Lain lagi dengan pendapat Abu Ja’far, meski juga merupakan ulama Madinah, beliau mengatakan bahwa jumlah tepatnya 6.210 ayat. Menurut Ibnu Katsir, ulama Makkah mengatakan jumlahnya 6.220 ayat. Lalu ‘Ashim yang merupakan ulama Bashrah mengatakan bahwa  jumlah ayat al-Quran ialah 6205 ayat. Hamzah yang merupakan ulama Kufah sebagaimana yang diriwayatkan mengatakan bahwa jumlahnya 6.236 ayat. Dan pendapat ulama Syria sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yahya Ibn al-Harits mengatakan bahwa jumlahnya 6.226 ayat. Pendapat terakhir ini disampaikan oleh Abu Amr ad-Dani dalam kitab al-Bayan. (Tafsir Ibn Katsir, 1/98).

Sebenarnya tidak ada yang beda di dalam ayat Alqur’an. Semua pendapat di atas berangkat dari ayat-ayat Al-Qur’an yang sama. Yang berbeda adalah ketika menghitung jumlahnya dan menetapkan apakah suatu potongan kalimat itu menjadi satu ayat atau dua ayat. Ada orang yang menghitung dua ayat menjadi satu. Dan sebaliknya juga ada yang menghitung satu ayat jadi dua. Padahal kalau dibaca semua lafadz Qur’an itu, semuanya sama dan itu-itu juga. Tidak ada yang berbeda. 

Diperjelas lagi oleh az-Zarkasyi (w. 794 H/1391 M) bahwa Nabi Muhammad SAW terkadang berhenti pada akhir ayat karena waqaf, namun keesokan harinya Nabi tidak lagi berhenti (waqaf) pada tempat semula, bahkan menyempurnakan bacaannya, sehingga para sahabat yang mendengarnya menyangka berhentinya Nabi tersebut karena faktor akhir ayat (fasilah)

Perbedaan dalam menghitung jumlah ayat ini sama sekali tidak menodai Al-Qur'an. Kasusnya sama dengan perbedaan jumlah halaman mushaf dari berbagai versi percetakan. Ada mushaf yang tipis dan sedikit mengandung halaman, tapi ada juga mushaf yang tebal dan mengandung banyak halaman. Yang membedakanya adalah ukuran font(jenis) dan tata letak (lay out) halaman mushaf. Tidak ada ketetapan dari Nabi Muhammad SAW bahwa Al-Qur'an itu harus dicetak dengan jumlah halaman tertentu.

Kembali ke 6.666 ayat. Menurut sebuah sumber, angka ini berasal dari keterangan Syekh Nawawi Al-Bantani (w. 1316 H/1897 M) dalam kitabnya Nihayatuz-Zain fi Irsyadil-Mubtadiin. Menurut Al-Bantani, bilangan ayat Al-Qur’an itu 6.666 ayat, yaitu 1000 ayat di dalamnya tentang perintah, 
1000 ayat tentang larangan, 
1000 ayat tentang janji, 
1000 tentang ancaman, 
1000 ayat tentang kisah-kisah dan kabar-kabar, 
1000 ayat tentang ‘ibrah dan tamsil, 
500 ayat tentang halal dan haram, 
100 tentang nasikh danmansukh, dan 
66 ayat tentang doa, istighfar dan dzikir.

Sumber lain dengan jumlah yang sama tetapi dengan penjelasan berbeda adalah pandangan az-Zuhaily dalam at-Tafsir al-Munir fil-‘Aqidah wasy-Syari’ah wal-Manhaj,(2003, jilid 1/45), “membenarkan” jumlah ayat Al-Qur’an dalam (tariqah) hitungan Al-Kufiyyun adalah 6236 ayat, namun demikian ia juga menyebutkan menurut (tariqah)hitungan yang lain berjumlah 6.666 ayat. Perhitungan ini sepertinya didasarkan pada kalkulasi pertimbangan isi keseluruhan ayat dalam Al-Qur’an. 

Dalam pandangan ini, ayat-ayat Al-Qur’an dapat diklasifikasi dan dijumlahkan sebagai berikut; al-amr(perintah) 1000 ayat, 
an-nahy (larangan) 1000 ayat, 
al-wa’d (janji) 1000 ayat, 
al-wa’id(ancaman) 1000 ayat, 
al-qasas wal-akhbar(kisah-kisah dan informasi) 1000 ayat, 
al-ibr wal-amtsal (pelajaran dan perumpamaan) 1000 ayat, 
al-haram wal halal (halal dan haram) 500 ayat, 
ad-du’a (doa) 100 ayat, 
danan-nasikh wal-mansukh 66 ayat.


Dari beberapa informasi dan telaahan di atas, dapat disimpulkan sementara terkait jumlah bilangan ayat dalam Al-Qur’an. Pertama, jumlah 6.666 adalah jumlah hitungan ayat Al-Qur’an berdasarkan kandungan isi ayat dari sebagian ulama, bukan hitungan dalam pengertian menghitung satu per satu ayat dalam perspektif ilmu addul-ayi. Kedua, jumlah 6.236 bukanlah jumlah satu-satunya ayat Al-Qur’an yang “paling benar”, namun hal itu adalah pilihan riwayat.

Dengan demikian, terkait kepastian jumlah ayat-ayat dalam Al-Qur’an tidak ada yang “paling benar” dan “paling salah”. Selama hal itu argumentatif dan didasarkan pada periwayatan dan pilihan yang bertanggung jawab, semua dapat dimungkinkan, meskipun tidak dapat disangkal sebuah pendapat barangkali “lemah” (marjuh) secara metodologis. Diskusi terkait khilafiyah jumlah ayat tidak selamanya harus bersepakat dalam kesamaan ataupun saling mencaci dalam ketidaktahuan! Wallahu a’lam.

--------------------------

Daftar surat dan ayat Al quran

1. al-Fatihah (7)
2. al-Baqarah (286)
3. Ali Imran (200)
4. an-Nisa' (176)
5. al-Mai'dah (120)
6. al-An'am (165)
7. al-A'raf (206)
8. al-Anfal (75)
9. at-Taubah (129)
10. Yunus (109)
11. Hud (123)
12. Yusuf (111)
13. ar-Ra'd (43)
14. Ibrahim (52)
15. al-Hijr (99)
16. an-Nahl (128)
17. al-Isra' (111)
18. al-Kahfi (110)
19. Maryam (98)
20. Thaha (135)
21. al-Anbiya (112)
22. al-Hajj (78)
23. al-Mu'minun (118)
24. an-Nur (64)
25. al-Furqan (77)
26. asy-Syu'ara (227)
27. an-Naml (59)
28. al-Qashash (88)
29. al-'Ankabut (69)
30. ar-Rum (60)
31. Luqman (34)
32. as-Sajdah (30)
33. al-Ahzab (73)
34. Saba' (54)
35. Fathir (45)
36. Yasin (83)
37. as-Shaffat (182)
38. Shad (88)
39. az-Zumar (75)
40. al-Mu'min (85)
41. Fushshilat (54)
42. as-Syura (53)
43. az-Zukhruf (89)
44. ad-Dukhan (59)
45. al-Jatsiyah (37)
46. al-Ahqaf (35)
47. Muhammad (38)
48. al-Fath (29)
49. al-Hujurat (18)
50. Qaf (45)
51. adz-Dzariyat (60)
52. ath-Thur (49)
53. an-Najm (62)
54. al-Qamar (55)
55. ar-Rahman (78)
56. al-Waqi'ah (96)
57. al-Hadid (29)
58. al-Mujadilah (22)
59. al-Hasyr (24)
60. al-Mumtahanah (13)
61. ash-Shaff (14)
62. al-Jumu'ah (11)
63. al-Munafiqqun (11)
64. at-Taghabun (18)
65. ath-Thalaq (12)
66. at-Tahrim (12)
67. al-Mulk (30)
68. al-Qalam (52)
69. al-Haqqah (52)
70. al-Ma'arij (44)
71. Nuh (28)
72. al-Jinn (28)
73. al-Muzzammil (20)
74. al-Muddatstsir (56)
75. al-Qiyamah (40)
76. al-Insan (31)
77. al-Mursalat (50)
78. an-Naba' (40)
79. an-Nazi'at (46)
80. 'Abasa (42)
81. at-Takwir (29)
82. al-Infithar (19)
83. al-Muthaffifin (36)
84. al-Insyiqaq (25)
85. al-Buruj (22)
86. ath-Thariq (17)
87. al-A'la (19)
88. al-Ghasyiyah (26)
89. al-Fajr (30)
90. al-Balad (20)
91. asy-Syams (15)
92. al-Lail (21)
93. ad-Dhuha (11)
94. al-Insyirah (8)
95. at-Tin (8)
96. al-'Alaq (19)
97. al-Qadr (5)
98. al-Bayyinah (8)
99. al-Zalzalah (8)
100. al-'Adiyat (11)
101. al-Qari'ah (11)
102. at-Takatsur (8)
103. al-Ashr (3)
104. al-Humazah (9)
105. al-Fil (5)
106. Quraisy (4)
107. al-Ma'un (7)
108. al-Kautsar (3)
109. al-Kafirun (6)
110. an-Nashr (3)
111. al-Lahab (5)
112. al-Ikhlash (4)
113. al-Falaq (5)
114. an-Nas (6)



Rabu, 07 Oktober 2015

Kenapa Syi’ah Rafidhah Paling Benci pada Salafy?

Kenapa Syi’ah Rafidhah Paling Benci pada Salafy?

Oleh: Hasan Al-Jaizy

Kota Qom di Iran mencatat angka tertinggi kedua penderita AIDS. Demikian juga dengan angka pecandu kokain jenis “crack”, tercatat bahwa satu dari tiga orang di kota Qom adalah pecandu opium.

Kota Qom juga tercatat sebagai kota yang paling banyak menggunakan minuman keras oplosan yang mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan kematian atau hilangnya penglihatan, sebagaimana yang pernah terjadi dalam peristiwa peringatan “Iedun Nairuz”./ fairuz-ahmad.

MAU main jujur-jujuran atau main bohong-bohongan?

Kalau mau main jujur-jujuran, Syi’ah Rafidhah paling benci pada Salafy, atau yang biasa sebagian orang sebut ‘Wahabi’, atau yang kini malah dituduh sebagai ‘Takfiry’, atau yang sebagian ulama Rafidhah sebut sebagai ‘Bakry’, atau ‘Umary’, atau ‘Nashiby. Ketiga sebutan terakhir lebih condong dimutlakkan pada keumuman Ahlus Sunnah (istilah umum, mencakup seluruh aliran non-Ahlusy-Syi’ah).

Dan kalau mau main jujur-jujuran, di antara aliran-aliran yang ada dalam kontemporer Islam, yang sebenarnya paling dekat dengan aliran Syi’ah Rafidhah (entah sengaja atau tidak) adalah aliran Tasawwuf; yakni jenis keumuman Tasawwuf yang bergelimang dengan ritual-ritual baru bahkan keyakinan batil.

Keseragaman Rafidhah dan Tasawwuf ada di beberapa gambaran. Mulai dari suka main macam-macam ke kuburan, berlebihan dalam mengagungkan para imam atau wali, glamour dalam masalah hadits-hadits palsu, berbangga dengan kebid’ahan (yang katanya sebagian bid’ah adalah hasanah), mendahulukan tradisi nenek moyang yang tak valid dalam agama dibandingkan dalil yang valid dalam agama, hingga dari segi perlawanan terhadap apa yang disebut kini aliran ‘Salafy’, atau ‘Wahabi’ (kata mereka), atau sebutan lainnya.

Tentu banyak yang tidak terima Salafy disebut Ahlus Sunnah.

Tentu mereka tidak terima Salafy disebut Salafy, tetapi ‘Wahabi’ instead.

Tidak cukup dengan perendahan itu, maka tambahlah dengan sebutan ‘Takfiry’, ‘Khawarij’, ‘Bakry’, ‘Umary’, ‘Nashiby’ dan seterusnya. Yang penting: Salafy tidak boleh disebut Salafy. Ya sudah, silahkan.

Kenapa  Syi’ah Rafidhah Paling Benci Pada Salafy?

Syi’ah Rafidhah adalah aliran yang di belakang berdusta, di depan berpura-pura. Betapa tidak, bukankah taqiyyah alias berdusta adalah salah satu asas agama penganutnya? Karena itu, ulama mereka tanpa bergelar akademik formal pun, sebenarnya sudah bergelar profesor dalam bidang dusta dan pura-pura. Di antara kedustaan: memalsukan hadits, memelintir nash, menambah surat dalam Al-Qur’an dan masih banyak lagi.

Keaslian aqidah Rafidhah adalah borok, dan kesungguhan ritual Rafidhah adalah buruk. Namun, keduanya ditutupi mukena putih kebaikan. Covernya ‘Cinta Ahlul Bait’, atau semacamnya.

Dan Salafy -main jujur-jujuran- adalah aliran satu-satunya (ya, satu-satunya) yang paling konsisten membuka mukena-mukena mereka. Tampaklah keburukan aslinya wajah-wajah mereka.

Individu atau golongan yang tidak berintisab dengan Salaf mungkin tidak terima dengan paragraf sebelum ini. Mereka akan menggugatnya. Silahkan menggugat, tapi buktikan sekarang: ‘Aliran apa sekarang yang paling konsisten membuka borok-borok Syi’ah? Aliran Anda sendiri? Buktikan seberapa banyak dan seberapa konsisten!’ Gugatan mereka terhadap kenyataan ini bukan karena ini bukan kenyataan, melainkan karena:

Mereka sudah terlanjur sinis dengan yang disebut Salafy, atau:Mereka tahu golongan mereka sendiri lesu sangat dalam memerangi Syi’ah, atau malah jangan-jangan:Mereka tahu bahwa beberapa tokoh atau awam dari golongan mereka malah main mata dengan Syi’ah.

Nah, karena ‘Salafy’ (atau biasa mereka sebut ‘Wahabi’ saking tidak terimanya) rajin membongkar syubhat atau kekufuran Syi’ah Rafidhah, maka ia menjadi aliran yang paling paling dibenci.

Andai, andai saudara-saudara kita dari Ikhwanul Muslimin -misalnya-, adalah golongan yang paling menonjol dan nomor wahid dalam memerangi Syi’ah, pasti Syi’ah akan menjadikan IM sebagai pusat kebencian. Tetapi, karena itu tidak terjadi alias hanya permisalan saja di status ini, maka tidak terjadi. Dan semoga kita semua dapat bersama-sama bekerja sama belajar bersama mulai dari perkara kecil hingga besarnya agar dapat membentengi diri dan kaum muslimin dari Syi’ah Rafidhah, tidak peduli entah dia ternisbatkan pada Salaf, atau Ikhwan, atau Muhammadiyyah, atau Nahdliyyah, atau Persis, atau apapun itu namanya.

Ketika Tersingkap, Seketika Mengamuk

Jika orang jahat tersingkap kejahatannya, setelah berlarut tersembunyikan ia, maka orang jahat tersebut akan mengamuk, atau minimal melawan. Dan orang yang paling dia lawan sungguh-sungguh adalah orang yang paling menyingkap kejahatannya.

Begitu pula dengan Rafidhah, aliran yang bawahnya, atasnya, asasnya dan cabangnya penuh dengan virus-virus bid’ah, khurafat dan kufur. Mereka tidak bisa menyingkap kejahatan Ahlus Sunnah karena pada dasarnya Ahlus Sunnah tak punya kejahatan. Ahlus Sunnah (kita semua -alhamdulillah-) pada dasarnya mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah tanpa menganggap ada kemakshuman terpatri pada siapapun setelah wafatnya Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Begitu pula dengan pemuja kubur, atau golongan yang sedari dahulu dekat sekali (atau bahkan sudah terlanjur basah tenggelam dalam) syubhat kebid’ahan bahkan kesyirikan. Ketika diberikan pada mereka bayaan dan penjelasan yang sejelas-jelasnya dari kalam Allah, kalam Rasul, dan juga kalam para ulama pengikut kalam keduanya, dengan pemahaman generasi terbaik atau pengikut murni generasi terbaik, tiba-tiba mereka kesurupan. Yang tadinya tak pernah membaca kitab tebal dan merasa cukup dengan kitab Muqarrar golongannya, tiba-tiba jadi rajin baca kitab-kitab tebal. Bukan mencari kebenaran tujuannya, melainkan mencari-cari bagaimana kebenaran itu bisa sesuai hatinya.

Karena itu, seorang teman, yang mengetahui dengan baik beragam permasalahan antara kedua kutub atau kedua kubu tersebut, berkata, “Kehadiran Salafy ada keberkahan tersendiri. Jadi, teman-teman kami tiba-tiba mulai menelaah kitab-kitab besar. Andai golongan semacam Salafy tidak ada, tetaplah kami seperti ini.”

Sebenarnya penisbatan terhadap Salafy itu bukan hak khusus bagi orang-orang khusus dari golongan khusus; melainkan untuk siapapun dari kaum Muslimin yang sadar dan memang berusaha mengikuti jejak kaum salaf yang diwartakan oleh Nabi kita sebagai sebaik-baik generasi. Siapapun, dari manapun. Jikalau ada seorang yang sudah berusaha menujunya dan berjalan di atas jalur tersebut tergelincir sesekali, maka siapalah kita tak pernah tergelincir.

Dan, untuk mengikuti manhaj Salaf, Anda tidak harus ikut organisasi khusus, mencatat nama, harus berteman dengan orang tertentu dan harus punya logo tertentu. Anda hanya diwajibkan untuk berusaha mengetahui (mengilmui) nya, mengamalkannya, mendakwahkannya. Klaim ‘saya adalah Salafy’ tidaklah wajib dan tidaklah pula terlarang. Yang terlarang adalah klaimnya saja, padahal tiada usaha. Dan apalah arti klaim atau apalah arti dianggap sebagai ‘Salafy’ jika ternyata keseharian kita tak mencerminkannya?!

Namun, jika seseorang ingin menjadi seorang pro-Syi’ah, ia tak harus berikrar pula bahwa ia adalah seorang Syi’ah. Cukuplah menjadi simpatisan. Cukuplah membela Basyar Asad atau membela ulama yang membela Basyar Asad. Cukuplah juga Anda sinis terhadap suatu golongan karena kesinisan mereka terhadap Syi’ah.

Karena, untuk membela Syi’ah Rafidhah, tidak harus menjadi pemeluknya. Jadilah simpatisannya.

Jadi, tidak semua orang yang terkesan membela Syi’ah Rafidhah lantas layak disebut sebagai orang Syi’ah. Karena mungkin saja ia hanya simpatisan yang tidak tahu apa-apa tentang Rafidhah sementara hatinya memang menginginkan tidak ada pertengkaran. Yang semacam ini, kita selalu doakan kebaikan padanya dan semoga Allah berikan ilmu padanya dan pada kita untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Namun, adakalanya simpatisan Rafidhah itu sebenarnya tahu kegilaan aliran kufur tersebut, namun disebabkan hiqd (kedengkian) atau intiqaam (dendam) atau memang ghill (kebencian) terhadap aliran Salafy, maka yang seperti inilah yang disukai oleh ulama-ulama Rafidhah, sehingga saya pernah mendengar seorang dari mereka berkata (melalui rekaman yang tak jauh dari ini maknanya):

“Di antara masyarakat Sunni, ada orang yang asalnya bukanlah orang kami (Syi’ah), namun mereka membantu dan membela kami di hadapan orang-orang Sunni. Merekalah sebenar-benar orang Syi’ah!”

Saya tidak concern Anda tidak terima golongan Anda tidak disebut sebagai golongan yang paling melawan Syi’ah; sebagaimana tidak concern-nya ulama-ulama golongan Anda terhadap serangan Syi’ah pada Ahlus Sunnah. Bisakah kelak kita semua bekerjasama melawan Syi’ah? Harus bisa!

Hapusnya Islam, Hilangnya Al-Qur’an, dan Musnahnya Orang-orang Shaleh di Akhir Zaman

Hapusnya Islam, Hilangnya Al-Qur’an, dan Musnahnya Orang-orang Shaleh di Akhir Zaman

SETELAH Islam tersebar sedemikian rupa meliputi timur dan barat, Islam kembali redup, kejahatan berkembang, agama agung ini dan al-Qur’an hilang, ilmu lenyap, dan Allah mencabut nyawa orang-orang yang dalam jiwanya masih ada iman. Dengan demikian, tidak tersisa di bumi kecuali makhluk-makhluk yang paling jahat, dan atas merekalah kiamat terjadi.

Ibn Majah dan al-Hakim menyampaikan dari Hudzaifah bin al-Yaman bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Islam dihapuskan seperti hilangnya warna baju, sampai tidak diketahui apa itu puasa, apa itu shalat, haji dan sedekah. Kitabullah dimusnahkan dalam satu malam sampai tidak tersisa satu ayat pun, dan yang tersisa adalah kakek-kakek dan nenek-nenek yang mengatakan, ‘Kami melihat orangtua kami mengatakan laa ilaaha illallah, maka kami pun mengatakannya’.”

Orang-orang yang tersisa ini tidak mengetahui Islam kecuali kalimat tauhid yang sudah hilang dan lenyap. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak terjadi kecuali atas orang-orang yang paling jahat.”

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW menjelaskan kepada kita bagaimana orang-orang shaleh hilang di akhir zaman. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Allah mengirimkan angin dari Yaman, lebih lembut dari sutera. Angin itu mencabut nyawa setiap orang yang di hatinya terdapat iman walau sebesar atom.”

Dari Anas diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sampai di bumi Allah tidak disebut-sebut lagi ‘Allah’.”

Dalam Shahih Muslim disampaikan dari an-Nawwas bin Sam’an, “Saat mereka dalam keadaan demikian, Allah mengirimkan angin yang sejuk, melewati bawah ketiak mereka, mencabut nyawa setiap mukmin dan muslim, sehingga tinggallah orang-orang jahat yang bersuka ria seperti keledai. Pada merekalah kiamat terjadi.”

Bukhari meriwayatkan dengan sanad dari Mardas al-Aslami RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang shaleh akan hilang satu per satu, sehingga tinggallah orang-orang sampah seperti sampah gandum dan korma, dan Allah sama sekali tidak mempedulikan mereka.”

Di antara contoh terhapusnya Islam saat itu adalah terputusnya ibadah haji. Tidak ada lagi haji dan umrah. Dalam Musnad Abu Ya’la dan Mustadrak al-Hakim diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Sais RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai Mekkah tidak didatangi lagi untuk haji.”

Tidak diragukan lagi bahwa hal ini terjadi setelah angin yang sejuk berhembus dan mencabut nyawa orang-orang shaleh. Sebelum itu, ibadah haji terus berlangsung. Dalam Shahih al-Bukahri diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Mesjid ini akan didatangi untuk haji dan umrah setelah keluarnya Ya’juz dan Ma’juz.”

Sabtu, 03 Oktober 2015

Kepolisian, Kesatuan Tertua di Indonesia

Kepolisian, Kesatuan Tertua di Indonesia


Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) adalah Kepolisian Nasional di Indonesia yang bertanggung jawab langsung di bawah Presiden. Kesatuan ini tergolong kesatuan yang paling tua di nusantara kalau dilihat dari sejak pertama didirikannya. Berdasarkan sejarah, kesatuan ini bahkan sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia.


Perjalanan panjang Kepolisian Negara Republik Indonesia sebenarnya dimulai sejak 11 Februari 1814. Pada masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Inggris, Stanford Raffles (1811-1817), itulah untuk pertama kalinya keluar Peraturan tentang Tata Usaha Justisi pada Pengadilan Daerah di Pulau Jawa dan Tata Usaha Kepolisian.

Pada tahun 1817 terjadi pengalihan kekuasaan Inggris kepada Belanda. Peralihan itu ikut mengubah struktur organisasi Kepolisian. Negeri Belanda mengusulkan struktur organisasi kepolisian di tanah jajahan Hindia Belanda disempurnakan, baik yang menyangkut bidang pimpinan, pendidikan, kepangkatan maupun perlunya diikutsertakan orang-orang pribumi dalam tugas-tugas kepolisian. 

Kepolisian modern Hindia Belanda yang dibentuk antara tahun 1897 - 1920 adalah merupakan cikal bakal dari terbentuknya Kepolisian Negara Republik Indonesia saat ini. (id.wikipedia.org)

Pentas sejarah mulai berubah dalam Perang Dunia II. Kekuasaan Belanda di Indonesia jatuh ke tangan Jepang, tepatnya sejak 9 Maret 1942. Sejumlah Kepala Polisi berkebangsaan Belanda ditawan oleh Jepang dan posisi tersebut digantikan oleh orang-orang Indonesia. Jumlah Polisi yang diserahterimakan dari pemerintah Belanda  pada saat itu adalah sebanyak 31.620 orang. 

Kekuasaan Dai Nippon berlangsung singkat, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945 yang puncaknya pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. 

Setelah dikumandangkannya Proklamasi, di beberapa Kantor Polisi Jakarta secara spontan menurunkan bendera-bendera Jepang dan menggantikannya dengan Bendera Merah Putih. Hari-hari berikutnya Pengibaran bendera merah putih ini  juga diikuti oleh kantor-kantor Polisi di seluruh wilayah Indonesia dan menyatakan diri sebagai Polisi Republik Indonesia. Sehingga secara resmi kepolisian menjadi Kepolisian Indonesia yang merdeka.

Untuk mengukuhkan kedudukan Kepolisian di Indonesia, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 19 Agustus 1945, memasukkan Kepolisian dalam lingkungan Departemen Dalam negeri yang diberi nama Djawatan Kepolisian Negara (DKN) 


Pada tanggal yang sama yaitu 19 Agustus 1945 Jepang malah membubarkan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) dan Heiho sedangkan senjata mereka dilucuti sehingga pada awal kemerdekaan cuma kesatuan Polisi yang memiliki senjata. Hal ini dilakukan Jepang karena setelah kalah perang, tentara Jepang di Indonesia mendapat perintah dari Sekutu untuk menjaga satusquo sampai kedatangan Sekutu di Indonesia. 

Kepolisian Indonesia juga diperintahkan Jepang untuk menyerahkan senjatanya namun secara tegas ditolak. Malah kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Inspektur Kelas I (Letnan Satu) Polisi Mochammad Jassin, Komandan Polisi di Surabaya, untuk membangkitkan semangat moral dan patriotik seluruh rakyat maupun organisasi-organisasi pejuang tanah air secara bersama melakukan pelucutan senjata tentara Jepang yang kalah perang.

Kesatuan Polisi Istimewa di Surabaya Pimpinan M. Jasin boleh dibilang kecil, cuma beberapa ratus orang saja, itu sebabnya mereka bergabung dengan rakyat. Kalau rakyat sedang bergerak, di tengah-tengah selalu ada truk dan panser milik Pasukan Polisi Istimewa lengkap dengan senjata mesin. melihat rakyat bak gelombang yang tak henti-henti itu, akhirnya tentara Jepang setuju menyerahkan seluruh persenjataan, termasuk tank dan panser kepada Polisi Istimewa. 

Senjata Rampasan tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat dan pemuda dalam organisasi perjuangan termasuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Jenderal (TNI) Tri Sutrisno menyatakan, "Tindakan Inspektur I Moehammad Jasin mempersenjatai Rakyat Pejuang telah memberikan andil yang cukup besar dalam gerak maju para pejuang kemerdekaan di Surabaya, yang kemudian mencapai puncaknya pada pertempuran heroik di Surabaya tanggal 10 Nopember 1945."  


Setelah Agresi Militer I Belanda berhasil dilalui, dalam perkembangan selanjutnya, pada tanggal 1 Juli 1946, berdasarkan Penetapan Pemerintah No. 11/SD Tahun 1946, Kepolisian beralih status menjadi Jawatan tersendiri yang mulanya di bawah Departemen Dalam Negeri sekarang menjadi langsung di bawah Perdana Menteri. 

Peristiwa ini dianggap penting oleh kalangan Kepolisian sehingga tanggal 1 Juli diperingati setiap tahun sebagai Hari Kepolisian. Jadi penetapan tanggal ini sebagai Hari Kepolisian bukanlah berdasarkan atas lahirnya Polri, karena Polri sudah ada sejak lama. 

Pada Agresi Militer II Belanda, karena pengaruh situasi revolusi fisik untuk menentang Kolonialis Belanda yang ingin menjajah kembali tanah air Indonesia akhirnya dikeluarkan Penetapan Dewan Pertahanan tanggal 1 Agustus 1947 No. 112 tentang Militerisasi Kepolisian Negara. Pada masa itu Kepolisian diintegrasi ke dalam ABRI untuk sementara waktu untuk bersama-sama berjuang melawan Kolonialis Belanda.

Setelah Agresi Militer II Belanda berhasil dilalui, Pembicaraan tentang Integrasi Polri ke dalam tubuh ABRI semakin gencar di tahun 1960 - 1964 karena pada waktu itu Partai Komunis Indonesia (PKI) selalu memprovokasikan adu domba antar Angkatan-Angkatan Bersenjata untuk kepentingan partainya.

Integrasi Polri ke dalam ABRI semakin jelas setelah ditetapkannya Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960, yang menyatakan bahwa Kepolisian Negara menjadi Angkatan Bersenjata. Ketetapan MPR tersebut kemudian dipertegas dengan Penetapan DPR-GR, tanggal 19 Juni 1961 tentang Undang-Undang Pokok Kepolisian No. 13/1961. Pada Pasal 3 UU tersebut menyatakan, bahwa Kepolisian Negara adalah Angkatan Bersenjata. 

Untuk meningkatkan integrasi ABRI, dengan SK Presiden No. 132/1967 tanggal 24 Agustus 1967 ditetapkan Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Bidang Pertahanan dan Keamanan yang menyatakan ABRI merupakan bagian dari organisasi Departemen Hankam meliputi AD, AL, AU , dan AK yang masing-masing dipimpin oleh Panglima Angkatan dan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan kewajibannya kepada Menhankam/Pangab. Jenderal Soeharto sebagai Menhankam/Pangab yang pertama.

Pengaruh Integrasi penuh ini ada segi positif dan negatifnya. Segi positifnya adalah mencegah perpecahan antar Angkatan sedangkan segi negatifnya adalah sikap dan perilaku anggota Polri banyak diwarnai militer sehingga penampilannya lebih seperti militer dibandingkan sebagai penegak hukum. Sikap semacam ini yang selalu dibahas dalam upaya perlunya Polri dipisahkan kembali dari ABRI.

Sejak Bergulirnya proses reformasi di Indonesia, terjadi banyak perubahan yang cukup besar, ditandai dengan jatuhnya pemerintahan Orde Baru, digantikan oleh pemerintahan Reformasi, kebebasan pers, hukum, kebebasan mengeluarkan pendapat dan lain-lain.

Di tengah maraknya tuntutan masyarakat di era reformasi, kalangan masyarakat juga menghendaki dipisahkannya Polri dari ABRI dengan harapan agar Polri menjadi lembaga yang profesional dan mandiri jauh dari intervensi dalam menegakkan hukum. Akhirnya sejak tanggal 1 April 1999, Polri secara resmi dipisahkan dari ABRI dan sebutan ABRI diganti menjadi TNI. 

Pemisahan kembali antara Polri dan TNI pada tanggal 1 April 1999 inilah yang terkadang disalahmengerti oleh orang yang belum mempelajari sejarah dengan menyebutkan bahwa TNI adalah saudara tuanya Polri. Padahal Polri sudah ada di Indonesia sejak lama bahkan sebelum Indonesia merdeka. Kemudian sejak awal kemerdekaan, hanya Polisilah yang waktu itu merupakan satu-satunya kesatuan bersenjata yang relatif lengkap dan terorganisir sehingga menjadi modal awal dalam mempertahankan kemerdekaan serta membantu lahirnya kesatuan bersenjata lainnya di tanah air.

Dalam perkembangan paling akhir dalam Kepolisian yang semakin modern dan global, Polri bukan hanya mengurusi keamanan dan ketertiban di dalam negeri, akan tetapi juga terlibat dalam masalah-masalah keamnan dan ketertiban regional maupun antar bangsa sebagaimana yang ditempuh oleh kebijakan PBB yang telah meminta pasukan-pasukan Polisi, termasuk Indonesia, untuk ikut aktif dalam berbagai operasi Kepolisian Dunia, misalnya di Namibia (Afrika Selatan), Kamboja (Asia), dan Darfur (Sudan).

SUMBER :

1. Buku Berjudul Setengah Abad Mengabdi diterbitkan oleh Mabes ABRI tahun 1996.

2. Buku Berjudul Sejarah Kepolisian Di Indonesia diterbitkan oleh Mabes Polri tahun 1999

3. Buku Berjudul Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang, Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama tahun 2010.

4. Website :https://id.wikipedia.org/wiki/Kepolisian_Negara_Republik_Indonesia

Kamis, 01 Oktober 2015

Cara Membersihkan Kotoran Telinga

Kotoran telinga yang berlebihan terkadang sulit dibersihkan. Cairan jahat ini berkumpul di telinga karena trauma atau penyumbatan dalam saluran telinga. Salah satu cara terbaik untuk mengeluarkan kotoran telinga adalah dengan obat rumahan.

Menurut para ahli, kekurangan asam lemak Omega 3, seng, dan magnesium bisa menghasilkan kotoran telinga yang berlebihan. Apabila Anda mengabaikannya akan menumpuk jauh di dalam saluran telinga dari waktu ke waktu. Seseorang juga bisa kehilangan pendengaran karena kotoran yang menumpuk.

Berikut beberapa obat rumahan untuk menyingkirkan kotoran telinga seperti dilansirBoldsky, Senin (19/1/2015):

1. Minyak zaitun

Minyak zaitu merupakan cara yang paling aman dan bisa mengeluarkan kotoran telinga. Celupkan sepotong kapas ke dalam minyak zaitu hangat. Peras kelebihan minyak dan tempatkan kapas di telinga Anda. Setelah 15 menit, keluarkan kapas. Ulangi caraini sampai kotoran berkurang.

2. Baby oil

Ini merupakan alteratif berikutnya. Baby oil itu lembut dan tak ada efek samping untuk setiap jenis kulit. Lakukan proses yang sama seperti minyak zaitun.

3. Cuka dan alkohol

Campur dua cairan tersebut. Semprotkan ke telinga (dua tetes). Ambil kapas yang bersih dan lembut, pijat telinga bagian dalam. Ulangi proses ini sampai kotoran kuping yang berlebihan bisa diangkat.

4. Air garam

Ini obat terbaik untuk menghilangkan kotoran telinga. Buatlah larutan garam menggunakan air suam-suam kuku. Ketika siap, miringkan kepala Anda ke samping dan teteskan air perlahan-lahan ke dalam telinga. Kembalikan kepala Anda ke posisi normal dan gunakan kapas bola ke telinga Anda. Ulangi prosesuntuk telinga yang lain.

5. Air hangat

Setelah Anda mandi, cuci telinga Anda dengan air hangat.

6. Minyak kelapa

Tuang minyak kelapa ke dalam sendok, panaskan sendok dengan api lilin. Setelah agak hangat, celupkan kapas bola, hilangkan kelebihan minyak, dan pasang kapas berukuran kecil di telinga Anda. Panas dari minyak kelapa akan merontokkan kotoran telinga.

7. Gliserin

Resep rumahan lain yang gampang untuk membersihkan telinga adalah gliserin. Tuangkan 2 atau 3 tetes gliserin ke telinga. Kemudian bersihkan telinga dengan kapas bola, dan ulangi proses sampai telinga bersih.

8. Bawang putih

Hancurkan bawang putih di ulekan, setelah itumasukkan bawang putih ke sendok dan panaskan di atas lilin. Teteskan minyak yang ada ke telinga. Ini akan membantu membersihkan kotoran telinga.

9. Hidrogen peroksida

Mungkin ini terdengan terlalu kimiawi, tetapi hidrogen peroksida adalah bahan alami. Campurkan peroksida dengan air dengan komposisi yang sama, tuangkan cairan ke dalam kapas, kemudian peras kapas danmasukkan cairan ke telinga.

10. Cuka Apel

Cuka apel adalah resep rumahan yang efektif membersihkan kotoran telinga. Tinggal miringkan kepala Anda ke samping kemudian teteskan 2 atau 3 tetes cuka apel.

Gulung bola kapas di telinga Anda, dan biarkan selama satu jam. Ulangi proses sampai Anda merasa nyaman.